Mubadalah.id – Islam sebagai agama, pada hakikatnya bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Salah satu elaborasi paling mendasar dari nilai tersebut adalah pengakuan terhadap kesamaan dan kesatuan manusia.
Semua manusia berasal dari satu sumber yang sama, yakni Tuhan. Tidak ada manusia yang lebih tinggi dari yang lain kecuali dalam kualitas takwa. Itupun, ukuran takwa bukan urusan manusia, melainkan sepenuhnya hak prerogatif Tuhan.
Tujuan hakiki semua agama adalah membina manusia agar menjadi baik secara menyeluruh: fisik, mental, moral, spiritual, dan sosial. Intisari ajaran agama selalu berkisar pada pembedaan antara baik dan buruk. Juga mana perbuatan yang membawa kebahagiaan dan mana yang berujung pada kesengsaraan.
Sebab, agama hadir bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan demi kebaikan manusia itu sendiri. Tuhan tidak memperoleh keuntungan dari ketaatan manusia, dan tidak pula dirugikan oleh pembangkangan mereka.
Salah satu tuntunan paling mendasar dalam agama adalah kewajiban menghormati sesama manusia, tanpa memandang jenis kelamin, gender, orientasi seksual, ras, suku bangsa, bahkan agama.
Karena itu, setiap agama selalu memiliki dua dimensi utama yaitu ketuhanan dan kemanusiaan. Islam secara tegas mengajarkan dua aspek ini sekaligus hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia serta alam.
Sayangnya, dimensi horizontal ajaran Islam kerap tidak terwujud secara utuh dalam praktik kehidupan umatnya. Sebab, relasi antarmanusia masih sering diwarnai ketidakadilan, diskriminasi, dan penghakiman. Padahal, tanpa penghormatan terhadap martabat manusia, maka keberagamaan akan kehilangan ruh kemanusiaannya. []


















































