Rabu, 4 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Ulasan Crime and Punishment: Kritik terhadap Keangkuhan Intelektual

Dostoevsky mengingatkan kita bahwa akal dan teori, betapapun logisnya, akan sangat merusak apabila ia tercerabut dari spiritualitas dan kasih sayang.

Fadlan by Fadlan
19 Juni 2025
in Buku
A A
0
Crime and Punishment

Crime and Punishment

21
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Apakah cinta dan keimanan mampu menyelamatkan kita dari jeratan dosa dan kejahatan yang lahir dari ideologi-ideologi sesat?

Mubadalah.id – Pertanyaan di atas mungkin terasa berat, namun ini relevan jika kita melihat fenomena di sekitar kita. Kita sering mendengar tentang orang-orang yang, atas nama ideologi dan keyakinan yang dianggapnya benar, tega melakukan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi. Seolah-olah mereka punya pembenaran atas kejahatan yang mereka lakukan—sebuah logika bengkok yang menghalalkan segala cara demi “tujuan mulia” versi mereka sendiri.

Fenomena ini sejatinya adalah masalah yang sejak dahulu sering diperbincangkan oleh banyak pemikir dan pujangga. Salah satu karya yang membuat satire tentang dilema ini adalah ‘Crime and Punishment’ karya Fyodor Dostoevsky. Karya sastra yang terbit pada 1866 ini terus bergema hingga kini.

Dostoevsky menyajikan potret psikologis tentang kejahatan, rasa bersalah, dan penebusan dosa. Saking kompleks dan detailnya unsur psikologis dalam novel ini, bahkan Sigmund Freud, di salah satu suratnya kepada Stefan Zweig, mengakui Dostoevsky sebagai psikolog sastra terbesar sepanjang masa setelah Shakespeare karena “Dostoevsky tidak dapat dipahami tanpa psikoanalisis… ia mengilustrasikannya sendiri dalam setiap karakter dan setiap kalimat.”

Di awal novel, Dostoevsky mengajak kita menyelami pikiran Rodion Romanovich Raskolnikov, seorang mantan mahasiswa hukum yang hidup dalam kemiskinan di St. Petersburg. Kamarnya yang sempit, lebih mirip lemari daripada tempat tinggal, menjadi saksi bisu pergulatan batinnya.

Karena hidup dengan utang yang menumpuk—bertambah dengan rentenir cerewet yang selalu memarahinya—Raskolnikov mulai merenungkan sebuah pemikiran radikal. Ia merasa muak dengan ketidakadilan sosial dan mulai mengembangkan teori tentang manusia “biasa” dan manusia “luar biasa”.

Hukum Moral

Menurutnya, manusia luar biasa itu seperti Napoleon, yang memiliki hak untuk melangkahi (atau melanggar) hukum moral demi mencapai tujuan-tujuan besar yang akan membawa manfaat bagi kemanusiaan. Teori yang ia tulis dalam sebuah artikel bertajuk ‘On Crime’ ini menjadi semacam pembenaran intelektual atas rencana mengerikan yang akan ia lakukan.

Targetnya adalah Aliona Ivanovna, seorang rentenir tua yang ia anggap sebagai lintah darat—sosok yang tidak berguna dan jahat. Raskolnikov meyakinkan diri bahwa dengan membunuh Aliona dan merampas hartanya, ia bisa menggunakan uang tersebut untuk memulai hidup baru, menyelesaikan pendidikannya, dan bahkan membantu orang lain. Ia melihat tindakan ini bukan sebagai kejahatan, melainkan sebagai langkah awal bagi seorang manusia “luar biasa” untuk melawan tatanan moral.

Namun ironisnya, sebelum ia membunuh Aliona, Raskolnikov sudah diliputi keraguan dan ketakutan. Ia bertanya-tanya pada diri sendiri, “Mungkinkah, mungkinkah, aku akan benar-benar mengambil kapak, memukul kepalanya, membelah tengkoraknya… menginjak darah kental yang hangat… oh Tuhan, mungkinkah?”

Malam yang menentukan itu akhirnya tiba. Dengan hati berdebar dan tangan yang gemetar, Raskolnikov bertandang ke apartemen Aliona Ivanovna untuk melakukan aksi kejinya. Ia membawa sepotong kayu yang dibungkus rapi untuk mengalihkan perhatian Aliona. Saat Aliona sibuk membuka bungkusan kayu itu, Raskolnikov menghantam kepalanya dengan kapak.

Namun, tragedi ini tidak berhenti di situ saja. Lizaveta Ivanovna, saudari tiri Aliona yang lugu dan penurut, tiba-tiba masuk ke ruangan. Dalam kepanikan, Raskolnikov juga membunuhnya. Ketakutan pun menguasai tubuhnya karena pembunuhan kedua yang tidak ia rencanakan ini. Waktu cepat berlalu, ia akhirnya berhasil melarikan diri dari TKP, membawa serta, bukan hanya darah, tetapi dosa dan rasa bersalah.

Kegelisahan Batin

Setelah kejadian itu, Raskolnikov tidak menemukan kedamaian yang ia inginkan. Sebaliknya, ia terjerumus ke dalam kegelisahan batin yang parah. Demam dan halusinasi pun menghantuinya, membuatnya terasing dari dunia. Ia merasa bahwa hubungannya dengan orang lain terputus, bahkan dari ibu dan adiknya, Pulcheria dan Dunia, yang sangat ia cintai.

Surat dari ibunya, yang memberitahukan kabar pernikahan Dunia dengan seorang laki-laki kaya bernama Peter Petrovich Luzhin demi membantu Raskolnikov, justru menambah beban penderitaannya. Ia melihat pengorbanan adiknya sebagai hal yang memuakkan, terutama karena ia tahu Luzhin adalah laki-laki picik dan angkuh. Perasaan bersalah, paranoia, dan ketakutan terus menghantuinya. Setiap suara langkah dan ketukan pintu membuatnya gemetar.

Di tengah siksaan batin itu, muncul Porfiry Petrovich, seorang penyidik cerdas yang memahami psikologi manusia. Meskipun Porfiry mengetahui siapa pelakunya, ia tidak langsung menuduh Raskolnikov, melainkan mengajak Raskolnikov “bermain” permainan “kucing dan tikus”. Ia mengajak Raskolnikov berdiskusi tentang artikel ‘On Crime’-nya, seolah-olah ia memancingnya untuk mengakui kejahatannya.

Percakapan mereka penuh dengan sindiran halus dan tekanan psikologis. Meskipun intuisi Porfiry sangat tajam, tetapi karena ia tidak memiliki bukti konkret kejahatan Raskolnikov, ia membiarkan Raskolnikov berputar-putar di dalam labirin ketakutannya sendiri.

Satu-satunya harapan dan jalan menuju penebusan dosa Raskolnikov pun muncul. Jalan keselamatan itu datang melalui sosok Sofia Semionovna Marmeladov, atau Sonia. Ia adalah putri seorang pemabuk, Marmeladov, yang tewas tertabrak kereta. Ia terpaksa menjadi pelacur untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya yang kelaparan.

Kebangkitan Spiritual

Raskolnikov merasa bahwa ia memiliki ikatan batin dengan Sonia: Mereka berdua sama-sama terkutuk. Kepada Sonia lah Raskolnikov mengakui kejahatannya. Pengakuan ini bukanlah permintaan maaf, melainkan untuk melepaskan beban yang menghimpit hatinya.

Sonia, dengan kasih sayang dan iman Kristennya, tidak menghakimi Raskolnikov. Sebaliknya, ia meminta Raskolnikov agar segera mengakui kejahatannya di hadapan publik dan menerima penderitaan itu sendiri sebagai jalan penebusan dosanya.

“Menderita dan menebus dosamu, itulah yang harus kau lakukan,” ujarnya.

Pergulatan Raskolnikov belum berakhir. Ia masih terus mencari pembenaran atas tindakannya. “Aku hanya membunuh seekor kutu, Sonia, makhluk tak berguna, menjijikkan, dan berbahaya,” katanya. Namun, di hadapan Sonia yang selalu tulus mendengarkannya, pertahanan Raskolnikov pun goyah.

Adegan ketika Sonia menceritakan kisah Lazarus di Alkitab menjadi salah satu titik balik Raskolnikov. Kisah ini seolah menyiratkan bahwa kebangkitan spiritual itu ada. Setidaknya bagi Raskolnikov.

Tokoh penting lain yang dimunculkan adalah Arkady Ivanovich Svidrigailov, mantan majikan Dunia yang pernah melecehkan Dunia. Svidrigailov muncul sebagai sosok misterius, amoral, dan sinis. Ia menjadi sisi gelap Raskolnikov, seseorang yang benar-benar hidup di luar batas moral yang merasa hampa dan akhirnya bunuh diri. Dialektika antara Svidrigailov yang menyerah pada kegelapan dan Raskolnikov yang akhirnya memilih jalan penderitaan untuk menebus dosanya menjadi salah satu inti perenungan Dostoevsky dalam buku ini.

Hiudp telah Menggantikan Teori

Puncak dari konflik batin Raskolnikov adalah ketika ia akhirnya menyerahkan diri ke kantor polisi. Momen ini adalah hasil dari pergulatan batinnya yang dipengaruhi oleh Sonia.

Proses peradilan pun berjalan, dan Raskolnikov dijatuhi hukuman kerja paksa di Siberia selama 8 tahun. Di pengasingan itu, babak baru kehidupan Raskolnikov dimulai. Awalnya, ia masih mempertahankan kesombongannya dan belum benar-benar menyesali perbuatannya. Namun, karena Sonia mendampinginya, serta penderitaan dan kehidupan keras di kamp tahanan, perlahan-lahan kepribadiannya pun berubah.

Novel ini ditutup dengan transformasi Raskolnikov. Penyakit fisik yang ia derita selama di penjara menjadi simbol dari proses penebusan dosanya. Mimpinya tentang wabah yang membuat seluruh dunia menggila, di mana setiap orang merasa dirinya paling benar dan saling membunuh satu sama lain atas nama keyakinannya masing-masing, menjadi refleksi dari kecacatan ideologis yang pernah ia alami.

Akhirnya Raskolnikov pun membuka lembaran baru. “Hidup telah menggantikan teori,” tulis Dostoevsky. Dia menyimpan Alkitab Perjanjian Baru milik Sonia di bawah bantalnya sebagai simbol harapan dan keimanan yang baru saja tumbuh.

Sekarang, mari kita kembali kepada pertanyaan awal: Apakah cinta dan keimanan mampu menyelamatkan kita dari jeratan dosa dan kejahatan yang lahir dari ideologi-ideologi sesat? Melalui perjalanan hidup Raskolnikov, Dostoevsky menjawab: Ya, namun, seperti yang kita sudah lihat, itu tidak mudah.

Melalui ‘Crime and Punishment’ ini, Dostoevsky mengingatkan kita bahwa akal dan teori, betapapun logisnya, akan sangat merusak apabila ia tercerabut dari spiritualitas dan kasih sayang.

Singkatnya, ini adalah kritik Dostoevsky terhadap rasionalisme dan nihilisme yang berkembang di zamannya. Bagi Dostoevsky, keselamatan dan penebusan dosa tidak datang dari teori-teori rasional, tetapi dari penerimaan kita terhadap penderitaan, cinta terhadap sesama, dan juga keimanan yang teguh. []

Tags: bukuCrime and PunishmentFilsafat Etikakarya sastraReview BukuReview Novel
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Related Posts

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Buku

Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

2 Februari 2026
Cantik itu Luka
Buku

Cantik Itu Luka: Sejarah yang Menjadikan Tubuh Perempuan sebagai Medan Perang

18 Januari 2026
Muslimah yang Diperdebatkan
Buku

Menggugat Standar Kesalehan Perempuan dalam Buku Muslimah yang Diperdebatkan

17 Januari 2026
Francis Bacon
Buku

Francis Bacon: Jangan Jadikan ‘Belajar’ Sebagai Pelarian

10 Januari 2026
Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan
Buku

Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan

8 Januari 2026
Namaku Alam
Buku

Derita Kolektif Perempuan dalam Novel Namaku Alam

6 Desember 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    9 shares
    Share 4 Tweet 2

TERBARU

  • Islam Membela Perempuan
  • Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali
  • Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’
  • Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani
  • Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0