Minggu, 15 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Memotret Shafi Al-Dhabi dalam Novel Zinah Karya Nawal al-Sa’dawi

Novel Zinah melawan budaya patriarki, dengan ragam sistem baik berkedok fundamentalis, marxis, maupun pluralis demokratis

Moh Soleh Shofier by Moh Soleh Shofier
23 Juni 2024
in Buku, Rekomendasi
A A
0
Novel Zinah

Novel Zinah

22
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam novel Zinah, Nawal El-Sa’dawi memperkenalkan karakter Shafi Al-Dhabi sebagai perempuan intelek dengan kepribadian tegas. Dalam pengakuan pada mantan suaminya yang muslim sebelum menikah, Shafi mengatakan.

…. أنا لست جسدًا يا أستاذ، أنا عقل يفكِّر، أنا كاتبة مرموقة، هل قرأت كتابي في النقد الأدبي؟ ألا تقرأ مقالاتي في الصحف؟

“Saya bukan raga, Profesor melainkan dalah akal yang berpikir. Akupun penulis perempuan yang terkemuka. Sudahkah Anda membaca buku saya tentang kritik sastra? Apakah Anda tidak membaca artikel saya di surat kabar?” (Zinah: 88).

Novel Zinah sendiri adalah karya terakhir Nawal yang terbit pada tahun 2008/2009. Sebagaimana karya lainnya, buku ini menggambarkan situasi negaranya, Mesir. Dan mewakili sikap Nawal untuk mengkritik budaya Mesir yang menurutnya tidak senafas dengan prinsip kehidupan.

Novel Zinah melawan budaya Patriarki, dengan ragam sistem baik berkedok fundamentalis, marxis, maupun pluralis demokratis. Dengan dua tokoh kunci yaitu Badur dan anaknya Zinah, Nawal hendak merobohkan hegemoni budaya yang dikendalikan negara dan agama (ideologi) yang mengekang kehidupan perempuan bertahun-tahun. Tak lupa pula dengan Shafi al-Dhabi yang berperan sebagai karib satu-satunya Badur.

Sudah banyak jurnal atau studi yang mengkaji dan menganalisis karya terakhir Nawal tersebut, baik luar maupun dalam negeri. Namun, hal yang membuat saya tertarik adalah peran dari Shafi – Shafa’ al-Dabbi. Karena perjalanan kehidupan Shafi seolah adalah kehidupan Nawal al-Sa’dawi sendiri, khususnya dalam perjalanan cintanya.

Hubungan Shafi dengan Badur Al-Damahiri terjalin sejak di universitas sampai masa tuanya yang memiliki peran penting dalam novel ini. Melalui percakapan mereka, pembaca dapat melihat pemikiran Shafi yang kritis – menambah kuatnya narasi Nawal al-Sa’dawi dalam novel tersebut.

Shafi al-Dhabi Women Support Women

Sebagai seorang sahabat, Shafi al-Dhabi setia mendengarkan keluh kesah dan memberikan dukungan moral dan intelektual kepada Badur, sering kali menyemangati temannya untuk lebih berani dan kritis.

Misalnya tercermin ketika menghibur Badur yang stres dengan kisah cinta yang toxic dan KDRT. Dan bahkan, Shafi, menandaskan bahwa kesepian bukanlah suatu masalah besar ketimbang berpasangan dengan relasi yang tidak sehat sebagaimana Badur menjalaninya.

– الوحدة خير من جليس السوء يا بدور، كنت مثلَك أخاف الوحدة، أرضى بالهوان خوفًا من الوحدة، كنت سجينة الخوف، حتى عرفت الوحدة فوجدتها جميلة موحية. نحن نولد في الخوف، نعيش في الخوف ونموت في الخوف

“Kesepian lebih baik daripada suami yang buruk, Badur. Seperti kamu, aku takut akan kesepian. Aku menerima penghinaan (lelaki) karena takut akan kesepian. Aku terpenjara kesepian sampai aku mengenalnya dan menjumpai kesepian sebagai keindahan yang menginspirasi. Kita dilahirkan dalam ketakutan, kita hidup dalam ketakutan, dan kita mati dalam ketakutan” (Zinah, 67-69).

Demikian pula, Shafi berdiri tegak ketika membela Zinah yang berhadapan dengan ketua Islam konservatif Ahmad yang mengharamkan segala musik apa lagi terkait dengan perempuan.

“Shafi Al-Dhabi menoleh ke arah mereka dan ikut campur dalam percakapan, suaranya berbisik dengan marah: Mengapa dilarang, Profesor Ahmad? Seni yang indah adalah anugerah dari Tuhan. Tuhan kita cantik dan menyukai keindahan. Bukankah begitu, Profesor.” (hal: 93).

Shafi menjadi semacam cermin bagi Badour, menunjukkan bagaimana seseorang bisa terus bertahan dan mencari makna meskipun menghadapi berbagai kegagalan dan kekecewaan. Atau dalam istilah lainnya sosok Shafi merepresentasikan ungkapan Women suport Women.

Kehidupan Pribadi dan Pergolakan Batin

Hal itu tak terlepas dari pengalaman hidup Shafi Al-Dhabi yang penuh lika-liku, pergolakan batin dan konflik. Berkaitan dengan cinta, Shafi jauh lebih pengalaman ketimbang Badur. Shafi banyak berhubungan dengan ragam latar lelaki, dari yang ateis sebagai kaum Marxis sampai yang kaum Islamis-fundamentalis hatta liberalis.

Saat muda dia menikah dengan seorang kawan universitas yang memiliki pandangan Marxisme. Pernikahan ini penuh dengan idealisme cinta dan kesetiaan, bahkan demi cinta Shafi rela keluar dari agamanya dan berpegang pada nilai-nilai Marxis sebagaimana ajaran Karl Marx dan Frederick Engels.

Lika-Liku dalam Biduk Rumah Tangga

Namun berakhir dengan pengkhianatan. Suaminya berselingkuh dengan Asisten Rumah Tangga (ART) mereka. Pengalaman pahit ini membuat Shafi meragukan nilai-nilai yang dulu dia pegang teguh: Marxisme.

Setelah perceraian, ia menikah lagi dengan seorang pria yang religius-Fundamentalis. Dia mengubah penampilannya dengan mengenakan jilbab dan mendalami agama, namun dua tahun kemudian suaminya yang religius juga tidak setia dan menggunakan agama sebagai pembenaran untuk poligami. Pengalaman ini membuat Shafi semakin skeptis terhadap moralitas yang dihubungkan dengan agama.

Tak berhenti di situ, ia juga mendapatkan pengkhianatan dari penulis liberalis setelah memutuskan menikah pasca perceraian keduanya. Shafi pun diminta untuk tidak terlalu ketat beragama sebagaimana ketika masih bersama suami keduanya yang fundamentalis.

Suami yang liberal berselingkuh dengan salah satu mahasiswi di universitasnya. Dalihnya, kebebasan sebagaimana nilai yang dianutnya. Suka sama suka dan keduanya adalah bebas tanpa terikat dengan pernikahan. Membuat Shafi terheran-heran dengan kebebasan macam apa. Dalam pergolakan itu, Shafi mengungkapkan puncak perasaannya.

أنا أبحث عن الرجل الذي يستحقُّني، لكنه لم يخلق بعد، ربما لن يكون مخلوقًا أبدًا

“Aku mencari seseorang yang pantas untukku tetapi ia belum terlahir atau bahkan tidak akan lahir selamanya” Tegas Shofi al-Dhabi, (Zinah, hal: 70).

Ungkapan itu sesungguhnya juga menuangkan perasaan Nawal el-Sa’dawi sebagai feminis yang mengupayakan tatanan masyarakat adil dan tidak patriarki. Sayangnya, saking menguatnya budaya patriarki dalam sendi-sendi kehidupan mulai dari politik, agama, sosial, maka seolah Nawal agak putus asa perjuangannya belum membuahkan hasil atau bahkan tak akan ada.

Sebagaimana lelaki yang pantas untuk Shafi sebagai simbol relasi kehidupan laki-laki dan perempuan.

Kritik Nawal el-Sa’dawi Melalaui Karakter Shafi al-Dhabi

Melalui karakter Safi Al-Dhabi, Nawal El Saadawi menyampaikan kritik sosial yang tajam terhadap patriarki, moralitas agama, dan ketidaksetaraan gender.

Dalam budaya patriarki, Nawal menyampaikan kritiknya melalui kisah percintaan Shafi yang senantiasa terkhianati. mulai dari kaum marxisme, islamis-fundamentalis, bahkan yang liberalis suka berbual di bawah nama Tuhan Allah kita, atau Tuhan Karl Marx.

Namun orang-orang Marxis lebih berhati-hati dibandingkan orang Islam. Mereka yang mengikuti Marxisme sadar dan terlatih dalam kerahasiaan dan kebohongan, namun mereka yang mengikuti Islam lebih sembrono. Ungkap Shafi. (Hal:110)

Shafi Simbol Perjuangan Perempuan

Safi adalah simbol dari perjuangan perempuan dalam masyarakat yang konservatif dan patriarkal. Dalam percakapannya dengan Badur, Safi menyuarakan pemikirannya tentang kebebasan, kesepian, dan kematian. Dia melihat kematian dan kesepian sebagai ilusi yang sering kali digunakan untuk menakut-nakuti manusia dan perempuan khususnya.

Pandangan filosofis ini menunjukkan kedalaman pemikiran Safi dan ketidakpuasannya dengan penjelasan-penjelasan sederhana yang diberikan oleh masyarakat dan agama.

Untuk menggambarkan Shafi al-Dhabi, bisa kita baca dari komentar psikiaternya Shafi.

 يقول بصوت حنون في أذنها: إنتي يا صافي إنسانة عظيمة، أستاذة عندها عقل. أي امرأة عندها عقل لا يمكن تجد الرجل يستحقها. كل الرجالة ورق، كلهم مرضى، كذابين منافقين مزدوجين وأنا واحد منهم، انتي أستاذة كبيره لكي اسمك ومؤلفاتك ومنصبك في الجامعة. الفلوس تروح وتيجي، الراجل يروح ويجي، كل شيء يروح ويجي إلا عقلك وشغلك وكتاباتك وصحتك

“Psikiaternya berkata dengan suara lembut di telinga Shafi: Shafi, kamu adalah orang yang hebat, seorang profesor yang berakal cerdik. Perempuan mana pun yang berakal tidak dapat menemukan pria yang pantas mendapatkannya. Semua laki-laki adalah kertas, mereka semua sakit, pembohong ganda, munafik, dan saya salah satu dari mereka. Anda adalah profesor yang hebat karena nama Anda, buku Anda, dan posisi Anda di universitas. Uang datang dan pergi, manusia datang dan pergi, segalanya datang dan pergi kecuali pikiran Anda, pekerjaan Anda, tulisan Anda, dan kesehatan Anda”. (Zinah, hal: 100). []

Tags: Budaya PatriarkifeminismeGenderkeadilanKesetaraanMesirNawal El ShaadawiNovel zinah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Program Keluarga Berencana di Kota Magelang dalam Perspektif Mubadalah

Next Post

Kasih Sayang Ibu Kepada Anak Sejak dalam Kandungan

Moh Soleh Shofier

Moh Soleh Shofier

Dari Sampang Madura

Related Posts

Keadilan
Pernak-pernik

Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

14 Maret 2026
Keadilan Mubadalah
Pernak-pernik

Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

13 Maret 2026
Perspektif Mubadalah
Pernak-pernik

Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

13 Maret 2026
Muslimah yang Diperdebatkan
Buku

Muslimah yang Diperdebatkan; Antara Simbol Kesalihan dan Sunyi Keadilan

13 Maret 2026
Skandal Kekuasaan
Publik

Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

12 Maret 2026
Ketaatan Suami Istri
Pernak-pernik

Ketaatan dalam Relasi Suami Istri Harus Berlandaskan Keadilan

11 Maret 2026
Next Post
Kasih Sayang Ibu

Kasih Sayang Ibu Kepada Anak Sejak dalam Kandungan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan
  • Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa
  • Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah
  • Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi
  • Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0