Minggu, 12 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Berlebaran dengan Baju Lama dan Kaleng Biskuit Isi Rengginang

Keputusan untuk membeli atau menggunakan pakaian saat lebaran perlu ditempatkan terhadap kesadaran ekologis.

Layyin Lala by Layyin Lala
20 Maret 2026
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Lebaran

Lebaran

27
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sebelum lebaran tiba, pertanyaan apakah mau membeli baju lebaran datang dari ayah. Beliau menawarkan untuk pergi berdua mencari baju lebaran. Dengan kesadaran penuh, saya menolak halus ajakannya. Sudah hampir 6 tahun belakangan ini saya tidak membeli baju lebaran karena saya rasa, baju-baju lama masih cukup untuk dikenakan saat lebaran. 

Bedanya, tahun ini saya memanfaatkan kado baju berupa gamis dari teman-teman saat datang di acara sidang skripsi. Saya rasa, lebaran menjadi hari sakral untuk bermaaf-maafan, sehingga adanya baju baru atau tidak, seharusnya tidak  mengurangi kesakralan Idulfitri. Namun, dalam perspektif lain, kita sering menjumpai hal-hal unik di sekitar kita saat leabaran dan kita baik-baik saja!

Lebaran dengan Baju Lama: Upaya Bijak Mencegah Limbah Fast Fashion

Untuk tim lebaran dengan baju lama, tentu kita sedang mengambil peran kecil dalam menjaga bumi tetap lestari. Industri fast fashion telah lama dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Produksi pakaian dalam jumlah besar dengan siklus yang cepat mendorong kebiasaan konsumsi berlebihan. 

Data dari transisienergi.id menunjukkan bahwa laju limbah tekstil berada pada angka yang mengkhawatirkan. Setiap tahun, industri fesyen global menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil dan diproyeksikan meningkat hingga 134 juta ton pada tahun 2030. Di Indonesia, jumlahnya mencapai sekitar 1,8 juta ton per tahun, dengan sebagian besar berasal dari praktik fast fashion. Kebiasaan membeli pakaian baru pada momen tertentu, termasuk hari raya, ikut berkontribusi pada bertambahnya beban lingkungan.

Pada sisi lain, proses produksi pakaian dalam skema fast fashion juga membutuhkan energi dalam jumlah besar. Mulai dari pembuatan serat sintetis, proses pewarnaan, hingga distribusi ke berbagai wilayah, semuanya menghasilkan jejak karbon yang signifikan. Pakaian yang terlihat terjangkau di permukaan ternyata menyimpan biaya ekologis yang tinggi.

Banyak pakaian yang akhirnya terbuang setelah dipakai beberapa kali, bahkan ada yang masih layak pakai. Mengenakan kembali baju lama saat lebaran menjadi praktik baik dalam mengurangi tumpukan limbah tekstil. Selain itu, memilih baju lama juga melatih kesadaran diri untuk lebih bijak dalam berbelanja. Kita belajar memilah mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya karena dorongan tren.

Tak Perlu Berselisih Paham, Tim Baju Baru atau Lama Semuanya Tetap Boleh!

Kalaupun teman-teman memilih tim baju baru saat lebaran juga tidak salah. Lebaran sebagai bentuk syukur dan merayakan diri karena lahir dalam keadaan fitri. Sehingga, simbol baju baru biasanya dapat kita gunakan sebagai bentuk kebersyukuran. 

Pendekatan yang lebih ilmiah dalam melihat pilihan berpakaian saat lebaran dapat dimulai dari konsep konsumsi berkelanjutan dan mindful consumption. Mindful consumption dipahami sebagai kesadaran penuh dalam proses memilih, menggunakan atau memakai, hingga memperpanjang masa pakai suatu produk. Keputusan untuk membeli atau menggunakan pakaian saat lebaran perlu ditempatkan terhadap kesadaran akan ekologis.

Penggunaan baju lama atau pembelian baju baru dapat tetap selaras dengan nilai kebersyukuran apabila dilakukan secara proporsional. Baju yang dikenakan sebagai bentuk rasa syukur yang terukur, dengan menghindari pola belanja berlebih. Salah satu indikatornya adalah memastikan bahwa pakaian yang dibeli memiliki kualitas baik, desain yang relevan lintas waktu, serta potensi penggunaan jangka panjang.

Keberlanjutan penggunaan pasca lebaran menjadi hal yang perlu kita pertimbangkan dalam menilai tingkat mindful tersebut. Pakaian yang terus kita gunakan dalam berbagai kesempatan paca lebaran berarti memiliki peluang optimalisasi fungsi serta pengurangan potensi limbah. Sehingga, praktik baik dalam membeli baju lebaran yang berkelanjutan selaras dengan prinsip reduce dan reuse dalam pengelolaan sumber daya, yang mana konsumsi kita lakukan secara efisien dan bertanggung jawab.

Kaleng Biskuit Isi Rengginang: Ciri Khas Tradisi Lebaran di Indonesia

Momen lebaran memang tak jauh-jauh dari kue lebaran, yang kerap tersuguhkan dalam wadah kaleng biskuit. Beragam kue lebaran seperti kue kering hingga kue tradisional tak pernah absen berada di atas meja. Tradisi lebaran di Indonesia menyuguhkan nuansa kekeluargaan yang begitu erat.

Bersilaturahim dari rumah ke rumah membuat saya hafal kaleng-kaleng biskuit yang banyak berdiri di atas meja. Ketika tuan rumah mempersilahkan para tamu untuk sekedar mencicipi kue-kue lebaran, di situ saya merasa sedikit tertantang dan berusaha untuk tidak terkejut melihat isi kaleng biskuit yang kemasannya begitu terlihat lezat. Apakah isinya sesuai dengan kemasannya?

Kaleng biskuit pertama yang saya buka berisi rengginang ikan asin, kaleng wafer kedua berisi emping mlinjo bewarna kuning cerah, dan kaleng permen ketiga berisi kue kacang. Tentunya, sebagian besar dari kita tidak akan terlalu terkejut dengan kejadian seperti ini. Kebanyakan kaleng-kaleng ini berisi camilan tradisional seperti kerupuk, keripik , atau kue kering rumahan.

Masyarakat memilih untuk menggunakan kaleng kue kosong untuk kue-kue lebaran mereka tanpa memperdulikan kemasan luarnya. Bagi masyarakat, menggunakan kaleng kue kembali merupakan bentuk penghematan.

Sustainable Living (Kehidupan Berkelanjutan)

Salah satu bentuk sustainable living dalam hari raya Idulfitri ialah pemanfaatn kaleng biskuit untuk kue-kue kering tradisional seperti kerupuk atau rengginang. Yang lebih unik, praktik-praktik penggunaan kaleng biskuit untuk jajanan lebaran sebenarnya sudah sangat lama masyarakat praktikkan.

Mungkin kita sering bergurau bahwa paktik-praktik yang demikian lebih dekat dengan penipuan publik (dalam hal becanda). Kaleng biskuit premium yang menggiurkan saat lebaran, ternyata ketika kita buka berisi rengginang atau mlinjo. Patah hatinya, tidak hanya 1-2 rumah yang melakukan praktik demikian. Namun, hampir seluruh kelas masyarakat menerapkan hal serupa.

Saya rasa, kearifan lokal seperti ini yang perlu terus kita tumbuhkan di Indonesia. Karenanya, tradisi tersebut turut menyumbang meminimalisir sampah saat lebaran. Terlebih, kaleng-kaleng kue biskuit meninggalkan jejak karbon yang sangat besar ketika di daur ulang.

Tetap Bermubadalah Saat Hari Raya Idulfitri

Salah satu bentuk menerapkan nilai mubadalah (kesalingan) terutama dalam perspektif ekologis ketika lebaran ialah menerapkan self-control baik terhadap makanan, baju lebaran, amplop-amplop, atau koran-koran untuk alas beribadah di hari raya Idulfitri.

Idulfitri menjadi hari raya suci umat Islam,  seluruh ummat mendapatkan kemenangan dan terlahir kembali sebagai pribadi yang suci. maka, hendaknya kita tidak mengotori hari raya idulfitri dengan sampah-sampah atau limbah-limbah yang menegtasnamakan hari raya.

Praktik bermubadalah saat lebaran dapat kita praktikkan sebagai, “Kita mendapatkan kesempatan untuk beribadah, menjalin silaturahmi, dan saling memaafkan ke sesama anggota keluarga, hendaknya kami tetap mengutamakan nilai-nilai ma’ruf baik kepada sesama atau terhadap lingkungan. Sehingga, kita dapat merayakan Idulfitri dengan khusyuk dan tetap bermanfaat.”

Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H

Sebagai penulis, saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dalam ucapan, pilihan kata, cara penyampaian, maupun tindakan yang pernah saya lakukan. Baik yang saya sadari maupun yang luput dari perhatian. Jika dalam tulisan-tulisan saya terdapat kalimat yang kurang berkenan, pemaknaan yang belum utuh, atau sikap yang kurang tepat, saya memohon kelapangan hati untuk dimaafkan.

Semoga Idulfitri ini membawa kita kembali pada fitrah yang lebih jernih serta menguatkan langkah untuk hidup dengan kesadaran yang lebih baik. Akhirnya, semoga kebahagiaan, keberkahan, dan setiap langkah kecil yang kita pilih mampu membawa kebaikan bagi diri sendiri, sesama, dan bumi yang kita tinggali. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. []

 

Tags: Baju BaruEkologisFast FashionHari Raya Idulfitri 1447 Hlebaran
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kemiskinan Perempuan Dimulai Sejak Dini dan Berlangsung Sepanjang Siklus Hidup

Next Post

Desakralisasi Hari Raya Idulfitri Sebagai Hari Kemenangan

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Film Pesta Babi
Film

Film Pesta Babi, Relasi Negara-Korporasi, dan Krisis Sosial-Ekologis Indonesia

28 Mei 2026
Ketakwaan
Hikmah

Menjalin Silaturahmi adalah Bentuk Ketakwaan kepada Allah Swt

27 Maret 2026
Lebaran
Lingkungan

Lebaran dari Sampah

27 Maret 2026
Lebaran Tanpa Mudik
Personal

Lebaran Tanpa Mudik Tetap Asik dan Bermakna

26 Maret 2026
Lebaran
Personal

Silaturahmi yang Melelahkan: Ketika Lebaran Tak Selalu Menyenangkan

26 Maret 2026
Hari Kemenangan
Hikmah

Mengakui Kekalahan di Hari Kemenangan; Apa yang Belum Kita Miliki?

25 Maret 2026
Next Post
Hari Raya

Desakralisasi Hari Raya Idulfitri Sebagai Hari Kemenangan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya
  • Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?
  • Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah
  • Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga
  • 6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0