Mubadalah.id – Ketergantungan perempuan terhadap laki-laki dalam aspek ekonomi berdampak langsung pada terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan. Kondisi ini muncul sebagai konsekuensi dari berbagai pembatasan yang dialami perempuan dalam kehidupan sosial dan keluarga.
Ketika perempuan tidak memiliki kontrol atas ekonomi, mereka cenderung tidak dapat menentukan kebutuhan kesehatannya sendiri.
Hal ini mencakup akses terhadap layanan keluarga berencana (KB), penggunaan metode hubungan seksual yang aman, serta pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai. Dalam banyak kasus, keputusan-keputusan tersebut berada di tangan pihak lain, terutama laki-laki.
Selain itu, perempuan seringkali tidak memiliki kebebasan untuk mencari layanan kesehatan secara mandiri. Ketergantungan finansial membuat mereka harus menunggu persetujuan atau dukungan dari pasangan atau keluarga. Akibatnya, penanganan masalah kesehatan seringkali tertunda hingga kondisi menjadi lebih serius.
Situasi ini juga berdampak pada pola reproduksi perempuan. Banyak perempuan terpaksa memiliki jumlah anak yang lebih banyak dengan jarak kelahiran yang terlalu dekat. Kondisi tersebut berisiko terhadap kesehatan ibu, termasuk meningkatnya kemungkinan komplikasi selama kehamilan dan persalinan.
Keterbatasan dalam mengakses informasi dan layanan kesehatan memperburuk keadaan. Perempuan tidak selalu mendapatkan edukasi yang memadai terkait kesehatan reproduksi dan hak-hak mereka. Hal ini semakin memperkuat siklus ketergantungan dan kerentanan yang dialami perempuan.
Ketergantungan ekonomi yang perempuan alami bukan hanya persoalan individu, tetapi juga merupakan hasil dari struktur sosial yang tidak setara. Dampaknya tidak hanya ia rasakan dalam aspek ekonomi, tetapi juga dalam kualitas kesehatan dan kesejahteraan perempuan secara keseluruhan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter




































