Mubadalah.id – Pada edisi sebelumnya, saya telah menuliskan sejarah disabilitas di era Romawi, Yunani hingga Barat modern, dan melalui artikel kali ini akan melanjutkan dengan difabel dalam masyarakat Indonesia. Adapun sumber referensi masih dari Jurnal Perempuan No. 65 tahun 2010 dengan tema Mencari Ruang untuk Difabel.
Slamet Thohari melalui artikel “Menormalkan yang Dianggap tidak Normal, Difabel dalam Lintas Sejarah”, menyatakan bahwa Barat biarlah menjadi dirinya sendiri. Masyarakat Jawa mempunyai perspektif kosmologis yang berbeda.
Sebagaimana masyarakat Jawa, keseimbangan dan harmonitas mempunyai makna penting bagi kehidupan. Keseimbangan alam dan kehidupan adalah unsur yang kuat untuk dipertahankan. Dan tubuh adalah bagian dari keseimbangan tersebut.
Demikian pula dengan difabel, menjadi salah satu bagian penting dalam keseimbangan kosmologis. Wayang merupakan salah satu dari kosmologi Jawa yang sangat berarti, di sana dapat kita telusuri berbagai decak imaji tentang tubuh dan “kecacatan.”
Simbol Difabelitas dalam Wayang
Dalam alam pewayangan, banyak sekali simbol difabelitas. Menjadi difabel sepertinya merupakan hal lumrah dan biasa, bukan sebagai sebuah keburukan. Durgandini atau terkenal dengan Dewi Lara Amis, putri dari Wirata adalah salah satu nenek moyang “masyarakat pewayangan.”
Tubuh Dewi Lara Amis mengelupas, berbau anyir. Dewi yang merupakan ibu dari masyarakat wayang ini mempunyai anak yang bernama Abiyasa, yang juga persis seperti dirinya, yakni difabel. Setelah bertemu dengan Palarasa, anak tersebut disembuhkan dan ia bawa ke pertapaan Saptaraga yang lantas dia pun menjadi anak yang sakti dan luar biasa.
Di sisi lain, Durgandini menikah dengan Santanu. Hasil dari pernikahan lahirlah dua orang anak. Citranggana dan Citrasena (Wicitrawirya). Keduanya kemudian ia jodohkan dengan Ambalika dan Ambaliki.
Namun kedua anak ini meninggal pada saat usia masih sangat muda. Lalu kedua putrinya tadi ia jodohkan lagi dengan Abiyasa dari Saptaraga, anaknya yang sebelumnya. Dari sinilah kemudian lahir Destarata dan Pandu, kedua orang ini juga difabel.
Destarata buta, dan Pandu dengan wajah pucat aneh, tidak sebagaimana biasa orang. Dari Destarata kemudian muncul 100 orang putra sebagai kutub “jahat”, yakni Kurawa. Sedangkan Pandu menurunkan lima orang putra sebagai kutub “kebaikan”, yaitu Pandawa.
Sosok Punakawan dalam Pewayangan Jawa
Selain tokoh wayang di atas, terdapat beberapa orang yang konon ini merupakan produk asli masyarakat Jawa, yaitu para Punakawan. Gareng yang pincang, Petruk yang dungu, Bagong yang gendut dan bermulut lebar, atau Semar yang bungkuk, bermuka jelek.
Sekalipun demikian, mereka adalah oang yang sakti madraguna. Mereka tampil sebagai sosok penggambaran rakyat kecil yang berpakaian berpoleng dan tubuh-tubuh yang aneh. Akan tetapi, kehadiran Punakawan bukanlah sosok yang biasa, mereka merupakan titisan para dewa yang mempunyai tugas merawat keteraturan dalam kehidupan.
Menurut kisah difabel dalam masyarakat Indonesia, mereka adalah jelmaan dari dewa yang menyamar menjadi rakyat biasa sebagai penyelamat, penyeimbang dan hadir dengan segala sikap bijaknya.
Dalam sejarah pementasan wayang, hanya para Punakawan yang mampu melintasi ruang dan waktu. Bahkan para Punakawan berhak masuk dalam alam manusia sejati. Berdialog dengan penonton, mengomentari kebijakan pemerintah atau peristiwa yang sedang hangat di masa itu.
Mereka juga hadir sejak zaman Pandawa hingga zaman Parikesit anak dari Abimanyu dan cucu dari Arjuna. Sampai di sini kita akan menemukan bagaimana orang-orang difabel dalam masyarakat Jawa bukanlah orang yang dicemooh sedememikian rupa, akan tetapi orang yang mempunyai kesaktian tinggi.
Penjaga Sistem Harmoni Kehidupan
Sekalipun sebagai wong cilik, para Punakawan tetap saja mempunyai andil yang luar biasa, yakni sebagai orang-orang sakti dan penjaga keseimbangan dari sistem harmoni kehidupan. “Kecacatan” sebagai pasekten juga banyak kita jumpai dalam kehidupan orang-orang Jawa yang lain.
Sebagai contoh misalnya, sebagaimana penjelasan Ben Anderson, dalam kerajaan Jawa kita temukan di sana koleksi orang-orang aneh, kerdil, cacat dan difabel. Semua itu diperuntukkan untuk memperteguh kesaktian yang diampu oleh sang raja.
Orang-orang kerdil dan “cacat” selalu tampil sebagai pusaka, sebagai peneguh kesaktian sang raja. Karena memang orang-orang aneh ini dianggap sebagai pemberi petuah, dan bagian penting dari identitas kejawaan itu sendiri.
Hal ini sebagaimana juga pernyataan John Pembberton, bahwa Jawa yang lain adalah “jawa” yang terbungkus dalam keunikan ritual, dirasuki oleh cebol-cebol metafisis, yang mengacung-acungkan gada penis dan digerakkan oleh suatu kesenangan pertapa terhadap eksentrisitas, dan hal ihwal dunia lain.
Lalu bagaimana nasib difabel dalam masyarakat Jawa ketika Islam hadir di Indonesia? Saya akan ulas dalam artikel berikutnya. []








































