Jumat, 23 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    Sakit

    Sakit Lelaki Bujang dan Bayang-bayang Domestikasi Perempuan

    Nyadran Perdamaian 2026

    Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

    Kisah Kaum Ad

    Kisah Kaum Ad dan Betapa Keras Kepalanya Kita

    Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an

    Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    Seks

    Membahas Seks secara Dewasa

    Adil Bagi Perempuan

    Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    Sakit

    Sakit Lelaki Bujang dan Bayang-bayang Domestikasi Perempuan

    Nyadran Perdamaian 2026

    Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

    Kisah Kaum Ad

    Kisah Kaum Ad dan Betapa Keras Kepalanya Kita

    Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an

    Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    Seks

    Membahas Seks secara Dewasa

    Adil Bagi Perempuan

    Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Santri Penjaga Peradaban: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Dunia yang Damai

Hari Santri bukan hanya peringatan, tapi juga ajakan untuk meneladani sikap hidup para santri: sederhana, gigih, dan ikhlas mengabdi.

Yayat Hidayat by Yayat Hidayat
25 Oktober 2025
in Publik
0
Santri Penjaga Peradaban

Santri Penjaga Peradaban

1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ain.”

Mubadalah.id – Kalimat itu keluar dari lisan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Sebuah seruan yang lahir dari keimanan, bukan dari kemarahan. Sejak saat itu, para santri bangkit. Mereka turun ke medan perjuangan dengan keyakinan bahwa menjaga kemerdekaan adalah bagian dari ibadah.

Setiap 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional untuk mengenang semangat itu. Tahun 2025 ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Tema yang mengajak kita melihat santri bukan hanya dalam makna keagamaan, tapi juga kebangsaan dan kemanusiaan. Santri penjaga peradaban hadir sebagai penjaga nilai dan penyalur cahaya di tengah dunia yang terus berubah.

Dalam arus zaman yang cepat dan penuh tantangan, santri kita harapkan menjadi penyeimbang. Ia menjaga akar tradisi, tapi tetap berani menumbuhkan cabang baru. Di situlah semangat mubadalah bekerja: saling belajar, saling menghormati, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama.

Dari Resolusi Jihad ke Hari Santri Nasional

Asal mula Hari Santri berawal dari peristiwa besar di Surabaya pada 22 Oktober 1945. KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad, yang menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Seruan itu menggugah hati rakyat. Dalam waktu singkat, ribuan santri dan pejuang turun ke jalan.

Pertempuran 10 November yang meletus setelahnya tak bisa terlepaskan dari semangat jihad para santri. Laskar Hizbullah dan Sabilillah menjadi bukti bahwa pesantren mampu melahirkan pejuang-pejuang yang tangguh. Mereka tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga doa, ketulusan, dan cinta pada tanah air.

Puluhan tahun kemudian, semangat itu diabadikan lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Pengakuan ini menjadi tanda bahwa perjuangan santri adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa.

Seperti pesan Imam Syafi’i, “Jika kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.” Santri memilih jalan pertama: berlelah dalam ilmu dan perjuangan agar bangsa ini tak jatuh dalam kegelapan.

Santri dan Jejak Perjuangan Bangsa

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, santri selalu hadir di garis depan. Mereka ikut melawan penjajahan, menggerakkan masyarakat, dan menjaga moral bangsa. Dari Aceh hingga Jawa, dari masa Pangeran Diponegoro hingga masa kemerdekaan, pesantren menjadi tempat lahirnya semangat perjuangan.

Bagi santri, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Membela negeri berarti menjaga kehidupan dan kemanusiaan. Karena itu, perjuangan mereka tidak pernah semata-mata soal senjata. Ia juga tentang menegakkan nilai, menjaga ilmu, dan menumbuhkan harapan.

Kini bentuk perjuangan itu bergeser. Santri berjuang lewat pena, riset, wirausaha, dan pengabdian sosial. Mereka menyalakan cahaya di ruang-ruang baru—dari kelas, media, hingga ruang digital.
Jihad bagi santri hari ini bukan perang, melainkan kerja keras untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan.

Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia

Tema Hari Santri 2025 mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan garis akhir, tetapi pintu menuju tanggung jawab yang lebih besar: membangun peradaban. Santri terpanggil bukan hanya untuk menjaga, tetapi juga menumbuhkan dan menerangi dunia dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Logo resmi Hari Santri tahun ini yang diluncurkan di Pesantren Tebuireng, Jombang, penuh simbol makna. Lingkaran menggambarkan keutuhan NKRI, warna hijau melambangkan kesucian dan identitas santri, sementara pita warna-warni menyiratkan keberagaman iman, ilmu, dan amal. Ada api yang melukiskan semangat perjuangan, serta cahaya sebagai lambang ilmu dan keteguhan.

Pesan itu jelas: santri kita harapkan menjadi pembawa kedamaian bagi dunia. Sebagaimana disampaikan Ismail Cawidu, “Santri tidak hanya mengaji, tetapi membawa cahaya peradaban.” Cahaya itu bukan sekadar simbol spiritual, melainkan arah bagi kita semua: agar kemerdekaan yang diperjuangkan ulama dan santri terus menghasilkan kebaikan yang nyata.

Dalam pandangan mubadalah, peradaban tumbuh ketika ada kerja sama dan saling percaya. Di titik inilah santri berperan—mengawal Indonesia merdeka dengan ilmu, akhlak, dan kasih sayang.

Santri di Era Digital

Zaman bergerak cepat. Dunia digital kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan pesantren ikut bergerak bersama arus itu. Banyak pesantren telah membuka ruang baru untuk kreativitas: dari teknologi ramah lingkungan, wirausaha halal, hingga dakwah digital yang menyejukkan.

Kegiatan seperti Expo Kemandirian Pesantren, Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional, dan Pesantren Award 2025 menunjukkan wajah baru pesantren: mandiri, inovatif, dan terbuka pada kemajuan. Santri tidak kehilangan jati diri, justru memperkaya tradisi dengan cara-cara baru yang relevan dengan zaman.

Di ruang maya, para santri tampil dengan dakwah yang menenangkan. Mereka menyebarkan nilai-nilai kebijaksanaan dan membangun dialog lintas iman. Teknologi mereka jadikan alat untuk kebaikan, bukan ajang permusuhan. Seperti kata Menteri Agama Nasaruddin Umar, “Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi pusat peradaban.”

Santri hari ini menegaskan bahwa modernitas dan spiritualitas bisa berjalan seiring. Keduanya saling menumbuhkan, bukan saling meniadakan.

Menjadi Santri untuk Kemanusiaan

Hari Santri bukan hanya peringatan, tapi juga ajakan untuk meneladani sikap hidup para santri: sederhana, gigih, dan ikhlas mengabdi. Santri adalah siapa pun yang menempuh jalan ilmu dan kebaikan—baik di pesantren, sekolah, kampus, atau di tengah masyarakat.

Di tengah dunia yang sering gaduh, santri hadir sebagai peneduh. Ia mengajarkan bahwa perjuangan sejati lahir dari hati yang bersih, bukan dari ambisi. Bahwa cinta tanah air dan cinta sesama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Mari kita rayakan Hari Santri 2025 dengan semangat yang sama: beriman dengan teguh, berilmu dengan rendah hati, dan berbangsa dengan kasih. Sebab kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari kebencian.

Dalam semangat mubadalah, kita semua adalah bagian dari perjuangan itu—menjaga, menumbuhkan, dan menerangi bersama. Selamat Hari Santri Nasional 2025. Semoga cahaya santri terus menyala untuk Indonesia dan dunia. []

Tags: Kebangsaankemerdekaan sejatimuslimpesantrenSantriSantri Penjaga PeradabanSejarah Lisan

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Yayat Hidayat

Yayat Hidayat

Perantau-Santri-Abdi Negara

Related Posts

Lingkungan di Pesantren
Publik

Pesantren Jadi Basis Pendidikan yang Peduli Terhadap Lingkungan

15 Januari 2026
Alam di pesantren
Publik

Pesantren Jadi Ruang Strategis Membangun Kepedulian Kelestarian Alam

15 Januari 2026
Pelestarian di Pesantren
Publik

Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

15 Januari 2026
Santri Sampah Istiqamah
Publik

Santri, Sampah, dan Istiqamah: Tiga Pondasi Penyelamat Lingkungan

11 Januari 2026
Gerakan Perempuan
Publik

Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren

9 Januari 2026
Pemberdayaan Perempuan
Publik

Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

9 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan
  • Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)
  • Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia
  • Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian
  • Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID