Selasa, 24 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Membongkar Tabu Impotensi pada Laki-laki

Dalam satu masalah yang sama, impotensi. Ternyata ada beragam cara laki-laki dalam  mensikapinya. Semua akan dilakukan sebagai mekanisme pertahanan diri atau self defends mechanism

Ahsan Jamet Hamidi by Ahsan Jamet Hamidi
14 November 2022
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Impotensi

Impotensi

18
SHARES
875
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“Kemaren ada pemuda tolol seusiamu datang ke sini. Mau tahan lama, eh…burungnya digosok odol. Kadang-kadang, laki-laki itu memang otaknya ada di burungnya”. Ungkap Mak Jerot, dukun pijat lemah syahwat kepada pasiennya.

Mubadalah.id – Itu adalah penggalan dialog Film “Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash”, (2021). Film berbahasa Indonesia produksi Palari Films yang digarap Edwin sebagai sutradara. Cerita ini diadaptasi dari novel berjudul; “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas”, karya Eka Kurniawan. Film keren ini ditayangkan perdana pada segmen Concorso Internazionale, dalam ajang Locarno International Film Festival 2021 di Swiss. Apa kaitannya film ini dengan impotensi?

Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Ajo Kawir, yang sudah kehilangan rasa takut dalam hidupnya. Jagoan kampung ini sangat bernyali. Ia bisa melawan siapa saja untuk bertarung melawan dirinya. Dari balapan liar dengan motor butut, hingga perkelahian satu-lawan satu.

Dalam setiap adegan ekstrim yang dilakoninya, Ajo selalu teguh memegang prinsip yang sejatinya sangat ia benci; “hanya orang yang gak bisa ngaceng, bisa ngapain saja tanpa takut mati” (dikutip dari narasi Film “Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash”). Meski babak belur dihajar gerombolan pemuda di tempat bilyar, Ajo tetap tidak akan pernah mengalah.

Dalam kesehariannya, ia termasuk pemuda santun dan cuek tapi terkenal. Ia mengelola bengkel mobil di kampungnya. Ajo, tidak pernah membuat onar, meski gemar berkelehi. Salah satu hiburan kegemarannya adalah mendengarkan siaran radio lagu-lagu dangdut kesukaanya di malam hari.

Suatu ketika, Ajo menantang tarung seorang juragan pasir dikampungnya yang selalu dikawal pendekar perempuan, bernama Iteung. Ajo berduel habis-habisan melawan Iteung. Ajo babak belur, penuh luka dan ambruk. Usai berkelahi habis-habisan, Ajo bisa memotong salah satu daun telinga juragan pasir sebagai symbol kejagoannya. Ajo dan Iteung jadi sering berjumpa, lalu keduanya saling jatuh cinta. Hasrat dan nyali besar Ajo untuk bertarung, didorong oleh sebuah rahasia, ia impoten.

Di tengah kebun pisang saat hujan deras, sepasang calon kekasih ini basah kuyup dan sedang mengungkap isi hatinya;

Ajo : “aku mencintaimu…”

Iteung : “apa…?. Katakan sekali lagi ”.

Ajo : “aku mencintaimu. Tapi aku tak bisa…”

Iteung : “tak bisa apa? Katakan!”

Ajo : “burungku tidak bisa berdiri…”

Iteung : “aku tidak peduli meski burungmu tidak bisa berdiri”.

Ajo : “apa yang akan kamu lakukan dengan laki-laki yang burungnya tidak bisa berdiri?”

Iteung : “aku akan mengawinimu!”

Mereka menikah, lalu keduanya harus berjuang mati-matian menaklukkan masalah ikutan yang akan terus menyertai masalah utamanya, impotensi!

Cerita Serupa

Mbah Kusnun, tinggal di desa berhawa dingin di lereng gunung Lawu. Ia berprawakan kurus tinggi, gagah sekali saat berjalan. Kumis dan jenggotnya memutih, dibiarkan tumbuh lebat, hingga menambah angker tampangnya. Dia sangat dikenal sebagai laki-laki jagoan kampung yang tidak mempan dibacok. Warga desa sangat takut, karena ia juga diyakini memiliki ilmu santet.

Tanpa malu, Mbah Kusnun  sesumbar bahwa ia adalah laki-laki super jago di atas ranjang. Ia mampu menaklukkan banyak perempuan yang ditidurinya. Untuk menambah kesan hebatnya, ia juga menyebarkan kabar, bahwa “burung”nya seukuran penis kuda. Para perempuan desa memilih untuk menghindar saat harus berjumpa dengannya. Mereka takut, sekaligus risih dan jijik dengan cerita yang sering diperbincangkan dimana-mana.

Suatu ketika, Mbah Kusnun meninggal dunia. Para kerabat kumpul untuk memandikan jenazahnya. Satu persatu pakaian mayat itu dilucuti. Ketika celana gombrongnya dicopot, sontak semua orang yang ada di tempat permandian itu  kaget luar biasa. Mata mereka terbelalak oleh ukuran penis Mbah Kusnun, yang hanya sebesar jari kelingking anak remaja. “Pret! Dasar penipu ulung Kowe Mbah!”. Kang Sarimin memaki dalam hatinya.

Jauh di daerah lain, ada cerita tentang Kaji Sarkum, saudagar toko klontong di Pasar Gombel Lor. Ia pernah punya 10 istri sekaligus. Meski demikian, tidak ada satupun yang berhasil memberikan keturunan. Ketika satu-persatu istrinya diceraikan, ternyata mereka bisa memberikan keturunan bersama dengan pasangan barunya.

Lalu Kaji Sarkum akan menikah lagi, dan cerai lagi, terus begitu. Para pemuda kampung mengantri, saling berebut menunggu janda Kaji Sarkum. Selain karena pasti cantik, ada yang sangat istimewa.  “Mantan istri Kaji Sarkum, dijamin tidak pernah digauli”. Begitulah rumornya.

Kabar bahwa Kaji Sarkum sebagai tukang kawin sudah menyebar kemana-kemana. Begitupun tentang kerahasiaan yang selama ini tertutup rapat. Lama-lama terbuka juga. Dia memang punya masalah dengan impotensi. Untuk mengatasinya, daripada konsultasi ke dokter, dia lebih memilih untuk menikah dengan perempuan berkali-kali.

Bermula dari Konstruksi Budaya

Bagi saya, impotensi, adalah hal biasa yang lumrah terjadi. Masalah ini jamak terjadi pada laki-laki. Sebagaimana sakit flu, batuk, sakit kepala, dan seterusnya. Mengapa masalah impotensi itu menjadi sangat luar biasa akibatnya? Karena para laki-laki acap membantahnya. Ada yang malu, hingga enggan mendiskusikan dengan pasangan. Apalagi mengobatinya. Mungkin, orang-orang itu sudah terbawa arus dalam kubangan konstruksi sosial yang ada, bahwa ejakulasi dini adalah aib yang nista.

Entah darimana asal mula konstruksi tentang relasi (laki-laki perempuan) yang dipercaya oleh banyak laki-laki itu. Mitosnya begitu beragam; Misalnya, bahwa kesenangan perempuan, hanya bisa dipenuhi dengan seks. Bahwa laki-laki boleh kalah bersaing dengan perempuan dalam hal apa saja, asal tidak kalah di atas ranjang.

Ketika laki-laki mengalami ejakulasi dini, maka harga diri dan kewibawaannya seolah runtuh seketika. Untuk itu, ia kerap memilih berbagai upaya untuk mengkompensasi kekalahannya. Tidak peduli apakah tindakan itu sangat membahayakan dirinya.

Impotensi, Menundukkan atau Membahagiakan?

Saya bukan ahli yang mampu mengatasi masalah impotensi. Hemat saya, masalah ini lebih lekat dengan persoalan emosi dan kejiwaan seseorang. Tapi, ia bisa berimplikasi pada daya tahan dan kemampuan seksual laki-laki. Saya memang kerap mengamati-tanpa teori-tentang cara laki-laki mengatasi masalah impotensi. Paling tidak, ada dua pandangan yang dianutnya;

Pertama, ada yang berpandangan, bahwa dalam hal persebutuhan antara laki-laki dan perempuan, seorang laki-laki harus mampu “mengalahkan” perempuan. Lelaki harus menjadi juara. Mungkin, pandangan ini dipengaruhi oleh propaganda obat kuat, media sosial, atau pandangan umum di lingkungannya.

Pandangan seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga membahayakan. Terutama bagi para perempuan. Ia akan berimplikasi pada pola relasi dalam keseharian hidup sebuah pasangan. Di mana, perempuan akan menjadi objek seksual yang perlu dikalahkan oleh keperkasaan seorang laki-laki. Dalam konteks yang lain, berarti, perempuan juga harus mengalah, tunduk dengan superioritas laki-laki.

Sayangnya, ketika laki-laki tidak mampu membuktikan keperkasaannya, ia akan sangat frustasi, lalu memilih jalan pintas. Seperti; penggunaan obat kuat, psikotropika. Sekedar untuk membuktikan keperkasaan semunya.

Kedua, adalah kelompok orang yang berusaha menerapkan prinsip kesalingan dalam membangun relasi pada sebuah pasangan. Mereka berpandangan, bahwa dalam hal berhubungan badan, masing-masing orang harus selalu mendasarkan dirinya pada prinsip; saling menyayangi, saling menyenangkan, saling memahami kekurangan masing-masing, saling mencintai, hingga puncaknya adalah, bisa saling membahagiakan pasangan.

Ketika ada masalah yang bisa menganggu pencapaian kebahagiaan pasangan, ia akan menganggapnya sebagai hal lumrah. Ia akan memilih untuk mendialogkannya secara terbuka, sehingga mampu menemukan akar masalah. Mungkin stress akibat pekerjaan dan sebagainya. Bahkan jika perlu, pasangan ini akan berkonsultasi dengan para ahli sebagai jalan keluarnya.

Dalam satu masalah yang sama, impotensi. Ternyata ada beragam cara laki-laki dalam  mensikapinya. Semua akan dilakukan sebagai mekanisme pertahanan diri atau self defends mechanism. Ajo Kawir, memilih untuk berkelahi, ikut balapan liar dan melakukan aktifitas ekstrim yang membahayakan dirinya.

Mbah Kusnun, memilih untuk menyebarkan berita bohong tentang keperkasaanya. Kaji Sarkum, memilih untuk mengawini puluhan perempuan, sekedar untuk membuktikan kejantanannya. Sementara itu, akar masalah mereka, impotensi, tidak juga menemukan solusi.

Selalu ada masalah dalam hidup seseorang ketika berpasangan. Meski wujudnya berbeda, namun, dibutuhkan satu sikap dewasa yang sama untuk mengatasinya. []

Tags: Hak Kesehatan ReproduksiImpotensikeluargaKesalinganKesehatan Mentallaki-lakiseksualitas
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

4 Karakter Anak yang Penting Dipahami Oleh Orang Tua

Next Post

Hati-hati, Inilah 7 Wacana Bias Gender yang Wajib Salingers Ketahui

Ahsan Jamet Hamidi

Ahsan Jamet Hamidi

Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Ciputat Timur, Tangerang Selatan

Related Posts

Perspektif Mubadalah
Keluarga

Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

23 Februari 2026
Laki-laki dan perempuan Berduaan
Pernak-pernik

Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

22 Februari 2026
Child Protection
Keluarga

Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

22 Februari 2026
Over Think Club
Aktual

Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

21 Februari 2026
Ibu Muda Bunuh Diri
Personal

Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

21 Februari 2026
Hijrah dan jihad
Ayat Quran

Bahkan dalam Hijrah dan Jihad, Al-Qur’an Memanggil Laki-laki dan Perempuan

23 Februari 2026
Next Post
bias gender

Hati-hati, Inilah 7 Wacana Bias Gender yang Wajib Salingers Ketahui

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan
  • Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?
  • (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas
  • Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam
  • Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0