“Fathimah binti Ubaidillah adalah madrasah yang tidak hanya mengajarkan aksara, tapi menanamkan keberanian berpikir dan adab. Di balik pribadi besar Imam Syafií yang mengubah sejarah dan peradaban keilmuan, ada sosok ibu yang lebih dulu melukis masa depan lewat keteladanan.”
Ibu yang Menjadi Segalanya
Imam Syafi‘i lahir di Gaza pada tahun 150 H dalam keadaan yatim. Ayahnya, Idris, wafat saat ia masih sangat kecil, sehingga sang ibu harus memikul seluruh tanggung jawab hidup sendirian. Dengan kondisi serba terbatas, Fathimah binti Ubaidillah tetap membesarkan putranya dengan penuh keyakinan, kesabaran, dan cinta yang kuat pada ilmu, meski tanpa harta berlimpah maupun dukungan kekuasaan.
Dalam situasi yang sulit, Fathimah menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Ia tidak membiarkan keterbatasan ekonomi mematahkan semangat belajar putranya. Ketika biaya belajar tak tersedia, Imam Syafi‘i membantu pekerjaan gurunya sebagai pengganti upah, sementara sang ibu terus menyemangati dan menguatkan langkahnya. Semangat belajar itu tumbuh di tengah kehidupan yang jauh dari kemewahan.
Kesederhanaan bahkan tampak dalam cara Imam Syafi‘i menuntut ilmu. Ia menulis pelajaran di potongan tulang dan pelepah karena kertas sulit didapatkan. Dari kondisi inilah ketekunan, kesabaran, dan daya juang Imam Syafi‘i terbentuk perlahan. Didikan seorang ibu yang tangguh menjadikan keterbatasan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai pijakan menuju kebesaran.
Mimpi, Doa, dan Harapan Seorang Ibu
Suatu malam, sebelum sang Imam lahir di alam dunia, ibunda Imam Syafi‘i bermimpi melihat bintang kejora keluar dari rahimnya. Bintang itu jatuh di Mesir lalu memancarkan cahaya ke seluruh penjuru negeri. Mimpi itu membuatnya terkejut dan penasaran, sehingga ia segera mendatangi para penafsir mimpi untuk mencari maknanya.
Para penafsir mimpi sepakat memberi kabar yang menggembirakan. Mereka menafsirkan bahwa dari rahimnya akan lahir seorang alim besar yang ilmunya tersebar luas dan memberi manfaat bagi banyak orang. Tafsir itu menguatkan hati sang ibu dan menumbuhkan keyakinan akan masa depan putranya.
Mimpi tersebut tidak ia biarkan berlalu sebagai cerita simbolik semata. Ia menjaganya sebagai doa panjang yang ia rawat dengan kesabaran dan pengorbanan. Pada akhirnya, Imam Syafi‘i benar-benar menetap di Mesir, mengembangkan pemikirannya, dan menyebarkan ilmunya. Mazhabnya diterima luas, sementara cahaya ilmunya terus menerangi dunia Islam hingga hari ini.
Peran Ibu dalam Menumbuhkan Kecerdasan
Kecerdasan Imam Syafi‘i bukan lagi rahasia. Ia memiliki hafalan yang kuat, lisan yang fasih, dan daya nalar yang tajam. Namun, kecemerlangan itu tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dalam rumah yang menjunjung tinggi ilmu, adab, dan keberanian berpikir, nilai-nilai yang sejak awal ditanamkan langsung oleh ibunya dalam kehidupan sehari-hari.
Ibunda Imam Syafi‘i memegang peran penting dalam membentuk cara berpikir putranya. Ia mendidik dengan keteladanan, bukan sekadar nasihat. Ia menunjukkan bahwa ilmu harus dibarengi keberanian menyampaikan kebenaran dan kemampuan memahami teks secara utuh. Melalui sikap hidupnya, ia mengajarkan bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual yang setara dalam memahami dan menegaskan ajaran agama.
Kecerdasan itu tampak jelas ketika ia hadir sebagai saksi di pengadilan bersama Imam Syafií dan seorang perempuan lain. Saat hakim menolak kesaksian temannya, ia segera mengutip QS. Al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan;
“Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya, lemah keadaannya, atau tidak mampu mendiktekan sendiri, hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Mintalah kesaksian dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan, agar jika salah seorang lupa, yang lain mengingatkannya.” Argumentasi itu membuat hakim terdiam, dan kecerdasan sang ibu pun diakui secara terbuka.
Ibu sebagai Madrasah Pertama Peradaban
Kisah ini kembali menegaskan ungkapan klasik bahwa ibu adalah madrasah pertama. Namun, madrasah dalam makna ini tidak berhenti pada ruang belajar dasar. Seorang ibu membentuk karakter, menanamkan etos berpikir, dan menumbuhkan keberanian intelektual sejak dini. Ia mewariskan nilai-nilai itu melalui sikap hidup dan keteladanan, bukan hanya lewat kata-kata.
Fathimah binti Ubaidillah menghidupkan ilmu dalam keseharian. Ia menunjukkan sikap kritis, berani berbicara, dan peka terhadap keadilan melalui tindakan nyata. Dari rumah yang sederhana, ia meletakkan fondasi keilmuan dan akhlak Imam Syafi‘i dengan kesadaran penuh dan komitmen yang kuat.
Refleksi dari kisah ini mengajak kita meninjau kembali peran seorang ibu dalam kehidupan. Ibu bukan sekadar pendamping tumbuh kembang anak, tetapi penentu arah berpikir dan keberanian bersikap. Ketika seorang ibu menghadirkan ilmu, adab, dan keberanian dalam rumahnya, ia sedang menyiapkan lahirnya generasi yang mampu menerangi zamannya. []


















































