Selasa, 9 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Gen Z Indonesia

    Gen Z Indonesia: Paling Kritis, tetapi Paling Cemas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

    Dakwah Tauhid

    Membaca Ulang Dakwah Tauhid di Masa Krisis

    Santri Aman

    Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

    Dunia Akademik

    Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

    Atlet Catur

    Atlet Catur Perempuan Disabilitas beserta Inspirasinya

    Pesantren

    Lima Langkah Pengelolaan Pesantren Putri agar Terhindar dari Kekerasan Seksual

    Apa yang Membedakan

    Apa yang Membedakan Saya dengan Mereka?

    Otokritik Pesantren

    Otokritik Pesantren: Mengurai Empat Akar Kekerasan Seksual yang Terus Berulang

    Transportasi Umum Surabaya

    Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan Perempuan sama

    Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

    Peran Perempuan

    Beban Ganda Perempuan dalam Konstruksi Peran Gender

    Gender

    Bagaimana Peran Gender Diajarkan?

    Seks

    Apa Bedanya Seks dan Gender?

    Seksualitas

    Memahami Seksualitas Perempuan dan Pentingnya Otonomi Tubuh

    Beri-beri

    Kenali Tanda-tanda Beri-beri Sejak Dini

    Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Dari Stigma Menuju Tahdzir, Menggeser Pemahaman Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Anemia pada

    7 Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia pada Perempuan

    Anemia

    Kenali Anemia, Penyakit Akibat Kekurangan Gizi yang Sering Menyerang Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Gen Z Indonesia

    Gen Z Indonesia: Paling Kritis, tetapi Paling Cemas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

    Dakwah Tauhid

    Membaca Ulang Dakwah Tauhid di Masa Krisis

    Santri Aman

    Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

    Dunia Akademik

    Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

    Atlet Catur

    Atlet Catur Perempuan Disabilitas beserta Inspirasinya

    Pesantren

    Lima Langkah Pengelolaan Pesantren Putri agar Terhindar dari Kekerasan Seksual

    Apa yang Membedakan

    Apa yang Membedakan Saya dengan Mereka?

    Otokritik Pesantren

    Otokritik Pesantren: Mengurai Empat Akar Kekerasan Seksual yang Terus Berulang

    Transportasi Umum Surabaya

    Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan Perempuan sama

    Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

    Peran Perempuan

    Beban Ganda Perempuan dalam Konstruksi Peran Gender

    Gender

    Bagaimana Peran Gender Diajarkan?

    Seks

    Apa Bedanya Seks dan Gender?

    Seksualitas

    Memahami Seksualitas Perempuan dan Pentingnya Otonomi Tubuh

    Beri-beri

    Kenali Tanda-tanda Beri-beri Sejak Dini

    Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Dari Stigma Menuju Tahdzir, Menggeser Pemahaman Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Anemia pada

    7 Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia pada Perempuan

    Anemia

    Kenali Anemia, Penyakit Akibat Kekurangan Gizi yang Sering Menyerang Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

Filosofi Jodoh Menurut Islam

Mubadalah by Mubadalah
8 Agustus 2021
in Aktual
A A
0
filosofi jodoh

filosofi jodoh

19
SHARES
951
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id –  “Jodoh ibarat sumbu nemu tutup, klop. Meski tak pernah sekalipun bertemu atau bertatap muka, tiba-tiba ada getar istimewa dalam hati yang menjadi penanda jodoh kita telah datang”. Bagaimana filosofi jodoh menurut yang saya tahu dari hasil mengaji dan mengkaji ajaran Islam?

Menemukan jodoh itu gampang-gampang susah. Ada orang yang baru ketemu seseorang, langsung klop dan menikah. Lalu mereka hidup bahagia sampai akhir hayat. Orang bilang: “Mereka itu jodoh”. Ada yang lama pacaran, tapi tidak jadi menikah. Kata orang: “Itu belum jodoh”. Untuk orang yang menikah lalu cerai, biasa dibilang juga: “Bukan jodohnya kali”. Tetapi ada juga yang ngomongin sepasang suami istri yang sering bertengkar dan konflik mulu: “Mereka sepertinya bukan jodoh”.

Ini catatan dari pengalaman saya tentang arti dan filosofi jodoh. Mungkin bermanfaat, terutama bagi para jomblo yang masih galau dalam pencarian jodoh. Saya teringat, dulu sekali Mimi pernah bilang: “Jodoh ibarat sumbu nemu tutup, klop. Meski tak pernah sekalipun bertemu atau bertatap muka, tiba-tiba ada getar istimewa dalam hati yang menjadi penanda jodoh kita telah datang”.

Secara pribadi saya mengenal lawan jenis sebagai subjek dalam pencapaian masa depan bersama, sejak mondok di Pemalang di usia 13 tahun. Mungkin pubertas yang masih terlalu dini, tapi di usia ini saya belajar mengenal karakter lawan jenis dengan cara mengagumi kepribadiannya. Semua hal yang baik saya anggap spesial dan berusaha memberikan perhatian lebih meski hanya berani lewat buku harian.

Harapan-harapan cinta dan kegelisahan tak bertemu walau hanya satu hari, bertaburan setiap saat di buku harian. Bahkan, saya sudah berani meminta pada Tuhan di setiap doa agar berkenan menjodohkan saya dengan seseorang atau minimal dengan orang yang seperti itu. Standar dalam pencarian pasangan hidup pun sudah saya tulis di buku harian itu, meski tidak dijadikan standar baku.

Bertambah tahun, semakin beragam pula pengalaman saya dalam mengenal lawan jenis. Pertama belajar dari tiga kakak lelaki saya yang memang usianya saling berdekatan. Kedua, melalui buku atau novel yang saya baca. Ketiga lewat karakter tokoh dalam sinetron atau film. Di usia remaja belasan tahun, saya tidak punya banyak teman laki-laki, kecuali sahabat saat masih duduk di bangku SD. Usai lulus SD, saya sudah merantau menuntut ilmu ke Pemalang dan Jombang.

Di kehidupan pesantren, pergaulan antara laki-laki dan perempuan sangat dibatasi, bahkan tidak boleh bertemu kecuali pada saat moment tertentu saja. Di pesantren pula, saya diajarkan: bahwa jika ingin mendapatkan jodoh yang baik harus puasa sunah senin kamis, rajin sholat malam dan sering-sering berdoa untuk memperoleh jodoh terbaik. Semua pra-syarat ini harus serius dilakukan. Logikanya, ketika kita meminta sesuatu yang istimewa, perjuangannya pun tidak sehari dua hari.

Jodoh bukan sekedar “dia cocok sama saya”, tetapi “saya juga harus mencocokkan diri dengan dia”. Jodoh adalah seseorang yang harus siap kita terima. Setiap hari bertemu selama seumur hidup tanpa rasa bosan. Siap bertengkar dan bertentangan dalam segala hal. Tetapi ada tujuan menata masa depan. Dulu saya menyebutnya lelaki yang visioner, yang memiliki tujuan dan cita-cita kemana rumah tangga akan di bawa.

Suami bukan sekedar orang yang siap memenuhi kebutuhan fisik sandang, pangan dan papan. Tetapi yang lebih penting dari itu, konsep masa depan kita harus apa dan bagaimana agar bisa bermanfaat bagi sesama. Lalu, pola pendidikan apa yang akan kita berikan untuk anak-anak kita. Jika kita menemukan jodoh yang sepaham dalam visi-misi, hal-hal sederhana dalam keluarga bisa menjadi topik pembicaraan yang menarik. Kita seperti menemukan teman diskusi yang nyaman, tanpa harus saling menjustifikasi. Karena menyadari satu hal tidak ada manusia yang sempurna, kita sendiri-lah yang harus saling menyempurnakan satu sama lain.

Hingga hari ini, saya percaya tidak ada proses yang serba kebetulan. Termasuk masa pencarian jodoh itu. Semua yang pernah kita lewati dalam hidup itulah hasil yang akan kita rasakan kelak. Karena menyukai filsafat sejak remaja, dan selalu melogikan hal-hal sederhana dalam kehidupan saya jadi banyak belajar dari kebiasaan sehari-hari. Contoh kecil, pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak, menyapu dan sebagainya. Sarat dengan nilai dan pembelajaran. Tidak hanya sebatas menyelesaikan pekerjaan, tetapi merunut tugas itu dari misal menyapu/mengepel dari ruang dalam/depan dulu baru ke belakang/luar.

Saat remaja dulu saya membayangkan jika ingin mendapatkan jodoh yang baik dan bertanggung jawab, maka saya juga harus belajar bertanggung jawab dari hal kecil dan sepele. Jadi pekerjaan apapun yang pernah saya lakoni, saya lakukan sepenuh hati. Tidak ada rasa malu apalagi gengsi. Kelak ketika kita sudah berrumahtangga tak akan ada orang yang bertanya siapa orangtuamu, sehingga setiap masing-masing dari diri kita dituntut untuk bisa bertahan hidup dalam kondisi apapun. Berangkat dari pemikiran sederhana itu, jika takdir ‘ndilalah’ memberi saya kehidupan yang serba susah saya siap menjalaninya. Kesusahan akan mengasah jati diri kita untuk menjadi lebih baik.

Kehidupan, masa depan dan jodoh yang baik adalah satu mata rantai yang tak bisa dipisahkan. Menjalani prosesnya tidak mudah, dibutuhkan banyak kesukaran, tangis dan air mata. Jika kita pernah melewati semua itu, betapa nikmatnya kehidupan baik yang kita jalani saat ini. Dari kesulitan hidup yang pernah mendera kita, banyak pembelajarn mengenai keikhlasan berbagi dengan sesama. Ia juga menjadi pengingat betapa pedihnya hidup serba terbatas. Bahwa nama besar orangtua atau keluarga takkan memberi pengaruh apapun, bahkan dalam proses mencari jodoh yg baik, jika kau tak berusaha sendiri untuk bertahan hidup dengan kemampuan yang kau miliki. Berdiri di atas kaki sendiri, mewujudkan mimpi untuk merubah kehidupan di masa depan yang lebih baik.

Bisa jadi jodoh itu misteri, tetapi kitalah yang harus memecahkan misteri itu. Jika belum dapat pasangan, seseorang harus banyak berdoa dan berusaha, lalu mantapkan pilihan dan teguhkan langkah. Jika sudah memperoleh pasangan, apalagi sudah berumah tangga, yang harus dilakukan adalah menjadikan dirinya sebagai jodoh yang cocok bagi pasangannya. Begitupun menemani dan mengantarkan pasangannya agar menjadi jodohnya yang cocok dan sesuai, sehingga mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah tidak lagi menjadi mimpi semu, tetapi nyata adanya

Tags: Filosofi JodohJodohkeluargaMembangun Keluargaperempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Hikmah Tauhid, Dibalik Pandemi Global Covid-19

Next Post

Ketika Perempuan Selalu Salah

Mubadalah

Mubadalah

Portal Informasi Popular tentang relasi antara perempuan dan laki-laki yang mengarah pada kebahagiaan dan kesalingan dalam perspektif Islam.

Related Posts

Laki-laki dan Perempuan sama
Pernak-pernik

Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

8 Juni 2026
Peran Perempuan
Pernak-pernik

Beban Ganda Perempuan dalam Konstruksi Peran Gender

8 Juni 2026
Seks
Pernak-pernik

Apa Bedanya Seks dan Gender?

7 Juni 2026
Seksualitas
Pernak-pernik

Memahami Seksualitas Perempuan dan Pentingnya Otonomi Tubuh

7 Juni 2026
Anemia pada
Pernak-pernik

7 Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia pada Perempuan

6 Juni 2026
Anemia
Pernak-pernik

Kenali Anemia, Penyakit Akibat Kekurangan Gizi yang Sering Menyerang Perempuan

5 Juni 2026
Next Post
Kenapa Perempuan Korban Kekerasan Seksual Selalu Disalahkan?

Ketika Perempuan Selalu Salah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Gen Z Indonesia: Paling Kritis, tetapi Paling Cemas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
  • Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender
  • Membaca Ulang Dakwah Tauhid di Masa Krisis
  • Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa
  • Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0