Mubadalah.id – Berbicara mengenai kesehatan mental jangan sampai menjadi suatu hal yang begitu mudah kita abaikan. Demi keberlangsungan hidup, kesehatan jasmani maupun rohani menjadi bekal utama dan juga pondasi bagi kita untuk senantiasa tetap berdiri tegak.
Krisis kesehatan mental kini banyak terjadi oleh para mahasiswa atau Generasi Z. Namun juga tidak sedikit terjadi pada anak sekolah usia 10-19 tahun akibat FOMO (fear of missing out) pada media sosial.
Analisis signifikan mengenai masalah kesehatan mental mengalami puncak peningkatan pada tahun 2023. Riset mencatat bahwa masalah kesehatan mental terus menjadi pantauan. Hal ini bersumber dari artikel ilmiah populer dari Universitas Airlangga.
Sejumlah 500 artikel ilmiah nasional dan internasional yang terbit antara tahun 2019 hingga 2024 cukup menjadi bukti serta menjadi alarm darurat untuk segera mengatasi perihal kasus tersebut.
Gangguan mental sebagian besar berindikasi menjadi penyebab kasus bunuh diri. Hal tersebut berdasarkan data yang tercatat pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Data Bunuh Diri dan Faktor Penyebabnya
Tercatat ada 25 kasus bunuh diri pada Januari hingga Oktober 2025. Data ini sedikit memberikan nafas lega dengan angka yang menunjukkan penurunan, di mana ini menjadi perbandingan pada tahun 2024 dengan 43 kasus dan 46 kasus pada 2023. Namun tetap menjadi suatu masalah yang serius dan masih menjadi PR bagi KPAI.
KPAI juga menerangkan bahwa terjadinya penyebab kasus bunuh diri sebagian besar karena bullying atau perundungan. Selain itu fomo pada media sosial menjadi trending topic pembahasan media sosial belakangan ini.
Maka penting bagi kita untuk mengelola kestabilan emosi dan upaya mewujudkan coping stress pada diri sendiri. Salah satu peran pentingnya yaitu orang tua untuk selalu memperhatikan anak, dan para remaja yang senantiasa selalu memperhatikan serta mengontrol diri sendiri.
Proses dinamis yang terjadi pada emosi jangan kalian anggap sebagai suatu hal yang sepele. Hal tersebut memiliki pengaruh besar terutama dalam kesehatan mental.
Membahas mengenai topik kesehatan mental, penulis ingin menyajikan kasus tersebut dalam contoh sederhana pada sebuah cerita perjalanan hidup sosok tokoh Ale yang berhasil menghadapi depresi akibat perlakuan buruk lingkungan sosial.
Sajian cerita dengan fokus pada tokoh utama dan bahasa yang lebih sederhana menjadikan anak muda untuk mudah memahaminya. Pembahasan mengenai topik di atas terangkum dalam sebuah novel yang berjudul “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.”
Berbagai Toping Kehidupan Di Balik Seporsi Mie Ayam
Ale sebagai tokoh utama dalam novel yang berjuang menghadapi hiruk pikuk kehidupan yang membuatnya hampir putus asa untuk hidup. Ada perasaan menyerah hingga ingin mengakhiri hidupnya.
Novel best seller karya Brian Khrisna dengan pembaca lebih dari 100.000, menyajikan kisah yang berhasil menyoroti kasus saat ini mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental agar diri berusaha untuk tetap waras dan dapat berpikir melalui akal sehat.
Sebuah pesan yang relevan dengan kondisi anak muda zaman sekarang yang seringkali mengambil keputusan ketika sulit menemukan jalan keluar dengan cara mengakhiri hidupnya.
Seporsi Mie Ayam menjadi menu utama dalam cerita. Bukan sekedar seporsi mie ayam biasa. Alih-alih melalui seporsi mie ayam tersimpan kisah-kisah yang menjadi imun untuk kesehatan mental agar senantiasa waras untuk tetap bertahan hidup.
Dilengkapi dengan toping yang menyajikan pesan-pesan yang menggugah selera menjadikan Ale berani mengambil keputusan untuk mengurungkan niatnya dalam mengakhiri hidupnya.
Berkisah perjalanan ale dalam berburu Mie Ayam yang akan ia jadikan makanan terakhir dalam hidupnya, Ale pun harus berjuang menghadapi jalan terjal, jalan yang sangat curam dengan penuh kehati-hatian.
Dalam setiap perjalanannya Ale selalu menemukan sesuatu yang tak ternilai dalam hidupnya, melalui cerita-cerita dari setiap orang yang Ale temui sehingga membuatnya berhasil mengatasi gangguan mental yang ada dalam dirinya.
Kita Selalu Dihargai, Akan Tetapi Kita Tidak Menyadari
Dengan bentuk tubuhnya yang besar dan tak lazim, bau keringatnya yang selalu tercium walaupun sudah berusaha memakai deodorant dan minyak wangi membuatnya tidak percaya diri dan tidak dihargai oleh orang-orang sekitar. Keberadaannya hanya dianggap sebagai bahan cacian dan perundungan.
Tanpa ia sadari bahwa keberadaannya adalah harapan orang-orang, dan kebaikannya telah menjadi memori yang senantiasa selalu terkenang pada orang-orang sekitar.
Sifat baik Ale yang suka membantu orang, menjadi pendengar yang empatik, kehadirannya yang tulus, dan selalu memberi harapan secara tidak langsung, yang mana Ale tidak sadari melalui kehadirannya membuat mereka merasa bahwa keberadaan mereka penting dan berarti.
Dengan bertemunya banyak orang dalam perjalanan mencari seporsi mie ayam, membuat Ale tahu caranya mengartikan makna hidup dan cara menjaga kewarasan.
Tetap Menjaga Kewarasan Adalah Kunci
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ini mengajarkan bahwa menjaga kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting. Depresi, krisis eksistensial, dan tekanan hidup dapat dihadapi dengan menemukan kebahagiaan kecil, menerima diri, serta mencari lingkungan yang suportif.
Setiap orang memiliki versi “mie ayam” masing-masing. Hal kecil yang membuat kita ingin tetap hidup, sesuatu yang layak kita jaga dan syukuri. Cerita Ale mengingatkan bahwa hidup selalu memiliki makna, meski sering kali kita baru menyadarinya setelah melalui perjalanan panjang.
Temukan versi “Mie Ayam” untuk dirimu sendiri. Identifikasi melalui hal-hal kecil yang terus ingin membuatmu hidup. Jadikan pengalaman dan cerita orang lain bahwa masih ada deretan orang yang lebih sulit untuk menjalani kehidupan. Begitulah cara menjaga kesehatan mental. []

















































