Senin, 16 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Patah Hati? Begini 7 Cara Stoikisme dalam Menyikapinya, Yuk Simak!

Patah hati hanyalah sedikit dari permasalahan kehidupan yang kompleks ini. Al-Quran sendiri telah menjelaskan bahwa mungkin ada beberapa hal yang menurutmu baik, namun tidak menurut Allah

Muhammad Nasruddin by Muhammad Nasruddin
16 Maret 2023
in Personal
A A
0
Patah Hati

Patah Hati

32
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Patah hati bagi sebagian orang mungkin menjadi hal yang sangat ditakuti. Dan bagi sebagian yang lain mungkin telah menjadi kewajaran sehingga tidak perlu dicemasi. Patah hati tidak bisa terlepas dari kehidupan percintaan, khususnya para remaja yang mulai menginjak usia dewasa.

Bagi sebagian orang mungkin begitu mudah untuk menaruh cinta. Karena pada dasarnya cinta adalah anugerah yang kita tidak bisa menolaknya. Namun kita juga tidak memaksa orang lain untuk menaruh rasa yang sama karena itu di luar kendali kita.

Patah hati sendiri biasanya terjadi karena urusan cinta yang tertolak maupun putusnya sebuah hubungan. Dan semua itu terjadi di luar keinginan.

Mungkin poin kedua yang saya sebutkan tadi memiliki dampak yang cukup signifikan daripada poin pertama. Patah hati bisa mengguncang sisi emosional, psikologi, dan kesehatan. Rasa kekecewaan yang mendalam, kesedihan, kekhawatiran, maupun kebencian dalam tahap akut dapat menggiring seseorang melakukan suatu hal yang tidak ia inginkan, bahkan ada keinginan bunuh diri.

Apakah Salingers pernah mengalami patah hati? Lantas bagaimana cara menyikapinya?

Ngaji Filsafat oleh Dr.Fahrudin Faiz edisi 385 kemarin membincang tentang patah hati perspektif stoikisme. Dari sini ia memaparkan bagaimana tokoh-tokoh stoic (sebutan bagi penganut stoikisme) memiliki ketangguhan hati dan jiwa dalam menghadapi permasalahan hidup, termasuk patah hati.

Apa itu Stoikisme?

Secara historis, stoikisme adalah aliran filsafat Yunani Kuno yang dikenal sejak awal abad ke-3 SM. Aliran ini didirikan oleh seorang filsuf Yunani, Zeno dari Kota Citium.

Menurut kamus Stanford Encyclopedia of Philosphy, “Stoic” berasal dari kata teras. Hal ini karena pada mulanya stoikisme diajarkan kepada para pengikutnya di tangga Agora di Athena. Orang Yunani dahulu sering memberikan nama pada sekolah filsafat berdasarkan dari tempat di mana ajaran tersebut disampaikan.

Dari sini kemudian muncul buku best seller “Filosofi Teras” karya anak bangsa, Henry Manampiring yang mungkin kamu sudah membacanya.

Pada umumnya stoikisme merupakan aliran filsafat yang mengajarkan supaya manusia mampu mengontrol emosinya dan bersyukur atas segala ketetapan yang telah terjadi.

Melalui stoikisme kita diajarkan untuk menerima kenyataan hidup dengan lebih rasional. Dengan demikian, sebagaimana tujuan utama dari aliran ini, yakni penguasaan diri, jiwa kita akan lebih tenang, memiliki ketahanan mental, dan emosi yang seimbang.

Dalam aliran ini juga mengajarkan tentang dikotomi kendali, yakni mana bagian hidup yang dapat kita kendalikan dan mana yang tidak dapat kita kendalikan. Orang-orang stoic diajarkan untuk fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Hal itu karena semakin kita berusaha mengendalikan apa yang berada di luar kendali, hanya rasa frustasi, kecewa, bahkan patah hati yang akan kita terima.

Stoikisme = Toxic Positivity?

Jika stoic berbicara tentang kemampuan merespons keadaan dengan rasional apakah tidak berbeda dengan toxic positivity? Mungkin itu pertanyaan yang ingin kamu tanyakan.

Yang perlu kita pahami bahwa toxic positivity merupakan sikap yang selalu menuntut diri sendiri ataupun orang lain untuk mempunyai pikiran dan emosi positif meski sedang berada dalam situasi yang buruk.

Berpikir positif yang berlebihan dengan mengesampingkan emosi negatif dapat mengakibatkan seseorang sukar untuk meluapkan emosi yang sebenarnya terjadi. Emosi yang sudah menumpuk dan tidak bisa kita luapkan ini lebih jauh dapat mengakibatkan gangguan mental seperti post traumatic disorder (PSTD), anxiety, dan sebagainya.

Tentu ini berbeda dengan stoikisme. Orang-orang stoic akan menerima kenyataan yang sebenarnya dengan penuh kesadaran. Bukan berpura-pura tidak merasa. Misalnya ketika patah hati kita tentu merasa jengkel, sakit, dan kecewa. Kita harus mengakui bahwa hal tersebut benar adanya, namun selanjutnya kita harus dapat mengendalikan rasa tersebut.

Ada beberapa tahapan bagi orang stoic dalam menerima kenyataan. Pertama, paham dan sadar; kedua, menerima rasa dan pengalaman; ketiga, mengendalikan diri; keempat, memberi yang terbaik, dan kelima adalah belajar untuk lebih baik.

Menyikapi Patah Hati dengan Stoikisme

Bagi kamu yang pernah mengalami patah hati, sedih boleh, namun jangan sampai berlarut-larut. Berikut ada 7 tips menyikapi patah hati ala stoikisme, yuk simak!

Menyadari Kenyataan Hidup

Sadar atau tidak, segala sesuatu terjadi dengan pola tersendiri. Misalnya setiap pertemuan tentu akan ada perpisahan, setiap suka tentu ada duka, setiap kesulitan tentu bersama dengan kemudahan, dan masih banyak lagi.

Seperti kata Marcus Aurelius bahwa hidup akan terus berubah dan perubahan akan terus-menerus mengubah dunia, seperti perkembangan waktu yang tak henti-hentinya mengubah keabadian. Dari perubahan tersebut bakal ada yang hilang, dan ada pula yang hadir. Kita harus menyadari dan menerimanya. Misalnya kita memiliki seorang kekasih. Kita harus sadar bahwa pada saatnya kita akan berpisah, dan itu adalah sunatullah yang tidak bisa dihindari.

Cintamu Bukan Milikmu

Sebagaimana kehidupan, segalanya hanyalah titipan. Cinta memang sebuah anugerah yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Namun cinta juga termasuk titipan. Suatu saat dapat diambil oleh pemiliknya jika waktunya sudah habis. Dan kita harus menyadari dan menerimanya.

Ada yang di Luar Kuasamu

Epictetus pernah berkata, “Kebahagiaan dan kebebasan dimulai dengan pemahaman yang jelas tentang satu prinsip. Beberapa hal berada dalam kendali kita dan beberapa tidak. Hanya setelah kita pahami aturan mendasar ini dan belajar membedakan antara apa yang kita bisa dan tidak bisa kita kendalikan, ketenangan batin dan keefektifan menjadi mungkin”.

Salah satu prinsip dalam stoikisme adalah adanya pemahaman terhadap dikotomi kendali. Ada beberapa hal yang berada dalam kendali dan beberapa hal di luar kendali. Kebahagiaan yang selalu kita dambakan dapat diperoleh dari penguasaan terhadap apa yang dapat kita kendalikan. Sedangkan rasa cinta orang lain terhadap diri kita itu berada di luar kendali yang tidak mungkin kita paksakan. Oleh karena itu fokuslah pada apa yang dapat kamu kendalikan.

Epictetus juga mengajarkan bahwa jangan mengharapkan segalanya terjadi sesuai yang kita inginkan. Namun terimalah segalanya yang terjadi maka hidup ini akan tenang.

Kendalikan Pikiranmu

Jika kamu mengalami patah hati, kendalikan pikiranmu. Sadarlah bahwa hal tersebut adalah sebagian kecil dari permasalahan hidup. Terkadang kita menghadapi hal seperti itu seolah-olah merasa bahwa hidup kita sudah selesai.

Padahal di luar sana pada dasarnya masih banyak yang menaruh cintanya padamu. Meminjam kata Pak Faiz – masih banyak episode kehidupan selanjutnya yang belum kita rasakan. Kita memiliki potensi yang banyak, maka jangan kamu benamkan hanya karena satu permasalahan saja.

Seperti kata Marcus Aurelius, “Kebahagiaan hidupmu bergantung pada kualitas pikiranmu. Oleh karena itu jagalah sebagaimana mestinya dan berhati-hatilah agar engkau tidak memiliki pikiran yang tidak sesuai dengan kebajikan dan kewajaran.”

Pikiran kita memengaruhi kualitas hidup. Ketika kita mengalami patah hati, sesekali boleh bersedih, namun jangan larut dan berlebihan. Kita harus sadar masih ada episode-episode lain yang belum kita rasakan. Jadikan pengalaman masa lalu sebagai ajang pembelajaran untuk memperbaiki kualitas hidup berikutnya.

Kendalikan Dirimu

“Apapun yang aku lakukan atau orang lain katakan, aku harus tetap menjadi zamrud dan mempertahankan warnaku”

Ucapan maupun sikap yang dapat membuatmu patah hati jangan sampai mengubah kepribadianmu. Tetaplah menjadi diri sendiri. Meminjam istilah Marcus Aurelius, tetaplah menjadi zamrud, atau batu permata yang tetap berharga bagi orang yang mengenalinya. Oleh karenanya, kendalikan dirimu sendiri dari patah hati. Karena kamu begitu berharga, sayang jika terjebak dalam patah hati yang tidak ada gunanya.

Jangan Memperparah Keadaan

Marcus berkata: “Betapa jauh lebih berbahaya konsekuensi dari kemarahan dan kesedihan daripada keadaan yang membangkitkannya dalam diri kita!”

Ketika kamu patah hati, kendalikan dirimu, jangan sampai lepas kontrol. Tidak baik hanya karena patah hati lantas kamu mendiamkan semua orang, menyendiri terlalu lama, atau merusak suatu barang.

Karena jika demikian, efeknya jauh lebih besar, sedangkan kita baru menyadarinya saat rasa patah hati itu mulai reda. Mungkin rasa patah hati sekilas dapat terlampiaskan, namun bukankah penyesalan akan selalu hadir di akhir keputusan yang salah?

Jangan Malu Meminta Bantuan

Patah hati bukanlah suatu aib. Semua orang tentu pernah merasakannya. Oleh karena itu bersikap terbukalah dengan bercerita kepada orang lain. Siapa tahu dengan itu, meskipun kamu tidak mendapat nasihat yang memuaskan, kamu bisa merasa lega. Seorang prajurit yang terluka pun tidak akan mampu memanjat tembok penghalang tanpa adanya bantuan orang lain.

Pelajaran Apa yang Bisa Diambil

Patah hati hanyalah sedikit dari permasalahan kehidupan yang kompleks ini. Al-Quran sendiri telah menjelaskan bahwa mungkin ada beberapa hal yang menurutmu baik, namun tidak menurut Allah. Begitu pula sebaliknya, ada beberapa hal yang mungkin kamu benci. Namun justru di dalamnya memberi pelajaran yang begitu berharga.

“Jika ada sesuatu yang menghalangimu untuk mencapai tujuan tepat waktu, itu adalah kesempatan untuk melatih kesabaran.

Jika ada seseorang menyakitimu, itu adalah kesempatan untuk berlatih memaafkan.

Jika ada sesuatu yang sulit merintangimu, itu adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat.”

-Marcus Aurelius-

Dan semua itu supaya kamu menjadi manusia yang lebih tangguh, lebih sadar dan lebih berkualitas. []

 

 

 

 

 

Tags: CintafilsafatMarcus Aureliuspatah hatistoicstoikisme
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Meneladani Akhlak Nabi dengan Berbuat Baik pada Non Muslim

Next Post

Ulama Perempuan Abad 20

Muhammad Nasruddin

Muhammad Nasruddin

Alumni Akademi Mubadalah Muda '23. Dapat disapa melalui akun Instagram @muhnasruddin_

Related Posts

Vidi Aldiano
Aktual

Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

9 Maret 2026
Valentine Bukan Budaya Kita
Personal

Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

14 Februari 2026
Menjadi Dewasa
Personal

Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

13 Februari 2026
Mukjizat dalam Islam
Publik

Bagaimana Memahami Mukjizat dalam Islam Menurut Dilthey?

19 Januari 2026
Romantika Asmara
Hikmah

Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

29 November 2025
Intimate Wedding
Keluarga

Francis Fukuyama: Intimate Wedding sebagai Gejala Runtuhnya Kolektivitas Tradisional

20 November 2025
Next Post
ulama perempuan abad 20

Ulama Perempuan Abad 20

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan
  • Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga
  • Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna
  • Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah
  • Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0