Rabu, 22 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Belajar dari ‘Kemurtadan’ Perempuan; Refleksi Buku Biografi Ayaan Hirsi Ali (Part II)

Hijroatul Maghfiroh by Hijroatul Maghfiroh
10 Juli 2020
in Pernak-pernik
A A
0
Ilustrasi Oleh Nurul Bahrul Ulum

Ilustrasi Oleh Nurul Bahrul Ulum

2
SHARES
104
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Penemuan dan Pengingkaran

Ayaan Hirsi Ali bukanlah perempuan biasa, ia lahir dari orang tua yang memiliki tingkat literasi cukup tinggi. Di usia sekolah dasar dia sudah menguasai beberapa bahasa; Somali, Arab, Amharic (Ethiopia), Swahili (Kenya), dan Inggris. Ketika remaja, dia sangat gemar membaca karya sastra dari novel klasik Inggris, misalnya: 1984, Adventures of Huckleberry Finn, The Thirty- Nine Steps, hingga novel-novel Rusia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Ayaan tidak hanya gemar membaca buku, sebagai anak seorang politisi, Ayaan sudah terbiasa mendengarkan diskusi-diskusi ‘tema berat’, termasuk soal permasalahan-permasalan sosial politik yang terjadi. Dengan latar belakang seperti itu, wajar jika dia memiliki cara berpikir kritis, termasuk dalam beragama. Orang-orang seperti ini akan lebih tepat jika bertemu dengan pandangan-pandangan keagamaan yang –meminjam bahasa Mas Ulil Absar Abdalla — ‘intelek’.

Sayangnya, dari pengalaman yang saya ceritakan di atas, Ayaan justru mengalami pengalaman-pengalaman keberIslaman yang menurutnya tidak rasional dan bahkan cenderung tidak manusiawi. Ketika dia aktif di kelompok-kelompok Muslim Brotherhood di Kenya, yang karena terinspirasi oleh ajakan Sayyid Qutb, mereka mengajak untuk bergerak, berjihad melawan Yahudi dan ‘’Barat”, padahal Ayaan yang sejak kecil gemar melahap buku-buku karya pengarang Inggris dan Amerika merasa tidak menemukan kejahatan di sana, justru dari buku-buku tersebut dia menemukan ‘moral’ dan penghormatan kepada pilihan individu.

Propaganda negatif terhadap Barat oleh orang-orang muslim yang ia dengar ketika di Saudi, Somalia dan Kenya dapat dipatahkan saat ia mendarat di Eropa, Jerman dan kemudian sampai di Belanda. Ayaan melarikan diri dari perjodohan, dari perampasan pilihan pribadi. Di Belanda, ia menemukan sebenar-benar kehidupan yang selama ini ia imajinasikan, terutama sebagai perempuan. Ketika bepergian tanpa didampingi laki-laki, ia tidak harus was-was ditikam dari belakang dengan pisau menghunus ke leher seperti pengalamannya ketika di Somalia.

Di Belanda ia menyaksikan hukum benar-benar ditegakkan, misalnya ketika ia lupa memasang lampu sepedanya di malam hari dan kemudian ditilang oleh polisi tanpa ditarik pungli. Negara benar-benar hadir, terutama bagi mereka yang membutuhkan, bahkan bagi refugee (pengungsi) seperti dirinya dan ribuan lainnya.

Ayaan, yang pernah mengalami langsung tinggal beberapa saat di pengungsian Somalia, cukup kaget ketika melihat lokasi ‘barak’ pengungsi di Belanda yang cukup bagus dan sangat manusiawi, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan pengalaman di barak pengungsian sebelumnya yang tidak manusiawi, terutama pada perempuan dan anak-anak.

Ayaan yang selalu menuntut hak individu sebagai perempuan merasa mendapat angin segar ketika berada di negara yang menjamin kebebasan hak untuk setiap penduduknya. Ia selalu mendapat dukungan dari negara untuk memenuhi mimpi-mimpinya, salah satunya dengan melanjutkan kuliah di jurusan ilmu politik, Leiden Univeristy.

Di sana dia semakin menemukan pemuas dahaga pengetahuannya. Ia melahap buku-buku tentang pemerintahan, negara, sistem politik, sejarah Belanda dan Eropa, dll; semua itu ia pelajari untuk mengurai aspek-aspek yang membuat suatu bangsa memiliki kondisi yang berbeda dengan lainnya.

Bacaan-bacaannya yang semakin kaya menantang keimanannya sebagai seorang muslim. Misalnya ketika mendapati pendapat Darwin yang menganggap bahwa sejarah penciptaan adalah dongeng belaka, sementara Freud mengatakan bahwa kita harus berkuasa atas diri sendiri. Spinoza meyakini bahwa tidak ada malaikat, keajaiban, tidak perlu berdoa kepada apapun di luar diri kita; Tuhan adalah kita dan alam. Apalagi ketika Emil Durkheim memprovokasi bahwa manusia itu mengimajinasikan agama untuk memberikan rasa aman bagi diri mereka. Makin goyahlah iman Ayaan.

Kepercayaannya kepada Islam mulai pudar, ketika di Belanda, ia masih saja menemukan perempuan-perempuan muslim (Somalia) menjadi korban kekerasan pasangannya. Selain kuliah di Leiden, perempuan yang dengan mudah belajar bahasa Belanda ini bekerja untuk asylum center sebagai penerjemah resmi untuk para refugee Somalia. Sebagai penerjemah, ia banyak mendengar langsung kisah-kisah pilu dan kasus-kasus para calon refugee dan refugee yang sebagian besar tentang pemerkosaan, kekerasan, dan pelecehan seksual.

Kasus yang sangat umum adalah suami-suami yang menghabiskan uang untuk mengkonsumsi qat (dedaunan dari Arabian yang memiliki zat adiktif semacam rokok, dan sangat lazim dikonsumsi laki-laki Somalia), ketika istri menyembunyikan uang tersebut, mereka akan memukul istrinya sampai kemudian polisi mengintervensi dan tentu membutuhkan bantuan Ayaan sebagai penerjemah.

Kisah-kisah lain dari refugee Somalia yang membuat Ayaan semakin ‘emosi’ terhadap Islam adalah ketika mendapati perempuan-perempuan yang menerima kekerasan dari suami dan menganggapnya sebagai takdir Allah; jika mereka bersabar, penderitaannya akan dihapuskan.

Begitupun alasan-alasan perempuan yang enggan meminta bantuan keluarga ketika mendapat kekerasan dari suami, menurutnya keluarga pasti akan membela suami mereka, karena suami memang diperbolehkan memukul istri mereka ketika istri dianggap ‘misbehave’, dan itu tercatat dalam Quran. Menurut Ayaan, perempuan Belanda juga banyak yang dianiaya, tetapi komunitas dan keluarga mereka tidak akan menerima hal tersebut, apalagi atas nama agama.

Kasus –kasus tersebut sangat kontras dengan apa yang Ayaan temui pada keluarag Johanna, mentor bahasa belandanya. Johanna dan suaminya, Marten merupakan pasangan yang Ayaan imajinasikan. Sebagai seorang suami, Marten bukanlah ‘boss’ rumah tangga, mereka mendiskusikan apapun bersama. Mereka bahkan melibatkan kedua anak-anaknya dalam diskusi dan dibolehkan memberi interupsi; mereka berdua saling meminta saran. Marten juga tidak enggan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga.

Yang paling membuatnya nyaman dengan Johanna adalah ketika Ayaan menyampaikan penyesalannya dan menganggap diri ‘egois’ karena harus mendahulukan keinginananya ketimbang kehendak orang tuanya. Bagi Johanna, itu bukanlah kesalahan, karena semua orang berhak mengejar kebahagia personalnya. Sementara dalam ajaran Islam yang Ayaan terima, umat muslim dilarang mendahulukan kepentingan dirinya di atas kepentingan penghambaan kepada Allah.

Temuan-temuan kontras tersebut mendorong Ayaan untuk semakin yakin meninggalkan Tuhan. Selain mungkin alasan pragmatism lainnya. Tetapi dalam buku yang ditulisnya, Infidel–My Life, keyakinannya meninggalkan Tuhan semakin menguat setelah serangan 9/11 di gedung Pentagon, Amerika Serikat.

Baginya, serangan yang diklaim sebagai terorisme yang mengatasnamakan Islam tersebut bukanlah karena alasan frustasi, kolonialisme, kemiskinan, ataupun Israel, tetapi benar-benar refleksi dari keyakinan keagamaan. Menurutnya, ajaran tentang kebencian, penyerangan dan kekerasan memang terdapat dalam ajaran Islam. Osama bin Laden, seperti halnya Sayyid Qutb yang buku-bukunya pernah Ayaan pelajari, memang mendorong umat Islam untuk melakukan penyerangan, ‘jihad’.

Belajar dari ‘Kekafiran’ Ayaan

Seandainya saat itu Ayaan memiliki teman diskusi keislaman semacam Khaled Abou El Fadl, tentu dia tidak akan mendefinisikan Islam sebagai agama kekerasan dan rasis. Karena menurut pandangan tokoh ini, syariah adalah jalan menuju kebaikan dengan prinsip-prinsip dasar berupa kebebasan, egalitarian, dan keadilan. Pendekatan kritis otoritatif dengan hermeunetik dan analisis teks dalam mengupas hukum Islam yang digunakan Abou El Fadl tentu akan sangat tepat mengimbangi Ayaan muda yang sangat kritis dan penuh tanya.

Jika saja ketika awal masuk Leiden Ayaan tidak hanya mengakses bacaan-bacaan ‘orientalis’, tetapi membaca juga pemikiran-pemikiran Fatimah Mernissi yang, seperti halnya Abou El Fadl, mengkritik hadis periwayatan Abu Bakrah yang dianggapnya bias gender.

Menurut Mernissi, Alquran dan hadis nabi tidak mempertentangkan hak-hak perempuan, hal tersebut terdapat dalam buku karyanya The Veil dan the Male Elite’ yang diterbitkan satu tahun sebelum Ayaan mendarat di Belanda, 1992. Jika itu terjadi, mungkin Ayaan memiliki argumen lebih untuk membela perempuan-perempuan muslim yang menggunakan alasan keagamaan untuk pasrah atas hak-haknya yang terabaikan.

Jika saja konsep mubadalah (kesalingan) yang diperkenalkan oleh Kiai Faqih Abdul Kodir sudah ada ketika Ayaan menyaksikan relasi kerjasama antara Johanna dan suami, dia pasti hanya akan mengkonfirmasi bahwa di agama yang ia yakini juga mengajarkan hal kesalingan demikian. Tetapi sayangnya konsep relasi setara suami-istri dalam Islam tidak ia temukan, justru yang ia dapatkan adalah praktik ketimpangan relasi suami-istri yang didasaran pada ajaran Islam.

Apalagi jika Ayaan mengenal konsep Keadilan Gender Islam (KGI) yang dipopulerkan oleh Nyai Dr. Nur Rofiah, dengan kekritisan dan keberaniannya, Ayaan pasti akan menyuarakan dengan lantang kedudukan perempuan sebagai manusia penuh ciptaan Tuhan. Menggunakan pendekatan KGI, Ayaan akan mampu menolak praktik sunat perempuan yang tidak menimbulkan maslahat bagi perempuan.

Sayang, semua momen-momen negatif yang Ayaan saksikan selalu berbanding lurus dengan teks-teks keagamaan yang ia dapatkan. Tetapi bagaimanapun, meninggalkan Islam dan berbalik menjadi ‘islamophobia’ bukanlah jalan efektif untuk memperjuangkan hak-hak perempuan muslim, seperti yang ia cita-citakan.

Belajar dari kemurtadan Ayaan, semoga semakin banyak aktivis muslim yang menghadirkan nilai-nilai keislaman yang ‘manusiawi’, yang menjadi gerakan ‘kemanusiaan’. Niscaya Islam tidak hanya akan menjadi magnet bagi Muslim, tetapi juga menjadi inspirasi bagi perwujudan kebaikan umat manusia. []

*)Sumber artikel https://neswa.id/artikel/belajar-dari-kemurtadan-perempuan-refleksi-buku-biografi-ayaan-hirsi-ali-part-ii/

Tags: IslamophobiaKemurtadanKritisisme
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Relasi Kesalingan dalam Puisi Rumi

Next Post

Posesif Bukan Tanda Sayang

Hijroatul Maghfiroh

Hijroatul Maghfiroh

Saat ini sedang menempuh studi di bidang Sustainability and Environmental Studies di Macquarie University, Australia. Ia adalah pendiri Eco-Peace Indonesia, sebuah inisiatif lintas iman untuk pendidikan lingkungan bagi generasi muda. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Program Manager Lingkungan dan Perubahan Iklim di LPBI-PBNU (2010–2022). Selain itu, ia juga penulis buku Dakwah Ekologi: Panduan Penceramah Agama tentang Akhlak pada Lingkungan

Related Posts

Ida Nasution
Figur

Ida Nasution: Muslimah Pertama yang Meraih Gelar Doktor di Universitas Amsterdam

8 Juni 2026
Ketimpangan Gender
Pernak-pernik

Preferensi Anak Laki-laki Perkuat Ketimpangan Gender Sejak Dini

21 Maret 2026
Propaganda Hasbara
Uncategorized

Propaganda Hasbara, Konten Media Hingga Cerita K-Drama

15 Januari 2025
Anak
Hikmah

Pentingnya Menggunakan Perspektif Kasih Sayang dalam Mengasuh Anak

1 Agustus 2023
Islamophobia
Publik

Islamophobia: Memahami Ketakutan dan Prasangka Terhadap Muslim

23 Juni 2023
Mariam Veiszadeh
Figur

Mariam Veiszadeh Melawan Islamophobia di Australia

27 Juli 2016
Next Post
Posesif Bukan Tanda Sayang

Posesif Bukan Tanda Sayang

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0