Mubadalah.id – Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 8 Maret, kita merayakan International Women’s Day (IWD). IWD sendiri selalu dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Pesan utama dalam Hari Perempuan ini adalah meruntuhkan ketimpangan terhadap perempuan dan sekaligus menciptakan ruang yang aman bagi perempuan.
Merayakan IWD sendiri lahir karena adanya keprihatinan bahwa perempuan belum sepenuhnya mendapatkan haknya. Namun, jauh sebelum gerakan modern ini lahir, sejarah sebenarnya telah mencatat salah satu perjuangan paling radikal melawan stigma dalam sosok seorang perempuan bernama Maria Magdalena.
Nama Maria Magdalena sering “terkurung” dalam narasi yang sempit. Ia sering kali hanya diingat melalui label-label moralitas yang menghakimi, sementara peran kepemimpinan dan intelektualitasnya seakan tidak terlihat. Padahal, jika kita menanggalkan kacamata bias, kita akan menemukan sosok pionir yang berdiri tegak di tengah sistem yang patriarkis.
Stigma sebagai Alat Pembungkaman
Sejarah peradaban manusia sering kali menjadi milik pemenang, dan sayangnya, pemenang tersebut sering kali adalah laki-laki. Akibatnya, banyak tokoh perempuan hebat dalam sejarah yang peran-perannya tidak lagi menjadi perhatian. Maria Magdalena adalah contoh paling nyata dari fenomena ini.
Selama berabad-abad, narasi populer lebih suka mengingatnya sebagai “perempuan berdosa” yang mendapat pengampunan Yesus, ketimbang sebagai seorang pemimpin intelektual dan penyokong gerakan kemanusiaan. Pemberian label moralitas yang menghakimi ini sebenarnya adalah sebuah mekanisme pertahanan budaya patriarki.
Dengan memberi label seorang perempuan hanya berdasarkan aspek moralitas pribadinya, masyarakat berhasil mengalihkan perhatian dari kapasitas intelektual dan otoritas kepemimpinan yang perempuan miliki tersebut.
Dalam IWD ini, kita melihat bahwa pemberian label itu masih terjadi. Perempuan yang tegas sering mendapat label emosional. Yang ambisius dianggap tidak feminin. Pola yang Maria Magdalena alami ribuan tahun lalu juga masih bekerja dalam ruang-ruang kantor, organisasi, dan keluarga kita saat ini. Memulihkan martabat perempuan berarti kita harus berani membongkar label-label tersebut dan melihat kapasitas manusia apa adanya.
Berbeda Untuk Menjadi Mitra
IWD mengingatkan dan mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra sejajar yang saling melengkapi. Dalam catatan sejarah yang lebih objektif, Maria Magdalena menunjukkan apa yang disebut sebagai “etika kehadiran”.
Maria Magdalena tetap berdiri tegak ketika menghadapi ketakutan. Ia hadir ketika waktu krusial, bukan karena ia tidak memiliki rasa takut, melainkan karena ia memiliki kesetiaan pada nilai kebenaran yang melampaui rasa takutnya.
Ini adalah argumen kuat melawan mitos bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah secara mental. Sebaliknya, sejarah membuktikan bahwa dalam banyak momen kritis kemanusiaan, perempuan sering kali menjadi penjaga nyala api harapan yang terakhir.
Relasi antara perempuan dan laki-laki dalam gerakan tersebut pada awalnya adalah relasi yang setara. Mereka berbagi visi, berbagi sumber daya, dan berbagi risiko. Kesalingan ini bukan tentang siapa yang lebih dominan, melainkan tentang bagaimana setiap individu memberikan yang terbaik dari dirinya untuk kebaikan bersama.
Meruntuhkan Tembok Kesaksian
Salah satu hambatan terbesar bagi kesetaraan gender adalah ketidakadilan epistemik. Ini adalah sebuah kondisi ketika suara atau kesaksian seseorang tidak sah atau kurang bernilai hanya karena identitas gendernya.
Pada zaman di mana Maria Magdalena hidup, kesaksian seorang perempuan tidak mempunyai kekuatan secara hukum. Namun, sejarah mencatat sebuah ironi yang indah, yakni ketika seorang perempuan menyebarkan sebuah kebenaran besar yang menjadi fondasi sebuah gerakan.
Secara universal, ini adalah pesan tentang otoritas. Otoritas untuk menyuarakan kebenaran tidak terbatas hanya oleh struktur biologis, melainkan oleh integritas dan pengalaman. Maria Magdalena adalah orang pertama yang “berani bicara” ketika dunia masih terdiam dalam ketakutan.
IWD adalah momentum bagi kita untuk memberikan ruang bagi “kesaksian” perempuan. Berapa banyak kebijakan publik yang ada tanpa mendengarkan pengalaman hidup perempuan? Berapa banyak keputusan organisasi yang terbentuk tanpa melibatkan perspektif perempuan?
Semangat IWD menuntut kita untuk tidak hanya membiarkan perempuan bicara, tetapi menempatkan suara mereka sebagai bagian integral dari pengambilan keputusan.
Kepemimpinan yang Menggerakkan, Bukan Menguasai
Jika kita melihat peran Maria Magdalena lebih jauh, ia bukan hanya pengikut, tetapi juga penggerak. Ia adalah orang yang mendatangi orang lain untuk menyampaikan pesan perubahan. Ini jelas adalah model kepemimpinan yang kita butuhkan saat ini, yakni kepemimpinan yang bersifat transformatif dan kolaboratif.
Ia tidak memimpin dengan cara memerintah secara hierarkis, melainkan dengan cara memberikan teladan dan berbagi visi. Kepemimpinan seperti ini sering kali dianggap “lunak”, padahal inilah kepemimpinan yang paling mampu bertahan lama.
Dalam semangat IWD, kita merayakan gaya kepemimpinan perempuan yang cenderung lebih empatik, mendengarkan, dan inklusif. Ini bukan berarti laki-laki tidak bisa melakukannya, namun dunia selama ini terlalu lama memuja model kepemimpinan yang dominan dan agresif. Maria Magdalena menunjukkan bahwa ada jalan lain, yakni jalan yang menunjukkan bahwa pemimpin adalah dia yang paling pertama melayani.
Dari Sejarah Menuju Masa Depan
Maria Magdalena telah menempuh perjalanan panjang dari seorang pemimpin yang mendapat bungkaman oleh stigma hingga menjadi simbol kekuatan yang tak tergoyahkan. Kisahnya adalah pengingat bagi setiap perempuan bahwa suara mereka berharga, dan pengingat bagi setiap laki-laki bahwa dunia akan jauh lebih baik ketika kita berjalan beriringan dalam kesetaraan.
IWD bukan sekadar perayaan tahunan yang selesai dalam satu hari. IWD adalah panggilan untuk terus-menerus memulihkan martabat manusia yang sering kali retak karena bias gender. Seperti Maria Magdalena yang menjadi “saksi pertama” bagi sebuah perubahan besar, mari kita juga menjadi saksi dan pelaku bagi lahirnya dunia yang lebih adil.
Saatnya kita mengubah narasi. Dari persaingan menuju kesalingan, stigma menuju martabat, dan pengabaian menuju pengakuan. Karena pada akhirnya, kemanusiaan hanya bisa terbang tinggi jika kedua sayapnya, yakni laki-laki dan perempuan memiliki kekuatan dan ruang yang sama untuk kepakan yang seimbang. []









































