Sabtu, 3 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

    Gender KUPI

    Julia Suryakusuma Apresiasi Peran KUPI dalam Mendorong Islam Berkeadilan Gender

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ulama Laki-laki

    Mengapa Ulama Selalu Dibayangkan Laki-Laki?

    Resolusi

    Resolusi Nggak Selalu Tentang Target, Tapi juga Tentang Cara Kita Menjalani Hidup

    Keulamaan KUPI

    Mengapa KUPI Menekankan Pengalaman Perempuan dalam Keulamaan?

    adab al-mu‘āsharah

    Adab al-Mu‘āsharah dan Keadilan Relasi Gender dalam Islam

    Ulama Perempuan oleh

    Mengapa Ulama Perempuan Tidak Ditentukan oleh Jenis Kelamin?

    Ulama Perempuan menurut KUPI

    Apa yang Dimaksud Ulama Perempuan Menurut KUPI?

    Pengharapan

    Pengharapan Sebagai Cara Katolik Menyambut Tahun Baru 2026

    Ulama Perempuan pada

    Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan

    Pembangunan

    Pembangunan yang Melukai Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

    Gender KUPI

    Julia Suryakusuma Apresiasi Peran KUPI dalam Mendorong Islam Berkeadilan Gender

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ulama Laki-laki

    Mengapa Ulama Selalu Dibayangkan Laki-Laki?

    Resolusi

    Resolusi Nggak Selalu Tentang Target, Tapi juga Tentang Cara Kita Menjalani Hidup

    Keulamaan KUPI

    Mengapa KUPI Menekankan Pengalaman Perempuan dalam Keulamaan?

    adab al-mu‘āsharah

    Adab al-Mu‘āsharah dan Keadilan Relasi Gender dalam Islam

    Ulama Perempuan oleh

    Mengapa Ulama Perempuan Tidak Ditentukan oleh Jenis Kelamin?

    Ulama Perempuan menurut KUPI

    Apa yang Dimaksud Ulama Perempuan Menurut KUPI?

    Pengharapan

    Pengharapan Sebagai Cara Katolik Menyambut Tahun Baru 2026

    Ulama Perempuan pada

    Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan

    Pembangunan

    Pembangunan yang Melukai Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom

Haji dan Ekonomi: Perjuangan Orang Miskin Menaklukkan Kesenjangan

Orang miskin bercita-cita berangkat haji, dan bagaimana realitas kesenjangan antara si miskin dan si kaya di Indonesia.

Khairul Anwar Khairul Anwar
14 Mei 2025
in Publik
0
Orang Miskin

Orang Miskin

1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Alkisah, ada seorang pedagang sate dan seorang tukang sampah yang akhirnya bisa berangkat haji tahun ini. Mereka adalah orang-orang miskin pilihan Allah SWT untuk bertamu ke Baitullah.

Akan tetapi, perjuangan keduanya untuk menapaki tanah suci tidak diraih dengan cara yang mudah. Seorang pedagang sate harus mengumpulkan pundi-pundi uang yang ia tabung selama 55 tahun. Sedangkan, si tukang sampah menabung sejak 1986 demi impiannya pergi haji.

Selain kisah pedagang sate dan tukang sampah yang kini bisa menunaikan ibadah haji, ada pula kisah haru orang miskin pasangan suami istri di Tasikmalaya yang impiannya kini tercapai. Pasutri ini bekerja sebagai penjual bubur ayam yang setiap harinya menyisihkan sebagian pendapatannya untuk bisa mendaftar haji. Kebiasaan ini sudah mereka lakukan selama 12 tahun.

Kisah pedagang sate, tukang sampah, dan tukang bubur, serta orang miskin kaum kelas menengah ke bawah lainnya, dalam konteks perjuangannya pergi ke tanah suci, tergapai dengan susah payah penuh rintangan. Setiap tahunnya, kita sering mendengar kisah orang-orang miskin yang pada akhirnya bisa berangkat haji setelah keringat membasahi tubuhnya.

Orang-orang miskin “pinggiran” ini bisa pergi haji dengan perjuangannya sendiri, tidak dengan meminta welas asih orang lain, atau memakai uang yang bukan haknya. Mereka adalah sosok-sosok yang gigih dalam merealisasikan cita-citanya. Menjadi sebuah pelajaran bahwa jika ingin mencapai puncak kesuksesan maka harus bekerja keras kita iringi dengan doa.

Kesenjangan Sosial di Bidang Ekonomi

Kehidupan ini begitu tidak merata. Di samping banyak masyarakat “miskin” bisa pergi haji dengan jerih payah dan pengorbanannya. Di sisi lain ada orang-orang yang tidak puas menunaikan haji hanya sekali. Dengan uang yang ia miliki, orang-orang ini bisa pergi haji berkali-kali. Bahkan bisa lebih dari tujuh kali, padahal Nabi SAW sang panutan kita hanya berhaji satu kali dalam hidupnya. Kita tidak tahu pasti apa motivasi banyak orang ini berhaji berulang kali.

Namun, akan menjadi hal yang buruk jika motivasinya bukan karena Allah. Meminjam istilah Kiai Ali Mustafa Yakub sebagai ‘Haji Pengabdi Setan’, yakni mereka yang beribadah haji berkali-kali. Bukan karena sunnah, melainkan karena mengikuti hawa nafsu dan bisikan setan. Seperti untuk pamer dan menunjukkan eksistensi diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Fenomena si miskin yang untuk dapat pergi haji harus tertatih-tatih terlebih dahulu. Kemudian si kaya yang bisa pergi haji berulang kali, memperlihatkan adanya kesenjangan sosial yang akut, spesifik di bidang ekonomi dalam kehidupan bernegara di Indonesia.

Ketimpangan ekonomi ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Seperti disparitas pendapatan antara buruh dan juragan. Lalu ada pula kesenjangan dalam hal makanan, karena bagi si Kaya ia bisa dengan bebas memilih menu yang lezat dan berharga mahal, sementara si miskin tidak punya banyak pilihan selain harus makan nasi lauk tempe saja, dan lain sebagainya.

Kesenjangan si Miskin dan Kaya

Kesenjangan, secara makro ekonomi, memiliki pengaruh terhadap ekonomi suatu negara. Misal, dapat menghambat pertumbuhan ekonomi lantaran konsumsi masyarakat yang tidak optimal, khususnya dari kelompok miskin. Lebarnya kesenjangan membuat kelompok miskin kian sulit keluar dari lingkaran kemiskinan itu. Dampaknya apa? dampaknya bisa merembet ke masalah sosial, seperti meningkatnya angka kejahatan yang bisa berujung ketidakstabilan sosial.

Jika kita ingin melihat lebih detail ketimpangan sosial ini, bisa kita saksikan di Kota Metropolitan. Setiap kali saya pergi ke Jakarta, saya selalu mengamati dari jendela mobil atau bus yang saya naiki, untuk sekadar melihat objek yang ada di Ibukota.

Di antara kemegahan apartemen-apartemen mewah yang menjulang tinggi, di antara rumah-rumah besar yang berpenghuni, terdapat sebuah pemandangan kontras dan mencolok: beberapa keluarga yang menetap di kolong jembatan.

Mungkin dari kita berpandangan bahwa apartemen, gedung pencakar langit, hotel bintang lima, hingga rumah-rumah milik orang kaya yang berdiri megah di Kota Metropolitan, adalah simbol kemajuan ekonomi dan pembangunan suatu daerah.

Di sisi lain, keluarga yang tinggal di kolong jalan tol, rumah reyot di pinggiran sungai (untuk menyebut di antaranya) mengingatkan kita akan kenyataan bahwa tidak semua orang merasakan manfaat dari pembangunan tersebut.

Haji Hanya untuk yang Berduit?

Begitu pula dengan fenomena saat ini. Di musim haji, tidak semua orang bisa berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan rukun Islam ke-5 ini. Ada si miskin yang hanya bisa menatap gambar Ka’bah di rumahnya; ada pencari nafkah yang jangankan untuk pergi haji, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja harus berjuang setengah mati; ada pula kaum tertindas yang pergi haji hanya ada di khayalan semata.

Sialnya, di saat banyak orang tak bisa pergi haji karena tak mampu di antaranya secara finansial, kita malah tak jarang disuguhkan gaya hidup para orang kaya dan pejabat publik yang tak memiliki empati. Dengan semena-mena, mereka pamer kekayaan dan kemewahan baik di dunia maya atau dunia nyata. Bukan bertujuan tuk memotivasi melainkan agar mendapatkan validasi.

Perilaku manusia semacam ini tentu sangat menyakitkan terutama bagi orang-orang yang lemah secara ekonomi. Masyarakat yang ringkih secara ekonomi, jangankan untuk pergi haji, memiliki cita-citanya saja untuk pergi ke tanah suci pun tidak. Belum lagi, biaya ongkos naik haji reguler yang semakin mahal, di tahun 2025 ini adalah sekitar Rp 55,43 juta per jemaah. Angka yang tak sedikit untuk orang-orang dengan ‘gaji kecamatan’.

Masa Tunggu Jamaah Haji

Lalu yang lebih memprihatinkan bagi kita adalah melihat fakta bahwa saat ini masa tunggu jamaah haji di Indonesia bisa sampai puluhan tahun, tergantung domisili setiap jamaah. Di Jawa Tengah misalnya, 32 tahun masa antrinya. Artinya, jika Anda mendaftar haji di usia 30 tahun, maka Anda baru bisa berangkat haji di usia 62 tahun. Jika Anda daftar hajinya di umur 40 tahun, maka di usia 72 tahun Anda baru dipanggil haji.

Jadi, malang betul jadi orang tak mampu di negara ini. Di saat kaum pemodal memiliki akses terhadap segala sumber daya yang ada, mereka juga mendapatkan privilege dengan adanya haji furoda (haji yang tidak memerlukan antrian). Namun tentu saja, biayanya jauh lebih dahsyat. Hal ini dapat menciptakan kesenjangan di mana yang kuasa secara finansial dapat berangkat dengan cepat, sementara yang lain harus menunggu lama.

Kini, orang-orang dengan kondisi finansial lemah, untuk tidak menyebutnya miskin, hanya punya dua pilihan dalam hidupnya, dalam konteks haji: bekerja keras menghimpun pundi-pundi cuan bertahun-tahun seperti kisah tukang bubur, pedagang sate, tukang sampah demi bisa berhaji dan mewujudkan impiannya, atau menjadi orang lemah yang selalu istiqamah menanti-nanti buah tangan dari tanah suci. []

Tags: ekonomi IndonesiahajiJama'ah Hajikesenjangan ekonomiKetimpangan SosialOrang Miskin
Khairul Anwar

Khairul Anwar

Dosen, penulis, dan aktivis media tinggal di Pekalongan. Saat ini aktif di ISNU, LTNNU Kab. Pekalongan, GP Ansor, Gusdurian serta kontributor NU Online Jateng. Bisa diajak ngopi via ig @anwarkhairul17

Terkait Posts

Ekonomi Guru
Kolom

Ekonomi Guru dan Kesejahteraan yang Diimpikan

28 November 2025
Ketimpangan Gaji Guru
Publik

Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

30 Agustus 2025
Wuquf Arafah
Hikmah

Makna Wuquf di Arafah

6 Juni 2025
Ibadah Haji
Publik

Esensi Ibadah Haji: Transformasi Diri Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

29 Mei 2025
Haji Lansia
Publik

4 Strategi Wujudkan Haji Ramah Lansia

26 Mei 2025
Ketangguhan Perempuan
Film

Ketangguhan Perempuan Melawan Patriarki dalam Sinematik Bumi Sumba

15 November 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Avatar: Fire and Ash

    Menilik Avatar: Fire and Ash dari Kacamata Perempuan Pejuang Lingkungan dan HAM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adab al-Mu‘āsharah dan Keadilan Relasi Gender dalam Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan yang Melukai Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengharapan Sebagai Cara Katolik Menyambut Tahun Baru 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Mengapa Ulama Selalu Dibayangkan Laki-Laki?
  • Resolusi Nggak Selalu Tentang Target, Tapi juga Tentang Cara Kita Menjalani Hidup
  • Mengapa KUPI Menekankan Pengalaman Perempuan dalam Keulamaan?
  • Adab al-Mu‘āsharah dan Keadilan Relasi Gender dalam Islam
  • Mengapa Ulama Perempuan Tidak Ditentukan oleh Jenis Kelamin?

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID