Rabu, 21 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Menjaga Alam

    Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

    Broken Strings

    Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    Nyadran Perdamaian

    Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    Merusak Alam

    Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Ketaatan Istri pada Suami

    Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

    Jurnalisme

    Menulis dengan Empati: Wajah Jurnalisme yang Seharusnya

    Lingkungan

    KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Menjaga Alam

    Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

    Broken Strings

    Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    Nyadran Perdamaian

    Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    Merusak Alam

    Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Ketaatan Istri pada Suami

    Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

    Jurnalisme

    Menulis dengan Empati: Wajah Jurnalisme yang Seharusnya

    Lingkungan

    KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

KUPI Mengenalkan Fiqh al-Murūnah bagi Pemenuhan Hak-hak Disabilitas

Pengalaman hidup difabel bukan lagi sekadar bahan ilustrasi atau kasus pinggiran (furū‘), tetapi sumber pengetahuan yang memiliki legitimasi teologis

Faqih Abdul Kodir Faqih Abdul Kodir
22 Oktober 2025
in Publik, Rekomendasi
0
Fiqh al-Murūnah

Fiqh al-Murūnah

1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam Seminar Nasional Keulamaan Perempuan untuk Pemenuhan Hak-hak Disabilitas di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Selasa 21 Oktober 2025, saya memperkenalkan satu terminologi baru dari rahim KUPI: Fiqh al-Murūnah. Sebuah paradigma fiqh yang lentur, inklusif, dan berkeadilan, yang tumbuh dari pengalaman dan cara pandang penyandang disabilitas sendiri.

Konsep ini hadir sebagai kelanjutan dan penguatan dari inisiatif mulia yang telah digagas para ulama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam pengembangan Fiqh Disabilitas. Kedua ormas besar Islam ini telah membuka jalan dengan menempatkan isu disabilitas dalam kerangka keislaman yang penuh kasih (rahmah) dan kemanusiaan.

KUPI mengambil semangat dan prinsip-prinsip dasar dari inisiatif tersebut. Yakni penghormatan terhadap martabat manusia dan tanggung jawab sosial umat Islam. Namun melangkah lebih fundamental dan mengusulkan istilah baru yang lebih tepat, yaitu “Fiqh al-Murūnah”.

Fiqh al-Murūnah mengusulkan pergeseran mendasar dari paradigma “keringanan” (rukhsah) dan “kemudahan” (taysīr) yang selama ini terumuskan dari perspektif para non-difabel, menuju paradigma pengakuan terhadap pengalaman difabel sebagai sumber otoritatif fiqh itu sendiri.

Pergeseran ini bukan sekadar perubahan istilah, tetapi perubahan epistemologis. Yaitu dari cara pandang yang melihat difabel sebagai penerima keringanan, menuju pengakuan bahwa mereka adalah penghasil pengetahuan hukum Islam yang sah.

Penyandang Disabilitas adalah Manusia Utuh

Paradigma ini berangkat dari keyakinan bahwa penyandang disabilitas adalah manusia utuh—dengan akal, jiwa, dan fisik. Selain itu subjek penuh (fā‘il kāmil) yang memiliki kapasitas dan otoritas untuk berijtihad dari pengalaman hidupnya sendiri. Dengan demikian, pengalaman mereka tidak lagi terposisikan sebagai kasus khusus yang kita carikan keringanan, melainkan sebagai sumber nilai dan pemahaman yang memperkaya khazanah fiqh Islam.

Arah pergeseran ini sejatinya telah tampak dalam karya-karya Dr. Rof’ah dari Muhammadiyah dan Dr. Arif Maftuhin dari Nahdlatul Ulama. Melalui riset dan pemikiran mereka telah menegaskan pentingnya melihat disabilitas dari perspektif kemanusiaan yang utuh dan berkeadilan.

Saya banyak memetik inspirasi dari keduanya, juga dari buku-buku Fiqh Disabilitas terbitan NU dan Muhammadiyah. Dari sana, saya mencoba merumuskan gagasan ini dalam satu kerangka yang kita harapkan lebih mudah teringat dan kita praktikkan. Terutama untuk kerja-kerja advokasi pemenuhan hak-hak disabilitas melalui cara pandang fiqh yang lentur, partisipatif, dan memberdayakan.

Dalam kerangka paradigmatik ini, azīmah (hukum asal) dan rukhsah (diskon atau keringanan hukum) tidak boleh terukur dari pengalaman mereka yang non-difabel, melainkan harus berpijak pada realitas dan pengalaman penyandang disabilitas sendiri.

Fiqh Islam, pada dasarnya, memang bersifat lentur dan adaptif (murūn). Sebagaimana kaidah taghayyur al-aḥkām bi taghayyur al-azminah wa al-amkinah — hukum berubah mengikuti perubahan waktu dan tempat. KUPI memperluas prinsip ini dengan menambahkan satu dimensi penting. Wal-aḥwāl al-badaniyyah, bahwa hukum juga perlu menyesuaikan dengan keberagaman kondisi tubuh manusia.

Kerangka yang saya maksud terdiri dari empat prinsip kunci yang menjadi fondasi Fiqh al-Murūnah:

Pertama, level Manhajī (Epistemologis-Metodologis)

Fiqh perlu kita rekonstruksi sejak dari cara pandangnya. Ia harus berangkat dari pengakuan bahwa penyandang disabilitas adalah manusia utuh dan subjek penuh yang memiliki kapasitas spiritual dan intelektual untuk memahami, menafsirkan. Bahkan merumuskan hukum dari pengalaman mereka sendiri.

Dengan demikian, pengalaman hidup difabel bukan lagi sekadar bahan ilustrasi atau kasus pinggiran (furū‘), tetapi sumber pengetahuan yang memiliki legitimasi teologis. Pengakuan terhadap pengalaman ini adalah langkah penting dalam membangun epistemologi fiqh yang lebih setara dan inklusif. Selain itu, menegaskan bahwa otoritas keagamaan tidak pernah bersifat tunggal atau eksklusif.

Kedua, level Murūnah (Fleksibilitas Fiqh)

Fiqh harus lentur dan adaptif terhadap keragaman kondisi dan pengalaman tubuh manusia. Prinsip fleksibilitas ini mencakup bidang ṭahārah, ‘ibādah, dan mu‘āmalah, dengan membuka ruang negosiasi yang adil antara pengalaman difabel dan non-difabel. Dalam konteks ini, Fiqh al-Murūnah bukan berarti “mempermudah” semata, tetapi menata ulang ukuran keadilan dan kesetaraan sesuai realitas setiap individu.

Fiqh yang hidup harus mampu merespons keterbatasan fisik tanpa meniadakan martabat, serta memfasilitasi pengamalan agama sebagai wujud takwa yang kontekstual dan manusiawi.

Ketiga, level Takyīf (Adaptasi Teknologi)

Fiqh yang lentur harus kita sertai upaya nyata untuk menghadirkan sarana dan teknologi yang memungkinkan penyandang disabilitas berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Alat bantu dan teknologi tersebut harus kita pandang bukan sekadar instrumen eksternal, melainkan bagian integral dari diri mereka.

Kursi roda, misalnya, bagi penyandang daksa bukan sekadar alat bantu, tetapi perpanjangan dari tubuh—bagian dari eksistensi jasmani yang harus kita hormati sebagaimana kaki bagi orang non-difabel. Cara pandang seperti ini akan mengubah banyak aspek fiqh, termasuk thaharah, posisi tubuh dalam salat, dan batasan interaksi ritual, yang semuanya perlu kita tinjau ulang agar benar-benar menghargai keberadaan tubuh difabel secara utuh.

Keempat, level Tamkīn (Aksesibilitas untuk Pemberdayaan)

Fiqh tidak berhenti pada tataran individu, tetapi harus mendorong transformasi sosial dan kebijakan publik yang menjamin aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Negara, masyarakat, dan lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab moral dan syar‘i untuk memastikan sistem sosial yang enabling, bukan disabling.

Upaya ini—dalam pandangan Fiqh al-Murūnah—merupakan bentuk ijtihād dan jihād Islami yang sesungguhnya, karena menegakkan keadilan struktural dan kemaslahatan universal.

Dengan empat level ini, Fiqh al-Murūnah berupaya menyambung estafet pemikiran keislaman yang telah dirintis oleh para ulama terdahulu. Sekaligus menegaskan satu arah baru: fiqh yang partisipatif, berbasis pengalaman, dan berorientasi pada keadilan sosial. Ia tidak hanya menyesuaikan hukum dengan kebutuhan penyandang disabilitas, tetapi juga menempatkan pengalaman mereka sebagai sumber sah bagi perumusan hukum Islam.

Namun, pertanyaan kritis tetap terbuka:

Apakah Fiqh al-Murūnah sudah cukup menjawab seluruh kebutuhan dan kompleksitas persoalan disabilitas di tengah masyarakat Muslim? Ataukah justru kita perlukan tahap lanjutan, di mana penyandang disabilitas sendiri menjadi penulis utama fiqh tentang diri sendiri. Bukan sekadar narasumber bagi fiqh yang tertulis oleh orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan akhir dari diskusi, melainkan awal dari ijtihad kolektif berikutnya. Ijtihad yang tidak hanya mencari kemudahan, tetapi juga memperjuangkan pengakuan, kesetaraan, dan kemanusiaan yang seutuhnya. []

 

 

 

 

Tags: Fikih Disabilitas Perspektif KUPIFiqh al-MurūnahHak-hak Penyandang DisabilitasJaringan KUPIKongres Ulama Perempuan IndonesiaPemenuhan Hak
Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Terkait Posts

Keistimewaan KUPI
Personal

Keistimewaan KUPI: Ketika Semua Manusia Didudukkan Setara di Hadapan-Nya

6 Januari 2026
Halaqah Kubra KUPI
Personal

Ada yang Tertinggal di Jogja: Sebuah Kenangan Halaqah Kubra KUPI

26 Desember 2025
KUPI
Publik

KUPI adalah Kita; Tentang Keulamaan sebagai Nilai

20 Desember 2025
Halaqah Kubra KUPI
Publik

Halaqah Kubra KUPI Dua Ribu Dua Lima yang Sarat Makna

16 Desember 2025
Dialog Publik KUPI
Aktual

Dialog Publik KUPI: Dari Capaian hingga Tantangan Gerakan Keulamaan Perempuan

14 Desember 2025
Madrasah Creator KUPI
Personal

Nanti Kita Cerita Tentang Madrasah Creator KUPI dan Halaqah Kubra KUPI

12 Desember 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Ketaatan Istri pada Suami

    Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam
  • Membaca Child Grooming dalam Broken Strings
  • Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli
  • Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam
  • Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID