Senin, 1 September 2025
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Indonesia yang

    Jemaah Tadarus Subuh Dorong Perbaikan Substantif Bangsa Indonesia

    Luka Rakyat

    Luka Infrastruktur, Luka Rakyat

    Affan Kurniawan

    Nyai Sinta Istri Gus Dur Bersama 1.500 Gusdurian Doakan Affan Kurniawan, Ojol yang Dilindas Polisi

    Gus Dur yang

    Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan

    Media Alternatif

    Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif

    Keamanan Digital

    TUNAS Learning Space: Asia Centre Tekankan Urgensi Keamanan Digital dalam Penyalahgunaan Data

    Kekerasan

    Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Demokrasi yang

    Di Tengah Krisis Demokrasi dan Kemarahan Rakyat, Apa yang Harus Kita Lakukan?

    Kisah Getir Ojol

    Kisah Getir Ojol, Affan, dan Kemanusiaan yang Tertinggal

    Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Ketimpangan Gaji Guru

    Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Indonesia yang

    Jemaah Tadarus Subuh Dorong Perbaikan Substantif Bangsa Indonesia

    Luka Rakyat

    Luka Infrastruktur, Luka Rakyat

    Affan Kurniawan

    Nyai Sinta Istri Gus Dur Bersama 1.500 Gusdurian Doakan Affan Kurniawan, Ojol yang Dilindas Polisi

    Gus Dur yang

    Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan

    Media Alternatif

    Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif

    Keamanan Digital

    TUNAS Learning Space: Asia Centre Tekankan Urgensi Keamanan Digital dalam Penyalahgunaan Data

    Kekerasan

    Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Demokrasi yang

    Di Tengah Krisis Demokrasi dan Kemarahan Rakyat, Apa yang Harus Kita Lakukan?

    Kisah Getir Ojol

    Kisah Getir Ojol, Affan, dan Kemanusiaan yang Tertinggal

    Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Ketimpangan Gaji Guru

    Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Luka Ibu Sebelum Suapan Terakhir (Bagian 1)

Bagiku, kehadiran Bapak di rumah seperti bayang-bayang Izrail yang keliru alamat. Kapan saja bisa menyerang.

Uus Hasanah Uus Hasanah
2 Juni 2025
in Sastra
0
Luka Ibu

Luka Ibu

1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Aroma  sebra[1] limbah pesulingan yang dibakar bersama kotoran kerbau kering  merebak perlahan dari sela-sela atap welit alang-alang yang telah dimakan waktu. Asapnya menari, melayang-layang di udara senja, membawa harum yang begitu khas, tajam, namun akrab, seperti memori luka ibu yang tak pernah benar-benar pergi.

Bau itu, bagi sebagian orang mungkin sekedar penanda bahwa rutinitas siang akan segera rehat, kerbau-kerbau akan meringkuk dalam hangatnya gegeni[2] sekaligus pengusir nyamuk di kendang belakang rumah.

Tapi bagiku, baunya selalu membawa kembali luka-luka lama yang belum sepenuhnya mengering. Ada pedih yang samar, seperti darah yang pernah tercecer di tanah, seperti kenangan yang menolak dilupakan.

Langit kelabu menggantung rendah. Hujan turun tipis-tipis, rintiknya membasahi tanah yang retak, lalu menyelinap masuk ke dalam dada. Seolah semesta ikut bersedih, menyiram perih yang telah lama terpendam.

Rumah

Rumah kami masih berdiri di depan kandang itu. Sudah terpugar, bahkan tampak lebih baik daripada rumah paman dan uwa di kanan kirinya. Tapi tetap saja, ada kesunyian yang tak bisa tersamarkan oleh tembok baru atau cat yang mengilap. Ada semacam kehampaan yang tetap menetap di sana, meski segalanya tampak lebih rapi dari luar.

Begitu turun dari sepeda motor, aku langsung melangkah ke belakang, melewati lorong antara rumahku dan rumah bibi, suasananya masih sama seperti dulu. Aku tahu, menjelang magrib begini, Ibu pasti belum lama pulang dari menggembala. Benar saja, ia ada dalam gubuk, sedang mengikat dadung[3].

Lalu tubuhnya lebih membungkuk sedikit, tangannya sibuk membersihkan sisa jerami yang menempel di kaki kerbau. Saat melihatku datang, ia mengangkat tangannya pelan, menghalangi jarak dengan ketegasan yang sulit terbantah, seolah tak ingin aku kotor. Matanya memintaku untuk menunggu di rumah. Tapi senyumnya, ah… senyum itu masih sama seperti dulu: tipis, tulus, hangat, dan menyimpan kekuatan yang tak terucap.

“Mandi saja dulu. Ibu selesaikan ini dulu…” katanya lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh rintik hujan yang menimpa atap alang-alang.

Makna Pulang

Aku hanya mengangguk. Lidahku kelu, seperti tak tahu harus berkata apa. Bahagia karena pulang, tapi juga dicekam sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Sejak pertama kali mendaftar kuliah, aku memang selalu pulang sebulan sekali, menyempatkan diri di sela kegiatan-kegiatanku, tapi setiap kali menjejak tanah ini, selalu ada yang mengganjal di dada. Rasa sesak yang tak pernah benar-benar hilang sejak aku meninggalkan rumah ini enam tahun lalu.

Langkahku pelan menyusuri lantai dapur yang lembap. Begitu masuk ke ruang tengah, aku melihat Bapak sedang duduk di kursi goyang. Matanya kosong menatap layar yang bergetar samar. Suaranya tak terdengar, hanya tubuhnya yang diam, dan kehadirannya cukup untuk membuatku beringsut perlahan.

Aku memilih untuk tak menyapanya. Biar saja ia tak tahu aku datang. Perasaanku kembali meledak. Getar di dada yang sempat kutahan sejak bertemu Ibu kini pecah pelan-pelan. Jangan tanya mengapa, yang pasti, kalau saja di dunia ini ada anak yang paling durhaka, barangkali akulah orangnya.

Entah sejak umur berapa kebencian itu mulai bersemi, yang jelas sejak aku mengenal bahwa ada kekuatan agung yang mengatur hidup dan mati, doa-doaku berubah menjadi kutukan. Bukan “Bismika Allahumma ahya wa bismika amut” lagi yang kulafalkan sebelum tidur, melainkan, “Ya Allah, izinkan aku membuka mata esok hari dengan kenyataan bahwa bapakku telah mati.” Doa itu terus kuulang di hari-hari berikutnya, dengan penuh keyakinan, dengan penuh air mata.

Aku ingat betul, pada saat pelajaran di madrasah yang membahas nama dan tugas-tugas para malaikat, hati ini bergetar menuntut keadilan. “Kalau benar malaikat itu nyata, maka perintahkan malaikat Izrail-Mu mencabut nyawa laki-laki yang kusebut Bapak itu.”

Tentang Bapak

Aku terus melangkah ke kamarku, kuletakkan tas gendong di samping lemari. Alih-alih segera mandi, aku malah merebahkan diri, melepas lelah, meluapkan kecamuk sesaat setelah bertemu Bapak. Pikiranku melesat, menyulam bayangan masa lalu yang tak kunjung diam.

Hari-hari terus berlari. Doa-doaku seolah tak menembus langit. Dan Bapakku tetap berdiri. Tegap. Tanpa goyah. Tak juga mati. Bahkan sakit pun tidak. Seolah malaikat maut sendiri enggan menyentuhnya. Sementara aku dan ibuku terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang tak pernah tidur.

Pernah sekali, Bapakku pulang dengan wajah yang tak asing. Wajah suami, wajah seorang Bapak, seolah… Sepulang dari kantor mengambil gaji, ia membawakan empal gentong, makanan khas kabupaten seberang yang cuma kami cicipi sebulan sekali.

Makanan itu kami nikmati bersama. Tanpa bentakan dan tangis. Dan tanpa piring pecah. Tapi ketenangan itu seperti angin sore yang lewat begitu saja. Kehangatan semu itu tak mampu menghapus luka yang sudah berakar di benakku.

Bagiku, kehadiran Bapak di rumah seperti bayang-bayang Izrail yang keliru alamat. Kapan saja bisa menyerang. Seperti malam itu, aku baru pulang mengaji, dari kejauhan kudengar keributan yang tak asing lagi. Suara yang membuat langkahku gemetar, seolah setiap dentingnya mengoyak ketenangan malam.

“Nasi dingin, lauk hambar! Kamu pikir aku pulang buat makan sampah?!” Suara Bapak menggelegar dari dalam rumah, memecah udara seperti petir.

Lalu terdengar bentakan lain, lebih menusuk. “Kalau mau masakan enak, makan saja masakan simpananmu itu!” Meja bergeser keras, kaki-kakinya berderit menggesek lantai, lalu “brak!” Sesuatu jatuh, membentur lantai dengan suara menggetarkan.

Luka Ibu

Aku berlari masuk, napasku tercekat saat melihat Ibu terduduk di sudut dapur. Cowet (cobek), wadah sambal dari tanah liat, terbelah dua di lantai, retakannya menyebar hingga ke kaki Ibu. Sambal kacang yang ia racik dari cabai merah mendarat di kain jarik Ibu pada bagian lutut.

Aku tersentak. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke rumah Paman, meminta bantuan. Saat kami kembali, Ibu sedang terhuyung, lengannya tak sengaja menyenggol cerek di atas tungku. Airnya tumpah, sebagian mengenai lantai, sebagian mengenai lengan Ibu yang kini memerah. Bapak melangkah maju dengan tangan mengepal, siap menyergap.

Namun Paman lebih cepat, ia menarik tubuh Bapak ke belakang dengan satu hentakan keras. Tubuh Bapak tersentak, nyaris kehilangan keseimbangan. Di tengah kekacauan itu, Bibi (istri Paman) datang dan langsung menggendongku ke rumahnya. Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukannya, dan Bibi pun ikut menangis, memelukku erat seolah ingin melindungi sisa-sisa jiwaku yang sudah remuk.

Dari balik bahu Bibi, mataku sempat menoleh ke dapur itu. Dinding dari anyaman bambu itu hitam legam, dipenuhi jelaga pekat hasil asap kayu bakar yang selama ini menyatu dengan hari-hari kami. Jelaga menebal di sudut-sudut dinding, seperti sisa luka yang menolak dibersihkan. Semua terlihat suram. Seolah tiap inci tembok itu menyimpan jeritan yang tak pernah sempat disuarakan.

Aku terkesiap mendengar derasnya suara keran dari kamar mandi, memecah lamunan yang menggantung. Sesekali terdengar gemericik air terciduk gayung secara berulang, teratur. Nampaknya Ibu sudah masuk rumah dan sedang mandi. Seolah tak mau berhenti lama-lama, bayanganku kembali melangkah, membawa kisah dari ruang batin terdalam.

Kehangatan yang Asing

Siang itu aku menyaksikan Ibu memanggul sekarung padi untuk digiling. Tapi Bapakku, lelaki yang seharusnya melindungi, menyambutnya dengan makian. “Pencuri!” katanya. Ibu ia sebut maling. Pencuri padi dari lumbungnya sendiri. Dari tanah yang ia tanami sendiri. Benih yang ia tebar sendiri. Dari hasil panen yang ia pikul sendiri.

Padahal kami bukan keluarga melarat. Sawah kami luas. Lumbung kami penuh padi. Tapi jangan tanya bagaimana aku bisa berangkat sekolah. Ibuku harus menyelinap di malam buta, mengambil beberapa liter beras, lalu menukarnya di warung tetangga agar aku bisa jajan di sekolah.

Sekali dua kali lolos. Tapi saat ketahuan, tubuh Ibuku jadi ladang amarah. Dan yang paling menyakitkan, sebagian hasil dari barter beras itu dipakai untuk membeli lauk bagi lelaki yang menyebut istrinya pencuri.

Dulu, aku pikir semua Bapak memang suka memukul. Karena itulah kupikir semua Ibu memang ditakdirkan untuk selalu berdarah. Dan jika itu arti menjadi Ibu, aku tak ingin menjadi ibu. Aku tak ingin berdarah. Tapi di waktu yang lain, keyakinanku mulai goyah.

Aku tertegun menyaksikan Sekar dipeluk dan dicium oleh Bapaknya yang juga guruku di sekolah. Ibunya tertawa lepas ketika menumis kangkung di dapur. Pun begitu dengan Dewi dan Dasiah, di rumah mereka, aku mencium kehangatan yang begitu asing bagiku. []

 

[1] tangkai kayu putih kering limbah perontokan daun kayu putih kering berwarna coklat

[2] Pembakaran sebra,rumput kering, Jerami, sekam atau sejenisnya yang sengaja dilakukan untuk menghasilkan asap

[3] Jenis tali yang digunakan untuk mengendalikan kerbau yang dipasang di leher kerbau.

Tags: Bapakcerita pendekKDRTLuka IbuRelasirumahSastra
Uus Hasanah

Uus Hasanah

Guru di MA GUPPI Terisi Indramayu

Terkait Posts

Pratama Arhan dan Azizah Salsha
Personal

Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

29 Agustus 2025
Game Online
Keluarga

Anak Masuk Pinjol lewat Game Online: Siapa yang Lalai, Siapa yang Dirugikan?

27 Agustus 2025
Kesenjangan Gaji
Publik

Kesenjangan Gaji antara DPR dan Rakyat, Amanah atau Kemewahan?

25 Agustus 2025
Kesalingan Spiritual
Keluarga

Tirakat; Kesalingan Spiritual yang Menghidupkan Keluarga

23 Agustus 2025
Film Sore
Film

Perempuan dalam Duka: Membaca Film Sore dengan Empati Bukan Penghakiman

22 Agustus 2025
Uang Panai
Publik

Uang Panai: Stigma Perempuan Bugis, dan Solusi Mubadalah

21 Agustus 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Demokrasi yang

    Di Tengah Krisis Demokrasi dan Kemarahan Rakyat, Apa yang Harus Kita Lakukan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Luka Infrastruktur, Luka Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jemaah Tadarus Subuh Dorong Perbaikan Substantif Bangsa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Getir Ojol, Affan, dan Kemanusiaan yang Tertinggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Di Tengah Krisis Demokrasi dan Kemarahan Rakyat, Apa yang Harus Kita Lakukan?
  • Jemaah Tadarus Subuh Dorong Perbaikan Substantif Bangsa Indonesia
  • Kisah Getir Ojol, Affan, dan Kemanusiaan yang Tertinggal
  • Luka Infrastruktur, Luka Rakyat
  • Nyai Sinta Istri Gus Dur Bersama 1.500 Gusdurian Doakan Affan Kurniawan, Ojol yang Dilindas Polisi

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID