Sabtu, 11 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Tubuh, Cinta, dan Kebebasan: Membaca Simone de Beauvoir Bersama Rumi dan al-Hallaj

Ungkapan “kau adalah aku” bukan hanya sekedar ungkapan cinta, tetapi juga pengakuan, bahwa setiap jiwa berhak menjadi dirinya sendiri.

Lailatuz Zuhriyah by Lailatuz Zuhriyah
25 Juli 2025
in Personal
A A
0
Simone de Beauvoir

Simone de Beauvoir

17
SHARES
872
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“One is not born, but rather becomes, a woman.”

— Simone de Beauvoir

“Cinta dua manusia tidak akan sempurna hingga ia berkata: kau adalah aku.”

— Jalaluddin Rumi

“Ana al-Ḥaqq!” (Akulah Kebenaran)

— al-Ḥallāj

Mubadalah.id – Sejatinya, tulisan ini berangkat dari sebuah pengalaman yang sebelumnya tidak pernah saya duga akan menuntun saya pada sebuah perenungan lintas peradaban.

Perenungan ini muncul ketika saya sedang membimbing skripsi mahasiswa program studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN SATU Tulungagung. Mahasiswa itu menulis skripsi dengan judul “Dari Liyan Menuju Subjek: Representasi Tubuh Yeong-Hye dalam Novel The Vegetarian Melalui Perspektif Feminisme Eksistensialis Simone de Beauvoir.”

Saat mahasiswa tersebut saya minta untuk menjelaskan bagaimana posisi tokoh utama dalam novel, Yeong-Hye, mengalami objektivikasi oleh suami dan ayahnya, ia menjelaskan bahwa dua figur yang patriarkal tersebut (suami dan ayah Yeong-Hye) tidak hanya sekedar mengontrol tubuh Yeong-Hye, tetapi juga mendefinisikan eksistensinya.

Dalam upaya menolak semua itu, Yeong-Hye memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian. Yakni suatu bentuk resistensi diam yang mendalam dan penuh dengan makna simbolik. Ia sekuat tenaga memilih menjadi subjek atas dirinya, dan bukan sekedar objek dari kehendak orang lain.

Saat mendengarkan paparan mahasiswa tersebut, saya lantas terdiam, dan merenung tentang apakah konsep tentang tubuh, cinta, dan kebebasan ini bisa terbaca lebih dari sekedar konsep filosofis saja?

Dari Bimbingan Skripsi ke Renungan Filsafati

Dalam renungan sekilas tersebut, saya bertanya dalam diri, “apakah hanya Simone de Beauvoir saja yang menawarkan jalan agar seseorang bisa benar-benar menjadi subjek? Apakah dalam khazanah spiritual Islam, kita tidak menemukan semangat yang serupa dari tokoh-tokoh pemikir muslim juga?”.

Maklum, saya kerap kali mengkritisi skripsi mahasiswa AFI yang terkadang pembahasannya kurang menampakkan sisi aqidahnya, atau kurang mencerminkan analisis filsafat Islamnya, dan lebih cenderung ke filsuf Barat. Apakah ini salah? Tentu saja tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, AFI perlu menunjukkan pencirinya yang unik sebagai bagian dari keilmuan PTKI, yang tentu berbeda dengan filsafatnya PTU.

Kembali lagi ke renungan saya saat membimbing skripsi mahasiswa. Seketika, saya teringat dengan ungkapan Rumi, yang kerap kali Kyai Husein Muhammad kutip, “Cinta dua manusia tidak akan sempurna hingga ia berkata: kau adalah aku.” Tidak hanya itu, saya juga teringat pada keberanian eksistensial dari al-Hallaj dalam mengatakan “Ana al-Haqq”, yang saya maknai sebagai keberanian dalam meniadakan ego demi kebenaran ilahiah.

Berawal dari itu, saya mulai melihat benang merah. Meski ketiga tokoh tersebut (baik Simone, Rumi, maupun al-Hallaj) memiliki epistemologi dan tradisi yang berbeda, namun ketiganya sejatinya sedang berbicara soal kemanusiaan, subjektivitas, dan juga kebebasan. Ketiganya menolak objektivikasi, baik oleh kekuasaan, norma, cinta yang manipulatif, maupun ego yang membelenggu.

Dalam hal ini, tulisan ini hadir sebagai hasil perjumpaan kontemplatif tersebut. Tulisan ini merupakan sebuah ikhtiar untuk menjembatani antara modernitas, spiritualitas, dan gender dalam satu ruang pemaknaan yang reflektif.

Tubuh: Dimensi Sosial dari Ketubuhan yang Diobjektivikasi

Simone de Beauvoir dalam bukunya yanag berjudul “The Second Sex” mengatakan bahwa perempuan telah begitu lama terdefinisikan oleh laki-laki sebagai “yang lain” (the Other). Tubuh perempuan tidak lagi dimiliki oleh dirinya sendiri, melainkan didikte oleh tatanan patriarkal yang menuntutnya untuk menjadi cantik, tunduk, patuh, dan sesuai dengan norma yang dibuat oleh masyarakat patriarkal.

Yeong-Hye, sebagai tokoh utama dalam novel “The Vegetarian” karya Han Kang, menjadi representasi perlawanan terhadap kontrol atas tubuhnya ini. Keputusannya untuk menjadi vegetarian, sebenarnya bukan hanya sekedar menolak makanan hewani saja, tetapi juga bentuk pemulihan kendali atas tubuhnya yang selama ini diatur, didikte dan dimiliki oleh laki-laki. Tubuhnya menjadi ruang perlawanan baginya.

Tubuh, dalam perspektif feminisme eksistensialis, bukanlah sesuatu yang bersifat netral. Tubuh merupakan medan sosial-politik, tempat di mana kuasa beroperasi. Dalam hal ini, pemulihan subjektivitas atas tubuh merupakan langkah awal untuk menuju kebebasan.

Cinta: Dimensi Emosional dari Kesalingan dan Pengakuan

Sejatinya, tubuh tidak bisa terpisahkan dari cinta. Cinta bisa menjadi alat dominasi jika tidak berlandaskan sikap kesalingan. Hal yang demikian inilah yang ditentang oleh Simone. Dalam pandangannya, cinta yang sejati adalah cinta yang saling mengakui, bukan saling membelenggu.

Jika Simone berbicara tentang pembebasan dari luar, maka Jalaluddin Rumi membawa kita ke pembebasan batin yang lebih mendalam. Dalam sufisme, cinta bukan hanya sebatas afeksi personal saja, tetapi sebuah jalan pembersihan ego.

Maka, di sinilah Rumi berbicara dengan epistemologi yang berbeda, namun tetap sejalan dengan tujuan Simone, objektivikasi. Baginya, cinta merupakan jalan spiritual. Cinta merupakan penyatuan dua jiwa yang saling melihat dan saling menjadi. Rumi menulis di dalam Mathnawi, “Di dalam aku, hanya ada kamu”. Ungkapan ini merupakan suatu bentuk cinta yang tidak menuntut, tidak mengobjektifikasi, tetapi menyatu tanpa menghapus yang dicintai.

Bagi Rumi, dalam cinta sejati, tidak ada penguasaan, juga tidak ada penaklukan. Cinta merupakan sebuah pengakuan atas keberadaan subjek lain sebagai cermin dari diri sendiri. Inilah cinta yang memanusiakan, yang meruntuhkan ego, tetapi tidak menghapus identitas.

Mari kita bandingkan dengan pandangan Simone tentang cinta yang bebas. Simone menolak cinta yang menjadikan perempuan menjadi pasif dan terserap dalam kehidupan laki-laki. Bagi Simone, cinta hanya sah jika kedua belah pihak berdiri sebagai subjek utuh yang saling mengakui.

Dari kedua tokoh ini, kita dapat melihat bahwa antara feminisme eksistensialis dan spiritualitas cinta ala sufi bisa saling menyapa. Simone mengangkat perempuan dari keterasingan sosial, sementara Rumi mengajak jiwa untuk menyatu dalam cinta yang menyadarkan. Keduanya sejatinya menolak cinta sebagai dominasi, melainkan merayakannya sebagai sebuah kesalingan.

Kebebasan: Dimensi Spiritual dari Keberanian untuk “Menjadi”

Simone memandang kebebasan sebagai inti dari eksistensi manusia. Perempuan akan menjadi subjek ketika ia menyadari bahwa eksistensinya tidak ditentukan oleh orang lain, melainkan oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu, menjadi manusia adalah keberanian untuk merumuskan diri—bukan semata menerima label dan norma dari yang lain. Kebebasan sejatinya merupakan keberanian untuk “menjadi”.

Sementara itu, al-Hallaj adalah seorang sufi yang dihukum mati karena ucapannya “Ana al-Haqq” (Akulah Kebenaran). Al-Hallaj justru menempuh kebebasan melalui jalan spiritual. Ia berani menanggalkan ego, membebaskan dirinya dari citra dunia, dan kemudian menyatu dengan Tuhan. Kebebasan yang sejati bagi al-Hallaj adalah ketika tidak ada lagi pemisah antara “aku” dan “Kau”.

Simone mengajarkan kepada kita untuk menjadi manusia yang merdeka, sementara al-Hallaj mengajarkan kita untuk melebur dalam kehadiran Ilahi dengan cinta. Simone menekankan subjektivitas sebagai tanggung jawab sosial, sementara Al-Hallaj menekankan subjektivitas sebagai jalan spiritual.

Meski demikian, pada dasarnya keduanya sepakat bahwa manusia tidak boleh menjadi objek, baik oleh sistem, kekuasaan, maupun ego yang menindas.

Jembatan antara Modernitas, Spiritualitas, dan Gender

Tatkala feminisme eksistensialis bertemu dengan mistisisme cinta, maka kita dapat belajar bahwa perjuangan perempuan tidak hanya tentang struktur sosial saja, tetapi juga struktur batin. Pembebasan tubuh membutuhkan cinta, dan cinta yang sejati hanya lahir dari pengakuan atas kebebasan subjek yang lain.

Tulisan ini bukan hanya sekedar kolase pemikiran antara Barat dan Timur saja, tetapi menjadi sebuah jembatan—bahwa antara spiritualitas Islam dan feminisme modern bisa saling menyapa dan menguatkan. Tubuh bukan hanya arena dominasi, tapi juga wahana kesadaran.

Cinta bukan hanya sekedar perasaan saja, tetapi bentuk tertinggi dari pengakuan atas subjektivitas. Kebebasan juga bukan sekedar hak sosial saja, tetapi juga pencarian ruhani untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Simone, Rumi, dan al-Hallaj faktanya tidak akan pernah bisa duduk semeja dalam realitas sejarah. Tetapi, pemikiran mereka dapat duduk semeja dalam batin kita yang resah, yang senantiasa merindukan kebebasan, dan yang ingin mencintai tanpa mengobjektifikasi.

Pada akhirnya, menjadi subjek bukan hanya sebuah proyek intelektual saja, tetapi juga laku spiritual. Di dalam ruang kemanusiaan itulah, kita bisa belajar bahwa ungkapan “kau adalah aku” bukan hanya sekedar ungkapan cinta, tetapi juga pengakuan, bahwa setiap jiwa berhak menjadi dirinya sendiri. []

Tags: AL HallajfilsafatJalaludin RumimanusiaperempuanSimone de Beauvoirtasawuftubuh
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ulama Perempuan Serukan Pelestarian Alam dan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Next Post

Islam Mengharamkan Kekerasan terhadap PRT

Lailatuz Zuhriyah

Lailatuz Zuhriyah

Dosen Filsafat dan Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Related Posts

Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Pendidikan Perempuan
Publik

Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

8 Juli 2026
Kepemimpinan Perempuan
Publik

Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

7 Juli 2026
TPA Pakusari
Lingkungan

Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

6 Juli 2026
Diskriminasi terhadap Perempuan
Aktual

Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

2 Juli 2026
Aborsi Aman
Pernak-pernik

Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

30 Juni 2026
Next Post
PRT yang

Islam Mengharamkan Kekerasan terhadap PRT

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • 6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati
  • Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman
  • Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam
  • Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan
  • Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0