Minggu, 15 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Film Indonesia Menjadi Potret Wajah Bangsa dalam Menjaga Tradisi Lokal

Saat ini, masyarakat butuh tontonan berkualitas dengan pemainnya yang mau belajar dan menjadikan dirinya suri tauladan.

Halimatus Sa'dyah by Halimatus Sa'dyah
17 April 2025
in Film
A A
0
Film Indonesia

Film Indonesia

28
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setelah beberapa waktu lalu film Indonesia heboh karena gagal me-remake dari drama Korea. Fomo untuk menyajikan alur mirip drama Korea ternyata tidak membuat masyarakat tertarik. Nah, sekarang film produksi Indonesia mulai masif mengangkat film dari kisah nyata.

Film Layangan Putus, Ipar adalah Maut, dan yang terbaru adalah Norma. Alur ketiga film tersebut semua tentang perselingkuhan, mirip dengan tayangan sinetron TV yang selama ini kita tonton dalam keseharian, atau istilahnya drama Indosiar.

Perbedaannya terkemas dalam sebuah film dengan dalih diangkat dari kisah nyata, bukan serial sinetron. Tentu saja jargon, ‘diangkat dari kisah nyata’ mampu membuat masyarakat terbujuk rayu untuk meramaikan penayangannya di bioskop. Meski alur ceritanya sama saja dengan gosip tentang pihak ketiga yang menjadikan sebab konflik rumah tangga, yaitu penggambaran pihak superior dan inferior, sosok kuat dan lemah.

Menilik Dampak Menonton Film dengan Tema Tertentu

Dampak Psikologis akibat sering menonton film perselingkuhan adalah rasa cemas. Karena Film perselingkuhan sering menggambarkan pengkhianatan, kebohongan, dan konflik emosional yang bisa memicu rasa cemas, marah, atau bahkan trauma tersendiri bagi yang pernah mengalami hal serupa.

Seringnya menonton tayangan perselingkuhan, bisa mengakibatkan normalisasi tentang perselingkuhan yang jelas melanggar norma dan etika. Jika ditampilkan secara glamor atau romantis, film semacam ini bisa membuat perselingkuhan terlihat “biasa” atau bahkan “menarik,” dan bisa mempengaruhi persepsi penonton tentang hubungan yang sehat dengan pasangan. Justru orang merasa tertantang untuk melakukannya, karena terpancing memiliki harta secara instant, sekalipun pada orang yang sudah memiliki pasangan sah.

Dampak lainnya bagi para penonton adalah gangguan kecemasan berupa over thinking. Setelah menonton, beberapa orang bisa lebih curiga atau krisis kepercayaan kepada pasangannya. Penonton akan menjadi uring-uringan di kehidupan nyata tanpa alasan yang jelas, karena energi pikirannya tersedot dalam mengikuti alur film yang ia tonton masih menempel dalam ingatannya.

Sebaliknya, film ini juga bisa jadi cermin untuk penonton mengevaluasi hubungan mereka dengan pasangannya. Apakah ada komunikasi yang kurang, atau perasaan yang tidak tersampaikan. Jika sering menonton tanpa konsekuensi yang realistis, film perselingkuhan bisa mengubah pandangan masyarakat tentang kesetiaan dan komitmen. Menonton film perselingkuhan memiliki dampak positif namun hanya sedikit. Yaitu memicu obrolan soal hubungan, batasan, dan pentingnya komunikasi dalam menjaga komitmen.

Cancel Culture

Ketika beberapa waktu lalu terjadi peristiwa cancel culture dalam sebuah film, namun alasan cancel culture tersebut tentang normatif perilaku pemainnya, bukan tentang substansi alur film yang tidak mencerminkan potret masyarakat Indonesia. Bahkan alasan substansi yang berkualitas tidak tersampaikan terkait mengapa film tersebut menjadi tidak layak kita tonton.

Budaya cancel culture bermula di Amerika Serikat, ada gerakan yang namanya Me Too Movement ketika banyak para perempuan yang mendapat pelecehan seksual akhirnya speak up di dunia entertainment di Amerika.

Bill Cosby, aktor salah satu yang mendapatkan cancel culture, sebagai salah satu pelaku pelecehan. Walaupun dia pionir di dunia entertainment Amerika, ternyata telah puluhan tahun ketahuan bahwa dia melakukan ruda paksa dengan menggunakan obat tidur pada korbannya.

Cancel culture bisa kita anggap sebagai kontrol di dunia hiburan agar artis tidak bersikap seenaknya dan sombong, termasuk kepada para fansnya. Para artis harus menjaga sikapnya dengan tidak ofensif terhadap ras, agama, untuk menghindari cancel culture yang bisa merugikan karirnya.

Seharusnya masyarakat Indonesia memiliki literasi bahwa sebuah film mana yang layak untuk tayang. Apabila film tersebut berdampak pada pergeseran nilai, maka idealnya film tersebut tidak laris dan rumah produksi tidak lagi memproduksi alur serupa.

Sayangnya masyarakat kita, masih sangat menyukai film yang mereka anggap relate dengan kehidupannya. Yaitu perselingkuhan dan horor. Drama sensasi memaki pelaku penyebab keretakan rumah tangga bahkan terbawa ke dalam kehidupan real dengan cara pandang melihat orang di sekitarnya apabila terjadi perceraian.

Stigma negatif pada perempuan yang menjadi korban tetap disalahkan sebagai pemicu keretakan dan dianggap kurang maksimal dalam pelayanan pada pasangan. Selain itu memaki pelaku yang sering tergambarkan dalam sosok perempuan berdampak menyamaratakan pada pelaku dengan simbol pakaian pada aperempuan lainnya.

Fenomena Film Indonesia dari Tahun ke Tahun

Masifnya film Indonesia yang hanya berkutat di film horor dan isu rumah tangga masih menjadi daya tarik masyarakat. Hal ini mengakibatkan produksi film stagnan dan hanya berkutat pada dua genre tersebut. Maka jangan heran jika sumber daya masyarakat kita tetap minim literasi, karena tayangan yang menjadi konsumsi hanyalah tentang horor dan perselingkuhan.

Fenomena film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik dari segi kualitas produksi, jumlah penonton, maupun ragam genre yang diangkat. Berikut adalah beberapa poin menarik tentang fenomena ini:

Setelah masa pandemi yang cukup menghantam industri film, Indonesia berhasil bangkit dengan cepat. Tahun 2022–2024 mencatat lonjakan penonton bioskop lokal, menandai kembalinya minat masyarakat terhadap film nasional.

Setelah masa pandemi yang cukup menghantam industri film, Indonesia berhasil bangkit dengan cepat. Tahun 2022–2024 mencatat lonjakan penonton bioskop lokal, menandai kembalinya minat masyarakat terhadap film nasional. Platform seperti Netflix, Vidio, dan Disney+ Hotstar memberi panggung baru bagi sineas lokal. Banyak film dan serial eksklusif Indonesia diproduksi untuk penonton global, membuka jalan ke pasar internasional.

Film-film seperti : KKN di Desa Penari (2022), Pengabdi Setan 2: Communion (2022), Siksa Kubur (2024), dan yang terbaru adalah Pabrik Gula (2025) mampu meraih jutaan penonton hanya dalam hitungan minggu. KKN di Desa Penari bahkan mencetak rekor sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan lebih dari 10 juta penonton.

Genre horor menjadi primadona. Banyak film horor lokal berhasil menggugah rasa penasaran dan emosi penonton, sering kali dengan latar budaya lokal yang kental, seperti mitos Jawa, Sunda, atau Kalimantan.

Akibat dari seringnya menonton horor bisa membuat seseorang kurang peka terhadap kekerasan atau penderitaan orang lain. Karena dalam tayangan film horor banyak memuat adegan sadis, kekerasan dan scene yang tidak masuk akal. Hal ini kita sebut dengan istilah desensitisasi.

Pemaknaan Nasionalisme yang Salah Kaprah

Alangkah baiknya mengangkat Film Indonesia dari novel karya anak bangsa, seperti sebelumnya Film Suhita atau Seni Memahami Kekasih. Suhita meski alur ceritanya enggak banget, seorang Gus yang tidak dipersiapkan jadi penerus pesantren, malah membebankan pada menantu perempuan, alurnya sangat “enggak banget”. Namun yang kontra dengan novelnya tetap menontonnya. Inilah jiwa nasionalisme dengan menghargai karya anak bangsa.

Film lainnya “Seni Memahami Kekasih”. Karena berteman di Faceebook, dan ceritanya mengisahkan kisah cintanya dengan Kalis Mardiasih pasangannya, maka banyak orang tertarik menontonnya. Mas Agus Mulyadi terlihat dari karyanya sangat kental merepresentasikan wong cilik.

Saat ini, masyarakat butuh tontonan berkualitas dengan pemainnya yang mau belajar dan menjadikan dirinya suri tauladan. Maka harus berhati-hati dalam mengeluarkan statemen dalam scene di film, karena hal buruk akan mudah ditiru. Misalnya, menganggap sekolah itu tidak penting. Bagaimana nanti kalau kalangan remaja menirunya. Begitupun menormalisasi perilaku buruk yang juga mudah ditiru para remaja, seperti sex before marriage. 

Sempat booming beberapa film hasil dari remake drama Korea, namun ada pula yang kena boikot. Jikalau industri film tidak mampu remake, tidak perlu memaksakan diri. Per-drakoran sudah sangat maju jauh di atas serial Indonesia. Bahkan setiap pembuatannya mendapat support biaya mahal bahkan industri filmnya mendapat dukungan dari negara.

Kita akan terseok-seok jika memaksakan diri meremake-nya. Apalagi serial drama korea The Code Blue yang  viral, peralatannya memakai helikopter dan alat medis lengkap.

Solusinya, mari untuk lebih sadar diri akan potensi kita. Memiliki ragam budaya, etnis, bahasa dan daerah dengan segala kekayaan alamnya, sangat bagus jika menjadi film.

Film percintaan “Ada Apa dengan Cinta”, “Heart” dan “Eiffel I’m in Love” adalah film romantis yang masih keren hingga kini. Bahkan film diangkat dari novel banyak karya anak bangsa jauh sangat berkualitas dan sarat akan nilai kehidupan, seperti film Perempuan Berkalung Sorban, Bumi Manusia, dan Kartini.

Karya film tersebut lebih menunjukkan wajah dan karakter bangsa kita. Industri Film lah yang paling bertanggung jawab dalam memilah untuk mengangkat naskah menjadi sebuah film. Produser dan Sutradara jangan ikutan fomo dan remake, sungguh tidak nasionalis dan mencerminkan jati diri bangsa. []

 

 

Tags: Cancel CultureDrama KoreaFilmFilm IndonesiaNasionalisme
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pandangan Masyarakat soal Kodrat Perempuan

Next Post

Kodrat Perempuan Bukan untuk Mengecilkan Peran Sosial Mereka

Halimatus Sa'dyah

Halimatus Sa'dyah

Penulis adalah ketua Forum Daiyah Fatayat NU Tulungagung, IG : Halimatus_konsultanhukum 2123038506

Related Posts

Tokenisme
Disabilitas

Representasi Difabel dalam Dunia Perfilman dan Bayang-bayang Tokenisme

2 Februari 2026
Haenyeo
Film

Haenyeo Melawan Kiamat Iklim: Nafas Terakhir Penjaga Laut Jeju

11 Desember 2025
Film Pangku
Film

Eksotisasi Kemiskinan: Mengurai Visualisasi Perempuan Slum dalam Film Pangku

23 November 2025
Film Kopi Pangku
Film

Film Kopi Pangku: Memberi Kehidupan di Tengah Lapisan Kerentanan

21 November 2025
Film Pangku
Film

Dipangku Realitas: Tubuh dan Kemiskinan Struktural dalam Film Pangku

12 November 2025
Film Pangku
Film

Film Pangku: Menangkap Realita Kehidupan Di Pantura

9 November 2025
Next Post
Persepsi Kodrat Perempuan

Kodrat Perempuan Bukan untuk Mengecilkan Peran Sosial Mereka

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie
  • Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan
  • Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah
  • Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak
  • Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0