Senin, 2 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    MBG

    Dear Pemerintah: Zakat itu untuk Korban Kekerasan Seksual, Bukan MBG

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Alam dan Manusia

    Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    Aurat sebagai Kerentanan

    Perspektif Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Kerentanan Sosial

    rahmatan lil ‘alamin sebagai

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

    rahmatan lil ‘alamin

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Prinsip Universal Ajaran Islam

    Adil

    Perspektif Mubadalah Dorong Terwujudnya Relasi Adil dan Setara

    Metodologi Mubadalah

    Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

    Teologis Mubadalah

    Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

    Mubadalah

    Makna Mubadalah dan Perkembangannya sebagai Konsep Relasional

    Kisah Zaid dan Julaibib

    Romansa Tanpa Kasta dalam Kisah Zaid dan Julaibib

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    MBG

    Dear Pemerintah: Zakat itu untuk Korban Kekerasan Seksual, Bukan MBG

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Alam dan Manusia

    Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    Aurat sebagai Kerentanan

    Perspektif Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Kerentanan Sosial

    rahmatan lil ‘alamin sebagai

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

    rahmatan lil ‘alamin

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Prinsip Universal Ajaran Islam

    Adil

    Perspektif Mubadalah Dorong Terwujudnya Relasi Adil dan Setara

    Metodologi Mubadalah

    Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

    Teologis Mubadalah

    Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

    Mubadalah

    Makna Mubadalah dan Perkembangannya sebagai Konsep Relasional

    Kisah Zaid dan Julaibib

    Romansa Tanpa Kasta dalam Kisah Zaid dan Julaibib

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom

Generasi Muda dan Karier Buatan Sendiri

Baru di era digital ini keberlimpahan informasi memungkinkan generasi muda terpapar aneka ragam isu

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
2 Mei 2024
in Buku, Rekomendasi
A A
0
Generasi Muda

Generasi Muda

18
SHARES
915
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Isu anak muda belakangan masih hangat sebagai topik ghibah. Baik di media, tongkrongan, debat politik, maupun di bilik akademik yang sepi namun kebak aura jumawa itu. Banyak nama besar lahir karena menelisik kajian ini, salah satunya Steven Threadgold.

Sebagai lektor kepala (associate professor) di Universitas Newcastle, Australia, Threadgold yang juga anak didik Pam Nilan—sarjana kenamaan di bidang serupa—berfokus meneliti sosiologi anak muda dan irisannya dengan kelas, ketidaksetaraan (inequality) dan aspek budaya.

Karya bukunya berjudul Youth, Class and Everyday Struggles (2019) mengupas bagaimana kaum muda di Australia menegosiasikan tantangan sehari-hari lewat beragam cara dan taktik. Salah satunya adalah lewat jalur “kreativitas” dan “DIY-Culture” (Budaya Do It Yourself). Dengan mengambil-kembangkan konsep-konsep praktik sosiologis Bourdieu, Threadgold menyelami kehidupan dan perjuangan sehari-hari kaum muda dalam merintis karier-buatan mereka sendiri (DIY-career)–yang selanjutnya saya terjemahkan sebagai “budaya swakarya”.

Budaya Swakarya: Kreativitas, Identitas dan Kerja Penuh Makna

Pada bagian ketiga di bukunya, Threadgold mengelaborasi DIY Culture (budaya swakarya). Frasa tersebut merangkum sebuah panorama di mana kaum muda bergumul-juang dengan kreativitas, identitas, dan kerja yang penuh makna (meaningful work).

Di bab ini ia masuk mengintai skena musik anak muda sebagai studi kasus. Baginya, musik adalah ranah di mana anak muda memproduksi sekaligus mengonsumsinya dalam kehidupan sehari-hari, sembari menemukan dan merawat identitas mereka.

Skena DIY atau swakarya sendiri di mata Threadgold merupakan sewujud perjuangan kultural dan produksi makna yang ditapaki individu/kelompok. Contoh lapangannya pada buku ini adalah punk—yang bahkan Threadgold posisikan sebagai ‘sinonim’ dari budaya swakarya (DIY) itu sendiri. Banyak anak muda yang bergabung di skena punk sebagai bagian dari proses individualisasi sekaligus wujud aktualisasi perubahan sosial. Bibir orang-orang kerap menyebutnya “pencarian jati diri”.

Skena swakarya, dalam praktiknya, acap kali disangkut-pautkan dengan sosok individu pelaku/kreator an sich. Banyak orang menceraikannya dari konteks di luar itu. Padahal, dalam realitasnya, potret kompleks di balik skena swakarya justru melibatkan multi-aspek yang sifatnya struktural dan jejaring rumit.

Di sini Threadgold membenturkan dengan prospek karier yang makin menipis bagi generasi muda kiwari. Lapangan kerja berkurang, populasi masih bengkak, dan jaminan sosial dari pemerintah justru menuju arah yang tidak supportif.

Kemudian antara peluang untuk menjadi buruh dengan perjuangan berbasis kreativitas, sekat di antara keduanya tampak samar. Posisi ‘alam-antara’ ini lantas menjadi medan di mana pilihan hidup sangat berisiko dan penuh ketidakpastian. Pendeknya: high risk, high return.

Resiko tinggi, tetapi kalau berhasil, gede juga imbalannya. Terlebih di bidang musik; berapa ratus ribu atau berapa juta anak muda yang menggelutinya dan berapa persen yang bisa menjadi Sheila on 7 dan Dewa 19? (sekadar ilustrasi kecil).

Budaya Swakarya sebagai Praktik

Namun begitu, di tengah kerapuhan lintas sektor, kaum muda yang terjun di skena ini memiliki agensi untuk tetap bertahan. Disiplin swakarya bahkan meresap menjadi filosofi hidup mereka. Sebutlah skena musik di Australia, sebagai contoh di buku ini, musik Indie sering kita pandang sebagai alternatif “otentik” atas “selera pasar” komersial arus utama (mainstream). Dan Threadgold mewawancarai sejumlah pemuda pelaku budaya swakarya tersebut. Orang-orang muda eksentrik, yang menempuh jalur di pelipir wajah zaman.

Hasilnya menunjukkan kalau pelabelan, penamaan, atau pengkotak-kotakan genre musik dan budaya swakarya mereka justru membuat mereka “rawan terkooptasi” oleh pasar. Dampaknya tentu sebagaimana berderet dalam sejarah. Di mana celana jins robek milik kaum buruh dan tukang direbut industri fesyen. Musik jazz dan blues dicuri oleh kalangan elite kulit putih; hingga Citayam Fashion Week yang direbut-daftarkan HAKI oleh pesohor selebritas; dan seterusnya.

Di tahap itu, Threadgold berargumen: budaya swakarya sebagai praktik, khususnya praktik afektif yang melibatkan perasaan dan aspirasi personal kaum muda, adalah juga sebentuk perjuangan. Para partisipan dalam risetnya telah melakoni hidup dan menghirup napas di dalam skena tersebut.

Praktik mereka bersifat relasional, bahkan menjadi sikap sekaligus estetika yang bergerak menembus batas-batas bidang musik, kelas sosial, dan latar belakang ras. Ia meresap ke alam sosial (kemasyarakatan), juga afektif (perasaan), dan menjadi ‘halaman’ tempat mereka memproduksi-ulang, menantang, dan mengubah situasi rentan mereka menjadi unsur yang lebih produktif. Produknya bisa lagu, merchandise, dan sejenisnya.

Karier Swakarya: Karier Buatan Sendiri

Dalam diskusi lanjutannya, analisis Threadgold menggiring ke topik yang lebih luas, dan tetap memukau. Ia mendedahkan term DIY-Career, persimpangan antara problem pasar tenaga kerja dan perjuangan jalur kreativitas individu/kelompok.

Berbekal hasil wawancaranya ke para pegiat skena musik tadi, ia menyingkap satu indikasi umum. Kondisi pasar kerja seakan memaksa—jika bukan memfetakompli—kaum muda agar menciptakan karier mereka sendiri demi mencapai hidup penuh makna (meaningful life).

Dengan kata lain, generasi muda yang Threadgold wawancarai justru memilih untuk hidup “kurang mapan”, asalkan terhindar dari jebakan “bullshit jobs” (istilah David Graeber) yang merujuk ke jenis pekerjaan kering makna, monoton dan sangat mekanis.

Ihwal demikian sekaligus mengisyaratkan kalau transisi pemuda dari studi menuju kerja secara formal tidak lagi sekaku dahulu. Dan potret karier-buatan-sendiri ini memang akrab dalam skena anak muda. Namun, ia juga berpotensi mengaburkan garis batas antara formal-informal, jam kerja-waktu luang.

Risikonya, pembeda antara karyawan, semi-karyawan dan non-karyawan menjadi tidak jelas. Kabur. Situasi ini menjadikannya cukup rawan. Ada potensi terjadinya eksploitasi oleh pihak pemberi kerja atas kelompok yang dipekerjakan–sebuah pemandangan yang sudah jamak kita ketahui di sekeliling kita.

Kendati demikian, untuk konteks di Indonesia terkait karier-buatan-sendiri sudah sering kita temukan. Banyak anak muda merintis usaha mereka secara mandiri. Membangun kedai kopi kecil, jualan buku dan baju di ruang niaga daring, jasa tata rias pengantin, suvenir wisuda dan pernikahan, hingga jual-beli followers–karier yang unik dan mungkin pertama kali diprakarsai oleh anak bangsa +62.

***

Sebagai akhiran, Threadgold, sebagai akademisi, ia tidak terjebak pada narasi dominan bernada “defektologi kepemudaan”. Yakni suatu tendensi yang condong memposisikan kaum muda sebagai objek untuk didisiplinkan, bersifat mengatur (governmentality), lewat pernyataan umpamanya “apa yang salah dengan pemuda kita hari ini?” tanpa kesediaan menggali lebih dalam dan kelapangan hati untuk mengerti seperti karib sendiri.

Threadgold tidak keserimpung dan jatuh ke lubang itu. Ia malah menyisir kalau konsep masa depan menjadi kabut pekat bagi generasi muda saat ini. Beragam isu krusial mulai dari pengangguran hingga krisis iklim membuat mereka kalut. Tantangan eksistensial belum pernah seserius ini di zaman mana pun.

Coba kenangkan: belum pernah ada dalam sejarah bangsa dan era kapan pun yang anak mudanya berkumpul dalam suatu tongkrongan membahas mulai dari kopi, puisi, krisis iklim, penggusuran, lapangan kerja, tempat wisata hidden-gems, hits, konflik agraria, krisis pangan, kriminalisasi aktivis lingkungan, kebun sawit, tambang, feminisme, novel Murakami, kejahatan seksual otoritas keagamaan, hingga tasawuf, korupsi dan oligarki elite–hanya dalam satu kali duduk!

Belum pernah ada dalam sejarah. Circle Socrates, Plato, sampai tongkrongan Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara,  hingga Kartini dan Miss Dja Dardanella saja tak pernah mengalami kondisi perbincangan selebar, serandom, dan seberlompatan itu (dalam sekali duduk).

Baru di era digital ini keberlimpahan informasi memungkinkan generasi muda terpapar aneka ragam isu. Efeknya tentu ganda: memperkaya wawasan, sambil di saat yang sama, membuat kepala retak, cemas dan kalut karena kewalahan (overwhelmed).

Membaca uraian Threadgold dalam bukunya tadi membuat saya–yang juga muda dan remang masa depannya–menjadi merasa terwakili. Dari buku itu, ada dorongan mendesak yang secara implisit ia sodorkan, perlu adanya upaya riset yang terjun langsung menuju pengalaman aktual mengenai ketidakadilan sehari-hari yang anak muda alami.

Apa alasannya? Itu karena penggalian aspirasi otentik dari kaum muda sendiri justru dapat menjadi peluang. Temuannya bisa kita transformasikan menjadi suluh penguat—yang melibatkan ruang dinamika afektif-emosional mereka—sebagai bekal perjuangan hidup sehari-hari yang bisa saja menginspirasi kaum muda lainnya di luar sana. Begitu. []

Tags: Anak MudaBonus DemografiBudayaGenerasi MilenialGenerasi SandwichGenerasi ZkarierkreativitasmusikpemudaPeran Anak Muda
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengapa Kembali ke Perantauan Setelah Pulang Kampung Terasa Begitu Berat dan Menyedihkan?

Next Post

Membudayakan K3 sebagai Ikhtiar Mencegah dan Mengurangi Kecelakaan Kerja

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Redaktur metafor.id. Peneliti swadaya seputar generasi muda dan sosial keagamaan. Alumni Tasawuf Psikoterapi dan Interdisciplinary Islamic Studies. Pegiat literasi dan seni yang kerap menulis dengan nama pena Madno Wanakuncoro.

Related Posts

Difabel dalam Masyarakat Indonesia
Disabilitas

Difabel dalam Masyarakat Indonesia

28 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

5 Februari 2026
Seksualitas sebagai
Pernak-pernik

Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

25 Januari 2026
Tunarungu
Disabilitas

Idgitaf dan Pertunjukan Inklusi: Hak Tunarungu Menikmati Musik

2 Februari 2026
Kerusakan Lingkungan
Lingkungan

Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

2 Februari 2026
Akhir Tahun
Personal

Renungan Akhir Tahun: Anak Muda dan Ilusi Kebebasan

31 Desember 2025
Next Post
K3

Membudayakan K3 sebagai Ikhtiar Mencegah dan Mengurangi Kecelakaan Kerja

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?
  • Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual
  • Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah
  • Perspektif Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Kerentanan Sosial
  • Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0