Mubadalah.id – Pandangan tentang seksualitas sangat dipengaruhi oleh berbagai keyakinan. Ia tidak hanya berkaitan dengan persoalan etika dan nilai-nilai. Tetapi juga terpengaruhi oleh ideologi, kepentingan politik dan ekonomi, serta beragam mitos yang hidup di masyarakat.
Lihat saja misalnya, untuk pasangan beda agama, meskipun secara biologis (seks) mereka sanggup melahirkan anak.
Namun faktanya tak mudah bagi mereka untuk menjalankannya karena terkait bukan semata pada adanya organ reproduski di antara keduanya. Tetapi dengan adanya aturan, keyakinan, kebijakan politik, situasi perang, damai, konflik dan seterusnya.
Kita dapat memungut banyak contoh bagaimana seks dan seskualitas terpengaruhi oleh cara pandang manusia. Jadi, bisa saja secara biologis mereka mampu namun secara sosial, politik menjadi tidak mampu atau karena mitos bisa ia lanjutkan atau tidak.
Itulah seksualitas, ia bicara tentang pengekangan, tabu, mitos, penyangkalan atas hawa nafsu atau hasrat yang sesungguhnya secara alamiah ada pada manusia.
Ia juga mereka sangkal karena terkait dengan dorongan buruk yang ia yakini bersumber dari godaan setan. Cara berpikir serupa ini berpengaruh besar kepada konstruksi pengetahuan kita tentang seksualitas.
Lebih jauh, tradisi Biblika itu terserap kelas menengah yang kemudian memproduksi pengetahuan tentang seksualitas dengan cara pandang Biblika itu.
Pada akhirnya pembahasan soal seks bahkan sampai ke tarap yang hipokrit. Dibenci tapi dicari, ditolak tapi juga ditarik, dianggap tidak ada tetapi dibicarakan dengan sembunyi-sembunyi. []
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.

















































