Mubadalah.id – Praktik puasa dalam ajaran Islam tidak hanya kita maknai sebagai ibadah menahan makan dan minum, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan pengendalian diri.
Dalam sejumlah hadis sahih, puasa dianjurkan bagi seseorang yang belum mampu menikah sebagai salah satu cara menjaga kehormatan diri. Namun, para ulama menegaskan bahwa fungsi puasa tidak terbatas pada pengendalian dorongan seksual semata.
Kajian hadis menunjukkan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual yang lebih luas, yakni melatih disiplin diri agar mampu menahan perilaku buruk dalam interaksi sosial.
Larangan berkata dusta, melakukan tindakan zalim, serta berperilaku kasar selama berpuasa menjadi indikator bahwa ibadah ini berkaitan erat dengan pembentukan akhlak relasi, bukan hanya pengendalian fisik.
Para cendekiawan Muslim menjelaskan bahwa puasa berperan sebagai latihan moral yang membentuk kepekaan batin dan kesadaran etis.
Melalui praktik ini, seseorang kita latih untuk mengendalikan emosi, menahan reaksi negatif. Serta mengarahkan diri pada tindakan yang membawa manfaat bagi orang lain. Proses tersebut dipandang sebagai bagian dari pendidikan spiritual yang berkelanjutan.
Konsep ini menegaskan bahwa tujuan puasa tidak berhenti pada dimensi ritual, melainkan mencakup transformasi karakter. Individu yang menjalankan puasa kita harapkan dapat mengembangkan sikap adil, bermartabat, serta berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Dengan demikian, ibadah puasa menjadi sarana pembinaan kepribadian yang berdampak pada kualitas diri sendiri dan relasi dengan masyarakat.
Dalam ajaran Islam, nilai-nilai yang terkandung dalam puasa, ghaddul bashar, dan isti’faf saling berkaitan sebagai fondasi pembentukan karakter seseorang dan masyarakat.
Ketiganya bisa kita pahami sebagai perangkat etika yang relevan dalam berbagai fase kehidupan. Baik sebelum menikah, dalam pernikahan, maupun setelahnya. Hal ini untuk membangun relasi yang berlandaskan tanggung jawab moral dan penghormatan terhadap sesama manusia. []
Sumber tulisan: Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?






































