Mubadalah.id – Memasuki fase menuju dewasa sering kali tidak tertandai oleh kepastian, melainkan oleh kebingungan. Banyak individu, terutama generasi muda, berada pada titik kehidupan di mana emosi terasa naik-turun, tuntutan sosial semakin menekan, dan arah hidup belum sepenuhnya jelas. Fase ini bukan sekadar persoalan psikologis individual, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur sosial yang berubah cepat serta pencarian makna hidup yang lebih dalam.
Labilitas Emosi sebagai Gejala Fase Transisi Kehidupan
Labilitas emosi kerap kita pahami sebagai ketidakmampuan mengelola perasaan secara matang. Namun, dalam perspektif psikologi perkembangan, kondisi ini justru merupakan gejala yang lazim pada fase transisi menuju dewasa.
Individu berada di antara dua dunia: tidak lagi sepenuhnya bergantung seperti masa remaja, tetapi juga belum mapan secara emosional, ekonomi, maupun identitas diri. Peralihan peran sosial ini menimbulkan konflik batin yang memengaruhi stabilitas emosi.
Fase ini sering kita sebut sebagai masa pencarian identitas. Individu berhadapan dengan berbagai pilihan hidup yang memiliki konsekuensi jangka panjang, seperti pendidikan, karier, dan relasi. Ketidakpastian dalam mengambil keputusan tersebut memicu kecemasan, rasa takut gagal, hingga perasaan tidak cukup baik. Emosi menjadi mudah berubah karena individu belum memiliki kerangka diri yang kokoh untuk menilai pengalaman hidupnya.
Labilitas emosi juga tidak dapat terlepaskan dari kondisi sosial yang cair. Perubahan sosial yang cepat, kompetisi yang ketat, dan standar keberhasilan yang serba instan memperbesar tekanan psikologis. Individu tidak hanya berhadapan dengan ekspektasi pribadi, tetapi juga dengan tuntutan kolektif yang kerap tidak realistis. Oleh karena itu, mengontrol emosi bukan berarti menekan atau meniadakan perasaan negatif, melainkan memahami bahwa emosi tersebut adalah respons wajar atas situasi transisi yang kompleks.
Upaya mengontrol labilitas emosi dapat kita mulai dengan kesadaran diri. Mengenali pemicu emosi, menerima ketidakpastian sebagai bagian dari proses hidup, dan memberi ruang untuk refleksi merupakan langkah awal yang penting. Dalam kerangka keislaman, kesadaran ini sejalan dengan konsep muhasabah, yakni refleksi diri yang membantu individu memahami kondisi batin dan memperbaiki sikap secara bertahap.
Tekanan Sosial dan Konstruksi Makna Kesuksesan
Tekanan sosial menjadi faktor utama yang memperberat labilitas emosi pada fase menuju dewasa. Masyarakat modern cenderung membangun narasi kesuksesan yang sempit dan seragam: usia tertentu harus sudah mapan, memiliki pekerjaan tetap, atau mencapai status sosial tertentu. Narasi ini membentuk standar normatif yang sering kali tidak mempertimbangkan keragaman latar belakang dan ritme kehidupan individu.
Tekanan sosial bekerja melalui mekanisme perbandingan sosial. Media sosial memperkuat mekanisme ini dengan menampilkan potongan-potongan kehidupan yang tampak ideal. Individu kemudian menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain, bukan berdasarkan proses dan konteks pribadinya. Akibatnya, muncul perasaan tertinggal, rendah diri, dan cemas yang berdampak langsung pada kestabilan emosi.
Tekanan sosial dapat menggerus otonomi individu. Keputusan hidup tidak lagi diambil berdasarkan nilai dan minat personal, melainkan demi memenuhi ekspektasi eksternal. Ketika pilihan hidup tidak selaras dengan keinginan batin, konflik internal pun muncul. Emosi menjadi tidak stabil karena individu menjalani hidup yang tidak sepenuhnya ia pahami atau yakini.
Islam menempatkan manusia sebagai subjek yang bertanggung jawab atas ikhtiarnya, bukan semata-mata hasil yang tampak. Konsep rezeki, misalnya, tidak hanya kita pahami dalam arti material, tetapi juga sebagai kecukupan dan ketenangan batin. Dengan kerangka ini, kesuksesan tidak lagi terukur secara tunggal, melainkan sebagai proses menjalani hidup dengan nilai, etika, dan niat yang benar.
Mengontrol tekanan sosial berarti membangun jarak kritis terhadap standar yang dipaksakan. Individu perlu memilah mana tuntutan yang relevan dengan nilai hidupnya dan mana yang sekadar konstruksi sosial. Sikap ini tidak hanya melindungi kesehatan mental, tetapi juga membantu membentuk identitas dewasa yang lebih otonom dan bermakna.
Jalan Hidup yang Belum Terpetakan sebagai Ruang Pertumbuhan
Ketidakjelasan jalan hidup sering kita persepsikan sebagai kegagalan atau kekurangan perencanaan. Padahal, dalam kenyataannya, banyak aspek kehidupan dewasa yang memang tidak dapat dipetakan secara pasti. Perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan personal membuat rencana hidup bersifat dinamis. Ketidakpastian ini justru dapat menjadi ruang pertumbuhan jika disikapi dengan cara yang tepat.
Menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan linear membantu individu mengurangi tekanan perfeksionisme. Ketika kegagalan atau perubahan arah dipahami sebagai bagian dari proses belajar, emosi negatif dapat dikelola dengan lebih sehat. Individu tidak lagi melihat dirinya sebagai “tersesat”, melainkan sebagai “sedang mencari”.
Jalan hidup yang belum terpetakan mencerminkan realitas masyarakat modern yang semakin kompleks. Tidak semua orang mengikuti jalur pendidikan, pekerjaan, dan keluarga yang seragam. Keragaman ini menuntut fleksibilitas dan kemampuan adaptasi. Kedewasaan, dalam hal ini, bukan soal mencapai titik tertentu, melainkan kemampuan menavigasi perubahan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Ketidakpastian jalan hidup dapat kita maknai sebagai ujian dan amanah. Konsep tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menyerahkan hasil kepada Tuhan setelah melakukan ikhtiar terbaik. Sikap ini memberi ketenangan batin di tengah ketidakpastian, sekaligus mendorong individu untuk tetap aktif dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Mengontrol labilitas emosi, tekanan sosial, dan ketidakpastian jalan hidup pada akhirnya bukan tentang mencapai kontrol sempurna, melainkan tentang membangun relasi yang sehat dengan diri sendiri dan realitas sosial.
Fase menuju dewasa adalah proses yang penuh dinamika, di mana emosi, tekanan, dan kebingungan saling berkelindan. Dengan kesadaran psikologis, pemahaman sosiologis, dan refleksi keislaman, proses pendewasaan dapat dijalani bukan sebagai beban, melainkan sebagai perjalanan pembentukan makna hidup yang lebih utuh. []


















































