Selasa, 13 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Lingkungan jadi

    Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    Titik Nol Kehidupan

    Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

    Pengelolaan Sampah

    KUPI Dorong Pengelolaan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nikah Muda

    Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

    Tingkat Kultural

    KUPI Dorong Pembumian Fatwa di Tingkat Kultural

    UU TPKS

    UU TPKS Perkuat Perlindungan Perempuan di Ruang Publik

    Pencatatan Perkawinan

    Pentingnya Pencatatan Perkawinan sebagai Bentuk Perlindungan Hak Anak dan Perempuan

    Fatwa KUPI

    Peran Fatwa KUPI dalam Perubahan UU Usia Pernikahan

    Pandji Pragiwaksono

    Pandji Pragiwaksono, Gus Dur, dan Ketakutan pada Tawa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Lingkungan jadi

    Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    Titik Nol Kehidupan

    Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

    Pengelolaan Sampah

    KUPI Dorong Pengelolaan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nikah Muda

    Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

    Tingkat Kultural

    KUPI Dorong Pembumian Fatwa di Tingkat Kultural

    UU TPKS

    UU TPKS Perkuat Perlindungan Perempuan di Ruang Publik

    Pencatatan Perkawinan

    Pentingnya Pencatatan Perkawinan sebagai Bentuk Perlindungan Hak Anak dan Perempuan

    Fatwa KUPI

    Peran Fatwa KUPI dalam Perubahan UU Usia Pernikahan

    Pandji Pragiwaksono

    Pandji Pragiwaksono, Gus Dur, dan Ketakutan pada Tawa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Bendera Bajak Laut sebagai Kritik Simbolis: Relasi, Kontestasi, dan Inklusivitas

Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan kita bahwa simbol dapat menjadi jembatan untuk memahami aspirasi dan kegelisahan masyarakat.

Muhaimin Yasin Muhaimin Yasin
25 Agustus 2025
in Pernak-pernik
0
Bendera Bajak Laut

Bendera Bajak Laut

1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam beberapa minggu terakhir, Indonesia ramai membicarakan fenomena pengibaran bendera bajak laut atau Jolly Roger. Bendera bajak laut dengan gambar tengkorak dan tulang bersilang ini terinspirasi dari serial manga dan anime populer One Piece. Fenomena ini muncul menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke-80, ketika masyarakat biasanya diminta mengibarkan bendera Merah Putih.

Meski terlihat sebagai tren hiburan biasa, pengibaran bendera bajak laut ini sebenarnya mengandung makna yang  mendalam. Banyak yang melihatnya sebagai bentuk kritik simbolis terhadap kondisi sosial dan politik. Generasi muda tampaknya menggunakan cara ini untuk menyampaikan pesan tanpa harus berunjuk rasa atau melakukan protes langsung.

Asal-usul Bendera Jolly Roger

Bendera Jolly Roger memiliki sejarah panjang yang berakar pada dunia perompakan laut. Sejak abad ke-18, para perompak seperti Blackbeard, Calico Jack Rackham, dan Bartholomew Roberts mengibarkan bendera hitam dengan simbol tengkorak dan tulang bersilang. Tujuannya adalah untuk menebar teror di lautan dan membuat kapal dagang lawan takluk tanpa perlawanan.

Bendera yang paling sering teridentifikasi sebagai Jolly Roger digunakan pada tahun 1710-an. Beberapa kapten bajak laut terkenal seperti Samuel Bellamy, dan Edward England menggunakan simbol tengkorak dan tulang bersilang pada latar hitam. Warna hitam melambangkan kematian, sementara tengkorak dan tulang bersilang menandakan ancaman langsung terhadap nyawa siapa pun yang berani melawan.

Pada masa itu, bendera ini sangat efektif sebagai alat intimidasi psikologis. Kapal dagang yang melihat bendera bajak laut berkibar sering memilih menyerah daripada melawan. Hal ini karena reputasi kejam para perompak sudah tersebar luas di kalangan pelaut.

Transformasi Makna dalam Budaya Modern

Dalam serial One Piece, makna Jolly Roger mengalami perubahan drastis. Simbol ini berubah menjadi lambang perlawanan terhadap Pemerintah Dunia yang korup. Bendera bajak laut dalam cerita ini menggambarkan kebebasan, solidaritas, dan tekad untuk menentang ketidakadilan. Para tokoh bajak laut tergambarkan sebagai pihak yang melawan pemerintah yang menindas rakyat.

Transformasi ini tidak terjadi begitu saja. Serial One Piece berhasil mengubah persepsi masyarakat tentang bajak laut melalui cerita yang kompleks dan karakter yang relatable. Para bajak laut dalam cerita ini bukan penjahat biasa, melainkan pahlawan yang melawan sistem yang tidak adil.

Media populer memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. One Piece adalah contoh bagaimana sebuah karya fiksi dapat mengubah makna simbol yang sudah mengakar dalam sejarah. Bendera yang dulunya ditakuti kini menjadi simbol yang dikagumi oleh jutaan penggemar di seluruh dunia.

Kontestasi Identitas dan Generasi

Pengibaran bendera bajak laut menjelang hari kemerdekaan menciptakan perdebatan antara generasi yang berbeda. Generasi muda melihat bendera bajak laut sebagai cara untuk mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap kondisi sosial dan politik Indonesia. Bagi mereka, bendera ini mewakili semangat perlawanan yang sama seperti yang ditunjukkan dalam cerita One Piece.

Di sisi lain, kelompok yang lebih konservatif menganggap tindakan ini sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap simbol negara. Mereka khawatir bahwa penggunaan simbol asing dapat mengikis rasa cinta tanah air. Kekhawatiran ini semakin besar ketika melakukan pengibaran bendera bajak laut menjelang peringatan kemerdekaan.

Perbedaan pandangan ini mencerminkan gap generasi yang semakin lebar. Generasi muda yang tumbuh dengan budaya populer global memiliki cara pandang berbeda tentang simbol dan makna. Mereka tidak melihat penggunaan simbol asing sebagai bentuk pengkhianatan, melainkan sebagai cara untuk menyampaikan pesan.

Makna Inklusif dan Eksklusif

Bendera bajak laut dalam konteks One Piece memiliki sifat yang paradoks. Di satu sisi, bendera ini inklusif karena mewakili perlawanan terhadap ketidakadilan universal. Dalam banyak cerita One Piece, kemunculan bendera Topi Jerami menjadi simbol harapan bagi masyarakat yang tertindas. Pesan ini dapat terpahami oleh siapa saja yang pernah merasakan ketidakadilan.

Namun, simbol ini juga menciptakan eksklusivitas baru. Mereka yang tidak mengenal cerita One Piece atau yang menolak pengaruh budaya populer Jepang dapat merasa terasingkan. Makna yang terkonstruksi oleh komunitas penggemar tidak dapat terpahami oleh semua orang. Hal ini menunjukkan bagaimana simbol budaya dapat bersifat demokratis sekaligus elitis.

Inklusivitas bendera bajak laut juga terlihat dari pesan universal yang terbawa. Semangat melawan ketidakadilan, korupsi, dan penindasan adalah nilai yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Tidak peduli latar belakang sosial, ekonomi, atau politik, banyak orang dapat memahami frustrasi terhadap sistem yang tidak adil.

Namun, eksklusivitas muncul ketika simbol ini hanya dapat terpahami penuh oleh mereka yang familiar dengan budaya populer tertentu. Hal ini menciptakan jarak antara generasi dan kelompok masyarakat yang berbeda.

Bendera sebagai Media Kritik Sosial

Penggunaan bendera bajak laut sebagai bentuk protes menunjukkan kreativitas masyarakat dalam menyampaikan kritik politik. Alih-alih melakukan demonstrasi atau aksi yang lebih konfrontatif, mereka memilih cara yang lebih halus namun tetap bermakna. Bendera bajak laut menjadi sarana untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap berbagai masalah seperti korupsi, ketidakadilan sosial, atau kegagalan pemerintah.

Kritik melalui simbol juga memungkinkan pesan untuk sampai kepada audiens yang lebih luas. Bendera yang berkibar di berbagai tempat dapat terlihat oleh banyak orang dan memicu diskusi. Hal ini berbeda dengan protes konvensional yang mungkin hanya melibatkan kelompok tertentu.

Media sosial turut memperkuat efektivitas kritik simbolis ini. Foto dan video bendera bajak laut yang berkibar di berbagai tempat menjadi viral dan memicu diskusi luas. Hal ini menunjukkan bagaimana kombinasi antara simbol fisik dan media digital dapat menciptakan dampak yang signifikan.

Refleksi: Simbol, Makna, dan Perubahan Sosial

Fenomena bendera bajak laut di Indonesia menggambarkan kompleksitas dinamika sosial di era globalisasi. Generasi muda Indonesia sedang mencari cara untuk mengekspresikan aspirasi politik mereka dengan menggunakan bahasa simbolis yang mereka pahami. Bendera bajak laut menjadi media untuk menyampaikan ketidakpuasan, sekaligus menunjukkan bagaimana budaya populer dapat menjadi sarana komunikasi politik yang efektif.

Pengibaran bendera bajak laut bukan sekadar isu tentang patriotisme atau pengaruh budaya asing. Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat Indonesia menegosiasikan identitas dan mengekspresikan aspirasi politik. Generasi muda sedang mencari makna dalam era yang penuh dengan perubahan dan tantangan.

Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan kita bahwa simbol dapat menjadi jembatan untuk memahami aspirasi dan kegelisahan masyarakat. Daripada menolak atau mengabaikan fenomena ini, lebih baik kita mencoba memahami pesan yang ingin disampaikan di baliknya. []

 

Tags: Bendera Bajak LautGen ZkemerdekaanKritik SosialOne PieceSimbol
Muhaimin Yasin

Muhaimin Yasin

Pegiat Kajian Keislaman dan Pendidikan. Tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Terkait Posts

Gen Z
Publik

Gen Z, Kebijakan Negara, dan Perjuangan Menjaga Bumi

30 Desember 2025
Kekerasan di Kampus
Aktual

Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

21 Desember 2025
soft life
Personal

Soft Life : Gaya Hidup Anti Stres Gen Z untuk Kesejahteraan Mental

27 November 2025
Guru Hebat
Publik

Guru Hebat, Dari Pahlawan Kemerdekaan Sampai Penjaga Masa Depan Bangsa

25 November 2025
Intimate Wedding
Keluarga

Francis Fukuyama: Intimate Wedding sebagai Gejala Runtuhnya Kolektivitas Tradisional

20 November 2025
Kesetaraan Disabilitas
Publik

Gen Z Membangun Kesetaraan Disabilitas Di Era Digital

8 November 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Titik Nol Kehidupan

    Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masak Bukan Kodrat: Kampanye Kesetaraan Gender

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pentingnya Pencatatan Perkawinan sebagai Bentuk Perlindungan Hak Anak dan Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan
  • Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan
  • KUPI Dorong Pengelolaan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama
  • Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?
  • KUPI Dorong Pembumian Fatwa di Tingkat Kultural

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID