Selasa, 30 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    Kesuburan

    4 Faktor yang Dapat Menurunkan Kesuburan Laki-Laki dan Perempuan

    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    Kesuburan

    4 Faktor yang Dapat Menurunkan Kesuburan Laki-Laki dan Perempuan

    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Disabilitas

Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

Bangsa Romawi, sebagaimana bangsa Yunani juga melakukan pembunuhan bayi (infanticide) yang sakit-sakitan, cacat dan dianggap lemah.

Zahra Amin by Zahra Amin
4 Februari 2026
in Disabilitas
A A
0
Difabel dalam Sejarah Yunani

Difabel dalam Sejarah Yunani

29
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kemarin, Senin 2 Februari 2026 saat berbincang dalam rapat redaksi Media Mubadalah bersama Founder Mubadalah.id Dr Faqihuddin Abdul Kodir, ada satu pertanyaan mengemuka yang beliau ajukan. Apa before dan after setelah program penguatan hak-hak disabilitas melalui penulisan artikel populer dan konten kreatif bergulir dalam satu tahun terakhir ini?

Bagi saya, tentu saja banyak perubahan yang saya alami, terutama cara pandang untuk melihat isu disabilitas ini menjadi bukan sesuatu yang liyan, atau berdiri sendiri. Ia terintegrasi dengan seluruh isu kemanusian dan keadilan gender dalam Islam.

Mereka yang terpinggirkan, teraniaya, tersakiti, tidak terlihat, tak nampak dan tidak pernah kita perhitungkan sejatinya adalah kelompok rentan yang wajib kita bela, dan kita dukung hak-haknya agar setara, dan berdaya.

Namun ada hal lain yang menggelitik perhatian saya ketika mengingat tentang sejarah difabel di dunia. Bagaimana konsepsi difabel ini mengalami perubahan, dari sesuatu yang tak kita anggap, menjadi bagian penting dalam peradaban kemanusiaan. Saya tuliskan dalam catatan ini, dengan materi yang saya baca dari Jurnal Perempuan edisi No. 65 tahun 2010 denan tema “Mencari Ruang untuk Difabel.”

Difabel dalam Sejarah Yunani

Dahulu kala, bangsa Yunani sangat mendamba akan keperkasaan tubuh. Kota menjadi satu wilayah di mana imaji-imaji tubuh terekspresikan. Berbagai tempat seperti tempat ibadah, tempat musyawarah, sekolah, teater dan tempat olah raga mereka atur dengan rapi dengan dasar pada konsep tubuh secara umum.

Ini satu catatan penting difabel dalam sejarah Yunani, ketika tubuh-tubuh dalam masyarakat merupakan cerminan dari sebuah dunia di luar dunia, tempat bersemayam para dewa. Bahkan umumnya tubuh adalah cerminan bagi para dewa itu sendiri, seperti halnya dalam banyak mitos yang berkembang di Yunani. Oidipus, yang mesti membutakan matanya, atau mitos Hapaestus yang selalu direndahkan Dewi Aphrodite, mereka mendamba sekali kesempurnaan tubuh.

Tubuh-tubuh perkasa terpamerkan di Parthenon dan di berbagai sudut kota. Pendidikan Gymnasium yang merupakan tempat untuk para calon pejabat juga mengedepankan keperkasaan tubuh, demi sebuah kepentingan yang tengah menjadi populer saat itu. Seni berperang dan kompetisi dalam Olimpic Game.

Bahkan Plato, filosof yang banyak berpengaruh dalam pemikiran Barat hingga sekarang, juga menghendaki pengenyahan difabel. Baginya, seorang pemimpin mesti seorang filsuf, karena hanya filsuf yang mengerti akan kebenaran dan mengerti banyak hal tentang ilmu pengetahuan.

Lebih dari itu, Plato lebih mendamba sebuah kota sebagaimana Sparta, sebuah kota yang kuat, disipliner dan militeris. Di Sparta anak-anak difabel mereka anggap sebagai barang yang tidak berguna. Untuk itu, bayi yang lahir mereka umumkan ke publik. Setiap bayi yang lahir mesti diserahkan kepada hakim tua yang mereka sebut “Gerousia”, untuk teruji kesempurnaan tubuhnya.

Jika terbukti sehat dan kuat dan tidak ada kecacatan, maka akan mereka umumkan dan sang bapak berhak untuk membawanya pulang untuk mengasuh. Namun sebaliknya, jika mereka temukan terdapat kecacatan keburukan, maka dengan segera akan mereka tinggalkan, kemudian dibawa ke kaki gunung Tegatos untuk mereka bunuh.

Menjalar ke Bangsa Romawi

Konsepsi difabel yang berkembang dalam masyarakat Yunani menjalar ke berbagai peradaban dunia. Demikian halnya dengan masyarakat Roma, sebuah bangsa yang sangat militeristik. Pada zaman itu, difabel sangat melekat dengan budak, sering pula terasosiasikan sebagai orang idiot.

Selain itu, kita temukan pula bahwa difabel sering menjadi ledekan dan lelucon, terutama budak yang difabel. Sebuah pesta makan, atau biasa disebut Petronius, selalu saja menghadirkan budak yang mempunyai mata juling atau budak difabel.

Dalam sebuah acara makan-makan tidak asik jika tanpa kehadiran difabel untuk mereka jadikan lawak sebagai penggibur. Bahkan harga budak bisa sampai 20.000 (sesterce-jenis uang saat itu) bila budak tersebut bisa pura-pura menjadi idiot.

Roma merupakan sebuah peradaban penting yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan Eropa. Negeri ini terbangun berdasar atas kemenangan armada terbesar dalam sejarah militer. Puncak kejayaan Roma sekitar 202 SM, yaitu ketika Karthago, sebuah kekuatan terbesar di wilayah meditarian, dibumihanguskan.

Lalu Roma menjadi salah satu peradaban yang kokoh. Aliran pemikiran yang dominan tereksplorasi lebih dalam lagi menyangkut soal tubuh dalam pandangan masyarakat Roma. Karena kekuatan militer Roma ini pula Machiavelli sering merujuk dan mempunyai kekaguman yang luar biasa.

Bangsa Romawi, sebagaimana bangsa Yunani juga melakukan pembunuhan bayi (infanticide) yang sakit-sakitan, cacat dan dianggap lemah. Bahkan tak segan-segan bayi-bayi difabel ini dihanyutkan di sungai Tiber. Jika ditemukan orang-orang yang pendek ukurannya, cebol, tunarungu, mereka selalu saja menjadi bahan lelucon dan ukuran-ukuran untuk sesuatu yang dianggap hina.

Orang-orang cebol, tunanetra juga tak jarang sering menjadi permainan “tontonan” pertarungan yang biasa mereka tandingkan dengan perempuan atau hewan sebagai bahan-bahan lelucon dan hiburan. Memang terdapat tokoh Kaisar Claudous yang berhasil lolos dari pembunuhan saat bayi, karena posisinya yang dibesarkan dari keluarga kalangan bangsawan tertinggi pada zamannya.

Sekalipun begitu, dalam sejarah Romawi, kaisar ini juga masih menjadi rujukan keburukan dan dianggap mencederai kemuliaan keturunan raja. Antonia, sang ibu dari Claudous, tak segan-segan mengatakan bahwa anaknya pada hakikatnya merupakan manusia yang sepenuhnya belum “menjadi” atau baru terselesaikan setengah menjadi manusia.

Lalu bagaimana dengan sejarah difabel di belahan dunia lainnya? Nantikan pada penulisan artikel berikutnya! []

Tags: AksesibilitasDifabel dalam Sejarah YunaniduniaHak Penyandang DisabilitasRelasisejarahstigma
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

Next Post

Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

Zahra Amin

Zahra Amin

Zahra Amin Perempuan penyuka senja, penikmat kopi, pembaca buku, dan menggemari sastra, isu perempuan serta keluarga. Kini, bekerja di Media Mubadalah dan tinggal di Indramayu.

Related Posts

Rumah Tangga yang
Pernak-pernik

Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

29 Juni 2026
Kursi Roda
Disabilitas

Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

29 Juni 2026
Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah
Film

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Apakah Ibu Harus Selalu Menjadi Paling Kuat dalam Keluarga?

29 Juni 2026
Trotoar Disabilitas
Disabilitas

Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

27 Juni 2026
Film Taare Zameen Par
Disabilitas

Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

27 Juni 2026
Sakinah
Keluarga

Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

27 Juni 2026
Next Post
Haji Wada'

Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

No Result
View All Result

TERBARU

  • Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara
  • Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas
  • Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
  • Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Apakah Ibu Harus Selalu Menjadi Paling Kuat dalam Keluarga?
  • Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0