Mubadalah.id – Kemiskinan masih menjadi persoalan utama yang dihadapi perempuan di berbagai belahan dunia. Data menunjukkan bahwa dua dari tiga perempuan hidup dalam kondisi miskin, dengan tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Kondisi ini tidak hanya terjadi pada masa dewasa, tetapi telah mulai sejak sebelum perempuan lahir. Bayi perempuan yang lahir dari ibu dengan kondisi kekurangan gizi memiliki risiko lebih besar mengalami berat badan rendah serta hambatan pertumbuhan.
Dalam keluarga miskin, anak perempuan sering kali memperoleh akses yang lebih terbatas terhadap makanan jika kita bandingkan dengan anak laki-laki. Situasi ini menyebabkan pertumbuhan fisik mereka menjadi tidak optimal sejak usia dini.
Selain itu, anak perempuan juga cenderung memiliki peluang pendidikan yang lebih rendah. Banyak dari mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan atau hanya memperoleh pendidikan dasar. Keterbatasan ini berdampak pada pilihan pekerjaan yang tersedia, di mana perempuan lebih sering bekerja di sektor informal dengan upah rendah.
Ketimpangan upah juga masih terjadi meskipun perempuan melakukan pekerjaan yang sama dengan laki-laki. Di sisi lain, pekerjaan domestik yang perempuan lakukan di dalam rumah tangga umumnya tidak mendapatkan imbalan ekonomi.
Kondisi tersebut menciptakan lingkaran kemiskinan yang sulit ia putus. Perempuan yang mengalami kekurangan gizi, kelelahan akibat beban kerja, serta kurangnya akses terhadap layanan kesehatan berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Dampak dari kondisi ini tidak hanya perempuan rasakan, tetapi juga oleh anak-anak yang mereka lahirkan. Kesehatan ibu yang buruk berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan generasi berikutnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa kemiskinan perempuan merupakan persoalan struktural yang berlangsung sepanjang siklus hidup dan memerlukan perhatian serius dalam upaya penanganannya. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter




































