Mubadalah.id – Sebuah video hasil rekaman kamera pengawas (CCTV) yang menangkap aksi sepasang lelaki dan perempuan beredar luas di media sosial. Keduanya berboncengan motor dan tengah membeli bensin di sebuah warung pinggir jalan.
Seusai mengisi bensin sebanyak dua liter, sejoli perempuan dan lelaki itu sempat berbisik-bisik beberapa saat. Lantas, bukannya segera membayar bensin yang telah masuk ke tangki motor si lelaki, keduanya justru kabur tatkala pemilik warung lengah.
Wajah naas dan menyesal menyembul kentara dari wajah pemilik warung yang jelas merasa telah menjadi korban kelicikan dua muda-mudi itu. Namun, tanpa bermaksud tak merasa kasihan dengan pemilik warung, komentar warganet menimbulkan kemirisan.
Pasalnya, dengan serta merta kolom komentar di unggahan video itu banjir penuh blaming terhadap sang perempuan. Warganet menafsir bahwa ‘tanpa hasutan’ si perempuan, sang lelaki tak bakal bertindak selicik itu dan akan membayar bensinnya.
“Si cowok sebenernya ragu (mau kabur), tapi si cewek memberikan dorongan motivasi dan meyakinkan diri untuk kabur,” tulis salah seorang warganet. “Si cowok beruntung banget dapat pasangan. (Si) cewek ngajak hemat dengan gak bayar isi bensin. Semoga kalian bahagia sampai neraka,” timpal lainnya.
Tafsir sepihak itu seakan menempatkan perempuan sebagai ‘dalang’ alias ‘otak utama’ di balik tindak-tanduk buruk pasangannya. Seolah, jika tiada pasangannya itu, lelaki tak akan berbuat jahat, keji, atau licik, seperti mengisi bensin tanpa mau membayar.
Mendayung di antara tokenisme dan women blaming
Fenomena yang publik dapati dalam contoh peristiwa di atas sejatinya menunjukkan betapa perempuan senantiasa berada dalam situasi rentan. Ia berada di antara dua pulau, yakni pulau tokenisme dan pulau women blaming, yang sama-sama mengimpitnya dari sisi berbeda.
Tokenisme tentu bukan lagi sesuatu yang asing di hidup seorang berkromosom XX itu. Cambridge Dictionary mengartikan tokenisme sebagai perlakuan berbeda di level masyarakat atas kontribusi atau kerja seseorang atau organisasi. Kata ini bahkan berdekatan dengan disaproving atau penolakan.
Contoh paling gampangnya, seringkali kita mendengar ungkapan “Di balik kesuksesan seorang pria, ada perempuan hebat di belakangnya.” Ungkapan ini berasa wajar dan acap menggema di banyak forum. Padahal, sejatinya, ujaran ini bermasalah dan menyimpan kelindan kekerasan simbolik.
Apa pasal? Pasalnya, ujaran itu mengandung makna bahwa perempuan sekadar “wong wingking” alias figur domestik yang tugasnya sekadar mengantarkan kesuksesan pasangannya. Sementara, di ruang publik dan masyarakat luas, suaminya lah yang berhak memanen kehormatan dan apresiasi.
Lalu, di mana letak kekerasan simboliknya? Turunan dari interpretasi “wong wingking” itu dapat menghasilkan interpretasi lanjutan begini, “Sudah, kamu urus rumah saja. Dukung suamimu, biar dia sukses.” Ujaran ini berarti sebuah pemenjaraan dan pembagian ruang yang asimetris: perempuan sebatas di rumah, lelaki bebas kemanapun.
Kini kita mendapati bagaiamana impitan merugikan selalu mengelindani perempuan. Saat pasangannya berlaku buruk, dirinya lah yang pertama kali beroleh cap buruk. Namun, saat pasangannya berhasil, dirinya justru di-wingking-kan dan tak beroleh approval.
Tak membiasakan dan menganggap hal biasa
Praktik tokenisme maupun women blaming telah menjamur subur lantaran kuatnya dominasi paradigma patriarki. Saat patriarki menggenggam kuasa hegemoni, menjadi biasa dan seolah wajarlah segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, utamanya yang subtil dan simbolik.
Kalimat seperti, “Alah, itu udah biasa. Emang takdirnya gitu.” atau “Ribet amat. Selagi ceweknya oke, ngak papa dong.” seringkali menjadi tameng yang mengempas mundur segala upaya dekonstruksi atas nalar patriarki itu. Ngerinya, tak jarang kalimat sejenis justru keluar dari perempuan sendiri.
Yuki Yuen, seorang jurnalis perempuan dan aktivis gerakan politik asal Hongkong, menyebut beberapa alasan mengapa penjara patriarki telah begitu menjadi hal biasa dan lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Pun, perempuan sering tak menyadarinya sebagai suatu bahaya.
Yuen membilang bahwa sebagian kaum puan tak punya pilihan lain kecuali menerima praktik patriarki apa adanya. Lalu, sebahagian lain bahkan tak pernah kepikiran bahwa mereka tengah berada dalam penjara indoktrinasi. Sisanya, mereka tak punya cukup daya untuk keluar dari zona aman dan nyamannya.
“A sense of safety is crucial living in this society, many women would not feel being accepted if they are seen as doing a bad job in the role of a female,” tulisnya lewat unggahan tahun 2020 lalu. Jika sudah begini, langkah sederhana apa yang bisa kita mulai? []





































