Mubadalah.id – Sebelum lebaran tiba, pertanyaan apakah mau membeli baju lebaran datang dari ayah. Beliau menawarkan untuk pergi berdua mencari baju lebaran. Dengan kesadaran penuh, saya menolak halus ajakannya. Sudah hampir 6 tahun belakangan ini saya tidak membeli baju lebaran karena saya rasa, baju-baju lama masih cukup untuk dikenakan saat lebaran.
Bedanya, tahun ini saya memanfaatkan kado baju berupa gamis dari teman-teman saat datang di acara sidang skripsi. Saya rasa, lebaran menjadi hari sakral untuk bermaaf-maafan, sehingga adanya baju baru atau tidak, seharusnya tidak mengurangi kesakralan Idulfitri. Namun, dalam perspektif lain, kita sering menjumpai hal-hal unik di sekitar kita saat leabaran dan kita baik-baik saja!
Lebaran dengan Baju Lama: Upaya Bijak Mencegah Limbah Fast Fashion
Untuk tim lebaran dengan baju lama, tentu kita sedang mengambil peran kecil dalam menjaga bumi tetap lestari. Industri fast fashion telah lama dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Produksi pakaian dalam jumlah besar dengan siklus yang cepat mendorong kebiasaan konsumsi berlebihan.
Data dari transisienergi.id menunjukkan bahwa laju limbah tekstil berada pada angka yang mengkhawatirkan. Setiap tahun, industri fesyen global menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil dan diproyeksikan meningkat hingga 134 juta ton pada tahun 2030. Di Indonesia, jumlahnya mencapai sekitar 1,8 juta ton per tahun, dengan sebagian besar berasal dari praktik fast fashion. Kebiasaan membeli pakaian baru pada momen tertentu, termasuk hari raya, ikut berkontribusi pada bertambahnya beban lingkungan.
Pada sisi lain, proses produksi pakaian dalam skema fast fashion juga membutuhkan energi dalam jumlah besar. Mulai dari pembuatan serat sintetis, proses pewarnaan, hingga distribusi ke berbagai wilayah, semuanya menghasilkan jejak karbon yang signifikan. Pakaian yang terlihat terjangkau di permukaan ternyata menyimpan biaya ekologis yang tinggi.
Banyak pakaian yang akhirnya terbuang setelah dipakai beberapa kali, bahkan ada yang masih layak pakai. Mengenakan kembali baju lama saat lebaran menjadi praktik baik dalam mengurangi tumpukan limbah tekstil. Selain itu, memilih baju lama juga melatih kesadaran diri untuk lebih bijak dalam berbelanja. Kita belajar memilah mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya karena dorongan tren.
Tak Perlu Berselisih Paham, Tim Baju Baru atau Lama Semuanya Tetap Boleh!
Kalaupun teman-teman memilih tim baju baru saat lebaran juga tidak salah. Lebaran sebagai bentuk syukur dan merayakan diri karena lahir dalam keadaan fitri. Sehingga, simbol baju baru biasanya dapat kita gunakan sebagai bentuk kebersyukuran.
Pendekatan yang lebih ilmiah dalam melihat pilihan berpakaian saat lebaran dapat dimulai dari konsep konsumsi berkelanjutan dan mindful consumption. Mindful consumption dipahami sebagai kesadaran penuh dalam proses memilih, menggunakan atau memakai, hingga memperpanjang masa pakai suatu produk. Keputusan untuk membeli atau menggunakan pakaian saat lebaran perlu ditempatkan terhadap kesadaran akan ekologis.
Penggunaan baju lama atau pembelian baju baru dapat tetap selaras dengan nilai kebersyukuran apabila dilakukan secara proporsional. Baju yang dikenakan sebagai bentuk rasa syukur yang terukur, dengan menghindari pola belanja berlebih. Salah satu indikatornya adalah memastikan bahwa pakaian yang dibeli memiliki kualitas baik, desain yang relevan lintas waktu, serta potensi penggunaan jangka panjang.
Keberlanjutan penggunaan pasca lebaran menjadi hal yang perlu kita pertimbangkan dalam menilai tingkat mindful tersebut. Pakaian yang terus kita gunakan dalam berbagai kesempatan paca lebaran berarti memiliki peluang optimalisasi fungsi serta pengurangan potensi limbah. Sehingga, praktik baik dalam membeli baju lebaran yang berkelanjutan selaras dengan prinsip reduce dan reuse dalam pengelolaan sumber daya, yang mana konsumsi kita lakukan secara efisien dan bertanggung jawab.
Kaleng Biskuit Isi Rengginang: Ciri Khas Tradisi Lebaran di Indonesia
Momen lebaran memang tak jauh-jauh dari kue lebaran, yang kerap tersuguhkan dalam wadah kaleng biskuit. Beragam kue lebaran seperti kue kering hingga kue tradisional tak pernah absen berada di atas meja. Tradisi lebaran di Indonesia menyuguhkan nuansa kekeluargaan yang begitu erat.
Bersilaturahim dari rumah ke rumah membuat saya hafal kaleng-kaleng biskuit yang banyak berdiri di atas meja. Ketika tuan rumah mempersilahkan para tamu untuk sekedar mencicipi kue-kue lebaran, di situ saya merasa sedikit tertantang dan berusaha untuk tidak terkejut melihat isi kaleng biskuit yang kemasannya begitu terlihat lezat. Apakah isinya sesuai dengan kemasannya?
Kaleng biskuit pertama yang saya buka berisi rengginang ikan asin, kaleng wafer kedua berisi emping mlinjo bewarna kuning cerah, dan kaleng permen ketiga berisi kue kacang. Tentunya, sebagian besar dari kita tidak akan terlalu terkejut dengan kejadian seperti ini. Kebanyakan kaleng-kaleng ini berisi camilan tradisional seperti kerupuk, keripik , atau kue kering rumahan.
Masyarakat memilih untuk menggunakan kaleng kue kosong untuk kue-kue lebaran mereka tanpa memperdulikan kemasan luarnya. Bagi masyarakat, menggunakan kaleng kue kembali merupakan bentuk penghematan.
Sustainable Living (Kehidupan Berkelanjutan)
Salah satu bentuk sustainable living dalam hari raya Idulfitri ialah pemanfaatn kaleng biskuit untuk kue-kue kering tradisional seperti kerupuk atau rengginang. Yang lebih unik, praktik-praktik penggunaan kaleng biskuit untuk jajanan lebaran sebenarnya sudah sangat lama masyarakat praktikkan.
Mungkin kita sering bergurau bahwa paktik-praktik yang demikian lebih dekat dengan penipuan publik (dalam hal becanda). Kaleng biskuit premium yang menggiurkan saat lebaran, ternyata ketika kita buka berisi rengginang atau mlinjo. Patah hatinya, tidak hanya 1-2 rumah yang melakukan praktik demikian. Namun, hampir seluruh kelas masyarakat menerapkan hal serupa.
Saya rasa, kearifan lokal seperti ini yang perlu terus kita tumbuhkan di Indonesia. Karenanya, tradisi tersebut turut menyumbang meminimalisir sampah saat lebaran. Terlebih, kaleng-kaleng kue biskuit meninggalkan jejak karbon yang sangat besar ketika di daur ulang.
Tetap Bermubadalah Saat Hari Raya Idulfitri
Salah satu bentuk menerapkan nilai mubadalah (kesalingan) terutama dalam perspektif ekologis ketika lebaran ialah menerapkan self-control baik terhadap makanan, baju lebaran, amplop-amplop, atau koran-koran untuk alas beribadah di hari raya Idulfitri.
Idulfitri menjadi hari raya suci umat Islam, seluruh ummat mendapatkan kemenangan dan terlahir kembali sebagai pribadi yang suci. maka, hendaknya kita tidak mengotori hari raya idulfitri dengan sampah-sampah atau limbah-limbah yang menegtasnamakan hari raya.
Praktik bermubadalah saat lebaran dapat kita praktikkan sebagai, “Kita mendapatkan kesempatan untuk beribadah, menjalin silaturahmi, dan saling memaafkan ke sesama anggota keluarga, hendaknya kami tetap mengutamakan nilai-nilai ma’ruf baik kepada sesama atau terhadap lingkungan. Sehingga, kita dapat merayakan Idulfitri dengan khusyuk dan tetap bermanfaat.”
Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H
Sebagai penulis, saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dalam ucapan, pilihan kata, cara penyampaian, maupun tindakan yang pernah saya lakukan. Baik yang saya sadari maupun yang luput dari perhatian. Jika dalam tulisan-tulisan saya terdapat kalimat yang kurang berkenan, pemaknaan yang belum utuh, atau sikap yang kurang tepat, saya memohon kelapangan hati untuk dimaafkan.
Semoga Idulfitri ini membawa kita kembali pada fitrah yang lebih jernih serta menguatkan langkah untuk hidup dengan kesadaran yang lebih baik. Akhirnya, semoga kebahagiaan, keberkahan, dan setiap langkah kecil yang kita pilih mampu membawa kebaikan bagi diri sendiri, sesama, dan bumi yang kita tinggali. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. []








































