Senin, 23 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Andai Waktu Bisa Diputar Kembali: Kisah Penyintas Perkawinan Anak (Part II)

Tulisan ini adalah bagian serial reportase Perkawinan Anak tentang data perkawinan anak di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Banyuwangi.

Mifta Sonia by Mifta Sonia
7 Desember 2024
in Publik
A A
0
Perkawinan Anak

Perkawinan Anak

16
SHARES
776
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Maura dan Andin adalah dua penyintas di antara banyaknya kasus perkawinan anak di Banyuwangi.

Pada tahun ini, Pengadilan Agama Banyuwangi mencatat ada 693 pengajuan dispensasi kawin hingga bulan November. Dengan rincian 646 di antaranya terkabulkan, 3 ditolak, 1 gugur, 3 tidak dapat diterima, 9 dicabut, dan 31 masih dalam proses di pengadilan.

Kehamilan Remaja Faktor Utama Tingginya Angka Perkawinan Anak

Pada tahun 2024, Banyuwangi ada di urutan ketiga dengan jumlah pengajuan dispensasi terbanyak di Jawa Timur. Posisi pertama dan kedua ditempati Pasuruan dan Kabupaten Malang.

Mayoritas alasan pengajuan dispensasi kawin adalah anak perempuan telah hamil, sebut Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kabupaten Banyuwangi.

Angka ini sebenarnya turun dari tiga tahun sebelumnya. Di mana pada 2021 ada sebanyak 959 pengajuan, 2022 sebanyak 877 pengajuan, dan 2023 ada sebanyak 781 pengajuan.

Akan tetapi jumlah tersebut belum mencakup anak-anak yang menikah siri seperti Maura. Sama halnya dengan pengajuan dispensasi kawin, alasan nikah siri juga karena kehamilan remaja atau kehamilan tidak diinginkan (KTD), budaya, dan takut zina.

Berdasarkan penelitian yang PUSKAPA dan UNICEF lakukan pada tahun 2020, kemiskinan juga menjadi salah satu faktor pendorong perkawinan anak.

Menurut penelitian yang sama, pada 2018 ada sebanyak 1,2 juta perempuan menikah di rentang usia anak, dengan lebih dari 60 ribu di antaranya berusia di bawah 15 tahun.

Dengan kata lain, 1 dari 9 perempuan berusia 20-24 tahun di Indonesia kawin sebelum usia 18 tahun. Angka ini meliputi perkawinan yang tercatat maupun tidak oleh negara.

Indonesia memiliki UU Nomor 16/2019 yang mengatur batas usia pernikahan untuk perempuan 19 tahun dan laki-laki 21 tahun di mana sebelumnya batas usia pernikahan untuk perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.

Undang-undang tersebut disahkan sebagai upaya menekan angka perkawinan anak. Kendati demikian masih ada celah melalui Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 5 Tahun 2019 untuk mengajukan dispensasi kawin.

Meningkatkan usia minimum perkawinan tidak semerta-merta dapat mengatasi berbagai faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi perkawinan anak.

Upaya Menekan Angka Perkawinan Anak

Henik Setyorini, Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan KB  (Dinsos PPKB) Banyuwangi, mengatakan pihaknya telah membuat Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Kemenag untuk tidak mudah memberikan dispensasi kawin kecuali untuk alasan kehamilan pada anak.

Henik juga menceritakan pihaknya sempat mengajukan untuk menghapus aturan terkait dispensasi kawin, namun tidak bisa mereka laksanakan. Sehingga dari Dinsos PPKB mengupayakan pencegahan dari tingkat paling bawah untuk memperketat aturan pengajuan dispensasi kawin.

Saat ini untuk mengajukan dispensasi pemohon perlu melampirkan surat rekomendasi dari psikolog dan rekam medis dari Dinas Kesehatan terkait kesehatan reproduksinya.

Kepala Perwakilan UNFPA Indonesia, Hassan Mohtashami mengatakan bahwa dispensasi perkawinan dapat memperpanjang praktik perkawinan anak yang kita ketahui berbahaya dan meningkatkan risiko yang anak perempuan hadapi. Termasuk kekerasan terhadap perempuan, komplikasi kesehatan, dan kemiskinan.

Secara bersamaan, pemerintah dan masyarakat sipil juga menyadari bahwa tetap terdapat risiko perkawinan anak berlangsung secara diam-diam, tanpa tercatat, dan sebagai akibatnya, perempuan dan anak-anak dari perkawinan tersebut rentan tidak memiliki dokumen kependudukan dan identitas hukum yang memadai.

Ketiadaan dokumen ini juga bisa menghalangi akses mereka pada layanan dasar dan publik yang penting bagi kesejahteraan mereka.

Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, Dinsos PPKB Banyuwangi juga mengupayakan sejumlah program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait bahaya perkawinan anak utamanya perkawinan siri.

Dinsos PPKB menggandeng sejumlah organisasi perempuan untuk melakukan edukasi pencegahan perkawinan anak mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga ke sekolah-sekolah, terutama ke daerah yang tingkat perkawinan anaknya tinggi.

Pentingnya Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Hassan Mohtashami mengungkapkan bahwa perkawinan anak memiliki sejumlah dampak buruk dan berbahaya bagi anak-anak, utamanya anak perempuan. Menikahkan anak karena kehamilan remaja bukan merupakan solusi.

Komplikasi akibat kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian atau kondisi medis serius seperti fistula pada anak perempuan remaja. Sehingga kita memerlukan upaya yang mengatasi masalah hingga ke akarnya.

“Kehamilan remaja umumnya bukan hasil pilihan yang disengaja, anak-anak perempuan ini sering kali tidak memiliki suara dalam keputusan yang memengaruhi hidup mereka. Sebaliknya, kehamilan remaja adalah akibat dari kurangnya akses terhadap pendidikan, informasi, atau layanan kesehatan. Kita perlu melakukan segala upaya untuk mencegah kehamilan remaja. Ketika seorang anak perempuan hamil, hidupnya bisa berubah drastis. Pendidikan mereka mungkin terhenti, prospek pekerjaan berkurang, dan mereka menjadi lebih rentan terhadap kemiskinan dan pengucilan,” ungkap Hassan.

Pendidikan dan akses layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi menjadi sebuah upaya yang sangat penting untuk kita lakukan guna memutus rantai perkawinan anak.

Selama anak-anak tidak mengetahui resiko dari aktivitas seksual yang mereka lakukan, maka kehamilan remaja dan perkawinan anak akan terus terjadi.

Perlunya Kerja Sama Antar Lembaga

Hassan mengatakan bahwa penting bagi remaja mendapatkan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Proses berbasis kurikulum untuk mengajarkan dan mempelajari aspek kognitif, emosional, fisik, dan sosial dari kesehatan reproduksi, memungkinkan remaja melindungi dan memperjuangkan kesehatan, kesejahteraan, dan martabat mereka dengan memberikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang mereka perlukan.

Hasil dari Global Early Adolescent Study-Indonesia (GEAS-ID) menunjukkan bahwa pengetahuan remaja awal rendah terkait pencegahan kehamilan dan HIV, serta layanan dan program ramah remaja. Hanya 44,7 persen remaja yang mengetahui bahwa hubungan seksual pertama dapat menyebabkan kehamilan.

Hanya 31,5 persen remaja yang mengetahui bahwa kondom dapat mencegah kehamilan dan hanya 18,5 persen remaja perempuan yang mengetahui di mana mendapatkan kontrasepsi. Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang kita anggap tabu akan membuat anak-anak menjadi semakin rentan.

Mereka tidak mampu menimbang resiko dalam setiap perilakunya, di antaranya kehamilan. Kemampuan berpikir kritis dan literasi digital juga menjadi penting untuk anak bisa menyaring informasi dan konten dari mengakses media sosial, misalnya konten pornografi.

Upaya lain yang bisa kita lakukan adalah melibatkan remaja dalam program pemberdayaan berbasis komunitas. Masyarakat bisa membuat ruang kreativitas bagi kaum muda. Hal itu akan membuat anak merasa memiliki masa depan dan mendorong mereka untuk menunda perkawinan atau aktivitas seksual sehingga mengurangi resiko kehamilan.

Perkawinan Anak dalam Islam

Budaya patriarki membuat anak perempuan seringkali kita anggap kurang berharga dari anak laki-laki.  Beberapa permohonan dispensasi kawin yang mengajukan adalah orang tuanya, karena takut anaknya berdosa atas zina. Padahal tidak ada aturan dalam agama yang menganjurkan perkawinan anak.

“Menikah itu harusnya untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Sehingga kedua belah pihak harus berada di usia yang mampu untuk membangun tujuan rumah tangga yang tersebutkan di QS. Ar Rum. Kalau tujuannya menghindari zina ya jangan berzina, kalau takut dosa ya jangan melakukan dosa,” ungkap Dr. KH. Faqihudin Abdul Kodir atau yang akrab disapa Kang Faqih.

Kang Faqih menjelaskan bahwa tidak tepat untuk memaksakan perkawinan anak dengan alasan takut berzina. Jika orang tua takut anaknya berzina maka seharusnya mereka memberikan edukasi bukan melakukan perkawinan anak apalagi perkawinan siri.

Menyoal Kawin Siri

“Nikah siri itu biasanya salah satu pihaknya tidak siap bertanggungjawab secara penuh sebagai suami atau istri, biasanya laki-laki yang tidak siap sebagai suami. Nikah siri biasanya dilakukan hanya untuk menghalalkan hubungan seksual, tidak ada tujuan membangun rumah tangga,” jelas Kang Faqih.

Perkawinan anak akan menjadikan anak-anak perempuan sebagai korban, mereka menjadi orang tua atau ibu saat masih usia anak. Sesuatu yang membuat seseorang terjebak pada kekerasan dan kemudaratan adalah jalan menuju haram.

Dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon itu juga menjelaskan, harusnya seluruh masyarakat ikut mencegah perkawinan anak. Termasuk tokoh agama setempat yang masih sering menjadi penghulu dalam perkawinan anak secara siri. Para tokoh agama harusnya sadar bahwa pernikahan memiliki tujuan besar bukan hanya menghalalkan hubungan intim.

Menikah adalah mewujudkan kebaikan dan menghindari segala keburukan, itu yang tidak terwujud dalam perkawinan anak.

“Kalau usianya belum mampu, biologis, sosial, finansial, dan moral juga belum mampu maka itu akan menjerumuskan orang pada kerusakan. Menjerumuskan orang pada kerusakan adalah haram,” tegas Kang Faqih.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) juga mengeluarkan fatwa tentang pernikahan anak. Berikut bunyi Fatwa KUPI tentang perkawinan anak:

“…pernikahan anak terbukti membawa kemadharatan sehingga wajib hukumnya mencegah. Ada pun pihak yang mempunyai tanggung jawab melakukan pencegahan pernikahan anak adalah orang tua, keluarga, masyrakat, pemerintah, dan negara.”

Jika merujuk pada fatwa yang KUPI keluarkan, maka perkawinan anak melanggar prinsip hifzh al-nasl (perlindungan keluarga).

Anak-anak belum mampu membangun sebuah keluarga. Jika anak perempuan hamil, maka ia akan beresiko tinggi pada kesehatan dan kematian. Jika ia melahirkan, maka ia tidak akan mampu menjadi orang tua yang arif dalam mengurus dan mendidik anak.

Sehingga fatwa KUPI mewajibkan semua pihak mulai dari orang tua hingga Negara untuk melindungi anak-anak agar tidak kita nikahkan di usia anak. []

Tags: Anak PerempuanBanyuwangidispensasi kawinFatwa KUPIJawa Timurkehamilan remajaKTDperempuanperkawinan anakperkawinan siripernikahan anak
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ibadah Umrah Terkendala Izin Suami

Next Post

“Pembubaran Jalsah Salanah JAI Manis Lor”: Bagaimana Sikap Toleran yang Sesungguhnya?

Mifta Sonia

Mifta Sonia

Seorang perempuan yang sedang menggeluti dunia Jurnalistik dengan keinginan bisa terus menyuarakan suara-suara perempuan yang terpinggirkan.

Related Posts

Sejarah Perempuan
Aktual

Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

23 Februari 2026
Sejarah Perempuan atas
Aktual

Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

23 Februari 2026
Laki-laki dan perempuan Berduaan
Pernak-pernik

Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

22 Februari 2026
Khaulah
Pernak-pernik

Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

21 Februari 2026
Feminization of Poverty
Publik

Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

20 Februari 2026
Hijrah dan jihad
Ayat Quran

Bahkan dalam Hijrah dan Jihad, Al-Qur’an Memanggil Laki-laki dan Perempuan

23 Februari 2026
Next Post
Jalsah Salanah Manis Lor

"Pembubaran Jalsah Salanah JAI Manis Lor": Bagaimana Sikap Toleran yang Sesungguhnya?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan
  • Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?
  • (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas
  • Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam
  • Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0