Mubadalah.id – Seringkali kita memandang bencana alam seperti banjir bandang, tanah longsor, dan krisis iklim sebagai anomali cuaca dan takdir Tuhan yang harus diterima dengan sabar. Namun, pernahkah kita merenungi bahwa alam semesta merupakan ayat kauniyah – kitab suci yang tak tertulis. Tempat Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya melalui hutan yang rimbun, jernihnya sungai, dan tanah yang subur?
Ketika manusia membabat hutan, mencemari sungai, dan mengeruk tanah untuk tambang sebenarnya Ia sedang merobek-robek ayat Tuhan. Bencana alam yang hadir mungkin bukan kemarahan alam melainkan “murka ekologis”. Sebuah pesan tajam dari Tuhan bahwa kemaksiatan terhadap alam sama dengan kemaksiatan kepada-Nya.
Mendudukkan Ayat Kauniyah sebagai Pesan Ilahi
Allah menurunkan Alquran dalam dua bentuk, yaitu ayat qauliyah (teks Alquran) dan ayat kauniyah (hamparan alam semesta). Muncul satu pertanyaan, jika kita marah melihat Alquran dinistakan, mengapa kita diam saat hutan (lembaran ayat kauniyah) dirusak? Inilah awal dari kemaksiatan ekologis.
Katanya, banjir dan tanah longsor adalah murka Tuhan. Alih-alih berbenah malah menyalahkan Tuhan. Ini semua merupakan konsekuensi logis dari tangan-tangan manusia yang merusak keseimbangan alam semesta.
Melalui Qs Ar-Rum ayat 41 Allah menegaskan,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Alam semesta itu ibarat bangunan yang presisi. Jika kita cabut satu saja ekosistemnya, maka seluruh bangunan itu akan miring karena kehilangan keseimbangan.
Membeli barang elektronik saja terselip lembaran panduan tentang perawatan dan kegunaan, apalagi alam semesta yang Allah kasih secara gratis ini. Dalam pemberian alam semesta ini, Allah memiliki ketetapan (sunnatullah). Jika manusia melanggar hukum itu, bencana adalah cara alam untuk “menegur” manusia agar kembali ke jalan yang benar.
Menyemai Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah
Mari kita uraikan pesan Tuhan melalui bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini. Banjir dan longsor misalnya. Pesannya jelas, bahwa ada kerakusan dalam tata ruang. Tempat yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air, dipaksa menjadi beton (perumahan dan gedung). Bukankan ini juga perilaku zalim? Manusia merampas hak alam untuk bernafas dan menyerap air hanya demi nafsu dan keuntungan ekonomi jangka pendek.
Selain itu, ternyata manusia juga gak amanah dalam mengelola tanah. Alih fungsi lahan besar-besaran contohnya. Hutan lindung disulap menjadi perkebunan monokultur (kelapa sawit dalam skala besar) dan kawasan industri. Penambangan tanpa reklamasi ikut menjadi catatan kelam bahwa “manusia rakus” memang tidak amanah. Lagi-lagi hanya mengejar keuntungan cepat.
Selanjutnya, krisis iklim mengirim pesan bahwa sebagian besar manusia telah gagal menjadi khalifah di muka bumi. Curah hujan tinggi, kekeringan ekstrim, kenaikan suhu yang signifikan, hingga munculnya fenomena atmosfer yang tidak lazim, yakni munculnya Siklon Tropis Senyar yang terjadi sebelum bencana banjir bandang di wilayah Sumatra pada akhir November 2025.
Selama ini manusia memandang alam hanya sebagai pelayan bisu yang akan selalu memaafkan setiap goresan luka yang manusia torehkan atas nama kemajuan. Alam semesta ini bukan sekadar warisan yang bisa dikuras habis, melainkan titipan Tuhan yang harus kita jaga dan akan kita pertanggungjawabkan kelak.
Merespons Pesan Kauniyah
Tuhan selalu menunggu taubat dari hambaNya yang melakukan keburukan. Tak terkecuali manusia yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Segera lakukan “tobat ekologis”. Bukan hanya sekadar istighfar di lisan, melainkan berhenti melakukan kerusakan dan mulai menanam kembali.
Teruntuk kita semua, marilah kembali menundukkan ego dan mulai membaca alam sebagai ayat kauniyah yang hidup – sebuah pesan Ilahi yang detaknya bisa kita rasakan di setiap hembusan angin dan aliran sungai. Menyelami sains lingkungan sejatinya bukan sekadar urusan logika akademik, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk memahami rahasia cara kerja ciptaan Allah, agar kita tak lagi menjadi perusak di rumah yang Dia bangun dengan keseimbangan sempurna.
Bencana alam yang datang silih berganti mengingatkan kita bahwa alam sedang “menangis” karena ulah manusia. Kita harus mengakui bahwa rusaknya ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran tuhan melalui alam semesta) cermin dari rusaknya integritas kita sebagai khalifah.
Jika kita selalu berlindung di balik narasi “takdir” tanpa evaluasi radikal melalui kebijakan lingkungan, deforestasi, dan pola konsumsi, maka kita sedang mengabaikan pesan Tuhan melalui ayat kauniyah.
Pada dasarnya, bumi tidak butuh diselamatkan. Kitalah yang butuh bumi untuk tetap selamat. Kita tidak punya cukup waktu untuk menunda pertobatan ekologis sebelum ayat-ayat kauniyah ini tertutup oleh kehancuran yang kita buat sendiri. []




















































