Minggu, 15 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

Ramadan tidak hanya melatih kita menahan lapar, tetapi juga melatih kita membongkar kebiasaan yang tidak adil.

Nadhira Yahya by Nadhira Yahya
18 Februari 2026
in Keluarga, Rekomendasi
A A
0
Nilai Kesetaraan

Nilai Kesetaraan

28
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setiap Ramadan tiba, suasana berubah. Masjid ramai, jadwal kajian padat, pesan tentang sabar dan takwa beredar di mana-mana. Kita menyebut bulan ini sebagai bulan peningkatan spiritualitas. Kita menyebutnya bulan latihan pengendalian diri. Namun, di sela-sela semangat itu, saya sering mendengar satu pertanyaan yang terasa begitu biasa sekaligus ganjil: “Ibu, nanti masak apa untuk buka?”

Pertanyaan itu terdengar ringan. Orang mengucapkannya sambil tersenyum. Tetangga menjadikannya basa-basi. Anggota keluarga mengulanginya sebagai rutinitas. Akan tetapi, hampir selalu, pertanyaan itu tertuju kepada perempuan. Jarang sekali orang menoleh kepada laki-laki dan bertanya, “Pak, nanti masak apa untuk buka?” Seolah-olah Ramadan langsung mengaktifkan satu peran lama: perempuan masuk dapur, laki-laki menunggu waktu berbuka.

Ramadan: Momen Menguatkan Spiritualitas

Di titik ini, saya tidak memperdebatkan aktivitas memasak. Banyak perempuan menikmati kegiatan itu, ternmasuk saya sendiri. Banyak ibu mengekspresikan cinta melalui makanan. Saya pun merasakan kehangatan rumah dari aroma masakan ibu. Namun, Ramadan seharusnya tidak mempersempit perempuan hanya pada peran domestik, apalagi ketika bulan ini membawa misi besar: mendekatkan manusia kepada Tuhan.

Karena itu, saya ingin memandang Ramadan dari sudut yang lebih luas. Ramadan bukan sekadar bulan ibadah personal. Ia juga menghadirkan kesempatan sosial. Bulan ini memberi ruang untuk menanamkan nilai kesetaraan di dalam keluarga. Jika kita benar-benar ingin menjadikan bulan ini sebagai momentum perubahan, maka kita perlu mulai dari rumah.

Ramadan: Ruang Batin, Bukan Ruang Masak

Ramadan hadir untuk menguatkan spiritualitas, bukan untuk mempertebal beban domestik. Ia mengajak setiap jiwa, laki-laki dan perempuan, untuk menata ulang hubungan dengan Allah dan dengan sesama. Akan tetapi, ketika orang terus-menerus mengaitkan perempuan dengan dapur, kita menggeser fokus. Kita memindahkan pusat Ramadan dari ruang batin ke ruang masak.

Saya sering melihat seorang ibu yang bangun lebih awal. Ia menyiapkan sahur, membereskan dapur, mengantar anak sekolah, lalu melanjutkan pekerjaan lain. Menjelang sore, ia kembali ke dapur untuk menyiapkan berbuka. Sementara itu, orang memuji laki-laki yang rajin ke masjid, aktif mengikuti tadarus, dan hadir dalam kajian. Tentu, laki-laki juga bekerja dan lelah. Namun, masyarakat jarang menuntut laki-laki untuk memastikan hidangan buka puasa tersedia. Iya?

Di sinilah Ramadan sebenarnya bisa mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. Mengapa kita tidak menjadikan bulan ini sebagai latihan berbagi peran? Mengapa kita tidak mengubah kebiasaan lama yang menganggap urusan dapur sebagai wilayah eksklusif perempuan? Jika puasa melatih kita menahan ego, maka berbagi tugas rumah juga melatih kita menurunkan rasa dominan.

Islam Tidak Membeda-bedakan Perempuan dan Laki-laki

Al-Qur’an menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman tanpa membedakan jenis kelamin. Allah memanggil laki-laki dan perempuan dalam satu sapaan yang sama. Artinya, tanggung jawab spiritual berlaku setara. Maka, logika keadilan juga menuntut ruang ibadah yang setara. Jika perempuan menghabiskan energi di dapur tanpa dukungan, ia mungkin kehilangan waktu berkualitas untuk beribadah secara khusyuk.

Selain itu, Ramadan membawa pesan empati. Kita menahan lapar agar merasakan penderitaan orang lain. Kita belajar peduli. Namun, empati tidak boleh berhenti pada orang di luar rumah. Empati harus hidup di dalam keluarga. Suami perlu merasakan lelahnya istri. Anak-anak perlu memahami kerja ibunya. Dari situ, nilai kesetaraan tumbuh secara alami.

Rasulullah SAW Sebagai Suri Tauladan

Saya teringat keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan rumah tangga. Ia membantu pekerjaan rumah. Ia menjahit pakaian dan terlibat dalam aktivitas domestik. Ia tidak memisahkan spiritualitas dari tanggung jawab rumah tangga. Ia menunjukkan bahwa laki-laki dapat berperan aktif di rumah tanpa kehilangan kehormatan. Teladan itu memberi kita arah yang jelas.

Menurut saya, seharusnya, ramadan dapat menjadi laboratorium kecil untuk mempraktikkan kesetaraan. Seorang suami dapat berkata, “Hari ini saya yang siapkan takjil.” Seorang ayah dapat mengajak anak laki-lakinya memotong buah atau menyeduh minuman. Tindakan itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Anak-anak belajar bahwa kerja domestik bukan identitas gender. Mereka melihat ayah dan ibu berbagi peran dengan wajar. Itulah hakikatnya.

Ramadan Sebagai Momen Menanam Nilai Kesetaraan

Lebih jauh lagi, Ramadan memberi kita waktu untuk mengevaluasi pola lama. Jika selama ini perempuan memikul beban ganda, maka bulan ini dapat menjadi awal perubahan. Kita bisa menyusun pembagian tugas yang lebih adil. Kita bisa membuat jadwal bergiliran menyiapkan berbuka. Dengan cara itu, setiap anggota keluarga memiliki waktu yang cukup untuk beribadah dan beristirahat.

Perspektif mubadalah mengajarkan relasi timbal balik antara laki-laki dan perempuan. Relasi itu tidak berjalan satu arah. Jika perempuan mendukung suami dalam ibadah dan pekerjaan, maka suami juga perlu mendukung istri dalam ruang spiritualnya. Dukungan itu tidak cukup dengan kata-kata. Dukungan itu perlu hadir dalam tindakan nyata.

Hargai Perempuan Bukan Hanya dari Masakannya

Selain pembagian tugas, kita juga perlu memperhatikan cara kita menghargai perempuan. Jangan hanya memuji kelezatan masakannya. Hargai juga kesungguhan ibadahnya, kedalaman pikirannya, dan kontribusinya di ruang publik. Ramadan seharusnya memperluas pengakuan terhadap perempuan sebagai subjek utuh, bukan sekadar penyedia konsumsi keluarga.

Saya membayangkan sebuah rumah di mana ibu dapat mengikuti kajian tanpa tergesa-gesa karena suami menyiapkan hidangan berbuka. Saya membayangkan anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa ibadah dan kerja domestik berjalan berdampingan. Di rumah itu, Ramadan tidak hanya memperkuat hubungan dengan Tuhan, tetapi juga memperbaiki relasi antaranggota keluarga.

Akhirnya, pertanyaan sederhana seperti “Masak apa nanti?” dapat berubah menjadi pintu pembelajaran. Dari pertanyaan itu, kita bisa menanamkan nilai kesetaraan. Dari dapur, kita bisa membangun kesadaran baru. Ramadan tidak hanya melatih kita menahan lapar, tetapi juga melatih kita membongkar kebiasaan yang tidak adil.

Mari kita jadikan Ramadan sebagai momen menanamkan nilai kesetaraan sejak dari rumah. Kita perlu pastikan perempuan tidak kehilangan ruang spiritualnya karena beban yang tidak pernah dibagi. Kita dapat mengubah rutinitas menjadi refleksi, dan refleksi menjadi tindakan. Dengan begitu, Ramadan benar-benar menjadi bulan pembebasan, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari cara pandang yang membatasi. []

 

Tags: adilbeban gandaKesetaraanNilai Kesetaraanperempuanramadanspiritualitas
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tuntutan Amal Salih bagi Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur’an

Next Post

Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

Nadhira Yahya

Nadhira Yahya

Gender Equality Enthusiast. Menyimak, menulis, menyuarakan perempuan.

Related Posts

Mudik
Publik

Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

15 Maret 2026
Aisyah dan Hafshah
Hikmah

Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

15 Maret 2026
Keadilan
Pernak-pernik

Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

14 Maret 2026
Kesehatan Sosial Perempuan
Pernak-pernik

Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

14 Maret 2026
Kesehatan Keluarga Perempuan
Pernak-pernik

Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

14 Maret 2026
Merayakan IWD
Publik

Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

13 Maret 2026
Next Post
Amal Salih

Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

No Result
View All Result

TERBARU

  • Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna
  • Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah
  • Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan
  • Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa
  • Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0