Mubadalah.id – “Pernikahan bukanlah a way out. Ada kesetiaan dan komitmen yang terlibat di dalamnya. Cinta bisa saja hilang, tapi komitmenlah yang mempertahankan pernikahan.”
Kalimat ini ditulis oleh Aira Miranty Dewi dalam bukunya “Aku Jalak, Bukan Jablay”. Kalimat yang sederhana, tetapi mengguncang cara kita memandang pernikahan, terutama bagaimana sebagian masyarakat seringkali mendorong perempuan untuk masuk dan bertahan di dalamnya, apa pun kondisinya.
Buku Aku Jalak, Bukan Jablay ini berbasis kisah nyata perjalanan Mba Miranty sebagai orang tua tunggal atas dua anak setelah dua kali perceraian. Namun, buku ini tidak berhenti sebagai cerita personal. Ia justru membuka percakapan yang lebih luas tentang pernikahan, stigma terhadap janda, dan beban sosial yang hampir selalu jatuh pada perempuan.
Pernikahan adalah Jalan Keluar?
Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian masyarakat kita masih kerap mempromosikan pernikahan sebagai solusi. Solusi dari kesepian, tekanan ekonomi, bahkan dari penilaian sosial. Bahkan bagi perempuan, menikah sering diposisikan sebagai jalan aman menuju hidup yang ideal, lengkap, dan terhormat.
Padahal, seperti diingatkan Mb Miranty, pernikahan bukanlah jalan keluar dari persoalan hidup. Ia adalah relasi yang menuntut kesetiaan dan komitmen. Dan komitmen itu tidak pernah netral. Ia seharusnya bekerja dua arah.
Masalahnya, komitmen sering kali ditafsirkan secara timpang. Ketika cinta memudar, perempuanlah yang diminta bertahan. Ketika relasi menyakitkan, perempuanlah yang dinasihati untuk sabar. Dalam situasi seperti ini, komitmen berubah menjadi alat kontrol, bukan lagi kesepakatan yang adil.
Janda dan Stigma
Status janda di masyarakat bukan sekadar kondisi hidup, melainkan identitas sosial yang sarat stigma. Janda sering mendapatkan pandangan negatif sebagai perebut suami orang, penggoda, dan perempuan yang tidak tahu diri. Stigma ini hidup dalam bisik-bisik, candaan, bahkan dalam kebijakan dan praktik sosial sehari-hari.
Namun, siapa yang benar-benar ingin menjadi janda?
Perceraian hampir selalu lahir dari situasi yang kompleks, antara lain relasi yang tidak setara, kekerasan, kelelahan emosional yang menumpuk, atau komitmen yang tak lagi berjalan bersama. Tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang bercita-cita menjadi janda. Ia adalah bentuk konsekuensi dari keputusan yang sering kali sangat berat.
Kalaupun ada segelintir perempuan yang kemudian sesuai dengan stereotip negatif di atas, mereka adalah oknum. Dan dalam logika patriarki, sebagian dari kita sering menjadikan oknum sebagai alasan untuk menghukum seluruh kelompok perempuan.
Perceraian sebagai Upaya Bertahan Hidup
Membaca “Aku Jalak, Bukan Jablay” rasanya seperti duduk berhadapan langsung dengan Mba Miranty. Mendengar alasan-alasan di balik keputusan bercerai, menyelami hidup yang harus berhadapan dengan stigma sosial, dan menyaksikan perjuangan seorang perempuan mandiri, kuat, berdaya, sekaligus perempuan kepala rumah tangga dan orang tua tunggal.
Buku ini menegaskan bahwa perceraian bukanlah kegagalan moral. Ia justru tampil sebagai upaya bertahan hidup. Sebuah keputusan untuk tetap waras dan utuh sebagai manusia, serta tetap mampu hadir secara penuh bagi anak-anak.
Narasi ini penting, karena selama ini perempuan kerap terpaksa bertahan demi nama keluarga utuh, meski harus mengorbankan keselamatan emosional, mental, bahkan fisiknya sendiri.
Komitmen Tidak Pernah Boleh Sepihak
Kalimat Mba Miranty tentang komitmen perlu kita baca dengan lebih jujur dan membumi. Komitmen seharusnya tidak menjadi alasan untuk memaksa seseorang tetap tinggal dalam relasi yang menyakitkan. Ketika komitmen hanya dari satu pihak, maka pernikahan kehilangan maknanya sebagai relasi yang setara. Dalam situasi seperti ini, memilih keluar dari pernikahan bukanlah kegagalan, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Sayangnya, dalam banyak kasus, komitmen justru lebih sering dibebankan kepada perempuan, dengan gambaran istri yang sabar, tahan banting, dan selalu berkorban. Sebagian dari kita kadang memandang perempuan yang memutuskan pergi sebagai perempuan yang kurang berjuang atau gagal menjaga rumah tangga.
Komitmen tidak pernah berdiri sendiri. Ia hanya bermakna jika berbarengan dengan rasa aman, saling menghormati, dan tanggung jawab bersama. Ketika salah satu pihak terus mengabaikan suara pihak lainnya atas nama mempertahankan pernikahan, yang bertahan bukanlah kesetiaan, melainkan keterpaksaan.
Dalam konteks inilah, keputusan untuk mengakhiri pernikahan bisa menjadi tindakan yang bermakna. Sebuah upaya menghentikan relasi yang tidak lagi setara, sekaligus cara menjaga diri dan martabat.
Dukungan Sosial dan Perempuan Kepala Rumah Tangga
Hal lain yang menarik dari buku ini adalah penggambaran Mba Miranty yang bukan sebagai perempuan super yang sanggup menanggung semuanya sendirian. Ia bisa melewati fase-fase sulit karena ada dukungan orang-orang yang tulus menyayangi, percaya pada keputusan, dan tidak menghakiminya.
Ini penting untuk dicatat, karena kemandirian perempuan tidak tumbuh di ruang hampa. Ia lahir dari lingkungan sosial yang memungkinkan perempuan mendapat dukungan, bukan penghakiman.
Sayangnya, tidak semua perempuan kepala rumah tangga memiliki ekosistem dukungan semacam ini. Banyak janda harus menghadapi stigma, tekanan ekonomi, dan beban pengasuhan secara bersamaan di tengah masyarakat yang lebih sibuk menghakimi daripada hadir memberikan dukungan.
Buku ini mengajak kita menggeser cara pandang dari memelihara stigma menuju membangun empati, dan melihat pernikahan sebagai relasi yang seharusnya aman dan adil. Sebab hidup bukan tentang bertahan dalam status sosial yang selalu ideal, melainkan tentang keberanian menjaga diri, anak-anak, dan martabat, walaupun itu berarti harus berjalan sendirian. []




















































