Mubadalah.id – Salah satu tema atau topik yang sering diangkat dalam berbagai dialog dan diskusi adalah tentang kesetaraan kaum perempuan. Dalam konteks Gereja Katolik, kehadiran perempuan sering menjadi penopang utama kehidupan pastoral dan sosial. Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) hadir sebagai salah satu ruang kolektif bagi perempuan Katolik untuk mengolah peran tersebut secara sadar dan terarah.
Realitas ini menunjukkan bahwa perempuan juga mempunyai peran dalam kehidupan Gereja dan bangsa. WKRI tidak hanya berbicara tentang identitas keagamaan, tetapi juga tentang keterlibatan aktif perempuan dalam merawat kehidupan bersama. Dari sinilah penting melihat WKRI sebagai bagian dari upaya membangun relasi yang adil dan setara di tengah masyarakat majemuk.
Sejarah WKRI sebagai Ruang Kesalingan Perempuan
Paguyuban Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) sendiri didirikan oleh Raden Ajeng Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra pada tahun 1924. Kelompok ini mempunyai keprihatinan bahwa perempuan seringkali dianggap sebagai kelompok yang tidak penting.
Misi pertama dari paguyuban ini adalah untuk meningkatkan kemampuan wanita dari segi intelektual. Cara yang mereka lakukan adalah dengan mengajarkan membaca dan menulis serta menyediakan bahan bacaan yang semakin membuka wawasan pengetahuan wanita saat itu.
Jika dilihat dari misi awalnya, WKRI hadir untuk menegaskan setiap orang hadir sebagai subjek yang setara, saling mendengar, dan menguatkan. Semangat ini tampak nyata dalam dinamika organisasi ini. Yang menarik, ini menjadi ruang perjumpaan perempuan untuk berbagi pengalaman hidup, pergulatan, dan harapan, tanpa saling menghakimi.
WKRI membantu perempuan Katolik menyadari martabatnya sebagai perempuan. Kesadaran bahwa perempuan tidak berjalan sendiri, tetapi bertumbuh bersama menjadi semangat karya dan misi. Hal ini menjadi penting, terutama dalam budaya yang masih kerap menempatkan perempuan sebagai pelengkap atau pendukung semata. Melalui WKRI, perempuan membangun solidaritas yang memampukan mereka berdaya dan berkontribusi lebih luas.
Dalam kehidupan Gereja, perempuan menjalankan berbagai peran penting yang sering kali bersifat praktis dan langsung menyentuh umat. Mereka terlibat dalam pendidikan iman, pendampingan keluarga, kegiatan sosial, hingga penguatan komunitas basis. Peran ini mungkin tidak selalu tampak dalam struktur formal, tetapi sangat menentukan hidup matinya sebuah komunitas.
WKRI membantu merawat keterlibatan perempuan agar tidak berhenti pada kerja sukarela semata, melainkan menjadi gerakan yang sadar dan berkelanjutan. Organisasi ini mendorong perempuan untuk memahami bahwa kontribusi mereka bukan sekadar bantuan, tetapi justru menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam membangun Gereja yang hidup dan relevan dengan realitas umat.
Tanggung Jawab Kebangsaan dan Tantangan yang Dihadapi
Iman tidak pernah berhenti pada gedung gereja, namun selalu mendorong untuk keterlibatan sosial. Dalam konteks ini, WKRI menunjukkan bahwa perempuan Katolik memiliki tanggung jawab kebangsaan yang nyata. Melalui berbagai kegiatan dalam bidang pendidikan, kesehatan, pendampingan perempuan dan anak, serta respon terhadap persoalan sosial, mereka menghadirkan semangat iman dalam bentuk tindakan konkret.
Keterlibatan ini tidak bersifat eksklusif. WKRI justru membuka diri untuk bekerja sama dengan berbagai pihak lintas iman dan komunitas. Perempuan Katolik hadir sebagai warga bangsa yang peduli pada persoalan kemanusiaan, tanpa membawa klaim kebenaran yang menutup ruang dialog. Sikap ini memperlihatkan bahwa identitas iman dapat berjalan seiring dengan semangat kebangsaan.
Namun, tidak semua berjalan dengan lancar. Di balik berbagai kontribusi tersebut, perempuan juga masih menghadapi tantangan yang tidak mudah. Mereka juga menghadapi tantangan dalam keluarga, pekerjaan, dan keterlibatan sosial yang juga tidak mudah. Selain itu, budaya patriarkal masih membatasi ruang partisipasi perempuan, baik dalam struktur sosial maupun keagamaan.
WKRI hadir sebagai ruang aman untuk menghadapi tantangan ini secara kolektif. Dalam karya misi, mereka mengajak perempuan untuk dapat saling menguatkan, belajar mengelola peran, dan membangun kepercayaan diri. Solidaritas dan sinodalitas (berjalan bersama) menjadi kunci agar perempuan tidak larut dalam kelelahan, tetapi tetap mampu berkontribusi secara sehat dan berkelanjutan.
WKRI dan Semangat Dialog Bagi Gereja dan Bangsa
Masyarakat Indonesia yang majemuk menuntut adanya sikap dialogis dan inklusif. Dalam konteks ini, WKRI memiliki peran yang amat penting. Perempuan sering menjadi jembatan perjumpaan dalam perbedaan, baik dalam lingkungan keluarga, tetangga, maupun komunitas sosial.
Melalui pendekatan yang empatik dan terbuka, WKRI ikut merawat toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Dialog tidak hanya sebagai wacana besar yang jauh dari realitas, tetapi sebagai praktik sederhana. Hal itu terwujud dengan mendengarkan, menghargai, dan bekerja sama. Sikap ini membantu menjaga ruang publik tetap manusiawi di tengah potensi konflik dan polarisasi.
Dalam situasi sosial yang serba cepat, WKRI tetap relevan karena mampu membaca tanda-tanda zaman tanpa kehilangan akar nilai. Perempuan Katolik mempunyai tantangan untuk adaptif, kritis, dan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan. WKRI menyediakan ruang untuk belajar dan bertindak bersama dalam menjawab tantangan tersebut.
Kontribusi WKRI tidak hanya dirasakan oleh Gereja, tetapi juga oleh masyarakat luas. Organisasi ini menjadi kekuatan moral yang membumi, menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam tindakan nyata. Dari sinilah peran perempuan menemukan maknanya yang utuh.
Merawat Kehidupan Bersama
WKRI menunjukkan bahwa perempuan Katolik memiliki peran strategis dalam Gereja dan bangsa. Melalui semangat soisal, pelayanan, dan dialog, perempuan tidak hanya mendukung kehidupan bersama, tetapi ikut membentuk arahnya.
Dalam perspektif Mubadalah, relasi yang adil dan setara menjadi fondasi utama untuk membangun masa depan yang manusiawi. Perempuan, melalui WKRI hadir bukan sekadar untuk melayani, tetapi untuk menggerakkan perubahan. Dan dari sanalah kehidupan bersama menemukan harapan yang nyata. []















































