Sabtu, 28 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    MBG

    Dear Pemerintah: Zakat itu untuk Korban Kekerasan Seksual, Bukan MBG

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Alam dan Manusia

    Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

    Bapak Rumah Tangga

    Bagaimana Jika Suamimu adalah Bapak Rumah Tangga Hari Ini?

    Kampung Kauman Yogyakarta

    Kampung Kauman Yogyakarta dan Kesejarahan Perempuan

    Transportasi Publik

    Pengalaman Pertama Naik Bis dan Membayangkan Transportasi Publik Ramah Disabilitas

    Perempuan Tunanetra Transjakarta

    Perempuan Tunanetra Transjakarta: Empati yang Tidak Sampai ke Halte

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    rahmatan lil ‘alamin

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Prinsip Universal Ajaran Islam

    Metodologi Mubadalah

    Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

    Teologis Mubadalah

    Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

    Mubadalah

    Makna Mubadalah dan Perkembangannya sebagai Konsep Relasional

    Kisah Zaid dan Julaibib

    Romansa Tanpa Kasta dalam Kisah Zaid dan Julaibib

    Dakwah Mubadalah dalam

    Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat

    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    MBG

    Dear Pemerintah: Zakat itu untuk Korban Kekerasan Seksual, Bukan MBG

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Difabel dalam Masyarakat Indonesia

    Alam dan Manusia

    Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

    Bapak Rumah Tangga

    Bagaimana Jika Suamimu adalah Bapak Rumah Tangga Hari Ini?

    Kampung Kauman Yogyakarta

    Kampung Kauman Yogyakarta dan Kesejarahan Perempuan

    Transportasi Publik

    Pengalaman Pertama Naik Bis dan Membayangkan Transportasi Publik Ramah Disabilitas

    Perempuan Tunanetra Transjakarta

    Perempuan Tunanetra Transjakarta: Empati yang Tidak Sampai ke Halte

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    rahmatan lil ‘alamin

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Prinsip Universal Ajaran Islam

    Metodologi Mubadalah

    Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

    Teologis Mubadalah

    Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

    Mubadalah

    Makna Mubadalah dan Perkembangannya sebagai Konsep Relasional

    Kisah Zaid dan Julaibib

    Romansa Tanpa Kasta dalam Kisah Zaid dan Julaibib

    Dakwah Mubadalah dalam

    Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat

    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Pergeseran Narasi Pernikahan di Kalangan Perempuan

Perceraian tinggi dan pernikahan tidak menjadi prioritas dalam hidup, yang dibuktikan dengan menurunnya angka pernikahan di kalangan kawula muda.

Dhuha Hadiyansyah by Dhuha Hadiyansyah
1 Juli 2025
in Personal
A A
0
Narasi Pernikahan

Narasi Pernikahan

26
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sudah delapan belas tahun saya mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Di sela-sela bahasan kuliah, saya cukup sering berbincang dengan mahasiswa dengan topik lain. Termasuk rencana mereka menikah.

Saya ingat betul, terutama sejak 10 tahun ke belakang, mahasiswa cenderung memiliki dua orientasi utama dalam kehidupan romantis. Ingin memiliki pacar sebagai langkah awal menuju hubungan serius atau ingin menikah setelah lulus. Narasi pernikahan mereka pandang sebagai tujuan hidup yang logis dan penting, serta menjadi bagian dari peta kehidupan.

Keinginan menikah tidak hanya dimonopoli kelompok heteroseksual (pria maupun wanita), tetapi juga beberapa gay (saya belum pernah berbincang tentang ini ke mahasiswi lesbian—meskipun saya mengetahui ada mahasiswi yang seperti itu). Namun kini, berdasarkan pengamatan di kelas dan berbagai diskusi, terlihat jelas bahwa narasi dan harapan terhadap pernikahan mulai bergeser.

Bagi beberapa mahasiswa, terutama perempuan, pernikahan tak lagi mereka anggap sebagai keharusan sosial atau akhir ideal dari kedewasaan atau capaian kesuksesan. Sebaliknya, mahasiswi masa kini semakin terbuka bersuara dan mengambil keputusan terhadap lembaga pernikahan. Pergeseran ini bukan hanya tentang gagasan terhadap kesetaraan dalam pernikahan. Tetapi tentang munculnya keputusan untuk tidak menikah atau menikah tapi tanpa anak.

Keputusan untuk tidak menikah

Tidak hanya sebagian kecil mahasiswi, yang memutuskan tidak berminat dengan pernikahan adalah mahasiswa gay (dekade sebelumnya, ada beberapa gay yang berencana menikah karena sekadar ingin punya anak). Berbeda dari itu, semua pria mengaku berencana menikah. Keputusan untuk tetap melajang berdasarkan beberapa faktor, tetapi yang paling menonjol adalah tidak ingin merasakan kerumitan hubungan.

Salah seorang mahasiswi, misalnya, mengatakan bahwa dia tidak berencana menikah karena dia yakin pernikahan justru akan membuat dirinya rentan dan terbebani, karena dia mengidap bipolar.

Ada pula yang mengatakan bahwa dia lebih baik memprioritaskan pencapaian pribadi. Menurutnya dia bisa hidup bahagia di luar institusi pernikahan. Yang lain mengatakan bahwa dia menjadi saksi pernikahan yang sulit dan dia pikir tidak perlu mengalaminya.

Menikah Tanpa Anak

Perempuan dengan pilihan ini merasa bahwa memiliki pasangan hidup tidak selalu harus ia ikuti dengan keharusan melahirkan dan membesarkan anak. Mereka tetap ingin menikah karena pertimbangan dorongan biologis dan sosial.

Bagi mereka, pernikahan adalah ruang untuk berbagi hidup dan nilai, bukan proyek reproduksi. Akan tetapi, mereka memiliki pandangan bahwa tanggung jawab pengasuhan masih sangat timpang dan cenderung membebani perempuan secara fisik, emosional, dan sosial.

Penelitian kecil-kecilan di atas tentu tidak untuk menggeneralisasi, akan tetapi untuk meningkatkan kesadaran kita tentang apa yang ada di kepala sebagian generasi kita saat ini. Pergeseran ini tentu tidak muncul begitu saja.

Pasti ada sejumlah faktor yang melatari, seperti: pendidikan dan literasi gender, narasi alternatif dari pernikahan terutama di media sosial, trauma tumbuh di lingkungan dengan pernikahan disfungsional, atau situasi ekonomi dan sosial kekinian.

Ada temuan menarik dari Stephanie Coontz (2005) dalam “Marriage, a History: From Obedience to Intimacy, or How Love Conquered Marriage”, yang melakukan pembabakan dalam sejarah pernikahan. Temuannya, di Amerika Serikat era 1920an, anak muda mulai bertemu di restoran atau mobil untuk merajut cinta, jauh dari pengawasan keluarga. Di era ini mulai ada kritik tentang hilangnya kesakralan pernikahan akibat kelakuan para remaja tadi.

Babak kedua pada 1950an, yang kala itu pernikahan dinilai sebagai kewajiban dan satu-satunya cara membina keluarga. Survei tahun 1957 menunjukkan bahwa empat dari lima orang menganggap pilihan untuk tetap melajang sebagai sesuatu yang “sakit,” “neurotik,” atau “tidak bermoral.”

Babak ketiga pada 1970-an. Di era ini, perempuan mulai mandiri dan aturan sosial berubah—pernikahan tidak lagi dianggap keharusan. Pasangan yang sering cekcok cenderung bercerai daripada bertahan, dan angka perceraian mulai meroket.

Angka Pernikahan Menurun

Terbaru, angka pernikahan menurun tetapi orang tetap memiliki fantasi tentang pernikahan yang sempurna. Pernikahan dianggap sebagai bentuk cinta paling tinggi, bahkan mendorong kelompok minoritas untuk memperjuangkan hak menikah.

Pasangan memilih kumpul kebo terlebih dulu sampai mereka yakin telah cocok, baru mereka menikah untuk menghindari perceraian. Angka perceraian di AS mulai melejit dekade 1970an dan mencapai puncak pada dekade 1980an.

Sulit menemukan riwayat sejarah pernikahan di Indonesia seperti di atas. Akan tetapi, berkaca dari situ, generasi kita mungkin mulai menginjak babak ketiga seperti di AS itu. Perceraian tinggi dan pernikahan tidak menjadi prioritas dalam hidup, yang dibuktikan dengan menurunnya angka pernikahan di kalangan kawula muda.

Dunia pendidikan, institusi keagamaan, dan pembuat kebijakan perlu merespon pergeseran pandangan tentang pernikahan ini. Suara-suara baru yang muncul dari generasi muda perlu kita dengar untuk memperbaiki keadaan.

Tentu saja semangatnya bukan untuk menggiring mereka ke dalam budaya lama. Melainkan untuk membuka ruang bagi keberagaman pandangan hidup yang berakar pada keberdayaan yang berbasis mubadalah, yang sama-sama menguntungkan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pernikahan.

Sebab, pada akhirnya, kehidupan yang kita jalani dengan kesadaran memilih jauh lebih bermartabat daripada kehidupan yang sekadar kita jalani karena kendali dan kekangan tradisi. []

Tags: CintaJodohJomlomenikahNarasi Pernikahanperempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mewujudkan Fikih yang Memanusiakan

Next Post

Meninjau Ulang Amar Ma’ruf, Nahi Munkar: Agar Tidak Jadi Alat Kekerasan

Dhuha Hadiyansyah

Dhuha Hadiyansyah

Dosen pada Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) dan fasilitator Sekolah Pernikahan

Related Posts

Sayyidah Nafisah
Aktual

Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

27 Februari 2026
hak perempuan
Pernak-pernik

Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

25 Februari 2026
Penindasan
Pernak-pernik

Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

24 Februari 2026
sistem patriarki
Pernak-pernik

Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

24 Februari 2026
Sejarah Perempuan
Aktual

Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

23 Februari 2026
Sejarah Perempuan atas
Aktual

Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

23 Februari 2026
Next Post
amar ma’ruf

Meninjau Ulang Amar Ma’ruf, Nahi Munkar: Agar Tidak Jadi Alat Kekerasan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan
  • Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Prinsip Universal Ajaran Islam
  • Makna Aurat dalam Perspektif Mubadalah
  • Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial
  • Dear Pemerintah: Zakat itu untuk Korban Kekerasan Seksual, Bukan MBG

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0