Mubadalah.id – Seks dan seksualitas ada pada manusia sejak lahir sampai mati. Sebagaimana binatang, manusia memiliki organ seksual dan aktivitas seksual. Namun manusia diberi pengetahuan, akal dan keyakinan.
Sehingga manusia mampu menciptakan dan mengatur prilaku seksnya sesuai dengan nilai-nilai kepantasan, norma, nilai baik-buruk yang kesemuanya ditimbang oleh akal sehat dan panduan moral agama.
Karena seks adalah kehidupan kita, maka mengapa kita tak membahasnya secara terbuka, dewasa dan cerdas. Kita tak mungkin membahas hal yang begitu penting hanya dengan bisik-bisik atau sambil lalu saja.
Sebab semakin terang benderang kita membahasanya maka kita akan menemukan kebenaran di sana. Sebaliknya makin sembunyi-sembunyi, kita akan makin mudah tersesat.
Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan ini disusun sebagai sarana pembentukan pengetahuan.
Ini adalah kumpulan tulisan yang mereka susun berdasarkan alur proses reproduksi manusia yang bergerak secara linier dari sejak lahir hingga mati yang didiskusikan secara bertahap.
Dan karena manusia adalah makhluk budaya, maka alur proses reproduksi ini kita dekati dari dua sisi:
Pertama, seksual biologis kodrati (sebagaimana binatang yang punya organ dan funginya). Kedua, seksualitas atau seks sosial (sebagaimana manusia yang punya akal dan keyakinan. Sehingga ada nilai-nilai yang terkait di dalamnya).
Terbuka
Dra. Nunung Sulastri aktivis pemberdayaan perempuan untuk pemenuhan hak-hak reproduksi mereka yang bekerja di wilayah Kendal Jawa Tengah menjadi pemandu dan nara sumber yang mengantarkan para peserta dalam diskusi.
Sebagaimana catatan Carla Power dalam Time Magazine? yang juga berkesempatan menyaksikan kegiatan ini, saya sangat takjub oleh antusiasme peserta dan keterbukaan mereka membicarakan isu yang sensitif ini.
Melampaui sangkaan banyak orang (meskipun buat saya tak terlalu mengejutkan) yang sering menganggap anak-anak remaja dengan latar belakang keagamaan tak terbuka bicara isu seksualitas. Ternyata di sini fatkanya tidak benar sama sekali.
Mereka, laki-laki dan perempuan secara reguler mengadakan pertemuan dan diskusi tentang tema-tema yang mereka susun sebagai kurikulum belajar bersama. Mereka mereproduksi pegetahuan yang berangkat dari apa yang ia alami. []














































