Mubadalah.id – Salah satu penyakit sosial yang paling sulit kita sembuhkan adalah perasaan lebih tinggi dari orang lain. Ia menjelma dalam berbagai rupa seperti pada status sosial, gelar akademik, jabatan publik, kekayaan, bahkan klaim moral dan keagamaan.
Di tengah budaya yang gemar mengagung-agungkan hierarki itu, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) hadir bukan sekadar sebagai forum intelektual, melainkan sebagai ruang etis yang terus-menerus mengingatkan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah, dan sama-sama memikul tanggung jawab kemanusiaan yang sama.
Inilah keistimewaan KUPI yang sesungguhnya. Ia tidak hanya bicara tentang keadilan, tetapi mempraktikkannya.
Kesetaraan sebagai Titik Berangkat Iman
KUPI berdiri di atas kesadaran teologis yang kuat bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh atribut duniawi, melainkan oleh ketakwaan dan tanggung jawab moralnya. Prinsip ini bukan gagasan baru, tetapi nilai dasar Islam.
Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menjadi fondasi cara pandang KUPI. Tidak ada manusia kelas satu dan kelas dua. Tidak ada suara yang lebih sah hanya karena gelar, jabatan, atau asal-usul. Di hadapan Allah, dan seharusnya juga di hadapan nilai kemanusiaan, setiap orang memikul tanggung jawab yang sama.
Berbeda Pengalaman, Serta Berbeda Kesempatan
KUPI memahami bahwa manusia tidak pernah benar-benar sama. Setiap orang membawa pengalaman hidup, pengetahuan, dan latar sosial yang berbeda. Namun perbedaan itu bukan alasan untuk menutup ruang, melainkan alasan untuk membuka kesempatan yang setara.
Inilah logika mubadalah yang hidup dalam KUPI. Relasi manusia terbangun bukan atas dasar dominasi, tetapi kesalingan. Yang berilmu berbagi, yang berpengalaman bersaksi, yang selama ini terbungkam diberi panggung.
Rasulullah Saw bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sering kita baca dalam konteks kepemimpinan formal, padahal maknanya jauh lebih luas. KUPI membaca hadis ini sebagai penegasan bahwa setiap manusia adalah subjek moral, bukan objek yang sekadar diatur. Karena itu, setiap orang berhak kita dengar dan bertanggung jawab untuk bersuara.
Ruang yang tidak Timpang
Salah satu hal yang paling terasa ketika berada di ruang-ruang KUPI adalah hilangnya jarak simbolik. Status sosial yang sering kita banggakan di ruang publik. Rektor, profesor, doktor, direktur, anggota DPR, dokter, priyayi, penulis ternama, pengusaha sukses, di KUPI tidak menjadi alat pembungkam.
Mereka semua hadir, bahkan bisa disebut paket komplit. Namun tidak satu pun berdiri lebih tinggi dari yang lain. Suara kiai kampung terdengar setara dengan akademisi ternama. Pengalaman penyintas kekerasan KUPI tempatkan sejajar dengan analisis pakar hukum. Tidak ada yang ditinggikan berlebihan, apalagi direndahkan.
Inilah praktik konkret dari firman Allah:
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”
(QS. Al-Ghasyiyah: 21–22)
Ayat ini mengajarkan etika ruang bersama. Tidak memonopoli kebenaran, tidak merasa paling berhak bicara, dan tidak menjadikan otoritas sebagai alat menundukkan.
Keberpihakan pada yang Rentan
Keistimewaan KUPI mencapai puncaknya ketika berbicara tentang keberpihakan. KUPI tidak netral dalam situasi yang timpang. Ia secara sadar memprioritaskan, memperjuangkan, dan membela kelompok-kelompok rentan. Perempuan korban kekerasan, anak-anak, difabel, kelompok miskin, minoritas, dan mereka yang selama ini dipinggirkan atas nama budaya maupun tafsir agama. Ini bukan sikap emosional, melainkan pilihan teologis.
Allah Swt berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ
“Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang dilemahkan?”
(QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini menegaskan bahwa iman tidak cukup berhenti pada kesalehan personal. Ia harus menjelma menjadi keberpihakan sosial. Dan KUPI mengambil posisi dengan jelas, meski sering harus menghadapi resistensi dan salah paham.
Jejak Ulama KUPI: Ilmu yang Membebaskan
Para ulama yang terlibat dalam KUPI memberi teladan bahwa keulamaan tidak identik dengan jarak sosial. KH. Husein Muhammad, misalnya, sejak lama menegaskan bahwa tafsir agama harus berpihak pada keadilan dan martabat manusia. Baginya, fiqh bukan alat menghakimi, tetapi jalan membebaskan dari ketidakadilan.
Ibu Nyai Badriyah Fayumi konsisten menunjukkan bahwa ulama perempuan bukan sekadar simbol representasi, tetapi aktor intelektual dan moral yang mampu membaca realitas dan memberi solusi. Serta Ibu Nyai Masriyah Amva menghadirkan wajah Islam yang hangat, kritis, dan berpihak pada kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.
Mereka semua menunjukkan bahwa ulama tidak berdiri di menara gading. Mereka hadir, mendengar, dan berjalan bersama umat terutama mereka yang paling rentan.
Merawat Kesalingan, Melawan Ketidaksetaraan
KUPI bukan ruang yang steril dari perbedaan pendapat. Namun perbedaan itu terawat dengan etika mubadalah. Saling mendengar, saling belajar, dan saling mengoreksi tanpa merendahkan. Di sinilah KUPI menjadi laboratorium sosial tentang bagaimana Islam bisa hadir sebagai rahmat, bukan alat dominasi.
Rasulullah Saw bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang.” (HR. Tirmidzi)
Kasih sayang dalam KUPI, bukan slogan. Ia diterjemahkan menjadi kebijakan, forum, fatwa, dan sikap keberpihakan.
Love Sekebon Keluarga Besar Jaringan KUPI
Mencintai KUPI bukan berarti menutup mata dari kekurangannya. Justru cinta itu terwujudkan dengan terus merawat nilai-nilainya. Kesetaraan, kesalingan, dan keberpihakan pada yang rentan di manapun berada dengan siapapun.
Love sekebon untuk keluarga besar KUPI para ulama, akademisi, aktivis, santri, penyintas, dan semua yang setia menjaga ruang ini tetap aman dan adil. Mari terus bergandengan tangan untuk meminimalisir budaya tidak setara, melawan praktik-praktik yang merendahkan martabat manusia, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Karena di KUPI, kita belajar satu hal penting. Semua manusia layak tumbuh dan berkembang secara utuh, bersama-sama, dengan potensi masing-masing tanpa harus saling meninggikan atau merendahkan. Di situlah letak ke-kerenan KUPI yang paling hakiki. []



















































