Mubadalah.id – Saat pergi ke luar kota (tentu saja bukan tuk jalan-jalan), tak jarang saya mengandalkan Kereta Api untuk sampai ke tujuan. Setelah sampai tujuan, kemudian hampir pasti saya memesan Ojek Online (Ojol) untuk mengantarkan saya ke lokasi tempat berlangsungnya acara. Pergi pulang saya naik Ojol. Memilih Ojol, sebab saya ingin menghemat biaya, efektif, dan ringkas.
Pada suatu hari, dalam perjalanan membonceng Ojol, terkadang saya iseng nanya-nanya.
“Asli orang Semarang, pak?”
“Iya, mas. Deketan sini”
“Oh, nah narik Ojol sudah berapa tahun, pak?”
“Baru tiga tahun ini mas. Sekarang nyari kerja sulit, mumpung punya motor saya pakai untuk narik”
“Biasanya setiap hari dapat berapa penumpang, pak?
“Gak mesti, mas. Kadang banyak kadang dikit, tapi disyukuri saja lah. Yang penting anak-anak masih bisa sekolah,”
Bapak-bapak Ojol berusia kisaran 40 tahun itu dengan penuh semangat mengantarkan saya ke lokasi tempat berlangsungnya acara kampus. Setelah sampai di tujuan, saya memberikan uang ke bapak Ojol. Abang Ojol itu pun lantas pergi meninggalkan saya dengan tarikan gas motornya. Bergegas tuk menunggu orderan penumpang yang lain.
Meski tak pernah terjun langsung menjadi Ojol, sedikitnya saya tahu tentang kisah getir ojol, dan perjuangan hidup yang mesti mereka lalui. Kebetulan, teman saya juga dulu pernah bekerja sebagai Ojol dan sering berkeluh kesah ke saya. Katanya, dapat keuntungannya sedikit, dan dalam sehari terkadang hanya dapat orderan 3-5 penumpang. Apes-apesnya, jika lagi sepi, hanya dapat dua penumpang. Begitulah nasib pekerja Ojol. Beban berat harus dipikul.
Hari ini, bobot perjuangan teman-teman Ojol semakin bertambah besar. Tidak saja harus berhadapan dengan kerasnya aspal jalanan, intaian risiko kecelakaan, berisiknya konsumen yang tak sabaran, panasnya matahari yang menyengat raga dan pikiran, tetapi juga memperjuangkan keadilan untuk Affan Kurniawan.
Insiden Tewasnya Affan
Affan Kurniawan, belum lama ini, menjadi korban kebiadaban aparat kepolisian. Ia adalah pemuda yang sehari-harinya sebagai Ojek Online, masih berusia 21 tahun. Masih muda, seusia para mahasiswa saya. Bahkan, delapan tahun lebih muda dari saya.
Di saat pemuda seumuran Affan memilih belajar di kampus, Affan memutuskan jalur lain. Ia bekerja menjadi Ojol. Berangkat pagi pulang malam. Kadang melayani penumpang. Kadang mengantar pesanan makanan.
Di usia 21 tahun, Affan sudah menjadi tulang punggung keluarga. Ia tinggal di kontrakan bersama 7 orang lainnya. Sementara itu, di rumah, ada orang tuanya yang menanti kepulangannya. Ibunya mungkin akan meminta sebagian rizki yang diperoleh Affan. Affan pun tentu saja tak keberatan untuk menyisihkan sedikit jerih payahnya dari hasil narik Ojol untuk diberikan ibunya.
Tapi malam itu, Kamis 28 Agustus 2025, bukan transferan uang yang diterima ibunya, bukan pula kabar gembira yang menyertainya, melainkan pengumuman duka. Kematian Affan tidak hanya menggoreskan luka bagi orang terkasihnya, tetapi juga bagi kita semua. Sebab, Affan tiada bukan karena demam berkepanjangan, tapi dibunuh oleh aparat keamanan.
Hari itu situasi Jakarta memang sedang memanas. Affan meninggal dunia di tengah kericuhan demo yang terjadi pada malam itu. Tubuhnya yang tak bersalah dilindas kendaraan rantis yang dikemudikan para aparat kepolisian dengan penuh kekejaman. Video itupun viral di media sosial.
Menuntut Keadilan
Saya membayangkan, andai saja polisi mau memundurkan mobilnya barang selangkah, ketika tahu ada orang yang tertabrak, niscaya Affan mungkin masih bisa terselamatkan dan di kemudian hari ia bisa narik Ojol lagi. Tapi entah kemana hati nurani polisi. Mereka lebih takut diamuk massa padahal sudah berlindung di dalam kendaraan lapis baja. Mobil yang semestinya jadi tameng bagi mereka, bukan malah jadi alat “menikam” rakyat yang tak berkuasa.
Mereka lebih memilih melindas Affan. Padahal pemuda yang di mata keluarganya sebagai anak rajin ini tidak punya salah apa-apa. Ia hanya sedang bekerja mengantarkan pesanan. Ia bukan penjahat, bukan orang yang suka ngomong asal-asalan, bukan pula koruptor yang doyan ngembat cuan-cuan. Ia hanya sandaran hidup keluarga.
Hari ini, kita semua marah. Sebab, kebrutalan polisi menindas rakyat bukan kali ini terjadi. Tapi sudah sering. Kita tentu masih ingat tragedi Kanjuruhan. 135 nyawa, yang melayang akibat tembakan gas air mata di dalam stadion kebanggaan warga Malang, tiga tahun lalu, ternyata masih belum cukup. Hari ini, rakyat dibuat sedih, getir, dan marah. Aparat kepolisian yang seharusnya menjadi pelindung justru malah membunuh rakyat.
Kendaraan barakuda yang dibeli dengan uang pajak pada akhirnya dipakai untuk melindas rakyat. Hari ini Affan, besok-besok, jangan-jangan kita yang jadi korban. Semoga tidak terjadi. Kita bercita-cita ini jadi peristiwa terakhir polisi menghabisi rakyat. Meski harapan itu tipis-tipis. Namun, perjuangan menuntut keadilan harus tetap ditegakkan.
Menambah Luka
Tewasnya Affan di tangan aparat berseragam coklat pada akhirnya menimbulkan keriuwehan luar biasa di media sosial. Hal ini semakin melengkapi kemarahan publik atas berbagai peristiwa akhir-akhir ini. Banyak orang juga ikut berbela sungkawa. Para tokoh politisi hingga selebriti, bahkan ikut-ikutan bersimpati atas kepulangan Affan ke sisi tuhannya.
Kita semua turut sedih. Sedih dan muak bukan saja tragedi tewasnya Affan di tangan polisi, tapi juga sedih atas segala kebijakan yang tidak berpihak ke rakyat kecil. Disaat ekonomi rakyat lagi terjepit: harga beras melambung, upah guru honorer cuma di angka ratusan ribu, gaji dosen swasta hanya 1 juta per bulan, kemiskinan masih membelenggu, tapi di atas sana, para dewan yang dipilih rakyat setiap lima tahun sekali malah justru asyik berjoget ria.
Para tikus berdasi kegirangan setelah mendapatkan tunjangan rumah dinas sebesar 50 juta per bulan atau 3 juta koma sekian per hari. Mereka bisa tidur nyenyak. Hidup tenang. Sementara, di akar rumput. Ada rakyat yang masih bergaji rendah, sehingga mau pesan makanan saja harus mengecek menu daftar harga lebih dulu.
Sementara di tempat lain, ada pemulung yang mengambil makanan bekas dari tempat sampah untuk dicuci dan dimasak ulang. Sungguh, ketimpangan yang sangat brutal di negara yang sudah merdeka selama 80 tahun.
Kematian Affan semoga mampu menggugah hati kita semua, agar aware terhadap penderitaan rakyat kecil. Pun begitu dengan para pemangku kebijakan di negara kita, semoga peka dan menyadari bahwa prinsip kemanusiaan jauh lebih penting di atas segala-galanya. Tidak ada harta yang sepadan dengan nyawa. Tidak ada kekuasaan yang sebanding nyawa. Dan tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian.
Cukup sampai Affan. Duka Affan, duka kita semua. Semoga hati nurani kita tidak ikut-ikutan padam. Silakan suarakan ketidakadilan dan kezaliman, baik yang dilakukan oleh pejabat maupun aparat, dengan caranya masing-masing. Saya hanya bisa nulis, maka tak ada pilihan lain selain melontarkan keresahan dan kegelisahan lewat gerakan jari jemari. Semoga Indonesia lebih baik lagi. []