Sabtu, 21 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

Kasus ibu muda bunuh diri di Indramayu ini menjadi potret buram, bahwa kemiskinan di negara kita masih berwajah perempuan.

Zahra Amin by Zahra Amin
21 Februari 2026
in Personal
A A
0
Ibu Muda Bunuh Diri

Ibu Muda Bunuh Diri

9
SHARES
436
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saya lupa, saat berita ibu muda bunuh diri di Indramayu itu melintas di laman beranda media sosial, saya sedang melakukan apa. Seingatku saat itu sedang berkegiatan di Purwokerto bersama tim Redaksi Mubadalah. Yang jelas saya terhenyak agak lama, tertegun dan ragam emosi yang tak mampu terbahasakan. Antara perasaan marah, dan sedih mengingat sosok ibu muda itu meregang nyawa dengan meninggalkan dua anak yang masih belia, usia tujuh dan dua tahun. Entah nasib apa yang sedang ia jalani, sehingga ia berani mengakhiri nyawa sendiri.

“Seorang ibu muda berinisial KN (27) ditemukan tewas diduga gantung diri di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu pada Sabtu, 14 Februari 2026. Korban pertama kali ditemukan oleh suaminya dalam kondisi tergantung di pintu samping rumah.”

Demikian berita yang saya temui di halaman Indramayu Post ini. Saya menunggu respons dari teman-teman, atau minimal ada yang menceritakan sedikit, karena biasanya dalam kasus dan isu apapun terkait kekerasan terhadap perempuan kadang-kadang saya yang menjadi pemantik awal, mendorong agar kita bersikap kritis. Sayang sekali, hingga satu minggu berselang, masih sepi tidak ada yang peduli.

Menurutku, tidak ada kasus kekerasan terhadap perempuan yang bebas nilai, dan berangkat dari ruang hampa. Selalu ada faktor penyebab yang berkelindan erat dengan kemiskinan, keterbatasan akses dan sistem sosial, politik serta ekonomi di sekitarnya. Ya, negara dalam hal ini pemerintah Kabupaten Indramayu beserta jajarannya hingga struktur paling bawah Pemerintah Desa di Kecamatan Balongan, ikut bertanggung jawab atas kematian ibu muda yang bunuh diri itu.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Kasus ibu muda bunuh diri di Indramayu ini menjadi potret buram, bahwa kemiskinan di negara kita masih berwajah perempuan. Mungkin hari ini adalah dia, yang kini sudah berkalang tanah itu, menjadi korban. Esok entah giliran siapa, bisa jadi orang yang kita kenal, atau orang-orang terdekat di antara kita. Jadi, sebelum semuanya terlambat, tolong jika ada masalah apapun, berceritalah dan cari ruang aman.

Sebagaimana melansir dari laman Magdalene.co, hari ini, jutaan perempuan miskin tercatat sebagai angka dalam statistik resmi. Namun, kerja perawatan yang mereka lakukan, dari merawat anak, orang tua, suami yang sakit, hingga menjaga lansia tak pernah dihitung sebagai kontribusi pembangunan. Kelelahan para perempuan itu tak pernah masuk laporan pertumbuhan, padahal tanpa itu semua, pembangunan takkan pernah berjalan.

Jika kelelahan itu kita hitung, mestinya ada kursi konseling murah di Posyandu, Puskesmas, atau pusat layanan kesehatan lainnya. Beras subsidi lebih dulu sampai ke rumah perempuan miskin yang menopang keluarga di tengah sakit, usia renta, dan kemiskinan.

Ketika terimpit kemiskinan dan mencari jalan keluar, satu-satunya yang tersedia sering kali cuma pinjaman mikro berbunga tinggi. Sebut saja pinjaman online, bank mekar, dan lain-lain, sampai kredit harian yang mencekik.

Alih-alih memberi napas, skema ini memperdalam jerat perempuan. Program seperti Ultra Mikro (UMi) memang memberi akses modal, tetapi siapa yang berdaya jika 95 persen dari 6,4 juta debiturnya adalah perempuan paling rentan?

Perempuan yang menjadi kepala keluarga atau menopang rumah tangga di saat bersamaan, memang tidak memiliki literasi keuangan yang memadai. Mereka terpaksa mengambil pinjaman tanpa pendampingan. Sementara risiko gagal bayar menumpuk, utang bertambah, tekanan psikologis meningkat, dan risiko bunuh diri menjadi nyata.

Masih dari laman media yang sama, beban kerja dan risiko finansial yang berlebihan pada perempuan inilah yang kerap berakhir dalam konsekuensi kesehatan mental serius. Utang mikro tanpa pendampingan psikososial atau kapasitas usaha hanyalah jebakan yang menjerat generasi berikutnya dalam lingkaran kemiskinan. Rantai kemiskinan, terutama terhadap perempuan, akan terus berkelindan dan semakin sulit terhapuskan.

Mendorong Gerakan Bersama

Saya sependapat dengan opini yang Laila Zaini tulis di laman Magdalene.co, bahwa kita perlu membangun kepedulian kolektif, atau yang ia sebut dengan collective care. Solidaritas sederhana yang bergerak dari dapur, dari pelukan sesama ibu, dari tangan-tangan yang menolak membiarkan siapa pun mati sendirian.

Ibu-ibu di sudut desa itu saling menitipkan anak agar bisa bekerja tanpa rasa cemas. Komunitas berbagi lauk dan sembako untuk anggota yang sedang kesulitan. Sesi curhat dan pendampingan psikososial informal di rumah tetangga meringankan beban mental ibu-ibu.

Saya juga percaya bahwa semangat itu masih ada, meski  agak rapuh dan perlu kita rawat bersama. Bunuh diri seorang ibu karena tak kuat menanggung beban adalah pengingat paling pahit bahwa collective care harus kita perkuat. Ia bukan sekadar kebaikan hati, melainkan strategi bertahan hidup.

Menurut Laila Zaini, jika dunia punya World Suicide Prevention Day, maka di desa-desa kita bisa melakukan pencegahan itu dengan nama saling jaga. Ia sederhana, tapi bisa menyelamatkan nyawa. Collective care adalah cinta yang terus bergerak, yang menolak menyerah pada sistem yang abai, dan pesan lantang bahwa hidup perempuan harus kita hargai.

Saya setuju, kita tidak minta pembangunan yang memanjakan, tapi pembangunan yang menghitung beban ganda dan luka yang tak terlihat. Pembangunan yang tahu bahwa akses modal tanpa akses pemulihan hanyalah jebakan. Selain itu, kita juga meminta pemerintah mendukung riset berbasis gender, agar kebijakan tidak hanya berbasis angka, tapi juga pengalaman hidup perempuan.

Konon, saat ini akan ada Koperasi Merah Putih (KMP) di setiap desa. Mari kita lihat, apakah nanti program akan juga menyasar kelompok rentan, terutama perempuan miskin sebagai prioritas kebijakan. Untuk itu, mari kita kawal dan mendorong gerakan bersama kepedulian kolektif ini bagi mereka yang terpinggirkan, tersingkirkan, tak berdaya dan tanpa suara itu. []

Tags: Copycat SuicideIbu Muda Bunuh DiriIndramayuKasus Bunuh DiriKesehatan MentalPerempuan Miskin
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

Next Post

Rahmatan lil ‘Alamin dalam Paradigma Mubadalah

Zahra Amin

Zahra Amin

Zahra Amin Perempuan penyuka senja, penikmat kopi, pembaca buku, dan menggemari sastra, isu perempuan serta keluarga. Kini, bekerja di Media Mubadalah dan tinggal di Indramayu.

Related Posts

Menjadi Dewasa
Personal

Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

13 Februari 2026
Kemiskinan
Publik

Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

8 Februari 2026
Disabilitas Psikososial
Disabilitas

Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

2 Februari 2026
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Buku

Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

2 Februari 2026
Kesehatan mental
Lingkungan

Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

2 Februari 2026
Kesehatan Mental
Personal

Pentingnya Circle of Trust dan Kesehatan Mental Aktivis Kemanusiaan

8 Januari 2026
Next Post
rahmatan lil ‘alamin

Rahmatan lil ‘Alamin dalam Paradigma Mubadalah

No Result
View All Result

TERBARU

  • Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam
  • Disabilitas Empati Masyarakat Kita
  • Rahmatan lil ‘Alamin dalam Paradigma Mubadalah
  • Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?
  • Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0