Mubadalah.id – Proses penciptaan manusia berlangsung melalui rangkaian mekanisme biologis yang kompleks dan terstruktur sejak masa pembuahan hingga kematian. Dunia kedokteran mencatat bahwa sejak usia janin satu minggu, seluruh sistem dasar kehidupan manusia mulai terbentuk melalui proses reproduksi yang berkelanjutan.
Proses tersebut bermula dari peristiwa pembuahan, yakni bertemunya sel sperma dan sel telur. Yang kemudian mengalami pembelahan dan perkembangan hingga masa kelahiran.
Setelah lahir, mereka terus menjalani fase pertumbuhan, reproduksi, dan penuaan hingga akhir hayat. Rangkaian ini kita kenal sebagai siklus reproduksi manusia, yang kerap kita sebut sebagai from womb to tomb—sejak dalam rahim hingga kematian.
Kesehatan reproduksi menjadi disiplin ilmu yang mempelajari kesehatan alat dan proses reproduksi manusia secara menyeluruh.
Dalam pengertian medis, kesehatan reproduksi tidak semata kita artikan sebagai ketiadaan penyakit. Melainkan kondisi di mana seseorang dapat menjalankan fungsi reproduksinya secara aman dan bertanggung jawab.
Definisi tersebut juga ditegaskan dalam Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD), yang menyebut kesehatan reproduksi mencakup aspek fisik, mental, dan sosial.
Dengan demikian, kesehatan reproduksi tidak hanya menjadi isu perempuan karena memiliki rahim. Tetapi juga menyangkut laki-laki.
Kesehatan reproduksi melekat pada setiap manusia, tanpa memandang jenis kelamin, usia, status sosial, tempat tinggal. Maupun latar belakang keagamaan.
Namun, dalam praktiknya, isu ini kerap dipahami secara sempit dan tidak diperlakukan sebagai bagian penting dari kesehatan manusia secara utuh. []
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.

















































