Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

Feminis Maria memberiku pengajaran bahwa perempuan berhak menyuarakan dan memperjuangkan otoritas atas tubuh serta pengalaman reproduksinya.

Layyin Lala by Layyin Lala
25 Desember 2025
in Aktual, Rekomendasi
A A
0
Natal

Natal

32
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam setiap kesempatan natal, aku selalu memikirkan bagaimana seorang Maria menanggung beban yang amat berat. Bertahun-tahun lamanya, pikiranku berputar pada peristiwa Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus. Maksudku, bukankah itu sebuah hal yang amat sangat berat dalam kondisi yang serba terbatas?

Mungkin, cara pandangku selama ini masih memiliki pengaruh oleh kisah Maryam dan kelahiran putranya yang aku kenal sejak kecil. Sebagai seorang muslim, aku tumbuh bersama narasi Maryam yang melahirkan dekat dengan sungai dan di bawah pohon kurma dalam kesendirian. berbeda dengan kisah natal pada kultur Kristen.

Walaupun Maria dan Maryam merujuk pada figur yang sama dalam tradisi Abrahamik, setiap komunitas iman memiliki penekanan kisah yang berbeda. Perbedaan tersebut patut dihormati sebagai kekayaan cara memahami pengalaman perempuan suci dalam kepercayaan masing-masing khususnya dalam tradisi Abrahamik.

Rasanya kurang adil jika aku memaknai Natal dengan kacamata tradisi yang tidak sedang aku baca. Oleh karena itu, aku memberi kesempatan bagi diriku sendiri untuk mengenal Maria melalui Al-Kitab. Pengalaman membaca ini memberikanku perspektif yang baru dalam cara pandangku. Rasanya, aku menemukan sesuatu yang terasa progresif dan layak dibahas secara lebih serius.

Pengkisahan Maria dalam Kitab Lukas

Kisah Maria dalam Al-Kitab mulanya diceritakan dalam Kitab Lukas. Kitab Lukas adalah salah satu dari empat Injil dalam Perjanjian Baru Alkitab, ditulis oleh Lukas (seorang tabib dan pengikut Rasul Paulus), yang memberikan catatan lengkap dan terperinci tentang kehidupan, pelayanan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Dengan penekanan pada kasih Yesus bagi semua orang, termasuk perempuan, orang miskin, dan orang bukan Yahudi. Kita tersebut dikenal sebagai kitab terpanjang dalam Perjanjian Baru, kaya akan kisah terkenal seperti narasi Natal.

Dalam Kitab Lukas, Pada bulan keenam, Allah mengutus malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea yang bernama Nazaret. Malaikat itu datang kepada seorang gadis yang telah bertunangan dengan seorang laki-laki bernama Yusuf, keturunan Daud. Nama gadis itu ialah Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas, Ayat 29-35)

Berkali-kali aku baca pertanyaan Maria pada Malaikat Gabriel. Semakin aku baca dan resapi pertanyaannya, semakin aku merasa sisi “feminis” yang Maria miliki. Maria bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Aku mengamati bahwa seorang Maria “sadar” akan otoritas tubuhnya sendiri. 

Feminis Maria dan Otoritas Ketubuhan

Ketika aku mencoba memposisikan diri sebagai Maria pada masa itu, aku menyadari bahwa ia hidup dalam masyarakat yang sangat patriarkal. Perempuan memiliki ruang gerak yang terbatas, terutama dalam urusan tubuh, seksualitas, dan juga reproduksi.

Padahal, sudah sangat jelas Malaikat Gabriel berkata bahwa apa yang akan terjadi pada dirinya (Maria) adalah sebuah “kehendak” Tuhan. Bagiku, Malaikat Gabriel juga menjelaskan dengan kalimat yang sangat jelas untuk dipahami oleh Maria.

Tapi, Maria mengajukan sebuah pertanyaan. Bukankah, jika itu kehendak Tuhan bisa saja Maria tidak perlu bertanya dan justru bersuka cita karena Tuhan telah “memilih” ia menjadi perempuan yang istimewa? Bukankah begitu? Tapi aku melihat bahwa sisi feminis Maria terhadap tubuhnya bagai sedang berdiplomasi. Padahal, yang ia hadapi saat ini adalah seorang malaikat, bukan manusia biasa.

Tampaknya, aku juga menyadari bahwa pertanyaan Maria juga bukan sebagai bentuk pembangkangan atau penolakan. Aku melihatnya dalam perspektif lain, justru pertanyaan yang ia ajukan kepada malaikat Gabriel sebagai bentuk Maria berpikir dan menyadari apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Maksudku dengan Ia bertanya, Maria sesungguhnya sedang menempatkan dirinya sebagai subyek yang sadar atas tubuh dan kehidupannya sendiri. Suatu peristiwa yang mungkin pada waktu itu, tidak semua perempuan dapat melakukannya!

Sebagai perempuan yang belum bersuami, ia berhadapan dengan potensi stigma dan hukuman sosial. Karena itu, pengalaman mengandung dan melahirkan juga menjadi persoalan sosial yang menyentuh relasi dengan keluarga dan masyarakat. Tubuh perempuan selalu berada dalam pengawasan sosial, dan Maria mengalami hal itu secara langsung.

Uniknya, kitab Lukas ayat 36 mengisahkan Maria dalam kelanjutan dialog tersebut bahwa Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu,”.

Dalam perspektif umum misalnya, apa yang Maria katakan bisa jadi sebagai bentuk Maria melakukan kepasrahan total atas apa yang terjadi pada tubuhnya. Namun, aku menmukan pemaknaan yang lebih unik. jika kita baca dengan lebih jernih, pernyataan ini muncul setelah dialog dan penjelasan. Artinya, Maria memberikan persetujuan dengan sadar penuh tanpa ada pemaksaan.

Feminis Maria memberiku pengajaran bahwa perempuan berhak menyuarakan dan memperjuangkan otoritas atas tubuh serta pengalaman reproduksinya. Untuk ukuran zamannya, sikap ini menurutku sangat maju dan berani. Bukankah ini suatu hal yang progresif?

Yusuf yang Adil Gender

Yusuf, seorang tunangan Maria tertulis dalam kitab Matius. Matius adalah kitab Injil pertama dalam Perjanjian Baru Alkitab Kristen berdasarkan kesaksian rasul Matius (seorang pemungut cukai yang menjadi murid Yesus) dan berfokus pada kehidupan, ajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus. 

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius Ayat 19-21)

Aku melihat Yusuf sebagai seseorang yang adil gender. Yusuf menyadari bahwa Maria sedang berada pada posisi yang sangat rentan. Alih-alih menggunakan kuasanya sebagai laki-laki untuk menghakimi atau mempermalukan Maria, Yusuf justru memilih jalan yang paling aman bagi Maria. Yusuf bisa saja menyerahkan Maria pada para hakim untuk dikenakan hukuman, tetapi ia lebih memilih untuk melindungi Maria. Yusuf sedang berpihak pada keselamatan perempuan!

Relasi Mubadalah Maria-Yusuf

Menjelang kelahiran anak Maria, Kaisar Agustus mengeluarkan perintah agar seluruh penduduk mendaftarkan diri. Perintah kaisar memaksa banyak orang untuk meninggalkan tempat tinggal mereka, termasuk Yusuf. Sebagai keturunan Daud, Yusuf harus pergi dari Nazaret di Galilea menuju Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem. Aku melihat jika perrjalanan tersebut tentulah bukan perjalanan yang mudah, terlebih Maria sedang mengandung besar.

Dalam situasi yang berat itu, Yusuf tidak meninggalkan Maria. Ia justru membawa Maria bersamanya, memastikan tunangannya tetap berada dalam perlindungan dan pendampingan penuh. Perjalanan panjang menuju Betlehem penuh dengan kehati-hatian. Yusuf menempatkan keselamatan Maria dan bayi yang Maria kandung sebagai prioritas utama. Yusuf sangat menyadari bahwa kondisi Maria sangat rentan dan membutuhkan perhatian ekstra.

Setibanya di Betlehem, waktu persalinan Maria pun tiba. Namun, kota telah penuh oleh para pendatang yang datang untuk mendaftarkan diri. Keduanya tidak mendapatkan tempat di penginapan. Dalam keterbatasan, Yusuf berusaha mencari ruang paling aman yang tersedia. Akhirnya, mereka berlindung di sebuah tempat sederhana, tempat hewan-hewan biasa beristirahat (kemungkinan di sebuah kandang ternak atau dekat Menara Kawanan Domba (Migdal Eder)). Di tempat tersebut Maria melahirkan anaknya.

Yesus lahir dalam keadaan yang sangat sederhana. Maria membungkus bayi tersebut dengan lampin dan membaringkannya di dalam palungan. Sekali lagi, Yusuf selalu berada di sisi Maria. Ia selalu memastikan bahwa Maria dapat melahirkan dengan aman. 

Ketika aku membaca kisah Maria hingga ia melahirkan, aku merasakan bahwa relasi Maria dan Yusuf sangatlah Mubadalah. Dalam kondisi yang rentan, Yusuf selalu berada di sisi Maria untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan Maria menjadi partner yang saleh bagi Yusuf dalam melaksanakan perintah Tuhannya. Sungguh, nilai-nilai tersebut memberikanku pengajaran tentang bagaimana natal juga menyimpan nilai-nilai relasi yang sarat akan nilai kesalingan atau Mubadalah.

Refleksi

Sebagai seorang muslim, aku sangat menghormati perayaan Natal, terutama bagi teman-teman kristiani yang merayakannya. Refleksi Natal yang kutuliskan tahun ini menjadi sebuah refleksi yang sangat berharga. Karena aku belajar tentang Natal menyimpan pesan mendalam tentang bagaimana pengalaman reproduksi perempuan, ketubuhan, serta relasi laki-laki dan perempuan dalam bingkai kesalingan.

Pengalaman Maria sejujurnya menampakkan kalau tubuh perempuan bukanlah obyek yang  pasif. Maria justru tampil sebagai subjek yang berpikir, bertanya, dan memberikan persetujuan secara sadar atas apa yang akan terjadi pada tubuh dan hidupnya.

Pada sisi yang lain, Yusuf menghadirkan figur laki-laki yang adil gender terutama kepada Maria. Maria tidak sendirian menanggung beban reproduksi, dan Yusuf tidak berdiri sebagai figur dominan. Keduanya berbagi peran, risiko, dan tanggung jawab sesuai dengan kondisi masing-masing. Inilah relasi setara yang berangkat dari empati bersama.

Refleksi Natal kali ini mengajak kita untuk meninjau ulang cara pandang terhadap tubuh perempuan dan pengalaman reproduksi. Masih banyak perempuan yang mendapatkan pemaksaan menanggung pengalaman bilogis seperti kehamilan, persalinan, dan pengasuhan secara sendirian. 

Kisah Maria dan Yusuf seharusnya kita pahami bahwa beban reproduksi tidak seharusnya terpikul secara individual oleh perempuan saja. Melainkan menjadi tanggung jawab bersama yang melibatkan pasangan, keluarga, dan juga masyarakat.

Selamat Hari Raya Natal 2025! []

 

Tags: Hak Kesehatan Reproduksi PerempuanMariaMubadalahNatalRelasiYusuf
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

5 Prinsip Dasar Keadilan Hakiki bagi Perempuan

Next Post

Natal Sebagai Cara Menghidupi Toleransi di Ruang Publik

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Dimensi Akhlak dalam Talak
Keluarga

Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

20 Juli 2026
Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Milik Suami
Keluarga

Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

16 Juli 2026
Tadarus Subuh
Keluarga

Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

13 Juli 2026
Normal
Disabilitas

Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

13 Juli 2026
Perempuan dalam Perkawinan
Personal

Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

13 Juli 2026
Next Post
Natal

Natal Sebagai Cara Menghidupi Toleransi di Ruang Publik

No Result
View All Result

TERBARU

  • Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya
  • Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak
  • Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes
  • Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara
  • HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0