Jika Islam kita lihat dari nilai-nilai kemanusiaannya, maka tauhid tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan sosial sehari-hari.
Mubadalah.id – Al-Qur’an mencatat bahwa masyarakat Arab jahiliyah sesungguhnya tidak mengingkari keberadaan Allah SWT. Bahkan, ketika ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka dengan tegas menjawab Allah SWT.
Al-Qur’an menanggapi pengakuan itu dengan kalimat, “Segala puji bagi Allah”. Namun sekaligus menegaskan bahwa kebanyakan mereka tidak mengetahui makna dari kepercayaan tersebut.
Bahkan, kepercayaan ini ternyata belum menjadikan mereka sebagai muslim dan mukmin yang berserah diri dan beriman secara utuh kepada Allah SWT. Terlebih, pengakuan tersebut tidak membuat mereka menjadi muwahhid, baik dalam relasi vertikal dengan Sang Khalik maupun dalam relasi horizontal dengan sesama makhluk.
Dari sini, muncul pertanyaan, lalu apakah hakikat tauhid itu sebenarnya? Jika Islam kita lihat dari nilai-nilai kemanusiaannya, maka tauhid tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan sosial sehari-hari.
Tauhid bukan hanya urusan ibadah, melainkan juga harus kita praktikkan dalam relasi kehidupan. Terutama dalam relasi antara laki-laki dan perempuan.
Pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting: bagaimana seharusnya bertauhid dalam konteks kehidupan sosial ini? Pertanyaan ini mengajak kita untuk mendalami tauhid bukan sekadar sebagai konsep teologis. Melainkan sebagai pedoman hidup yang nyata.
Sayangnya, dalam praktik, tauhid kerap direduksi maknanya. Ia hanya mereka pahami sebatas pengetahuan tentang sifat-sifat Allah atau hafalan rukun iman.
Sehingga makna membuat makna tauhid jauh dari prinsip-prinsip kemanusiaan, kehilangan daya pencerahan dan pembebasannya dari ketidakadilan, ketertindasan, dan penistaan terhadap martabat manusia. Padahal itulah ruh tauhid yang Rasulullah SAW contohkan kepada kita semua. []



















































