Mubadalah.id – Untuk mengawali tulisan ini, ada tiga pertanyaan yang saya ajukan. Apa jadinya jika dana yang seharusnya dipakai untuk penanganan masalah banjir malah dikorupsi? Bagaimana masa depan anak bangsa jika anggaran untuk pendidikan malah dipangkas untuk kepentingan program yang tidak terlalu mendesak? Dan bagaimana masa depan umat manusia jika jabatan strategis terus menerus kita berikan kepada orang yang bukan ahlinya?
Tiga pertanyaan, dan tentu saja butuh tiga jawaban. Setiap orang punya pandangan dan variasi jawaban masing-masing atas soal-soal tersebut. Namun, saya yakin jawaban-jawaban Anda tidak akan terlepas dari satu kata ini: kerusakan.
Ya, jawaban dari pertanyaan pertama tentu saja akan menimbulkan kerusakan. Kerusakan infrastruktur, ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Air akan menghantam segala yang ia lewati. Ini terjadi karena banyak hal, yakni ketika anggaran pra-bencana diselewengkan dan ketidakadilan yang negara lakukan dalam memberi prioritas terhadapa masalah-masalah penting.
Jawaban atas pertanyaan kedua juga sama, lagi-lagi berimplikasi pada sebuah kehancuran, namun terjadinya secara pelan dan bertahap. Bayar sekolah menjadi mahal hingga akhirnya seorang anak miskin putus sekolah. Begitu pun kesejahteraan guru terancam yang membuatnya akhirnya malas-malasan dalam mengajar. Dampaknya? Kerusakan pada generasi mendatang, baik secara adab, ilmu, dan akhlak.
Jawaban atas pertanyaan ketiga juga bermuara pada sebuah kerusakan. Misalnya, seorang Menteri yang seharusnya bertugas menyelamatkan, memelihara, dan memastikan hutan bebas dari kerusakan, namun yang terjadi malah sebaliknya. Hutan terus bertumbangan, bencana pun tanpa ampun menyikat manusia-manusia yang tak bersalah. Itu satu contoh. Ada banyak kasus lain ketika sebuah kedudukan kita percayakan kepada orang yang tidak mumpuni di bidangnya.
Soal kerusakan, ini tentu juga ada hubungannya dengan sikap kita yang memuja kecongkakan, berlebih-lebihan, dalam hal apapun. Manusia seringkali lupa diri gara-gara hobi bermegah-megahannya itu, yang pada akhirnya menimbulkan kemudharatan. Rusaknya lingkungan, misalnya.
Kisah Kaum Ad yang Ngeyel
Saya jadi teringat dengan kisah Kaum Ad di zaman dulu. Kisah kaum Ad di zaman Nabi Hud jadi cermin nyata: mereka diingatkan jangan merusak bumi, tapi malah ngeyel dan akhirnya hancur lebur. Kini, banjir bandang dan rob di mana-mana mirip banget. Keserakahan kita yang jadi biang kerok, meski kiai dan ilmuwan sudah lantang berteriak minta tobat.
Bayangin kaum Ad, bangsa super maju di Yaman pasca banjir besar Nabi Nuh. Mereka punya ilmu tinggi, membangun gedung-gedung megah setinggi langit, yang belum pernah dibikin orang lain. Perdagangan mereka jaringan luas, orangnya tampan cantik, hidup mewah kaya raya. Tapi, hati mereka congkak. Suka berlebihan-lebihan, halalkan dunia, dan melakukan kerusakan di bumi.
Nabi Hud datang dengan nasehat penting dan berkelanjutan: “Tobatlah, beriman ke Gusti Allah, jangan merusak alam!” tapi mereka malah ngeyel dan menantang Nabi Hud. Jawaban mereka? “Omong kosong! Buktikan dong Tuhanmu itu nyata, buktikan kerusakan kami!.” Akhirnya, azab datang: angin kencang musnahkan mereka. Kisah ini terabadikan dalam Al-Quran surat Al A’raf ayat 65-72.
Refleksi Banjir Zaman Sekarang
Di zaman modern, manusia ulangi kesalahan yang sama, mirip-mirip seperti yang kaum Ad lakukan. Banjir bandang dan longsor di Sumatra, misalnya. Longsor di pegunungan. Atau rob permanen di pantai utara Jawa yang mengakibatkan kampung tenggelam, rumah hancur, hingga kerusakan sistem ekonomi.
Banyak yang bilang, “Ini Bencana alam!”. Padahal, bukan alam yang jahat, tapi ulah manusia sendiri. Prof. Pujo Semedi Hargo Yuwono dari UGM berkata demikian dalam kajian yang tayang di sebuah Channel Youtube, belum lama ini. Menurutnya, hujan tropis sudah biasa tiap tahun, rob pasang-surut laut juga normal sejak dulu. Tapi kenapa baru belakangan ini yang parah?
Ahli ekologi Rob Nixon menyebut fenomena ini sebagai “kekerasan lambat”. Hutan terbabat bertahun-tahun, rawa kering jadi kebun/tambak/pemukiman, hingga sungai (yang berkelok-kelok) dilurusin buat irigasi. Air hujan pun tidak bisa meresap, rob laut tidak punya tempat tampung, jadilah banjir dan desa “direbut” laut lagi.
Di Jawa Utara, sejak abad 19 hutan bakau dirusak karena tebu gula. Gunung gamping diratakan buat diambil semennya untuk pembangunan gedung-gedung pencakar langit. Hasilnya? Air tanah rusak, banjir kronis.
Keserakahan dan Megah-megah Manusia
Keserakahan dan hobi bermegah-megah, itu sikap yang pada akhirnya memproduksi kerusakan di planet yang kita huni ini. Kita ini gila konsumsi. Bikin rumah besar-besaran padahal hanya untuk tertinggali 2-3 orang, beli baju baru meski pakaian numpuk di lemari, beli baru lagi padahal HP masih layak pakai, dan sering naik motor padahal jalan kaki atau naik sepeda sudah cukup.
Tiap kali gaya hidup manusia bermegah-megahan, hal itu akan butuh energi dan material besar. Misal fenomena manusia berlomba-lomba mendirikan perumahan, apartemen, hingga hotel, dari mana materialnya? Ya, gunung terbongkar ambil batu/pasirnya, hutan pun hilang. Di Kalimantan misalnya, secara konsisten hutan ditebang selama puluhan tahun, Suku Dayak protes tapi terabaikan. Perusahaan bilang “pembangunan”, tapi pohon gak salah apa-apa kok digergaji?
Di zaman yang serba teknologi, kita juga seringkali diiming-iming iklan yang muncul di layar HP kita. Beli terus, punya lebih banyak. Akumulasi ini merusak alam secara berjamaah. Orang dulu tebang hutan dikit-dikit, bilang “cuma sedikit kok!” Lama-lama akumulasi besar, pelakunya sudah mati, kita yang hari ini masih nafas kena getahnya. Prof. Pujo bilang ini bukan azab Tuhan, sebab Gusti Allah Maha Pengasih, tapi konsekuensi logistik.
Peringatan Kiai dan Akademisi Diabaikan
Sudah berapa kali mengingatkan manusia agar jangan merusak alam? Kiai pesantren teriak jaga alam, itu amanah Khalifah di bumi. Akademisi seperti Pujo Semedi mengatakan. Hentikan sikap berlebihan-lebihan, hidup prasaja sesuai kebutuhan (urip sing prasaja sak perlune). Aktivis lingkungan demo, tapi penguasa arogan dan justru malah menangkapnya sambil bilang: “Mana buktinya?” Sama kayak kaum Ad ngeyel ke Nabi Hud.
Peringatan seringkali datang dari kalangan perguruan tinggi. Di masjid kampus UGM misalnya, kajian-kajian intelektual sering tergelar, bahas berbagai isu, misal lingkungan. Tetang lingkungan, banjir bukan musibah tiba-tiba, tapi hukum alam yang kita langgar. Tapi masyarakat modern cuek, ikut arus kapitalisme: produksi tinggi, untung besar, lingkungan jadi korban.
Jangan Keras Kepala
Peristiwa banjir bandang Sumatera dan bencana ekologis lainnya, sudah waktunya jadi momen refleksi bagi kita. Hentikan megah-megahan! Kalau cukup rumah kecil, ngapain bikin rumah mirip istana jika pada akhirnya tidak akan kita huni (misalnya)?
Gaji puluhan juta sudah cukup ngapain masih korupsi. Itu namanya tamak. Punya motor yang masih bagus dan layak pakai, kenapa beli motor baru lagi hanya karena kredit murah? Ini kebutuhan atau hanya nuruti nafsu belaka?
Kaum Ad hancur karena ngeyel dan sombong serta banyak tingkah. Kita jangan sampai begitu, usahakan jangan keras kepala, apalagi merasa paling benar. Sikap keras kepala manusia, menurut teori Lynn White Jr., menjadi akar kerusakan alam.
Dalam esainya “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” (1967), White menyalahkan pandangan Kristen Barat yang antroposentris, di mana manusia keras kepala menganggap alam sebagai milik untuk tereksploitasi tanpa batas demi kemajuan. Sikap ini memicu deforestasi, polusi, dan pemanasan global saat ini. Perubahan sikap ke ekosentrisme kita perlukan untuk menyelamatkan bumi.
Kurangi konsumsi berlebihan, lindungi hutan/rawa, dengarkan nasihat kiai dan ilmuwan. Bumi bukan milik kita doang, tapi titipan Tuhan buat anak cucu. Kita wajib berikan mereka kondisi hidup yang layak. Air bersih, udara sejuk, dan kekayaan alam yang masih bisa kita nikmati. Hidup sederhana, selamat dunia-akhirat, mari sebelum terlambat! []




















































