Mubadalah.id – Ramadan ini Mubadalah.id menyelanggarakan kajian ramadan tematik progresif berjudul “Over Think Club” yang mengusung tema berpikir kritis, berserah dengan sadar. Kajian ramadan Over Think Club mengangkat beberapa isu seperti pernikahan, child grooming, disabilitas dalam perspektif KUPI, serta kesehatan mental dalam perspektif Mubadalah.
Dengan senang hati saya dapat mengikuti salah satu kajian kesehatan mental dalam perspektif Mubadalah.id yang difasilitasi oleh Kak Hijroatul Maghfiroh sebagai narasumber dan kak Halimah, Kak Atika, serta Kak Nafisa sebagai penanggap.
Mencatat Pengalaman Kesehatan Mental
Pukul 13.19 kemarin, Kak Zahra menghubungi saya untuk reminder kajian Mubadalah. Wah, saat itu saya bersyukur sekali karena saya pastilah akan melewatkan kajian tersebut jika tidak ada yang mengingatkan. Saat memasuki ruangan virtual zoom, banyak peserta yang mulai berdiskusi dengan narasumber. Meskipun telat hampir 20 menit lamanya, saya tetap bisa menikmati kajian dengan serius.
Ada yang unik dalam kajian Over Think Klub yang saya ikuti. Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan narasumber terkait dengan permasalahan atau isu yang sedang dihadapi. Misalnya, beberapa kontributor Mubadalah yang ikut hadir berdiskusi mengenai quarter life crisis, middle life crisis, keresahan akan dampak politik, karir, dan masih banyak lain.
Saat mendengarkan diskusi, saya jadi menyadari bahwa setiap manusia pasti memiliki struggle atau kesulitan yang berbeda-beda. Kehadiran kajian Over Think Club berupaya memeluk saya, bahwa saya sedang tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan. Hal inilah yang sebetulnya saya suka dengan kajian Mubadalah. Mubadalah memberikan fasilitas dan ruang aman untuk kami dapat bercerita dan berdiskusi tanpa penghakiman. Saya rasa, kita perlu lebih banyak ruang-ruang aman digital serupa.
Ketika kesempatan saya berbicara dimulai, saya banyak berdiskusi mengenai keresahan akan arah hidup. benar-benar apa yang saya rasakan saat ini membuat hati, perasaan, pikiran, dan mental yang kurang nyaman. Sebetulnya, saya menyadari bahwa hampir setiap orang mengalami fase yang serupa.
Namun, setiap kesulitan yang dihadapi masing-masing orang tentu berbeda-beda. Hal inilah yang membuat saya kerap kali kehilangan “clue” dalam menghadapi dinamika kehidupan. Tak mudah memang, tapi setiap perjalanannya adalah bentuk pembelajaran hidup.
Menyikapi Keresahan dengan Pendekatan Mubadalah
Kak Firoh menanggapi keresahan saya dengan cara yang menenangkan dan penuh refleksi. Ia mengatakan bahwa kemampuan untuk memikirkan dan merefleksikan hidup sejak usia muda sudah merupakan hal yang sangat baik. Menurutnya, menyadari adanya masalah dalam diri sekaligus mencari jalan keluarnya merupakan langkah penting dalam proses bertumbuh.
Beliau juga menjelaskan bahwa terlalu banyak referensi tentang kesuksesan, karier, atau pencapaian orang lain kadang justru membuat seseorang merasa tertekan. Ketika terus membandingkan diri dengan orang lain, seseorang dapat merasa harus mengikuti standar tertentu. Padahal setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Karena itu, membuat rencana hidup seperti milestone lima atau sepuluh tahun boleh saja kita lakukan, tetapi tidak perlu menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Kak Firoh kemudian menceritakan pengalaman hidupnya. Ia merasa cara pandangnya banyak terpengaruhi oleh orang tuanya. Ibunya sering mengatakan bahwa kuliah bukan semata-mata untuk mencari pekerjaan atau uang, melainkan agar seseorang memiliki pengetahuan sehingga tidak mudah dibodohi. Pesan sederhana tersebut terus beliau ingat hingga sekarang dan membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan.
Dalam menjalani hidup, beliau berusaha menerima hal-hal yang tidak bisa beliau kendalikan dan fokus pada hal-hal yang dapat beliau lakukan. Beliau juga menyampaikan bahwa beliau bukan orang yang sangat kompetitif, sehingga tidak terlalu terdistraksi oleh pencapaian orang lain. Bagi beliau, setiap orang memiliki proses hidup yang berbeda.
Konsep Kesehatan Mental dalam Perspektif Mubadalah
Dalam perspektif mubadalah, kesehatan mental dapat kita pahami sebagai hasil dari hubungan yang saling mendukung satu sama lain. Setiap orang memiliki peran untuk menghadirkan dukungan bagi orang lain. Sikap saling mendengar, memahami perasaan, serta memberi perhatian dapat membantu seseorang merasa lebih tenang. Dukungan timbal balik atau mutual support menjadi unsur penting agar seseorang merasa mendapatkan dukungan dalam menghadapi tekanan hidup.
Perspektif mubadalah juga memandang relasi manusia sebagai kemitraan yang setara. Laki-laki dan perempuan memiliki hak dan tanggung jawab yang seimbang dalam merawat kesehatan mental diri dan pasangan. Keduanya dapat saling berbagi cerita, saling menguatkan, serta menghadapi persoalan hidup secara bersama. Relasi yang setara menghadirkan rasa aman dan kepercayaan dalam hubungan.
Empati dan komunikasi yang terbuka juga memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental. Ketika seseorang mengalami stres atau kelelahan batin, kehadiran orang lain yang mau mendengarkan dapat membantu meringankan beban perasaan.
Dalam ajaran Islam, merawat diri termasuk bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup. Istirahat yang cukup, menjaga kesehatan tubuh, serta menenangkan pikiran melalui ibadah dan refleksi batin menjadi bentuk perawatan diri atau self-care. Upaya tersebut membantu seseorang menjaga ketenangan jiwa dan kesiapan dalam menjalani aktivitas sosial.
Perspektif mubadalah juga mengajak masyarakat melihat kesehatan mental dengan sikap peduli. Kondisi kesehatan mental dapat kita pahami sebagai pengalaman manusia yang membutuhkan perhatian dan dukungan bersama. Pendampingan, empati, serta bantuan dari lingkungan sekitar membantu seseorang melalui masa sulit.
Refleksi
Ke depan, saya rasa isu kesehatan mental akan terus berkembang dan terus masyarakat butuhkan. Terlebih, isu kesehatan mental bukanlah suatu hal yang dapat diremehkan karena menyangkut kesehatan individu. Mungkin, jika kita bayangkan apabila generasi muda Indonesia banyak terjebak dalam krisis kesehatan mental, tentunya akan berdampak pada pembangunan masyarakat.
Oleh karenanya, semoga perhatian terhadap kesehatan mental semakin kuat di berbagai lingkungan. Keluarga, sekolah, komunitas, serta lembaga masyarakat dapat menjadi ruang yang aman untuk saling mendengar dan saling menguatkan. Dukungan timbal balik dalam relasi sehari-hari membantu setiap orang merasa dihargai dan diterima. []






































