Mubadalah.id – Menjelang pergantian tahun, hampir semua platform yang jadi bagian dari hidup kita tiba-tiba berubah jadi mesin waktu. Spotify ngasih ringkasan lagu yang paling sering kita dengar, YouTube ngingetin video apa aja yang kita tonton, dan e-commerce bahkan merangkum apa aja yang paling sering kita beli sepanjang tahun.
Dari semua rangkuman itu, aku jadi kepikiran satu hal, “oh ternyata setahun belakangan ini hidupku kayak gini ya!”
Tapi, di tengah refleksi itu, muncul satu notifikasi dari Instagram. Story lama setahun lalu. Aku ingat, waktu itu aku sempat membagikan satu postingan dari Gita Sjahrir, seorang pengusaha sekaligus aktivis kesetaraan gender, dengan username @gitases.
Isinya tentang evaluasi diri menjelang akhir tahun. Bukan resolusi yang ribet, bukan target besar yang bikin keliatan “wah”, tapi tiga pengingat sederhana yang bagiku akan relevan bahkan untuk setiap tahun baru.
Dalam postingan itu Kak Gita membagi tiga hal sederhana yang justru berasa lebih jujur dan membumi:
Pengingat pertama: jangan cuma melihat apa yang belum tercapai. Lihat juga apa yang sudah ada di depan mata.
Sering kali kita ngerasa gagal karena impian nggak tercapai, padahal ada banyak hal yang sebenarnya masih bertahan, kesehatan yang terus diupayakan, relasi yang tetap dijaga, dan diri sendiri yang belum menyerah meski lelah banget nih, jujur. Kita lupa kalau apa yang hari ini terasa “b aja”, dulu mungkin hal yang pernah kita doakan.
Awal tahun kemarin aku pengen rajin baca buku. Tapi sampai akhir tahun, rak buku nggak banyak berubah. Yang berubah justru daftar artikel yang kubaca dan terus bertambah setiap hari.
Awalnya aku ngerasa gagal. Karena di kepalaku, “rajin membaca” itu bentuknya buku, halaman demi halaman. Tapi belakangan aku sadar, selama ini aku tetap membaca. Bedanya, bacaan itu datang dari tulisan orang lain yang kemudian aku olah, kupikirkan, dan kubuat ulang jadi konten.
Bentuknya emang beda, tapi esensinya sama. Aku tetap berjumpa dengan gagasan, tetap belajar memahami, dan tetap melatih diri buat berpikir. Mungkin yang meleset bukan usahanya, tapi ekspektasiku sendiri tentang seperti apa proses itu seharusnya terlihat.
Pengingat kedua dari Kak Gita: jangan bandingkan diri kita dengan orang lain. Bandingkan diri kita dengan diri kita sendiri di masa lampau.
Media sosial bikin perbandingan kerasa makin kejam. Orang lain keliatan lebih cepat, lebih mapan, lebih “jadi”. Padahal, pembanding yang paling adil bukan hidup orang lain, tapi diri kita sendiri, siapa aku setahun lalu, dan siapa aku hari ini.
Dulu, waktu masih menyusui, aku sering ngerasa kehilangan diriku sendiri. Kalau ngobrol suka belibet, nyari kata lama, kadang pikiranku kayak nggak sinkron sama mulut. Saat itu aku sering bertanya-tanya, ini aku yang berubah atau aku yang mulai “nggak cakap lagi?”
Tapi menjelang akhir tahun, setelah proses menyapih, aku pelan-pelan merasa menemukan diriku kembali. Cara bicaraku mulai lebih lancar. Aku bisa menyusun pikiran dengan lebih utuh. Bukan berarti aku jadi orang yang sama seperti sebelum punya anak, tapi aku menemukan kapasitas baru, kapasitas yang tumbuh setelah melewati fase itu.
Dari situ aku belajar, membandingkan diri dengan orang lain cuma bikin lelah. Yang lebih jujur justru membandingkan diri dengan diriku sendiri di masa lampau. Aku yang dulu lagi bertahan, dan aku yang sekarang mulai pulih. Keduanya sama-sama layak dihargai.
Tahun ini aku belajar bahwa nggak semua penurunan kapasitas adalah kemunduran. Kadang itu hanya jeda, supaya kita bisa kembali dengan cara yang berbeda.
Pengingat ketiga: resolusi bukan cuma soal goals, tapi soal standar dan proses.
Goals penting, tapi tanpa standar hidup yang jelas, goals bisa berubah jadi alat menyiksa diri. Standar tentang bagaimana kita bekerja, berelasi, beristirahat, dan memperlakukan diri sendiri.
Misalnya dalam relasi dengan pasangan, aku nggak pernah benar-benar merasa komunikasi kami buruk. Tapi justru konflik emang nggak pernah terhindarkan, paling sering muncul dari hal yang kelihatannya sepele, tapi ternyata sensitif yaitu pengasuhan anak.
Apalagi kami nggak mengasuh sendirian, ada peran mertua yang ikut hadir dalam keseharian. Di situ aku belajar bahwa konflik nggak selalu soal siapa yang salah, tapi soal perbedaan cara.
Suamiku tipe orang yang ingin masalah cepat dibicarakan. Sementara aku butuh diam dulu, menenangkan diri, baru bisa bicara dengan kepala dingin. Dulu perbedaan ini sempat bikin kami sama-sama merasa nggak dipahami.
Tapi pelan-pelan kami menyadari, tujuan kami sama. Bukan menang dalam konflik, tapi menjaga hubungan tetap sehat. Maka kami mulai saling mengingatkan pada satu hal penting buat jadi standar relasi, yaitu jangan gengsi untuk minta maaf. Sekecil apa pun kesalahannya, kami belajar mengakuinya sebelum ego keburu membesar.
Harapanku di Tahun Ini
Dari semua refleksi ini, aku belajar bahwa resolusi nggak selalu berbentuk target yang harus dicapai. Kadang resolusi justru tentang cara memandang hidup dengan mindfull. Kita mengakui meski rencana nggak selalu berjalan rapi, prosesnya tetap berarti.
Memasuki tahun 2026 ini, aku belajar ngeliat apa yang udah ada di depan mata, bukan hanya apa yang belum tercapai. Belajar membandingkan diri dengan diriku sendiri di fase yang berbeda. Dan belajar menetapkan standar hidup dan relasi yang lebih manusiawi, bukan sempurna.
Mungkin resolusi tahun depan nggak perlu terdengar keren. Cukup resolusi buat tetap sadar, mau belajar, dan terus berbaik hati, terutama pada diri sendiri. []



















































