Rabu, 14 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Broken Strings

    Broken Strings, Kisah Aurelie Moeremans dan Realitas Child Grooming yang Kerap Tak Disadari

    Lingkungan jadi

    Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    Titik Nol Kehidupan

    Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

    Pengelolaan Sampah

    KUPI Dorong Pengelolaan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nikah Muda

    Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

    Tingkat Kultural

    KUPI Dorong Pembumian Fatwa di Tingkat Kultural

    UU TPKS

    UU TPKS Perkuat Perlindungan Perempuan di Ruang Publik

    Pencatatan Perkawinan

    Pentingnya Pencatatan Perkawinan sebagai Bentuk Perlindungan Hak Anak dan Perempuan

    Fatwa KUPI

    Peran Fatwa KUPI dalam Perubahan UU Usia Pernikahan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Broken Strings

    Broken Strings, Kisah Aurelie Moeremans dan Realitas Child Grooming yang Kerap Tak Disadari

    Lingkungan jadi

    Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    Titik Nol Kehidupan

    Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

    Pengelolaan Sampah

    KUPI Dorong Pengelolaan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nikah Muda

    Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

    Tingkat Kultural

    KUPI Dorong Pembumian Fatwa di Tingkat Kultural

    UU TPKS

    UU TPKS Perkuat Perlindungan Perempuan di Ruang Publik

    Pencatatan Perkawinan

    Pentingnya Pencatatan Perkawinan sebagai Bentuk Perlindungan Hak Anak dan Perempuan

    Fatwa KUPI

    Peran Fatwa KUPI dalam Perubahan UU Usia Pernikahan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Intoleransi di Sukabumi: Ketika Salib diturunkan, Masih Relevankah Nilai Pancasila?

Aksi intoleransi yang terjadi menunjukkan bahwa nilai saling menghargai belum sepenuhnya ada dalam masyarakat.

Laurensius Rio Laurensius Rio
7 Juli 2025
in Publik
0
Intoleransi di Sukabumi

Intoleransi di Sukabumi

1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pencorengan terhadap toleransi di Indonesia kembali terjadi. Baru-baru ini terjadi sebuah kasus pelarangan kegiatan kerohanian yang diikuti oleh pelajar SMP sebuah sekolah Kristen. Tidak hanya melarang dan menghentikan kegiatan, massa juga merusakan sejumlah barang yang ada dalam rumah tersebut. Lagi – lagi aksi intoleransi kembali membawa luka.

Kejadian tersebut terjadi di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Kejadian bermula ketika ada rombongan pelajar SMP Kristen yang mengadakan retret di salah satu villa milik warga setempat yang juga seorang Kristiani. Warga sekitar yang merasa terganggu dengan kegiatan tersebut langsung menyerang rumah singgah retret tersebut.

Ketika Beribadah Membutuhkan Izin Mayoritas

Massa memaksa masuk ke dalam rumah tersebut dan merusak sejumlah fasilitas. Tak hanya itu, mereka juga meneriakkan kata-kata yang tidak pantas kepada guru dan murid yang sedang retret. Mereka meminta pihak sekolah untuk membubarkan kegiatan tersebut karena dinilai sangat mengganggu. Massa yang melakukan pengusiran dan perusakan ini merasa bahwa kegiatan tersebut tidak sesuai dengan izin.

Kegiatan yang seharusnya menjadi waktu untuk tenang, hening, dan penuh kedamaian berubah seketika menjadi sebuah ketakutan. Bagaimana tidak, massa dengan cepat masuk ke dalam villa serasa meneriakan kata provokasi dan kata yang tidak pantas yang seharusnya tidak didengar oleh pelajar. Mereka menuntut penyelenggara kegiatan untuk menunjukkan izin.

Ketika kegiatan berlangsung, upaya pembubaran dilakukan dengan menggedor dan mendobrak paksa gerbang yang mengakibatkan kerusakan. Selanjutnya, warga masuk dan memecahkan serta merusak kaca, jendela, dan fasilitas di rumah tersebut. Bahkan salib yang ada di rumah itu ikut diturunkan. Intimidasi juga dilakukan dengan meneriaki dan mengusir peserta yang sebagian besar merupakan pelajar.

Bukankah beribadah adalah hubungan pribadi yang intim dengan Sang Pencipta? Lalu mengapa memerlukan izin dari pihak mayoritas? Hal ini menegaskan bahwa beribadah adalah hak semua orang. Kaum yang mayoritas tidak mempunyai hak untuk melarang mereka yang minoritas untuk beribadah. Kasus intoleransi ini tidak hanya sebagai bentuk kebencian, tetapi juga bentuk kriminalitas.

Dari Kota Toleransi menjadi Wajah Luka

Sukabumi, sebuah kota yang kini membawa penuh luka. Pada Januari 2024 silam, Kota Sukabumi mendapat penghargaan salah satu kota paling toleran di Indonesia. Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Sukabumi menempati peringkat ke-6 secara nasional dan peringkat pertama se Jawa Barat dalam Indeks Kota Toleran (IKT). Tentu ini menjadi kebanggaan untuk Kota Sukabumi.

Namun hal itu tidak bertahan lama, kasus yang terjadi ini justru mempertanyakan status Kota Sukabumi sebagai kota toleran. Hal ini menunjukkan bahwa tolerasi belum sepenuhnya menjadi nilai yang sungguh mengakar dalam masyarakat.

Toleransi bukan soal citra, tapi soal keberanian hidup berdampingan secara nyata. Jika kegiatan retret saja tak bisa berjalan damai, mungkin yang perlu menjadi evaluasi bukan hanya pelakunya tetapi seluruh sistem yang mengklaim sudah adil dan toleran. Karena kejadian intoleransi semacam ini menjadi luka yang menyakitkan.

Bukan Hanya Kerugian Material, tetapi Juga Mental Anak

Kejadian ini tidak hanya membawa kerugian material oleh pemilik Villa singgah, tetapi juga anak-anak yang mengikuti kegiatan retret. Saya rasa kerugian material tidak seberapa meskipun juga pasti banyak, tetapi yang parah adalah kondisi psikologis yang anak-anak alami.

Mereka tidak tahu apa-apa, mereka hanya mengikuti kegiatan dengan tujuan menemukan kedamaian. Tetapi bukanlah kedamaian, tetapi justru rasa trauma yang mereka terima.

Ini menjadi luka batin yang cukup serius bagi anak-anak. Retret yang seharusnya menjadi ruang aman spiritual, tetapi berubah menjadi medan intimidasi. Ini akan membentuk trauma yang mendalam. Jika sudah dalam taraf trauma yang cukup serius, maka penanganannya pun tidak mudah.

Selain itu, peristiwa ini juga akan berpengaruh pada cara pandang anak-anak terhadap kepercayaan yang berbeda. Pada akhirnya mereka akan jatuh pada sikap radikalisme juga, sikap intoleransi. Ini akan membawa dampak yang kurang baik bagi perkembangan anak-anak. Ketika mereka mendapat intimidasi hanya karena keyakinannya, ada satu hal berbahaya, yaitu pandangan bahwa berbeda itu salah, dan membenci itu sah.

Masih Relevankah Nilai Sila Pertama

Peristiwa seperti ini tidak hanya satu atau dua kali saja. Mungkin peristiwa ini adalah peristiwa ke sekian puluh bahkan ratus. Intoleransi yang terjadi ini membawa sebuah pertanyaan besar, yaitu masih relevankah nilai pancasila, khususnya sila pertama?

Sila pertama sangat jelas tidak hanya berhubungan relasi antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan agama lain. Sila pertama adalah fondasi etis seluruh Pancasila yang menegaskan bahwa Indonesia bukan negara sekuler yang memisahkan agama dari ruang publik.

Dalam situasi demikan justru relevansi nilai sila pertama ini dipertanyakan. Semakin tua Indonesia dengan Pancasila sebagai pondasi, tetapi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi semakin menghilang. Sebaliknya sikap Intoleransi semakin menjadi-jadi.

Mereka menggunakan agama sebagai dasar untuk membenarkan sikap Intoleransi. Kalau ada larangan untuk ibadah, larangan untuk mengadakan kegiatan keagamaan justru semakin memperlihatkan bahwa pancasila tidak sungguh menjadi dasar.

Kasih yang Memaafkan

Atas peristiwa yang terjadi, banyak orang berbondong-bondong bersimpati kepada pemiliki villa rumah singgah retret yang telah rusak akibat amukan massa.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau akrab dipanggil Kang Dedi, juga secara langsung mengunjungi dan memberikan ganti rugi kepada pemiliki villa tersebut. Ia memberikan ganti rugi sebesar 100 juta dan juga mengirim tim psikolog untuk mendampingi anak-anak yang menjadi korban.

Namun sang pemiliki villa yang bernama Ibu Ninna justru menolak menggunakan uang ganti rugi tersebut untuk memperbaiki villanya. Ibu Ninna memilih menyumbangkan uangnya untuk pembangunan masjid yang ada di sekitar villa. Ia mengatakan bahwa ia dengan tulus dan sukarela menyumbangkan uang ganti rugi tersebut kepada pihak masjid.

Apa yang Ibu Ninna lakukan ini menjadi tamparan keras bagi banyak orang. Meskipun ia harus menanggung kerusakan yang tidak sedikit, namun dengan ketulusan hati ia malah menyerahkan uang ganti rugi kepada masjid yang membutuhkan. Tindakan pemiliki villa tersebut juga mengingatkan kepada semua orang untuk selalu mengedepankan kasih persaudaraan di tengah perbedaan.

Aksi intoleransi yang terjadi ini menunjukkan bahwa nilai saling menghargai belum sepenuhnya ada dalam masyarakat. Untuk itu, perlu kesadaran dari masing-masing pribadi sebagai manusia yang tahu akan makna menghargai perbedaan. Jika kesadaran tersebut sudah sungguh tertanam dalam diri, maka saya yakin aksi intoleransi semacam ini tidak akan terjadi lagi. []

Tags: agamaintoleransiIntoleransi di SukabumikasihKebencianLukaPancasilasalib
Laurensius Rio

Laurensius Rio

Seorang biarawan dan calon Imam  Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ), yang saat ini menjalani formatio calon imam dan hidup membiara di Jogjakarta. Saat ini menempuh pendidikan dengan Program Studi Filsafat Keilahian di Fakultas Teologi Wedhabakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Terkait Posts

Tafsir Agama
Publik

KUPI Hadir Menjawab Kebuntuan Tafsir Agama dalam Isu Perempuan

6 Januari 2026
Toleransi
Publik

Toleransi dan Pluralisme: Mengapa Keduanya Tidak Sama?

31 Desember 2025
Haul Gus Dur
Publik

Membaca Nilai Asasi Agama dari Peringatan Haul Gus Dur dan Natal

29 Desember 2025
Natal
Publik

Natal Sebagai Cara Menghidupi Toleransi di Ruang Publik

25 Desember 2025
Perspektif Keadilan Hakiki
Publik

Perspektif Keadilan Hakiki Cegah Agama Dijadikan Alat Menyalahkan Korban

24 Desember 2025
Film Gowok
Film

Film Gowok: Ketika Kebencian Menghancurkan Rasa Kemanusiaan

13 Desember 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Titik Nol Kehidupan

    Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pentingnya Pencatatan Perkawinan sebagai Bentuk Perlindungan Hak Anak dan Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KUPI Dorong Pengelolaan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Broken Strings, Kisah Aurelie Moeremans dan Realitas Child Grooming yang Kerap Tak Disadari
  • Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan
  • Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan
  • KUPI Dorong Pengelolaan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama
  • Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID