Mubadalah.id – Kehidupan ini memang merepotkan. Penuh manusia-manusia “lucu” sekaligus kurang ajar. Tuhan memberi kelebihan dan kekurangan supaya manusia bersyukur dan punya empati, tapi malah banyak yang sembrono dan tak tahu diri. Sebab itulah ruang ramah bagi teman-teman disabilitas menjadi sulit mereka dapati sekadar untuk berjuang hidup.
Jalan hidup mereka menjadi sangat tidak mudah justru karena ulah kita-kita yang suka sembrono dan tahu diri ini. Misalnya, mengenai yang dialami oleh Kak Richa Rahmi, apa yang keliru ketika ia menaiki kendaraan beroda tiga untuk menunjang aktivitas kesehariannya? Juga, terhadap perjuangan teman-teman disabilitas lain, apa yang lucu ketika mereka-mereka tampak kesulitan dan terlihat serius saat mempelajari sesuatu?
Tidak ada. Sebab kita-kita yang merasa diri sempurna inilah yang keliru dan lucu. Keliru karena sembrono merasa paling oke dan unggul. Lucu karena tak tahu diri. Kalau ada yang tertawa gara-gara melihat jerih payah usaha teman-teman disabilitas, menurut saya wajib hukumnya untuk balik menertawainya. Memangnya apa yang patut diapresiasi dari orang yang sembrono dan tahu diri?
Ini bukan kemarahan, tetapi upaya untuk bertanggung jawab terhadap martabat diri. Sama sekali saya tidak menganjurkan bersikap bodoh amat saat berada dalam situasi tidak ramah. Saya tahu ini tidak mudah. Tapi perlu saya tegaskan: keberanian melawan adalah bentuk pertahanan terbaik yang mesti dilakukan.
Termasuk Anda-anda yang merasa memiliki kewarasan dan empati kok juga bersikap bodoh amat ketika mendapati situasi-situasi yang tidak ramah semacam itu, berarti sama saja. Anda masuk golongan manusia sembrono dan tak tahu diri. Karena, pertama, Anda turut melanggengkan situasi tidak ramah itu. Kedua, ada gejala Anda juga merasa diri oke dan unggul.
Kemandirian Hidup
Sejak lama, kehidupan teman-teman disabilitas hampir selalu identik dengan jenis kehidupan yang merepotkan dan penuh ketergantungan. Apa-apa harus merepotkan orang-orang lain yang berada di sekelilingnya. Itu barangkali benar untuk hal-hal tertentu.
Akan tetapi yakinlah kalau sebenarnya mereka tidak suka dengan jenis kehidupan seperti itu. Bukan dalam pengertian bahwa mereka tidak menerima keadaan dirinya yang tidak utuh dan memiliki keterbatasan tertentu itu. Tapi lebih pada kesadaran kalau merepotkan dan memiliki ketergantungan hidup dengan orang lain itu tidak enak.
Anda-anda yang waras pikirnya pasti juga setuju kalau hidup bergantung itu bukan main tidak enaknya. Ya, kecuali kalau Anda orangnya memang tidak tahu diri; bisa jadi Anda tidak waras pikirnya. Yang jelas, sangat-sangat perlu untuk menyadari kalau teman-teman disabilitas itu juga makhluk berpikir dan berperasaan.
Dengan kata lain, seperti sudah saya sebut sebelumnya, banyak teman-teman disabilitas itu yang sangat sadar akan martabat dirinya. Mereka tidak mau merepotkan justru karena ingin memegang kendali atas hidupnya sendiri, bukan karena minder apalagi ingin belas kasih pihak lain. Ini penting dan harus dipahami sungguh-sungguh oleh kita-kita ini.
Mereka mengusahakan banyak cara seperti menggunakan kursi roda elektrik, kendaraan beroda tiga, alat bantu digital, dan berjejaring dengan komunitas ekonomi dalam lingkup kecil. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk bertanggung jawab atas martabat hidupnya. Itu adalah jenis teknologi kemerdekaan yang sedang mereka usahakan. Bentuk konkret dari geliat tanggung jawab: “saya bisa dan mau mengurus hidup saya sendiri.”
Jadi ketika ada teman disabilitas berjalan di depan mata-mata kita dengan mengendarai kendaraan adaptifnya, yang sedang ia tunjukkan sebetulnya adalah bentuk nyata dari praktik kemandirian hidup. Itu bentuk etika kerja keras yang sedang tampil menantang dunia yang seringkali tidak ramah bagi kelangsungan hidupnya.
Imajinasi Moral
Tidak ada yang keliru dan bermasalah dari usaha-usaha kemandirian yang teman-teman disabilitas lakukan. Justru yang bermasalah itu ketika usaha-usaha semacam itu dipotret dan dibingkai sebagai hal yang “unik”, “lucu”, apalagi “aneh”. Kalau itu yang terjadi, dan banyak tampil dalam ruang sosial masyarakat kita, berarti ada gejala imajinasi moral masyarakat yang gagal terbangun.
Celakanya itu yang kerapkali terjadi. Kita-kita yang merasa diri normal ini gemar sekali memakai penglihatan juling semacam itu atas jerih payah usaha kemandirian mereka. Menjadikannya konten yang dibingkai seakan “lucu” dan “aneh”. Bahkan ketika mendapati mereka berjalan, malahan ada yang menganggap ia sedang menjual “keterbatasan” dirinya untuk mendapat untung banyak.
Itu bukan (sekadar) salah sangka. Tetapi banyak di antara kita yang bahkan dengan sengaja sejak dalam kepala memahami, misalnya, praktik jualan krupuk teman-teman disabilitas sebagai usaha menjual belas kasih. Krupuknya hanya sebagai alibi, semacam kamuflase keuntungan. Celakanya, tidak sedikit asumsi itu menjalar panjang dalam imajinasi moral-sosial kita sehari-hari.
Paradoksnya ketika asumsi itu akhirnya menjadi fakta sosial. Yakni ketika teman-teman disabilitas sengaja memanfaatkan “keterbatasan” dirinya untuk meraup untung lebih guna melangsungkan perjuangan hidupnya, juga disalahkan. Kita cepat-cepat menuduh dan mencela sesuka hati. Maunya apa sih kita-kita yang sok waras ini? Sibuk amat pikirannya untuk hal-hal yang kalah penting dengan nasib keadilan hidup mereka.
Empati Performatif
Sekali lagi, hidup ini memang merepotkan. Karenanya saya juga harus repot-repot menulis ini sambil memberikan otokritik pada beberapa hal yang kiranya bisa menjadi pembenahan diri. Manusia tempatnya salah. Maklum. Kita bukan nabi. Kabar baiknya, sebaik-baik manusia adalah saat salah ia mau berbenah dan segera memperbaiki diri.
Akui saja kalau selama ini kita memang mengidap penyakit nalar. Kita tidak saja sering salah berpikir, tetapi juga gagal berpikir. Tak ayal kalau kita-kita semua ini menderita kemalasan reflektif. Daya pikir otak kita bisa dibilang sedang shutdown. Hati juga perasaan kita sangat-sangat sering bergerak secara autopilot.
Apalagi di era medsos hari ini. Kita hidup di zaman orang bergerombol peduli (sekadar) demi citra diri. Gemar sekali berbondong-bondong memaksimalkan like untuk berita bencana. Sangat sibuk mengoptimalkan share untuk kabar-kabar isu kemanusiaan. Tapi begitu bertemu manusia-manusia nyata di jalanan, empati-empati eco-chamber itu menguap entah kemana.
Perlu juga mengakui kalau FoMo kita itu lepas landas sangat impulsif dan kompulsif. Misalnya, ngebet banget ingin beli Madilog Tan Malaka tanpa upaya reflektif sama sekali. Akhirnya berakhir hanya jadi kolase intelektual. Sebetulnya tidak ada yang keliru mengikuti hal-hal baik dan bermanfaat. Namun, alangkah baiknya untuk mengikutinya dengan sadar dan reflektif.
Kita tidak bisa terus-terusan hidup dalam budaya massa yang terlalu permisif terhadap kemalasan reflektif semacam itu. Sebab itu berbahaya bagi nasib masa depan empati kita sebagai insan berpikir dan berperasaan. Kita sebenarnya bukan kekurangan empati. Kita memilikinya. Namun, empati kita cenderung performatif yang malah jadi impulsif dan kompulsif.
Efeknya kita jadi terbiasa menjadikan tubuh orang lain sebagai konsumsi: tubuh gemuk, tubuh jelek, tubuh disabilitas. Sebuah warisan budaya massa yang tidak pernah rampung kita kritisi serius sebagai bentuk kekerasan simbolik yang halus tapi sistematis. Sungguh, kita memang perlu melakukan pengujian ulang atas kualitas empati kita demi nasib keadilan seluruh umat manusia. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Surakarta, kerjasama Media Mubadalah dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta.










































