Mubadalah.id — Isu kesehatan reproduksi masih menjadi persoalan serius yang dihadapi masyarakat hingga 2024. Berbagai tantangan terus muncul, mulai dari meningkatnya kasus HIV/AIDS hingga belum optimalnya pemenuhan layanan keluarga berencana (KB), yang berdampak langsung pada kehidupan perempuan, khususnya usia produktif.
Salah satu persoalan yang muncul adalah perubahan tren penderita HIV/AIDS. Kasus HIV semakin banyak menimpa perempuan usia produktif.
Di sejumlah daerah, terutama wilayah yang banyak mengalami migrasi sirkuler akibat kemiskinan desa, laki-laki kerap bekerja ke luar daerah dan kembali ke rumah dalam kondisi terpapar penyakit.
Akibatnya, istri—perempuan yang selama ini hidup setia dan tidak memiliki faktor risiko—ikut terinfeksi HIV tanpa mengetahui sumber penularannya.
Selain itu, HIV juga ditemukan pada kelompok remaja, terutama akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna narkoba suntik (injecting drug users). Atas nama solidaritas, para pengguna kerap mengabaikan risiko kesehatan yang ditimbulkan. Sehingga memperbesar potensi penularan penyakit.
Di sisi lain, persoalan angka kematian ibu (AKI) masih menjadi perhatian. Meski pemerintah menyatakan terjadi penurunan AKI hingga sekitar 207 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih menuai keraguan dari berbagai pihak.
Hal ini mengingat target pembangunan global yang hingga 2024 tetap menempatkan penurunan AKI sebagai indikator penting dalam agenda pembangunan kesehatan dan kesejahteraan perempuan.
Pemenuhan layanan KB juga belum optimal. Setelah keberhasilan pengendalian pertumbuhan penduduk pada masa Orde Baru, persoalan serupa kembali muncul.
Salah satu dilema utama adalah anggapan bahwa layanan kontrasepsi sepenuhnya merupakan pilihan bebas pasangan, sehingga peran pemerintah cenderung pasif. Atas nama hak asasi manusia, kontrasepsi juga tidak boleh kita paksakan.
Namun, dalam situasi di mana perempuan tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan atas tubuh dan reproduksinya. Kondisi tersebut justru memperparah kerentanan perempuan.
Ketiadaan layanan memadai, keterbatasan ekonomi rumah tangga, dan lemahnya posisi tawar perempuan membuat kebutuhan dasar terhadap kontrasepsi sulit terpenuhi.
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.


















































