Senin, 16 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Selamat Jalan Perempuan Ulama Panutan Prof Huzaemah

Prof Huzaemah adalah Perempuan Ulama dan Guru Besar dalam arti yang sebenarnya. Insya Allah husnul khatimah. Aamiin

Sari Narulita by Sari Narulita
24 Juli 2021
in Pernak-pernik
A A
0
Perempuan

Perempuan

2
SHARES
122
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saat membuka ponsel pertama kali Jam 7 pagi ini, kubaca pesan Mba Dosen Nur Rofiah . “Sari, kayaknya perlu bikin ucapan bela sungkawa untuk Prof Huzaemah.” Seraya menyertakan foto berisi kalimat Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun yang saat ini begitu sering keluar dari corong masjid, televisi dan gadget. Sangat akrab menyertai perbincangan kita sehari-hari.

Kabar ini, sebetulnya tidak mengejutkan meski tetap bikin hati hangat dan mata panas. Sejak mencuat kabar almarhumah yang beberapa waktu masuk IGD di RSUD Serang, Banten, dan membutuhkan donor plasma konvalesen (metode pengambilan darah plasma dari penyintas Covid-19 yang dapat diberikan pada sebagai terapi untuk pasien covid yang sedang dirawat), di benak ini sudah membayangkan kemungkinan terburuk. Samar dalam hati mengatakan kalau beliau sulit untuk bertahan lama.

Bukan mendahului takdir. Tapi ini bisa dinalar dengan mudah. Usia beliau yang semakin menua dan rentan memiliki komorbid, rasanya pesimis bisa kembali sehat. Kondisi ini sangat bergantung pada kata KEAJAIBAN. Realistis sajalah. Saat ini ketersediaan alkes – nakes sangat terbatas dan Rumah Sakit selalu penuh, sementara penyebaran virus mulai merata merambah ke berbagai daerah tanpa cela.

Media senantiasa up to date memberitakan itu. Tapi, pemandangan jalanan selalu penuh dengan derap roda kendaraan, hilir-mudik masyarakat berjalan seperti biasa, menandakan denyut perekonomian tetap berjalan normal, meski tentu situasi ekonomi saat ini juga tidak baik tersebab pandemi.

Kabar kepulangan beliau menuju rumah keabadiannya pada jam 6 Pagi tadi, direspon secepat kilat oleh banyak pihak. WAG penuh ucapan kehilangan akan sosok beliau. Bahkan sejak Jam 9 pagi link zoom terkait Prosesi Pemakaman almarhumah juga sudah tersiar. Menurut penuturan Prof Dr. KH. Muhammad Amin Summa, permohonan keluarga pribadi dan keluarga besar kampus baik UIN Jakarta maupun IIQ Jakarta, agar almarhumah dimakamkan di Pemakaman UIN Jakarta dengan protokol kesehatan yang ketat, alhamdulillah diizinkan.

Dari ruang zoom ini tampak 1000 partisipan yang berasal dari para keluarga, sahabat, kolega, murid, memberi kesaksian tentang kiprah almarhumah semasa hidup. Acara ini juga disiarkan secara live melalui kanal youtube FSH UIN Jakarta. Sementara itu, Tim Pemakaman yang berada di Komplek Pemakaman UIN Jakarta di Ciputat dan Tempat Penyelenggaraan Shalat Jenazah di Asrama IIQ, Cinangka, Sawangan, Depok, juga bersiap-siap. Tepat pukul 12.30 wib almarhumah dishalatkan dan sekira pukul 13.00 wib jenazah almarhumah dilepas ke liang lahad.

Kesaksian

Selama 4 jam mengikuti prosesi pemakaman almarhumah melalui link zoom, terasa nyata kehilangan yang luar biasa. Laki-laki-perempuan, Guru Besar – para mahasiswa, kalangan kampus maupun non kampus, memberikan kesaksian tentang sosok almarhumah. Dari beberapa yang saya catat, sosok Prof Huzaemah baik sebagai pribadi, guru, kolega, mitra kerja, meninggalkan kesan sebagai pribadi pendidik yang penuh dedikasi.

Beberapa diantara mereka menceritakan kesan dan pengalamannya, yang salah satunya datang dari KH. Dr. (HC) Muhyiddin Junaidi, MA, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (2020-2025). Baginya, Prof Huzaemah adalah sosok yang hangat untuk diajak berdebat, khususnya dalam fiqhul muqoorin. Beliau ingat betul saat almarhumah berdiskusi dengan Pimpinan Taliban di Afghanistan, Sayyid Baradar, yang meninggalkan kesan yang sangat baik.

Usai itu, Pemimpin Taliban itu memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada almarhumah dengan mengirimkannya hadiah. Ini bukan saja bentuk apresiasi yang tinggi terhadap MUI yang memberikan kebebasan kepada perempuan untuk bergabung, tapi juga kesan mendalam kepada almarhumah secara pribadi atas keluasan ilmunya.

Kesaksian lain datang dari Prof. Amany Lubis. Di mata Rektor UIN Syarif Hidayatullah UIN Jakarta ini, kehilangan almarhumah sama halnya kehilangan ulama perempuan yang sangat mumpuni dan berjasa besar bagi UIN Jakarta. Keluasan ilmu dan pengakuan keilmuannya diamini di tingkat nasional sampai tingkat internasional. Bukan hanya di Majlis Ulama Indonesia, tapi juga di Majma’ Fiqh Internasional,

Pada Februari 2020 menjelang Indonesia memberlakukan PSBB Tahun 2020, Prof Amany bersama almarhumah menemani Menteri Luar Negeri, Ibu Retno Marsudi, berdialog dengan para Menteri perempuan di Afghanistan. Mereka datang membawa misi peningkatan peran perempuan di Afghanistan serta perdamaian dunia.

Testimoni yang tak kalah menyentuh terdengar dari KH Syarif Rahmat. Sambil terisak-isak, ia bercerita betapa almarhumah merupakan sosok ulama perempuan yang penuh dedikasi. Saat bulan Ramadhan lalu, dengan bersepeda beliau sowan ke kediaman almarhumah.

“Saya sowan bicara tentang tulisan saya. Yang saya ingat betul beliau sampaikan begini, ‘Syarif, yang ada di pikiran saya itu bagaimana melahirkan ulama-ulama perempuan. Dulu jumlah mahasiswi di IIQ masih 500. Tapi sekarang sudah 2500! Saya berpikir, bagaimana ya menempatkan beliau-beliau itu?’”

Mengenal secara pribadi selama 20 tahun memberikan kesan mendalam di hati Kyai yang khas dengan blangkon di kepalanya itu. “Beliau adalah satu-satunya puncak Ulama Perempuan di Indonesia,” ujarnya terbata-bata. Sambil terus mengenang, ia menaruh harapan besar pada kedua anak perempuannya yang kini tengah berkuliah di Al-Azhar Kairo Mesir dan Maroko, untuk melanjutkan legacy keilmuan Prof Huzaemah.

Pengakuan dalam hal ilmu di bidang Fikih dan Ushul Fikih ini diamini seluruh jamaah zoom yang hadir. Mulai dari Prof Said Agil Munawwar, yang sudah mengenal almarhumah sejak berkuliah di Al-Azhar, Kairo, Mesir. Demikian pula KH. Cholil Nafis, yang dengan bangga mengklaim sebagai sebagai murid almarhumah sekaligus mitra di MUI. Ia mengenang hal manis saat mengikuti Pendidikan Kader Ulama MUI Tahun 1998 serta saat berguru kepada almarhumah di Pascasarjana UIN Jakarta.

“Saat di Munas MUI, beliau aktif dan sangat bertanggungjawab. Sebagian kita mungkin canggung jika bekerjasama dengan guru, tapi tanpa ambisi apapun, beliau tetap meneladani dengan memberikan yang terbaik. Seluruh hidupnya diabdikan untuk ilmu dan ibadah kepada Allah. Kita semua kehilangan ulama perempuan di Indonesia, orang pertama yang meraih gelar Doktor di Al-Azhar, Kairo. Insya Allah saya akan meneruskan ilmu yang beliau telah ajarkan…”

Masih dari MUI, KH Abdul Rahman Dahlan juga menceritakan kesannya yang mendalam tentang almarhumah. Bertahun-tahun bersama-sama dengan Prof Huzaemah di Komisi Fatwa MUI, ia mengenangnya sebagai sosok yang konsisten terhadap apa yang diyakini.

“Kadang memang harus sama-sama bersuara tinggi mengemukakan pendapat. Berdebat sangat alot. Tapi… itu semua untuk mempertahankan kebenaran, konsisten mempertahankan pendapat yang terkuat dari yang kuat.” Tangisnya seketika pecah. Sambil terisak ia menambahkan, “Tapi begitu selesai rapat, perbedaan itu hilang. Justru rasa persaudaraan diantara kami semua cukup tinggi….”

Perbandingan Mazhab & Hukum (PMH)

Mengenang almarhumah sama halnya mengenang kembali saat menghabiskan waktu berkuliah di Jurusan PMH Fakultas Syariah UIN bertahun-tahun lalu. Sosok almarhumah telah mengampu mata kuliah fikih muqorin dengan sangat luar biasa. Kepakaran Prof Huzaemah di bidang fikih perbandingan mengantarkan PMH sebagai Jurusan yang menjadi core keilmuan Fakultas Syariah.

Berkali-kali oleh Dr. Kamarusdiana, MA, Dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta yang memimpin jalannya acara di zoom tadi pagi, mengatakan hal tersebut. Ini juga diamini Prof. Dr. Euis Nurlaelawati, MA, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakart) yang menyatakan bahwa Prof Huzaemah adalah fondasi jurusan perbandingan mazhab dan hukum di UIN Jakarta.

Akan hal tersebut, Siti Hanna, perwakilan dari Program Studi Fakultas Syariah PMH UIN Jakarta menguatkan, “Beliau memang sangat konsen terhadap Prodi ini. Menurutnya, PMH ini adalah core keilmuan Syariah yang harus dipertahankan, apapun kendalanya.”

Kebanggaan Al-Khairat

Tak sedikit partisipan pada ruang zoom tadi pagi dihadiri para guru dan murid yang pernah mengenyam pendidikan di Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah. Hal ini dikarenakan almarhumah merupakan salah seorang putri terbaik lulusan Al-Khairat yang berguru langsung kepada pendirinya, Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua.

Gani Jumat, seorang partisipan dari Palu yang pernah tinggal di kediaman almarhumah menyatakan bahwa Prof Huzaemah adalah Ulama Wanita yang sangat dicintai. Rasa cintanya terhadap ilmu terlihat dari caranya menghormati sang guru, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri. “Saya menyaksikan betul bagaimana almarhumah saat membangun rumahnya di Ciputat dulu, ternyata juga membangun sebuah kamar khusus untuk gurunya. ‘Supaya kamu tahu, itu kamar untuk guru saya.’ Itu cara almarhumah menghormati guru-gurunya.”

Habib Ali Jufri yang merupakan zurriyyat dari sang guru almarhumah, menyampaikan kesaksian bahwa Prof Huzaemah adalah putri Al-Khairat yang sangat membanggakan. Beliau belajar langsung kepada Habib Idrus bin Salim dan juga Habib Assegaf bin Muhammad Al-Jufri. Sanad keilmuannya tidak terputus karena belajar langsung dari kedua ulama besar tersebut.

Legacy

Semua kesaksian di atas mengingatkan saya akan sosok Sayyidah Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sosok guru tercinta Imam Asy-Syafi’i, perempuan yang selalu menjadi tempat berdiskusi dalam hal agama seputar fikih, hadis, hingga persoalan-persoalan ibadah. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbali pun pernah mendatangi Sayyidah Nafisah untuk meminta doa darinya. Tentu saja selain kedua Imam Mazhab tersebut, ada banyak para alim ulama yang melakukan hal yang sama.

Apa yang dilakukan para ulama terdahulu ternyata begitu jelas dilakukan alim ulama, dosen, mahasiswa, akademisi, pejabat, dalam ruang zoom prosesi pemakaman Prof Huzaemah tadi pagi. Begitu banyak yang memberikan testimoni dan kesan yang manis terhadap sosok almarhumah selama menjadi murid, santri, mitra dan kolega di kampus maupun di luar kampus. Baik mereka yang mengenal almarhumah sejak mahasiswa sampai beroleh Guru Besar seperti halnya Prof Huzaemah.

Sehingga tak heran bila pemikiran dan karya-karya beliau sampai kini dijadikan referensi utama  dalam membicangkan ilmu fikih wabil khusus dalam ranah perbandingan mazhab. Fikih Perempuan Kontemporer dan Fiqih Anak adalah sedikit karya yang sampai kini dijadikan pegangan di kalangan kampus.

Dan tentu saja, laku lampah sepanjang hidup yang ditunjukkan merupakan legacy yang harus terus dilanjutkan. Sebagaimana dikatakan Dr. Suwendi, perwakilan dari Pendis Kemenag RI dalam ruang zoom, bahwa salah satu bentuk keteladanan yang ditinggalkan beliau adalah dengan melakukan kaderisasi sosok seperti almarhumah.

Dan tepat pukul 13.15, akhirnya Prof Said Aqil Munawwar memimpin doa melepas kepergian sang guru besar. Ditutup ucapan permohonan maaf dan terimakasih atas apresiasi dari sang anak, Dr Syarif Hidayatullah. Lalu diakhiri ucapan selamat jalan dari Prof Nasarudin Umar, dari tempat pemakaman.

Selamat jalan ya Prof. Saya tidak akan lupa sambutan prof di rumah kala itu. Membiarkan saya mewawancarai panjenengan untuk Majalah Hidayah, sambil ngemong Rayya yang masih TK. Dengan senyum sumringah penganan kecil dikeluarkan untuk Rayya, sambil memperlihatkan tumpukan Majalah Hidayah, yang ternyata dulu menjadi salah satu pelanggan tetapnya.

Prof Huzaemah adalah Perempuan Ulama dan Guru Besar dalam arti yang sebenarnya. Insya Allah husnul khatimah. Aamiin. []

Tags: Cendekiawan MuslimIndonesiaislamobituariPerempuan UlamaProf Huzaemahulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kasih Sayang Wali Songo pada Anak-Anak Melalui Tembang Dolanan

Next Post

Menebar Nilai Toleransi, Perdamaian, dan Keadilan di Indonesia

Sari Narulita

Sari Narulita

Staff Program Alimat Jakarta

Related Posts

Aisyah dan Hafshah
Hikmah

Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

15 Maret 2026
Imlek
Personal

Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

13 Maret 2026
Menstruasi
Pernak-pernik

Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

12 Maret 2026
Akhir Ramadan
Hikmah

Menuju Akhir Ramadan: Menghidupkan Malam dan Menyempurnakan Amal

12 Maret 2026
Menstruasi
Pernak-pernik

Panggilan bagi Ulama Perempuan untuk Menulis Fiqh Menstruasi

12 Maret 2026
Board of Peace
Publik

Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

11 Maret 2026
Next Post
Nilai

Menebar Nilai Toleransi, Perdamaian, dan Keadilan di Indonesia

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan
  • Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga
  • Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna
  • Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah
  • Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0