Mubadalah.id – Kemarin, Senin 2 Februari 2026 saat berbincang dalam rapat redaksi Media Mubadalah bersama Founder Mubadalah.id Dr Faqihuddin Abdul Kodir, ada satu pertanyaan mengemuka yang beliau ajukan. Apa before dan after setelah program penguatan hak-hak disabilitas melalui penulisan artikel populer dan konten kreatif bergulir dalam satu tahun terakhir ini?
Bagi saya, tentu saja banyak perubahan yang saya alami, terutama cara pandang untuk melihat isu disabilitas ini menjadi bukan sesuatu yang liyan, atau berdiri sendiri. Ia terintegrasi dengan seluruh isu kemanusian dan keadilan gender dalam Islam.
Mereka yang terpinggirkan, teraniaya, tersakiti, tidak terlihat, tak nampak dan tidak pernah kita perhitungkan sejatinya adalah kelompok rentan yang wajib kita bela, dan kita dukung hak-haknya agar setara, dan berdaya.
Namun ada hal lain yang menggelitik perhatian saya ketika mengingat tentang sejarah difabel di dunia. Bagaimana konsepsi difabel ini mengalami perubahan, dari sesuatu yang tak kita anggap, menjadi bagian penting dalam peradaban kemanusiaan. Saya tuliskan dalam catatan ini, dengan materi yang saya baca dari Jurnal Perempuan edisi No. 65 tahun 2010 denan tema “Mencari Ruang untuk Difabel.”
Difabel dalam Sejarah Yunani
Dahulu kala, bangsa Yunani sangat mendamba akan keperkasaan tubuh. Kota menjadi satu wilayah di mana imaji-imaji tubuh terekspresikan. Berbagai tempat seperti tempat ibadah, tempat musyawarah, sekolah, teater dan tempat olah raga mereka atur dengan rapi dengan dasar pada konsep tubuh secara umum.
Ini satu catatan penting difabel dalam sejarah Yunani, ketika tubuh-tubuh dalam masyarakat merupakan cerminan dari sebuah dunia di luar dunia, tempat bersemayam para dewa. Bahkan umumnya tubuh adalah cerminan bagi para dewa itu sendiri, seperti halnya dalam banyak mitos yang berkembang di Yunani. Oidipus, yang mesti membutakan matanya, atau mitos Hapaestus yang selalu direndahkan Dewi Aphrodite, mereka mendamba sekali kesempurnaan tubuh.
Tubuh-tubuh perkasa terpamerkan di Parthenon dan di berbagai sudut kota. Pendidikan Gymnasium yang merupakan tempat untuk para calon pejabat juga mengedepankan keperkasaan tubuh, demi sebuah kepentingan yang tengah menjadi populer saat itu. Seni berperang dan kompetisi dalam Olimpic Game.
Bahkan Plato, filosof yang banyak berpengaruh dalam pemikiran Barat hingga sekarang, juga menghendaki pengenyahan difabel. Baginya, seorang pemimpin mesti seorang filsuf, karena hanya filsuf yang mengerti akan kebenaran dan mengerti banyak hal tentang ilmu pengetahuan.
Lebih dari itu, Plato lebih mendamba sebuah kota sebagaimana Sparta, sebuah kota yang kuat, disipliner dan militeris. Di Sparta anak-anak difabel mereka anggap sebagai barang yang tidak berguna. Untuk itu, bayi yang lahir mereka umumkan ke publik. Setiap bayi yang lahir mesti diserahkan kepada hakim tua yang mereka sebut “Gerousia”, untuk teruji kesempurnaan tubuhnya.
Jika terbukti sehat dan kuat dan tidak ada kecacatan, maka akan mereka umumkan dan sang bapak berhak untuk membawanya pulang untuk mengasuh. Namun sebaliknya, jika mereka temukan terdapat kecacatan keburukan, maka dengan segera akan mereka tinggalkan, kemudian dibawa ke kaki gunung Tegatos untuk mereka bunuh.
Menjalar ke Bangsa Romawi
Konsepsi difabel yang berkembang dalam masyarakat Yunani menjalar ke berbagai peradaban dunia. Demikian halnya dengan masyarakat Roma, sebuah bangsa yang sangat militeristik. Pada zaman itu, difabel sangat melekat dengan budak, sering pula terasosiasikan sebagai orang idiot.
Selain itu, kita temukan pula bahwa difabel sering menjadi ledekan dan lelucon, terutama budak yang difabel. Sebuah pesta makan, atau biasa disebut Petronius, selalu saja menghadirkan budak yang mempunyai mata juling atau budak difabel.
Dalam sebuah acara makan-makan tidak asik jika tanpa kehadiran difabel untuk mereka jadikan lawak sebagai penggibur. Bahkan harga budak bisa sampai 20.000 (sesterce-jenis uang saat itu) bila budak tersebut bisa pura-pura menjadi idiot.
Roma merupakan sebuah peradaban penting yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan Eropa. Negeri ini terbangun berdasar atas kemenangan armada terbesar dalam sejarah militer. Puncak kejayaan Roma sekitar 202 SM, yaitu ketika Karthago, sebuah kekuatan terbesar di wilayah meditarian, dibumihanguskan.
Lalu Roma menjadi salah satu peradaban yang kokoh. Aliran pemikiran yang dominan tereksplorasi lebih dalam lagi menyangkut soal tubuh dalam pandangan masyarakat Roma. Karena kekuatan militer Roma ini pula Machiavelli sering merujuk dan mempunyai kekaguman yang luar biasa.
Bangsa Romawi, sebagaimana bangsa Yunani juga melakukan pembunuhan bayi (infanticide) yang sakit-sakitan, cacat dan dianggap lemah. Bahkan tak segan-segan bayi-bayi difabel ini dihanyutkan di sungai Tiber. Jika ditemukan orang-orang yang pendek ukurannya, cebol, tunarungu, mereka selalu saja menjadi bahan lelucon dan ukuran-ukuran untuk sesuatu yang dianggap hina.
Orang-orang cebol, tunanetra juga tak jarang sering menjadi permainan “tontonan” pertarungan yang biasa mereka tandingkan dengan perempuan atau hewan sebagai bahan-bahan lelucon dan hiburan. Memang terdapat tokoh Kaisar Claudous yang berhasil lolos dari pembunuhan saat bayi, karena posisinya yang dibesarkan dari keluarga kalangan bangsawan tertinggi pada zamannya.
Sekalipun begitu, dalam sejarah Romawi, kaisar ini juga masih menjadi rujukan keburukan dan dianggap mencederai kemuliaan keturunan raja. Antonia, sang ibu dari Claudous, tak segan-segan mengatakan bahwa anaknya pada hakikatnya merupakan manusia yang sepenuhnya belum “menjadi” atau baru terselesaikan setengah menjadi manusia.
Lalu bagaimana dengan sejarah difabel di belahan dunia lainnya? Nantikan pada penulisan artikel berikutnya! []






































