Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Bagaimana Memahami Mukjizat dalam Islam Menurut Dilthey?

Alam kita jelaskan melalui hukum-hukum kausal, tetapi kehidupan batiniah manusia dan ekspresi historisnya kita pahami dari dalam

Fadlan by Fadlan
19 Januari 2026
in Publik
A A
0
Mukjizat dalam Islam

Mukjizat dalam Islam

19
SHARES
951
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kemarin ketika saya sedang menggulir beranda Instagram saya, perhatian saya terhenti ketika sebuah video melintas di layar gawai. Video itu adalah cuplikan dari perdebatan antara Mehdi Hasan dan Richard Dawkins di Oxford yang tayang di Al-Jazeera. Karena penasaran dengan keseluruhan perdebatan tersebut, saya pun mencari video lengkapnya di YouTube.

Perdebatan keduanya begitu panas, terutama ketika masuk ke topik-topik sensitif seperti mukjizat dalam Islam. Pertanyaan Hasan tentang apakah Dawkins merasa lebih superior secara intelektual, hingga tuduhan pedofilia yang Dawkins tujukan pada Nabi Muhammad.

Bagi saya, perdebatan keduanya ini bukanlah sesuatu yang baru. Terlepas dari itu, yang membuat debat ini menarik adalah bagaimana keduanya menunjukkan adanya dua cara pandang yang sama sekali berbeda dalam memahami realitas. Hingga pada akhirnya memicu pertanyaan dalam benak saya. Bagaimana seharusnya kita memahami narasi-narasi keagamaan yang bersifat metafisik atau supernatural, seperti mukjizat dalam Islam?

Bukti Empiris Klaim Agama

Dawkins, salah satu dari Four Horsemen of Atheism dan biolog evolusioner, menuntut bukti empiris atas klaim-klaim agama. Baginya, sebuah pernyataan baru bisa kita anggap benar jika dapat terverifikasi secara ilmiah. Sangat positivistik.

Di sisi lain, Mehdi Hasan, yang merupakan seorang jurnalis Muslim, menyatakan bahwa ia meyakini mukjizat Nabi Muhammad. Seperti terbelahnya bulan atau perjalanan malam nabi ke surga dengan menunggangi Buraq, seekor kuda bersayap.

Mendengar itu, Dawkins menanggapi dengan skeptisisme total. “Oh, come on,” katanya, “You’re a man of the 21st century.” Respons ini menyiratkan bahwa kepercayaan pada hal-hal supernatural semacam itu adalah sisa-sisa pemikiran pra-ilmiah yang tak lagi relevan di zaman modern.

Bagi Dawkins, narasi mukjizat adalah klaim faktual tentang dunia fisik yang harus tunduk pada hukum alam. Karena secara ilmiah mukjizat itu mustahil, maka narasi tersebut harus tertolak sebagai kekeliruan atau dongeng.

Kontras dengan perspektif tersebut, Mehdi Hasan tidak melihat narasi mukjizat sebagai klaim saintifik yang bisa teruji di laboratorium. Ia percaya bahwa iman bergerak di level yang berbeda dari sains. Baginya, mukjizat bukanlah peristiwa fisika yang harus dijelaskan secara kausal, melainkan tanda-tanda (ayat) dari Tuhan yang memiliki makna spiritual.

Terlepas dari keruwetan perdebatan itu, menurut saya, ini hanyalah tentang benturan antara dua metode atau jenis pemahaman. Metode Erklären (menjelaskan) dari perspektif ilmu-ilmu alam yang dianut Dawkins, dan metode Verstehen (memahami) dari ilmu-ilmu kemanusiaan yang, secara tidak langsung, terartikulasikan oleh Hasan.

Dilthey dan Cara Memahami Kehidupan Batiniah

Di sinilah pemikiran Wilhelm Dilthey, seorang filsuf dan sejarawan Jerman abad ke-19, sangat relevan. Sebagaimana yang F. Budi Hardiman ulas dalam bukunya ‘Seni Memahami’, Dilthey adalah tokoh penting yang memberikan landasan metodologis bagi Geisteswissenschaften (ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan) agar tidak inferior di hadapan dominasi Naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam).

Dilthey berpendapat bahwa objek kajian ilmu-ilmu kemanusiaan, yaitu manusia dan ekspresi-ekspresi kehidupannya, tidak bisa terpahami dengan metode yang sama dengan yang kita gunakan untuk memahami objek-objek alam. Alam kita “jelaskan” (erklären) melalui hukum-hukum kausal, tetapi kehidupan batiniah manusia dan ekspresi historisnya kita “pahami” (verstehen) dari dalam.

Menurut Dilthey, kunci untuk memahami ekspresi kehidupan batiniah manusia adalah melalui tiga konsep ini. Erlebnis (penghayatan), Ausdruck (ungkapan), dan Verstehen (pemahaman). Erlebnis adalah perasaan utuh yang langsung kita rasakan begitu saja, sebelum kita sempat berpikir, mengkotak-kotakkan, dan menganalisis perasaan itu. Karena pada dasarnya perasaan itu abstrak dan subjektif. Ia adalah sesuatu yang nyaris mustahil untuk dideskripsikan secara utuh.

Misalnya, bayangkan kamu sedang memakan es krim cokelat. Ketika es krimnya mencair di mulut, kamu akan langsung merasakan rasa nikmat. Saat kamu merasakan kenikmatan itu, apakah di waktu yang sama kamu juga sedang berpikir, “Es krim ini dinginnya sekian derajat, manisnya karena mengandung gula, atau ini ada campuran susu di cokelatnya”? Tentu saja tidak. Kamu hanya merasakan es krimnya begitu saja, menikmatinya tanpa berpikir atau bertanya-tanya di dalam kepalamu.

Perasaan yang langsung kamu rasakan itulah yang kita sebut Erlebnis—perasaan murni sebelum pikiran yang rasional mengambil alih.

Proses Ausdruck

Berikutnya Ausdruck. Ausdruck adalah segala bentuk ekspresi di mana Erlebnis tadi terobjektivasikan melalui gerak tubuh, tindakan, hingga karya seni, hukum, dan tentu saja, teks-teks keagamaan. Untuk memahami ini, kita coba kembali ke contoh es krim tadi.

Ingat perasaan nikmat yang kamu rasakan ketika memakan es krim itu? Perasaan itu sifatnya subjektif, hanya kamu saja yang merasakannya. Sekali pun temanmu membeli es krim yang sama, ia tidak akan “mengalami” apa yang kamu rasakan dari sudut pandangmu. Rasa di lidah boleh sama, tapi pengalaman setiap orang sebagai subjek tentang rasa tersebut belum tentu sama.

Sekarang bayangkan, bagaimana caranya agar temanmu atau orang tuamu tahu kalau kamu sedang merasakan enaknya es krim itu? Di sinilah proses Ausdruck terjadi, di mana kamu mengobjektivasikan, atau mematerialkan, atau mengekspresikan Erlebnis.

Kamu mengobjektivasikan perasaan Erlebnis itu dengan bahasa tubuh, misalnya dengan tersenyum lebar sambil menutup mata menikmati. Atau dengan kata-kata, misalnya dengan mengatakan “Es krimnya sangat enak!”. Senyuman dan ucapan ini, semuanya adalah Ausdruck—caramu untuk mengungkapkan atau menunjukkan perasaan Erlebnis-mu yang ada di dalam hati.

Terakhir Verstehen. Ini adalah proses hermeneutis di mana kita menafsirkan kembali Ausdruck untuk menangkap Erlebnis yang melahirkannya. Dengan kata lain, kita memahami kehidupan batiniah orang lain (Erlebnis) dengan cara menafsirkan ekspresi-ekspresi lahiriah mereka (Ausdruck).

Perdebatan Dawkins dan Hasan

Jika kita menerapkan kerangka kerja Dilthey di atas pada perdebatan antara Dawkins dan Hasan, kita bisa melihat dengan jelas di mana letak kesalahpahaman di antara keduanya.

Richard Dawkins mencoba menerapkan metode Erklären (menjelaskan secara ilmiah) pada sebuah Ausdruck (ekspresi atau ungkapan) keagamaan. Ia memperlakukan narasi mukjizat dalam  Islam seolah-olah itu adalah laporan laboratorium yang harus teruji validitasnya berdasarkan hukum fisika. Tentu saja, dari sudut pandang ini, kisah tentang bulan yang terbelah atau perjalanan ke langit dengan kuda bersayap adalah absurditas.

Sayangnya, Dawkins gagal melihat bahwa narasi-narasi tentang mukjizat itu bukanlah deskripsi saintifik tentang alam, melainkan Ausdruck dari sebuah Erlebnis (penghayatan) spiritual yang dalam dari Nabi Muhammad dan komunitas Muslim awal.

Narasi-narasi itu adalah bagian dari apa yang Dilthey sebut sebagai “roh objektif” (objektiver Geist), yaitu dunia sosial-historis yang terbentuk dari berbagai ekspresi kehidupan seperti seni, agama, dan hukum, yang memiliki maknanya sendiri di dalam konteks sejarahnya.

Sebaliknya, seorang penafsir yang menggunakan hermeneutika Dilthey akan mendekati narasi tentang mukjizat dengan cara yang berbeda. Alih-alih bertanya, “Apakah peristiwa ini benar-benar terjadi secara fisik?” ia akan bertanya, “Penghayatan (Erlebnis) macam apa yang diekspresikan (Ausdruck) melalui narasi ini? Bagaimana kita bisa memahaminya (Verstehen) dalam konteks sosial-historisnya?” Tujuannya bukanlah untuk memverifikasi fakta-fakta fisik, melainkan untuk merekonstruksi makna dari sebuah pengalaman batiniah yang terungkap dalam sejarah.

Hal ini, tentu saja, bukan berarti menolak kebenaran narasi tersebut, melainkan menempatkan kebenaran itu di level yang berbeda dari kebenaran saintifik. Kebenaran dalam Geisteswissenschaften adalah kebenaran makna, bukan kebenaran fakta-fakta kausal.

Memahami Isra Mi’raj

Mari kita ambil contoh kisah Isra Mi’raj, perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Yerusalem dan kemudian naik ke langit ke-7. Dari perspektif Dawkins, ini adalah cerita yang secara ilmiah tidak mungkin. Kuda bersayap itu tidak ada, dan perjalanan dengan kecepatan seperti itu melanggar hukum fisika (dalam fisika modern, objek yang memiliki massa tidak dapat melaju dengan kecepatan cahaya atau lebih). Analisisnya berhenti di situ, pada level penjelasan kausal (Erklären).

Namun, dari perspektif Dilthey, kisah tersebut adalah sebuah Ausdruck yang kaya makna. Untuk memahaminya, kita harus menempatkan diri kita dalam dunia sosial-historis Nabi dan para sahabatnya.

Pada saat itu, komunitas Muslim di Mekkah sedang mengalami tekanan dan penganiayaan hebat oleh suku Quraisy. Tahun itu bahkan sebutannya adalah “Tahun Kesedihan” (Amul Huzni) karena wafatnya istri Nabi, Khadijah, dan pamannya yang selalu melindunginya, Abu Thalib.

Dalam konteks inilah, Erlebnis Isra Mi’raj menjadi pengalaman spiritual yang luar biasa. Perjalanan malam itu adalah bentuk peneguhan dan penghiburan Tuhan kepada Nabi Muhammad dan Kaum Muslim di tengah-tengah keputusasaan.

Pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya memposisikan Nabi Muhammad sebagai puncak dari tradisi kenabian, dan naiknya beliau ke hadirat Tuhan memberinya kekuatan dan kepastian tentang misi kenabiannya. Perintah salat lima waktu yang Nabi terima di malam itu juga menjadi pilar penopang spiritual bagi komunitas Muslim awal yang sedang tertekan.

Jadi, Verstehen atas kisah Isra Mi’raj bukanlah tentang fisika perjalanan antarplanet, melainkan tentang makna teologis, psikologis, dan sosiologis bagi komunitas Muslim awal. Memahami kisah ini secara hermeneutis berarti menghayati kembali (Nacherleben) harapan, peneguhan, perasaan, dan makna yang terasa oleh komunitas Muslim awal ketika mereka mendengarkan kisah ini. Inilah yang kita sebut dengan empati historis, bukan verifikasi saintifik.

Lingkaran Hermeneutis dan Mengapa Ekspresi Batiniah Tidak Muluk Harus Ilmiah

Di sinilah pentingnya “lingkaran hermeneutis” (hermeneutische Zirkel) dalam pemikiran Dilthey. Untuk memahami sebuah bagian (misalnya, sebuah teks atau peristiwa sejarah), kita harus memahaminya dalam hubungannya dengan keseluruhan (konteks historis, biografi penulis, dll.), dan sebaliknya, pemahaman kita tentang keseluruhan terbentuk oleh pemahaman kita tentang bagian-bagiannya.

Dawkins memfokuskan diri hanya pada aspek fisik dari narasi mukjizat (bagian), tetapi ia gagal memahami keseluruhan konteks sosial-historis dan spiritual yang memberikan makna pada narasi tersebut. Ia gagal masuk ke dalam lingkaran hermeneutis karena ia enggan bergerak melampaui kerangka berpikir Naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam).

Hermeneutika Dilthey tidak meminta kita untuk menanggalkan rasionalitas kita. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk menggunakan akal kita sesuai dengan objeknya. Memahami puisi, karya seni, atau teks keagamaan, misalnya, membutuhkan seperangkat alat yang berbeda dari yang kita gunakan untuk memahami gerak planet, termodinamika, relativitas, atau reaktor nuklir.

Ketika Dawkins menuntut verifikasi empiris untuk membuktikan kebenaran mukjizat, ia sebetulnya sedang melakukan kesalahan kategori, seperti seorang ahli botani yang mencoba menganalisis keindahan sebuah lukisan tumbuhan atau bunga. Misalnya ‘Primavera’ karya Sandro Botticelli, dengan mengukur panjang gelombang warna catnya. Analisis itu mungkin akurat secara teknis, tetapi ia tidak menyentuh esensi dari pengalaman estetis sang seniman yang melukisnya.

Memang benar, seperti yang kita lihat, hermeneutika Dilthey tidak “membuktikan” bahwa mukjizat itu nyata dalam pengertian sains. Tetapi paling tidak ia memberikan kita sebuah kerangka atau metode yang valid secara ilmiah (dalam kerangka Geisteswissenschaften) untuk memahami makna dari narasi-narasi metafisika sebagai ekspresi otentik dari penghayatan manusia dalam sejarah.

Dengan menggunakan pendekatan Dilthey, kita bisa lebih menghargai narasi-narasi mukjizat dalam hampir seluruh teks-teks keagamaan, terutama Islam.

Bukan sebagai dongeng pra-ilmiah yang harus tersingkirkan, melainkan sebagai Ausdruck (ungkapan) dari sebuah Erlebnis (penghayatan) spiritual yang terus berbicara dan memberikan makna kepada jutaan orang sampai hari ini. Kita perlu belajar untuk bukan hanya “menjelaskan” dunia, tetapi juga untuk “memahami” kemanusiaan dengan segala kekayaan dan kompleksitas pengalaman batin dan historisnya. []

Daftar Pustaka

Hardiman, F. Budi. ‘Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida’. Kanisius: Yogyakarta, 2015.

Tags: filsafatMakna Isra MikrajMukjizat dalam IslamMukjizat Nabi Muhammadtafsirtafsir qur'anTokoh Hermeneutika
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Next Post

Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

Fadlan

Fadlan

Saat ini bekerja serabutan sebagai freelance writer dan tutor private Bahasa Inggris

Related Posts

Diskriminasi terhadap Perempuan
Aktual

Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

2 Juli 2026
Platonic Love
Personal

Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

20 Juni 2026
Tafsir Mubadalah
Metode Tafsir Mubadalah

Metode Tafsir Mubadalah

14 Februari 2026
Adil Bagi Perempuan
Pernak-pernik

Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

21 Januari 2026
Aktivis Perempuan
Publik

Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

9 Januari 2026
Tafsir Agama
Publik

KUPI Hadir Menjawab Kebuntuan Tafsir Agama dalam Isu Perempuan

6 Januari 2026
Next Post
Kerusakan Alam

Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya
  • Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak
  • Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes
  • Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara
  • HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0