Mubadalah.id – Secara bahasa, tauhid berarti mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa sesuatu itu satu. Namun secara terminologis, tauhid jauh lebih dalam. Ia adalah penghambaan diri hanya kepada Allah SWT dengan menaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, disertai rasa rendah hati, cinta, harap, dan takut hanya kepada-Nya.
Al-Qur’an sendiri berbicara sangat luas tentang tauhid. Di antara sekian banyak ayat, Surat al-Ikhlas dapat kita sebut sebagai inti ajaran tauhid. Surat ini menegaskan bahwa Allah Maha Esa, satu-satunya tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada satu pun makhluk yang setara dengan-Nya.
Penegasan ini bukan sekadar teologi, melainkan pembongkaran atas segala bentuk pengultusan manusia, dan kekuasaan.
Ajaran-ajaran pokok tauhid tidak berhenti sebagai konsep abstrak. Rasulullah Muhammad SAW mewujudkannya secara konkret dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Dengan keyakinan tersebut, Rasulullah melakukan perubahan dari tingkat ideologis hingga praktis. Beliau secara tegas melarang mempertuhankan apa pun selain Allah SWT baik berhala, kebesaran suku, pemimpin, penguasa, bahkan hawa nafsu dan ego manusia yang sering menjadi sumber kezaliman.
Bahkan, dengan keyakinan bahwa hanya Allah tempat bergantung, memberi Rasulullah kekuatan moral yang luar biasa untuk melakukan revolusi sosial. Penentangan keras dari para pembesar Quraisy dan suku-suku Arab tidak membuat beliau gentar.
Terlebih, kekuasaan, ancaman, dan tekanan tidak mampu menggoyahkan langkahnya, karena Rasulullah bersandar pada kekuatan yang jauh lebih agung daripada kekuasaan manusia mana pun.
Selain itu, tauhid juga menumbuhkan keberanian dan kemerdekaan batin. Tidak ada rasa takut yang pantas kita arahkan selain kepada Allah semata. Inilah tauhid yang membebaskan manusia dari penindasan, ketundukan, dan penghambaan kepada selain Tuhan. []




















































